Intermezzo Valentine

Valentine, Hari Kasih Sayang. IG /_cafe.__

Tanggal 13 Februari, persis setahun yang lalu. Tiba-tiba grup WhatsApp RT heboh karena unggahan yang saya kirim berupa iklan cokelat seri Valentine, hasil dari rumah produksi kami. Postingan tersebut ditanggapi oleh Mat Senen ketua RT di kampung kami.

Mat Senen adalah seorang yang sangat ‘islamis’. Tampak dari penampilannya yang selalu memakai kopiah dan gamis. Jenggot lebat dan dahinya yang hitam, menambah lengkap atribut islaminya.

Mat Senen sangat bersemangat ketika mengomentari postingan saya. Ia menunjukan dalil-dalil haramnya perayaan Valentine. Bahkan, postingan saya itu diklaim melanggar ‘syariat’.

“Memproduksi cokelat seri Valentine sama saja ikut merayakan Valentine. Apalagi memperjualbelikan, jelas sudah menyerupai perbuatan orang kafir,” ketiknya berapi-berapi dengan huruf kapital, lengkap dengan tautan hadis sahih.

Komentar dari Mat Senen ditanggapi oleh tetangga saya, Anung, yang kebetulan sering membantu produksi cokelat kami. Tanggapan dari Anung tidak meredakan situasi grup yang panas. Makin ramailah grup WhatsApp RT, ada yang pro dan kontra. Untuk meredakan perdebatan, akhirnya saya minta maaf dan menghapus unggahan saya. Untung saja, belum ada satu jam.

Memang group WhatsApp RT yang terletak di Dusun Kasongan, Bantul, yang terkenal dengan desa pengrajin gerabah ini, unik. Hampir sebagian besar anggotanya adalah pengrajin, seniman pematung, pelukis, dan produsen berbagai macam karya tangan lain. Sehingga, lumrah apabila grup WhatsApp menjadi sarana ‘adu pamer’ produk atau karya mereka.

Jika diamati, para pengrajin di Kasongan tidak selektif dalam menerima pesanan, termasuk Mat Senen. Belakang rumahnya seperti candi bubrah karena banyak bergeletakan patung Buddha apkiran dalam berbagai posisi. Bahkan, di awal Desember dia menyelesaikan pernak-pernik Natal berupa patung Yesus dan patung domba yang akan dikirim ke NTT.

***

Siang itu, Bhre, anak saya teriak-teriak di jalan depan rumah. Saya bergegas menghampiri, khawatir terjadi apa-apa, ternyata rantai sepedanya lepas. Saya ambil ranting untuk diperbaiki.

Sekonyong-konyong sebuah bayangan putih menunggangi motor N-Max terbaru mendadak berhenti. Rupanya Mat Senen belum puas dengan perdebatan di grup WhatsApp. Ia lantas bertausiah panjang lebar, saya hanya diam dan manggut-manggut mendengarkan. Saya sebagai warga baru di kampung ini, tidak ingin membuat masalah, paling sebentar saja, wong panas-panas di tengah jalan, batin saya.

Benar saja, tidak lama kemudian ia menyudahi dan berpamitan. Sebelum menggeber motornya, saya bertanya hendak ke mana? Ia menjawab mau menyelesaikan pembayaran di Indah Cargo.

“Mau kirim apa Pak? Kok belum di-post di grup hasil karyanya?” tanya saya penuh kepo.

“Oh, kirim ke Bali, patung Ganesha yang besar ada belalainya itu loh,” jawabnya.

Saya membatin, bukankah Ganesha adalah salah satu dewa yang disembah dalam Agama Hindu, tanpa sengaja saya berceletuk.

“Pak Mat, bagaimana hukumnya membuat patung, apalagi patung pemujaan agama lain?”

Rupanya Ia malah menarik gasnya dan teriak, “Kapan-kapan, deh, saya tak mampir ngobrol,” kemudian weeerr… eng ing eeengg… Mat Senen ngacir pergi.

Saya hanya bisa memandang punggungnya yang terbalut baju gamis putih melambai-lambai tertiup angin bagai jubah Superman sembari membayangkan rezeki nomplok akan diterima Mat Senen dari hasil menjual patung pemujaan.