Diam Menjadi Dokter Hewan, Bergerak Menjadi Relawan

Melina Andriyani (kanan) Mengantar Pasien Covid-19. MELINA ANDRIYANI

Nama saya Melina Andriyani. Saat ini berdomisili di Padukuhan Garon RT 02, Panggungharjo, Sewon, Bantul. Saya seorang dokter hewan sekaligus aktivis Fatayat Nahdlatul Ulama Kapanewon Sewon.

Pada waktu itu, Pemerintah Kalurahan Panggungharjo sedang membuka lowongan relawan untuk ditempatkan di Selter Tanggon. Awalnya saya merasa belum terpanggil menunaikan misi kemanusiaan untuk melindungi warga Padukuhan Panggunggharjo dari Covid-19 varian Delta.

Saya merasa belum tepat waktunya untuk bergabung karena itu bukan keahlian saya di bidang medis. Memang, sih, bidang ilmu pengetahuan yang saya geluti memiliki sejarah yang hampir serumpun, sama-sama dalam bidang medis, namun bidang saya lebih ke dokter hewan. Jadi, pada saat awal selter berjalan, saya masih sibuk dengan aktivitas pribadi dan belum menjadi relawan.

Seiring berjalannya waktu, Selter Tanggon semakin kewalahan akibat tingginya lonjakan pandemi Covid-19 di Daerah Istimewa Yogyakarta. Oleh karena itu, Shelter Tanggon kembali membuka tambahan tenaga untuk relawan. Waktu itu, Kepala Dukuh Garon yang bertindak sebagai koordinator tim nonmedis, meminta bantuan kepada saya agar bergabung menjadi relawan selter.

Saya masih menimbang-nimbang tawaran tersebut. Hingga saya berpikir bahwa ini demi misi kemanusiaan. Risiko menyertai memang besar. Tetapi, bagian hati kecil saya tak bisa mengabaikan orang lain yang sedang membutuhkan pertolongan. Pada 23 Juli 2021, saya memutuskan untuk berkontribusi menjadi relawan Covid-19 di Selter Tanggon.

Sebuah keberuntungan karena di selter menerapkan pembagian waktu berjaga. Saya pun jadi dapat membagi waktu antara kerelawanan dan pribadi, mengingat saya masih ada pekerjaan lain dari pagi sampai sore. Waktu sore hingga malam selalu saya gunakan untuk berjaga di selter. Sabtu dan Minggu, saya terkadang mengambil waktu siang sampai sore.

Sejak awal menjadi relawan, banyak hikmah dari Covid-19 yang dapat dipelajari. Seperti karakteristik penyakit ini, mereka yang terjangkit Covid-19 dapat mengalami pemburukan kondisi apabila imunitas tubuh lemah. Imunitas menurun dipicu oleh suasana hati dan pikiran.

Ada satu cerita ketika saya berjaga sore, waktu itu saya mendapat laporan untuk kunjungan ke rumah warga yang isolasi mandiri. Saya tidak ingat daerah yang kami kunjungi. Namun, hal itu menjadi pengalaman pertama saya memakai pakaian Alat Pelindung Diri (APD) sejak maghrib sampai hampir pukul 02.00 WIB dini hari.

Perjalanan beberapa jam itu meninggalkan kesan kuat di benak saya, juga memberi pelajaran bagi saya. Pertama, ketanggapan dari petugas selter sangat diperlukan untuk merespon semua problem yang sedang dihadapi oleh penyintas Covid-19. Kedua, kepedulian terhadap sesama manusia perlu ditumbuhkan dengan dibekali ilmu dasar yang mencukupi sesuai kebutuhan. Ketiga, membangun pola relasi yang sehat antara tetangga dalam kehidupan bertetangga dan bermasyarakat.

Pernyataan membangun relasi yang sehat di tengah pandemi Covid-19 ternyata sangat penting. Sebab, kabar tentang mengabaikan tetangga yang sakit di situasi sekarang, memang sering terjadi.

Tidak banyak yang bisa saya sampaikan dalam penggalan cerita menjadi relawan. Saya harap kisah singkat ini dapat menjadi inspirasi dan koreksi diri menuju insan yang lebih bermanfaat. Nabi Muhammad saw. pernah bersabda bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.