Desa Berdaya, Muda Berkarya

Wisata Candi Prambanan. JATENGPROV

Desa sering dipahami sebagai wilayah terpinggirkan, terbelakang dan jauh dari kemajuan, minim lapangan pekerjaan, informasi lambat masuk, keterbatasan ruang gerak, sarana, dan tempat orang terbelakang yang hidup susah. Dari berbagai pandangan tersebut maka tidak jarang banyak orang yang menganggap desa tidak memiliki potensi apapun.

Perspektif yang perlu dibenahi, apakah benar desa tidak memiliki potensi yang signifikan? Berdasar dari keadaan dan anggapan keterbatasan ini akhirnya membuat masyarakat desa memilih untuk merantau, dibandingkan menggali potensi desa yang tentu membutuhkan proses tidak sebentar dan tidak mudah.

Salah satu sampel, seperti Desa Ponggok di Kalasan Jawa Tengah sering didengung-dengungkan menjadi contoh desa berdaya dan sukses mengatasi masalah perekonomian masyarakat di desanya. Desa lainnya yang sedang proses menuju pembangunan, seperti Desa Tamanmartani, di Kalasan, Yogyakarta. Desa yang saat ini tengah proses bertransformasi menjadi desa berdaya.

Peran pemerintah dalam mewujudkan desa berdaya yakni mendukung program-programnya, salah satu bentuk dukungannya yakni dengan bantuan dana desa. Dana desa merupakan dana alokasi untuk pembangunan desa, infrastruktur, pendidikan, pariwisata, ekonomi, dan lainnya. Menurut Undang-undang Desa yang dimuat di laman Kemenkeu, bahwa dana desa merupakan dana yang bersumber dari APBN untuk desa melalui APBD Kabupaten/Kota yang diperuntukkan pembangunan desa, infrastruktur, pembinaan, kemasyarakatan, dan pemberdayaan.

Tujuannya untuk mengatasi masalah-masalah di desa termasuk keterbatasan dan kemiskinan masyarakat. Desa kini mulai bergerak berdasar program-programnya mencari solusi alternatif dari ketimpangan yang muncul menuju kemajuan dari berbagai bidang, seperti peternakan, pertanian, pariwisata, dan lainnya. Proses tersebut butuh kerja sama masyarakat dan pemerintah. Maka tidak cukup jika hanya mengandalkan dana bantuan dari pemerintah, desa harus berdaya dan mandiri.

Potensi Desa

Desa menyimpan banyak harta karun di buminya. Tanah yang subur dan lahan yang luas merupakan basis utama untuk meningkatkan produktivitas. Setiap desa memiliki ciri khas dan potensi yang berbeda, tergantung pada iklim dan kondisi tanahnya.

Di era digital yang identik dengan modernisasi, semua serba digital. Modernisasi yang juga identik dengan kawasan kota yang cepat menerima informasi. Keadaan itu tidak menutup kemungkinan bahwa desa tidak bisa bertransformasi menjadi wilayah maju yang mampu bersaing dengan kota. Pada hakikatnya potensi desa sangat besar terutama dalam membangun peradaban.

Di antara beberapa potensi yang dimiliki desa, yakni terdiri dari potensi fisik maupun non-fisik. Potensi fisik seperti air, manusia, tanah, iklim, perkebunan dan perikanan. Sedangkan potensi non-fisik seperti keadaan sosial masyarakat, lembaga sosial, dan kreativitas aparatur desa.

Potensi-potensi itu jika dioptimalkan dan adanya kerja sama yang baik antara masyarakat dan pemerintah, serta sistem berjalan lancar maka barang mungkin desa mencapai tujuannya (menjadi desa berdaya).

Menuju desa berdaya, Bernardus Seran Kehik (2018) memberi saran berdasar dari hasil kajiannya yang dimuat di Jurnal Agribisnis Lahan Kering, bahwa desa perlu melakukan pemberdayaan masyarakatnya. Desa berdaya identik dengan masyarakat yang mandiri. Proses kemandirian ekonomi masyarakat bisa dilakukan dengan mencari solusi alternatif, membangun kerja sama sosial yang aktif di lingkungan masyarakat, dan mampu membaca serta memanfaatkan potensi di desa.

