Ciptakan Konsumsi dan Produksi Sadar Lingkungan

Pelatihan Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat. BLH DIY

Pada suatu pagi yang cerah, saya bersama seorang teman sedang jalan-jalan dengan mengendarai sepeda motor. Saat itu, kami berencana untuk sekadar melihat suasana di jalan raya. Beberapa kali juga melewati sungai. Semakin siang, matahari semakin menyengat membuat kami ingin menyantap sesuatu.

Tak lama, kami melihat sebuah rumah makan di pinggir jalan. Kami pun berhenti untuk makan siang saat itu juga. Melihat beberapa makanan sisa yang tertinggal di meja makan, membuat saya berpikir, “Akan dikemanakan sisa makanan tersebut?”

Terlebih pada era sekarang, usaha industri di bidang makanan semakin berkembang pesat. Rumah makan tersebar di berbagai sudut kota. Seperti yang sering dijumpai, yaitu rumah makan padang, warung makan Indomie (Warmindo), warung burjo, warung soto, rumah makan cepat saji, dan lain-lain. Hal tersebut berkaitan erat dengan konsumsi yang dilakukan oleh masyarakat. Selain itu, beberapa toko serba ada (Toserba) juga menjadi sasaran melakukan pembelian dan terjadilah proses konsumsi oleh masyarakat.

Dengan berbagai macam rumah makan dan toko, masyarakat tentu akan menjadi konsumen di dalamnya. Ketika terjadi konsumsi maka akan menghasilkan sebuah sampah, baik sampah organik maupun anorganik. Kemudian, sampah tersebut otomatis akan dibuang oleh warga, baik dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau ke bank sampah. Beberapa warga sadar bahwa limbah yang dihasilkan akan menambah nilai tukar uang, sehingga sebagian dari mereka memilih untuk mengolahnya kembali.

Saya beri contoh, salah satu pondok pesantren yang ada di Kabupaten Bantul, yaitu Pondok Pesantren Al-Munawwir, lebih tepatnya di Kompleks Q, telah mewakili beberapa kompleks lain dalam hal pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah ini dilakukan oleh santri yang tinggal di pondok pesantren. Walaupun hanya sampai tahap pengelolaan, hal tersebut sudah dapat membantu perbaikan lingkungan.

Tak hanya itu, bahkan pondok pesantren ini pernah meraih juara satu sebagai pondok pesantren berwawasan lingkungan tingkat Kabupaten Bantul. Prestasi demikian juga diraih oleh Pondok Pesantren Al-Fatah Waria. Lokasinya berada di Dusun Calenan RT 9/RW 2, Jagalan, Banguntapan, Bantul.

Dilihat dari namanya saja sudah kentara, semua santrinya adalah waria. Posisi mereka dalam kehidupan sehari-hari sering kali mendapatkan diskriminasi akibat status sosial yang dimiliki sehingga mereka kesulitan mendapat pekerjaan.

Oleh karena itu, tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Wansaplas UGM melakukan pemberdayaan berupa pembuatan wayang dari hasil daur ulang sampah plastik berbasis Quick Response (QR) code sebagai media pembelajaran. Program pemberdayaan tersebut bertujuan agar para waria dapat lebih kreatif dalam menciptakan lapangan pekerjaan secara mandiri. Sisi lainnya, program ini sebuah langkah untuk mengatasi permasalahan sampah plastik yang cukup banyak di lingkungan.

Pengolahan sampah juga dilakukan di Pondok Pesantren Al-Imdad, Bantul. Pengolahan sampah yang dilakukan oleh para santri di pondok tersebut salah satunya adalah pembuatan pupuk kompos menggunakan sampah.

Sampah ditumpuk selama beberapa hari dengan diberi bakteri aktivator pengomposan. Lalu, sampah yang hampir menjadi kompos disaring dan dimasukkan ke sebuah tabung. Didiamkan selama tiga hari, pupuk tersebut baru dapat digunakan.

Saya ambil contoh lagi pada jalanan yang berada di sekitar Kabupaten Cianjur. Terdapat limbah pabrik yang berserakan. Para oknum membuang limbah yang dimasukkan ke karung. Hasilnya, sebanyak 16 karung berisi limbah sisa tekstil. Kemudian, limbah diangkut menggunakan truk untuk dibuang ke sungai.

