Kenangan Berkhotbah di Selter Tanggon

Perayaan Iduladha di Selter Tanggon. JAMILLUDIN

Saya kepikiran untuk mengadakan takbiran dan Salat Iduladha di selter. Pak Jamil bisa menjadi khatibnya. Mekipun sakit, mereka tidak boleh kehilangan kebahagiaan menyambut Iduladha, hal ini juga berlaku untuk para relawan,” ucapnya.

Demikian penggalan pesan singkat dari Wahyudi Anggoro Hadi di WhatsApp ketika Kalurahan Panggungharjo mengalami lonjakan kasus Covid-19 yang tak terkendali. Sejak awal dibukanya Selter Tanggon di Kapanewon Sewon, ia selaku Lurah Panggungharjo selalu memberikan contoh dan komitmen dalam melayani warga. Ia memberikan akses kepada warganya agar dapat melaporkan kondisi mereka secara terbuka melalui Bantultangguh.com.

Menjelang Iduladha, warga yang melakukan karantina di selter cukup banyak. Meskipun didominasi pasien orang tua, di Selter Tanggon juga ada pasien remaja dan anak-anak. Oleh karena itu, saat mendapat pesan ajakan dari Lurah Panggungharjo untuk merayakan Iduladha di selter, saya merasa terpanggil memenuhi amanah tersebut.

Biasanya, ketika jadwal piket berakhir di pukul 17.00 WIB saya langsung pulang ke rumah. Berbeda pada sore hari jelang takbir Iduladha berkumandang, saya sama sekali belum beranjak dari tempat duduk di selter. Sambil menanti azan Magrib berkumandang—tanda berbuka puasa Arafah—saya mencoba mencari bahan untuk menyampaikan khotbah esok hari.

Bagi saya, membuat bahan khotbah bukan perkara sulit, cukup dengan googling dan klik kata kunci maka langsung muncul banyak naskah khotbah. Dalam hitungan detik, naskah berjumlah ratusan hingga jutaan naskah sudah bisa didapat berkat kemajuan teknologi bernama Google dan fitur unduh. Akan tetapi, hati nurani berkata lain, saya ingin membuat naskah khotbah yang betul-betul saya buat sendiri dan bisa disampaikan langsung saat bertugas di selter.

Tak terasa, azan Magrib sudah berkumandang dan suasana selter semakin syahdu. Ya, di luar selter terdengar sahut-sahutan gema takbir, tasbih, dan tahmid yang berasal dari pengeras suara di masjid atau musala yang letaknya tidak jauh dari selter. Sementara itu, pemandangan di zona merah selter tampak beberapa warga yang karantina sedang duduk termenung dan beberapa ada yang menikmati santap malam.

Saya yang masih berkutat dengan naskah khotbah Iduladha semakin menggebu ingin segera menyelesaikan naskah. Bukannya cepat-cepat menyelesaikan naskah, saya malah tambah bingung karena melihat ekspresi warga yang karantina. Ekspresi wajah mereka berhasil menghanyutkan saya dalam suasana malam takbir di hari itu.

Rasanya, jarak begitu jauh dan kerinduan pada keluarga di malam itu tidak terbendung. Sesekali saya memperhatikan ada yang mencoba menghubungi sanak keluarga melalui ponsel. Barangkali karena sinyal atau kuota yang sudah habis, akhirnya tidak berhasil menghubungi keluarga.

Selesai salat Magrib, saya mendapat arahan dari Lurah Panggungharjo untuk menghidupkan suasana Iduladha di Selter Tanggon. Saya pun memberanikan diri untuk mengumandangkan takbir melalui alat pengeras suara yang ada di selter. Bait demi bait saya lafalkan. Suara dan nada yang stabil saya coba pertahankan, tetapi perasaan haru yang tak bisa dibendung membuat suara saya bergetar ketika melafalkan pujian-pujian kepada Allah.

Saya mencoba bertahan dari rasa haru agar suasana malam takbir menjadi hal yang membawa kebahagiaan, meskipun untuk sementara waktu warga yang karantina harus ikhlas merayakan Iduladha di selter.

Keesokan harinya, tepat di hari Iduladha 1442 Hijriah, saya sudah menyiapkan diri untuk tampil menjadi imam dan khatib Idul Adha. Saya yang tinggal di Kalurahan Bangunjiwo harus berangkat lebih pagi karena jarak dari rumah ke selter lumayan jauh, sekitar enam kilometer. Setelah mengurusi istri dan anak yang akan melaksanakan salat Iduladha di lingkungan rumah, tepat pukul 06.00 WIB, saya berangkat menggunakan Mio; motor yang setia menemani saya beraktivitas.

Perjalanan yang memakan waktu sekitar 15 menit membuat saya semakin deg-degan, karena baru ingat bahwa belum membahas tata letak tempat antara imam dan makmum. Sangat tidak mungkin apabila imam dan makmum berada di jarak yang berdekatan. Kalaupun harus berdekatan maka saya sebagai imam harus memakai Alat Pelindung Diri (APD). Ya, memakai baju yang menyerupai astronaut.

Saya jadi teringat pengalaman pertama kali memakai kostum anti virus saat mendampingi Lurah Panggungharjo melakukan kunjungan ke rumah warga, rasanya sangat tidak nyaman. Saat memakai APD, pastinya sangat tertutup rapat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ditambah lagi, wajah harus memakai penutup untuk menghindari paparan virus.

Tepat pukul 06.15 WIB, saya sampai di area parkir selter yang berlokasi di Kompleks SMKN 2 Sewon. Saya segera memarkir motor dan masuk ke zona merah. Pemandangan pertama kali yang terlihat adalah area selter sangat sepi, biasanya tempat itu diisi keriuhan para relawan. Sedangkan di area karantina, hanya beberapa warga yang duduk-duduk di luar ruang kelas.

Sontak, pikiran saya semakin bingung karena belum ada yang menyiapkan area untuk salat Iduladha. Saya mencoba mencari teman relawan. Tak butuh waktu lama, saya menemukan seseorang tengah tergeletak tidur di kursi kayu. Melihat posisi tidurnya, saya yakin relawan itu sangat lelah dan mungkin mulai terkuras energinya karena harus piket malam.

Ternyata relawan itu seorang kepala dukuh di Kalurahan Panggungharjo. Namanya Fendika, ia belum lama dilantik menjadi dukuh, namun langsung banyak terlibat dalam penanganan Covid-19. Tidak berselang lama, Lurah Panggungharjo datang, kepanikan saya berkurang karena ia memberikan solusi, baik tata letak tempat maupun menyiapkan sound system. Ia juga mengondisikan pasien untuk ikut melaksanakan salat di selter.

Sekitar pukul 06.45 WIB, tiba saatnya salat Iduladha dilaksanakan. Posisi imam dan warga yang karantina akhirnya di beri jarak yang cukup jauh. Tentu saja itu membuat saya tenang karena tidak perlu memakai baju APD. Selanjutnya, saya bergegas memposisikan diri untuk memulai salat jemaah.

Pada rakaat pertama, surat yang saya baca yaitu surat Al-A’la dan di rakaat kedua surat Al Ghasyiyah. Kemudian, dilanjutkan dengan khotbah yang saya sampaikan tentang Ikhlas menerima cobaan. Dalam khotbah kedua, saya menyelipkan doa untuk kesehatan para pasien dan relawan.