Pertama, pertanian. Pertanian merupakan ketahanan pangan Indonesia yang dapat mengangkat ekonomi negara. Kurang lebih 100 juta jiwa bangsa Indonesia bekerja menjadi petani. Pertanian hanya dapat berkembang pesat dan subur di wilayah desa. Lahan yang luas iklim yang tropis dan air yang mengalir menjadi kekuatan pertanian terus berkembang.

Indonesia pernah mengalami swasembada hasil pertanian, rakyat Indonesia menikmati hal ini, harga pangan stabil, dan tidak kekurangan. Dilansir dari laman kementerian Pertanian RI tahun 2021, bahwa sektor pertanian memiliki kontribusi besar atas pembangunan ekonomi negara Indonesia.

Berdasar dari catatan BPS (Badan Pusat Statistik) bahwa pertanian pada triwulan II tahun 2020 meningkat menjadi 16,24 persen PDB (Produk Domestik Bruto). Sedang triwulanan III tahun 2021 tumbuh positif mencapai 1,35 persen. Pertumbuhan positif ini harus terus dipertahankan di masa ke masa.

Pemerintah juga perlu melakukan sosialisasi bahwa menjadi petani dan berkembang di desa bukan merupakan suatu hal yang buruk. Di balik pertumbuhan baik ini, apakah keadaan akan tetap di tahun 2032 atau 10 tahun mendatang, sebab mayoritas petani saat ini sudah berumur tua (bukan umur produktif bekerja).

Kedua, perkebunan. Selain pertanian, desa juga berpotensi dalam sektor perkebunan. Pertumbuhan positif hasil perkebunan Indonesia seperti kelapa sawit, kakao, kelapa, dan lainnya tumbuh mencapai 8,34 persen. Potensi perkebunan bernilai positif pada masyarakat Indonesia, swasembada hasil panen perkebunan juga berpotensi pada kestabilan harga, kesejahteraan rakyat.

Hasil perkebunan juga menopang terhadap industri pengolahan, seperti industri makanan dan minuman. Hasil perkebunan juga berpotensi melakukan ekspor ke luar negeri, seperti porang, minyak, dan lainnya. Kekayaan alam ini perlu lebih diperhatikan lagi, sebab seperti saat ini yakni kelangkaan minyak goreng, garam, dan lainnya, seperti tidak etis terjadi pada masyarakat Indonesia yang notabene kaya akan sumber daya alamnya.

Ketiga, peternakan. Seperti peternakan ayam, kambing, sapi potong, dan lainnya. Melihat potensi besar Indonesia dalam sektor peternakan merupakan kesempatan besar mengoptimalkan lahan kosong untuk usaha peternakan. Indonesia masih melakukan impor daging dari luar negeri, padahal jika peternakan sapi di daerah ini dapat terorganisasi secara optimal, peternakan dapat membantu pemulihan ekonomi negara ini.

Sementara, dilansir dari Buletin APBN (2021) bahwa peternakan berpeluang besar membantu pemulihan ekonomi negara. Oleh karena itu, pemanfaatan lahan kosong perlu dioptimalkan sebaik-baiknya, seperti lahan-lahan yang tidak dipakai, daripada dibiarkan akan lebih baik digunakan pada hal yang positif, seperti untuk lahan peternakan.

Keempat, pariwisata. Sektor wisata sampai saat ini masih memiliki potensi besar dalam pembangunan ekonomi. Indonesia dengan wilayah alamnya yang eksotis sangat menarik minat turis untuk berlibur atau menikmati alam. Iwan Setiawan dalam Prosiding Seminar Nasional Multi Disiplin Ilmu menyampaikan bahwa sektor pariwisata Indonesia dapat berkontribusi besar pada pembangunan wilayah.

Potensi alam yang dimiliki masing-masing wilayah memiliki ciri khas unik dan berbeda, keunikan itu dapat mengangkat pasar dan ketertarikan masyarakat luar untuk berkunjung ke daerahnya. Pembangunan ini juga memerlukan kerja sama semua pihak, antara masyarakat dengan pemerintah.

Potensi-potensi desa di atas tersebut merupakan bagian penting pembangunan perekonomian negeri ini. Potensi alam Indonesia, baik alam maupun lautan cukup kaya, dan disayangkan jika tidak dimanfaatkan dengan optimal. Potensi-potensi tersebut juga membutuhkan peran SDM yang dapat mengelolanya.

Strategi Membangun Desa

Pembangunan desa di masing-masing wilayah tentu berbeda, sebab hal itu terkait pula dengan kemampuan SDM dan SDA. Semisal SDA mumpuni, tetapi kualitas SDM masih belum siap, maka hal itu menjadi poin besar bagi perangkat masing-masing wilayah untuk menemukan alternatifnya.