Pada wilayah tersebut terdapat sejumlah aliran sungai yang bermuara ke Sungai Citarum. Sebuah berita online yang dimuat oleh Kompas, penulis berkata bahwa pembuangan limbah tersebut dapat berpotensi mencemari daerah aliran sungai Citarum. Oleh karena itu, selama ini warga telah berupaya mengangkut limbah-limbah tersebut ke TPA khusus.

Menurut T. Puji Rahayu (2019) aktivitas manusia selalu berhubungan erat dengan kegiatan ekonomi. Orang yang melakukan kegiatan tersebut merupakan pelaku ekonomi. Kegiatan ekonomi mencakup kegiatan yang meliputi kegiatan konsumsi, kegiatan produksi, dan kegiatan distribusi. Kegiatan tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan. Seiring dengan bertambahnya kebutuhan maka semakin sering melakukan kegiatan ekonomi tersebut.

Namun, masyarakat sering tak acuh terhadap kondisi lingkungan mereka. Tanpa sadar, konsumsi dan produksi yang dilakukan oleh mereka selama ini akan berimbas pada tercemarnya lingkungan jika tidak ditangani dengan baik.

Masyarakat yang melakukan konsumsi rumah tangga, berupa pembelian bahan pokok sering kali tidak peka terhadap limbah yang dihasilkan dari hal tersebut. Padahal, ketika mereka menyadari bahwa konsumsi yang dilakukan akan berimbas pada lingkungan, akan menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.

Rumah tangga merupakan konsumen atau pemakai barang dan jasa, sekaligus pemilik faktor-faktor produksi; tenaga kerja, lahan, modal, dan kewirausahaan. Kemudian, rumah tangga menjual faktor-faktor produksi untuk memperoleh imbalan. Imbalan tersebut salah satunya dapat berupa upah atau pendapatan.

Ada dua macam penggunaan pendapatan. Pertama, konsumen membelanjakan barang-barang untuk konsumsi, contohnya berbelanja kebutuhan pokok. Pengeluaran konsumsi biasanya dilakukan untuk mempertahankan taraf hidup.

Faktanya, seseorang dengan pendapatan rendah akan lebih mengutamakan membelanjakan uangnya untuk barang-barang konsumsi guna memenuhi kebutuhan jasmani. Akan tetapi, pada beberapa konsumen terdapat berbagai macam barang konsumsi yang dapat dianggap sesuai kebutuhan untuk menyelenggarakan rumah tangga. Keanekaragaman tersebut tergantung pada tingkat pendapatan rumah tangga. Tingkat pendapatan yang berbeda akan memberikan pengaruh pada tingkat konsumsi.

Kedua, konsumen membelanjakan barang-barang untuk ditabung. Sebagai contoh, pembelian emas untuk investasi masa depan. Tabungan menjadi unsur terpenting dalam proses pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Tabungan dapat berfungsi sebagai modal awal untuk dapat memperbesar kapasitas produksi perekonomian.

Semakin tinggi investasi yang dilakukan maka akan semakin meningkat jumlah kekayaan setiap tahunnya. Hal tersebut akan memengaruhi faktor konsumsi yang dilakukan oleh seseorang.

Tentunya ada banyak faktor yang memengaruhi tingkat konsumsi masyarakat dalam suatu negara. Faktor-faktor itu terbagi menjadi dua bagian, yakni faktor internal dan eksternal. Dua faktor itu memiliki enam hal yang dapat mempengaruhi tingkat konsumsi. Pertama, cita rasa atau selera. Seperti yang kita ketahui bahwa selera masing-masing individu berbeda, meskipun terdapat kesamaan usia dan pendapatan.

Kedua, faktor sosial ekonomi. Faktor sosial ekonomi ini meliputi umur, latar belakang, pendidikan, dan keadaan keluarga. Semua faktor tersebut berpengaruh terhadap tingkat pengeluaran konsumsi.

Ketiga, tingkat kekayaan atau pendapatan. Faktor ini tentunya sangat berpengaruh terhadap tingkat konsumsi. Semakin tinggi tingkat kekayaan atau pendapatan seseorang, akan semakin tinggi tingkat konsumsi yang terjadi.

