Demi Legitimasi

Legitimasi. RUMAH PEMILU

Kira-kira setahun yang lalu, ada teman dengan bangga menyebut dirinya sebagai keturunan Raja Pajang Sultan Hadiwijaya. Raja ini biasa dikenal dengan Mas Karebet alias Joko Tingkir. Ia menuturkannya di tengah kerumunan banyak orang di depan Pasar Kotagede sembari membagikan kaos.

Rupanya teman saya itu sedang berkampanye agar dirinya dipilih menjadi anggota legislatif. Setelah selesai kegiatan, aku tergelitik untuk bertanya.

Bro, aku baru tahu kalau kamu ternyata darah biru, beneran nggak, tuh?”

Ia malah tertawa terbahak dan menjawab pertanyaan saya, “Memang ada peraturan KPU yang aku langgar kalau mengaku keturunan Laksamana Cheng Ho sekalipun? Nggak, kan? Legitimasi itu sangat penting, Bro, untuk meraih simpati.”

‘Legitimasi itu sangat penting’, pantas saja banyak orang berbangga diri menyebut atau mengaku sebagai keturunan nabi, moyangnya adalah raja ini, penguasa itu, pangeran ini, pahlawan itu. Tidak tahu juga yang diucapkan benar atau tidak.

Ironisnya banyak masyarakat kita yang bersikap masa bodoh dan permisif ketika ada seorang tokoh yang mengaku akan jalur keturunannya. Sikap seperti itu mungkin diakibatkan oleh kurangnya budaya literasi dasar, yakni membaca dan menganalisis suatu masalah.

Meraih simpati atau kekuasaan dengan cara mengaku sebagai keturunan orang besar adalah cara berpikir kuno karena bertindak ala monarki. Namun, harus diakui cara meraih simpati inilah yang paling gampang dan murah. Misalnya, tidak perlu membayar Facebook Bisnis atau Instagram Bisnis untuk menaikkan trafic kepopulerannya.

Mereka juga senang disebut sebagai ‘trahing kusuma rembesing madu’. Ungkapan tersebut memiliki makna trah bunga (satria) yang madunya kekuasaan dan wibawa masih merembes sampai ke dirinya, hingga tetes terakhir. Karena itulah saya menyebut bertindak ala monarki.

Pada zaman dahulu, cara memperoleh kekuasaan dilihat melalui hubungan darah atau keluarga. Jika membaca sejarah raja-raja zaman dahulu, pasti akan menemukan kisah raja yang mengaku sebagai titisan Dewa Wisnu, Dewa Syiwa, dan lain-lain.

Bahkan, untuk memperkuat legitimasi di era kesultanan, dalam membuat silsilah atau garis trah berawal dari dua sisi, yakni sisi mangiwa (kiri) dan manengen (kanan). Jalur manengen mengurutkan silsilah sampai masa kenabian, sedangkan jalur mangiwa diurutkan sampai tokoh-tokoh pewayangan, yakni dari Arjuna, Bima, Gatotkaca, hingga Parikesit.

Jadi, apabila suatu saat menyaksikan orang mengaku sebagai keturunan nabi, sebagai contoh Nabi Sis (setahu saya tidak ada nabi bernama Sis), janganlah heran karena semua itu ia lakukan demi legitimasi. Entah itu suatu kebohongan atau tidak, tak perlu diambil pusing. Nanti dapat ditutupi dengan mengerahkan masa, untuk demo berjilid-jilid selama tujuh hari.