Usaha pembangunan menuju desa berdaya, dioptimalkan melalui beberapa hal terkait, di antaranya; Pertama, mengoptimalkan potensi SDM seperti pemuda. Pemuda yang identik sebagai agen perubahan merupakan calon penerus dan pengelola sumber daya alam. Pemuda yang merupakan calon pemimpin, perannya berpengaruh dalam pengembangan wilayah desa.

Pemuda desa membentuk organisasi kepemudaan yang dikenal dengan istilah Karang Taruna, tujuannya supaya peka terhadap isu-isu perkembangan desa dan melihat potensi desa sendiri. Mereka dapat menjalani peran sebagai generasi penerus yang bertanggung jawab terhadap wilayahnya.

Sudah saatnya pemangku kebijakan mengajak atau melibatkan pemuda supaya ikut ambil peran dalam program-program desa. Meski terbilang muda, tetapi jika tidak dilakukan kaderisasi atau kandidat kalangan pemuda, maka bagaimana mungkin pemuda mendapat pengalaman dan belajar menjadi bagian desa?

Proses tersebut dinilai penting untuk langkah di masa depan. Memberi kesempatan kepada pemuda dalam formasi aparatur desa artinya mengajak pemuda untuk ikut ambil peran memajukan desa.

Kedua, pemberdayaan masyarakat. Desa berdaya artinya desa yang mandiri, di dalamnya terdapat masyarakat yang kuat dan tangguh. Pemberdayaan masyarakat merupakan usaha untuk memperkuat masyarakat baik dana, daya, dan peralatannya (baca: mandiri).

Strategi pembangunan desa berpusat pada peran pemuda. Pemuda sebagai bagian dari masyarakat desa berpotensi besar membawa desa menuju wajah baru dan berkembang dinamis dengan ide-ide kreatifnya. Oleh karena itu, penting melibatkan pemuda-pemuda untuk berperan aktif dalam pengembangan desa.

Saat ini banyak pemuda atau masyarakat yang akhirnya memilih untuk merantau dibanding memilih memajukan desa sendiri dengan dalih desa tidak mendukung untuk berproses. Mereka kesulitan membaca potensi dan bahkan mengenali potensi lingkungannya. Era digital saat ini dapat menjadi ladang untuk belajar dan menambah wawasan baru.

Pemuda akan menganggap masa depan kehidupannya ialah desa. Jadi, meski ia berkegiatan di luar ia tetap berkontribusi besar memajukan desa melalui kegiatan-kegiatan kreatifnya. Sedangkan peran pemerintah, yaitu mendukung setiap program-program pengembangan desa yang bertujuan tanpa praktik yang menguntungkan pribadi.

Sudah saatnya pemuda desa bergerak maju memimpin desa dan ikut mengawasi alokasi dana desa. Menggerakkan ekonomi dengan menggalakkan UMKM masyarakat serta menggali potensi-potensi lain yang ada.

 

Referensi

Bernardus Seran Kehik, “Pelaksanaan Program Pemberdayaan Masyarakat Desa di Bidang Ekonomi Kemasyarakatan (Studi Kasus di Desa Naiola Kecamatan Bikomi Selatan Kabupaten Timor Tengah),” Jurnal Agribisnis Lahan Kering, Vol. 3 (1), 2018.

Pengertian Dana Desa, Kemenkeu.go, Diakses tanggal 29 Maret 2022, https://djpb.kemenkeu.go.id/kppn/bukittinggi/id/data-publikasi/artikel/2951-dana-desa-pengertian,-sumber-dana,-penyaluran-dana,-dan-prioritasnya.html.

Sektor Pertanian di Triwulan III 2021 Konsisten Tumbuh Berkontribusi terhadap Ekonomi Indonesia, Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Diakses tanggal 29 Maret 2022, https://www.pertanian.go.id/home/?show=news&act=view&id=4992.

Iwan Setiawan, “Potensi Destinasi Wisata Indonesia Menuju Kemandirian Ekonomi,” Prosiding Seminar Nasional Multi Disiplin Ilmu dan Call for Papers UNISBANK. ISBN: 9789793649818.

Buletin APBN, “Optimalisasi Potensi Peternakan Sapi Potong di Indonesia,” Vol.4, Edisi 9, Mei 2021.