Keempat, keuntungan atau kerugian kapital. Naiknya hasil bersih dari kapital akan mendorong peningkatan konsumsi. Selain itu, kerugian kapital juga akan mengurangi jumlah konsumsi.

Kelima, tingkat bunga. Beberapa orang beranggapan, konsumsi merupakan fungsi dari tingkat bunga. Oleh karena itu, naiknya pendapatan nominal yang disertai dengan naiknya tingkat harga pada proporsi yang sama, tidak akan mengubah konsumsi riil.

Keenam, gaya hidup. Tidak jarang kita temui, ada banyak individu yang memiliki gaya hidup konsumtif. Perilaku konsumtif ini tidak hanya berlaku pada seseorang dengan pendapatan tinggi, tetapi juga terjadi pada orang-orang dengan pendapatan rendah.

Warga yang tidak sadar dengan konsumsi dan produksi yang mereka lakukan akan memberi dampak negatif pada lingkungan. Contohnya adalah dampak lingkungan yang disebabkan oleh emisi atau zat-zat beracun yang dibuang begitu saja.

Adapun dampak lingkungan yang disebabkan oleh emisi, yaitu perubahan iklim karena meningkatnya gas karbon dioksida di atmosfer sehingga menyebabkan efek rumah kaca dan eutrofikasi yang disebabkan oleh polusi nitrogen dan fosfor. Pencemaran lingkungan sejatinya disebabkan oleh pembuangan dari hasil kegiatan manusia yang tidak memperhatikan dampak ke depan.

Kemudian, terdapat tiga perspektif produksi yang akan berdampak terhadap lingkungan. Pertama, proses yang melibatkan bahan bakar fosil; penggunaan listrik yang biasanya dimanfaatkan sebagai pemanas ruangan, transportasi, serta penyulingan logam dan energi. Faktor tersebut merupakan salah satu penyebab perubahan iklim, penipisan sumber daya abiotik, eutrofikasi, asidifikasi, dan toksisitas.

Kedua, pertanian dan kegiatan yang menggunakan biomassa. Faktor tersebut menjadi kontributor yang signifikan terhadap perubahan iklim, eutrofikasi, penggunaan lahan, serta penggunaan air.

Ketiga, perikanan. Eksploitasi berlebih menyebabkan berkurangnya cadangan ikan. Hal ini jelas ada keterkaitannya dengan emisi yang relatif tinggi dari industri perikanan. Secara umum, dampak ini berkaitan dengan penggunaan akhir produk atau jasa, baik berupa prioritas produk dan konsumsi akhir. Disebutkan bahwa hampir setiap negara melakukan konsumsi rumah tangga sebanyak 60 persen.

Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan berbagai upaya untuk mengurangi sampah beracun dan polutan. Salah satu cara yang harus dilakukan ialah mendorong warga, dunia usaha, serta konsumen untuk mendaur ulang dan mengurangi sampah.

Untuk itu, manusia diharapkan dapat melakukan konsumsi dan produksi dengan lebih bijak lagi. Kebijakan desa melalui sudut pandang pelestarian lingkungan, dalam situasi ini sangat dibutuhkan. Salah satunya dengan penanganan limbah dan sampah sesuai kebutuhan.

Penanganan sampah yang tepat akan mendukung terciptanya pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan dan terarah. Dalam sebuah data dari Badan Pusat Statistik (BPS), penanganan sampah di perkotaan lebih terdata daripada di perdesaan.

Hal itu karena perkotaan dibangun Tempat Pembuangan Sampah (TPS), sedangkan hal tersebut tidak terjadi di perdesaan. Kemudian, cara penanganan sampah yang paling sering dilakukan di perkotaan adalah petugas TPS akan mengangkut 40,25 persen sampah. Lalu, sisanya dimanfaatkan untuk pembuatan pupuk, didaur ulang, disetor ke bank sampah, dan lain-lain.

Dapat disimpulkan bahwa kesadaran masyarakat dalam hal konsumsi dan produksi sangat berpengaruh terhadap lingkungan, baik kaitannya dengan kebersihan maupun kesehatan. Semakin tinggi pendapatan seseorang, akan semakin tinggi pula konsumsi yang dilakukan. Untuk menindaklanjuti hal tersebut, diperlukan kesadaran masyarakat akan konsumsi dan produksi yang mereka lakukan.