Laku Masangin Antara Mitos, Sejarah, dan Filosofi

Alun-alun Selatan. KRATON JOGJA

The Avatar merupakan sebuah film fiksi ilmiah yang berdurasi dua setengah jam. Ini menjadi film Hollywood yang paling fenomenal pada masanya. Bukan karena masalah durasinya yang panjang, bukan juga karena film yang paling laris sepanjang masa, namun kehebatan sinematografi, alur cerita, dan kepiawaian aktornya hingga membuat mata penonton tidak berkedip sepanjang pertunjukan.

Sang maestro sineas, James Cameron, secara apik dan luar biasa berhasil menyutradarai The Avatar. Film ini mengisahkan tentang keserakahan ras manusia dalam usaha menaklukan Planet Pandora yang memiliki sumber daya esensial yang tersembunyi di bawah pohon besar Tree of Souls (pohon kehidupan atau beringin).

Barangkali, sebelum James Cameron meracik film The Avatar, telah mempelajari tentang filosofi pohon kehidupan. Kalau kita mengenalnya dengan sebutan pohon beringin. Apabila James Cameron memang benar-benar mempelajari filosofi tersebut, tak perlu heran. Bahkan, bangsa Indonesia pun menjadikan pohon beringing sebagai lambang sila ketiga dari Pancasila.

Saya tidak ingin membahas film The Avatar, namun saya ingin mengetengahkan tentang mitos sebuah pohon yang sering kali dikeramatkan oleh orang Jawa, yakni pohon beringin. Mungkin karena bentuk fisik dan sifatnya, pohon beringin bagi orang jawa dilambangkan dalam bentuk pemikiran ayom, ayem, dan tentrem. Artinya adalah pohon beringin memberikan keteduhan bagi makluk hidup yang ada di sekelilingnya (ayom) maka menciptakan rasa damai (ayem) dan akhirnya terbentuklah ketenteraman (tentrem).

Membahas pohon beringin, tentu mengingatkan tentang mitos Laku Masangin atau jalan di antara dua pohon beringin. Pohon Beringin kembar yang tumbuh dengan gagah di Alun-alun Selatan, Daerah Provinsi Yogyakarta. Laku Masangin menjadi salah satu daya tarik wisata di Yogyakarta. Mereka yang berhasil berjalan melewati tengah-tengah dua pohon beringin dalam keadaan mata tertutup dengan sukses, segala keinginannya akan terkabul.

Walaupun terdengar sangat mudah, sangat jarang yang berhasil di kesempatan pertama. Kalaupun berhasil, biasanya mereka telah mencoba berkali-kali dan jalannya juga diperlambat. Pernah beberapa kali mengajak teman bule untuk membuktikan mitos itu. Mereka pun terheran-heran, kemudian terbahak-bahak. Bukan karena berhasil, tapi karena penasaran alasan bisa gagal berulang kali.

Menurut penuturan turun temurun, mitos Laku Masangin itu berawal dari masa Sultan Agung Hanyokrokusumo, yakni raja terbesar dari Kesultanan Mataram. Suatu hari, ketika Sultan Agung sedang gundah gulana karena dua kali gagal menyerang benteng Belanda di Batavia, ia berziarah dan menepi ke Bukit Jabalkat (makam Sunan Bayat) untuk menghalau rasa gelisahnya.

Dalam tirakatnya itu, Sultan Agung mendapatkan petunjuk yang berharga untuk menata kebesaran Kesultanan Mataram. Salah satu petunjuknya adalah Sultan Agung disuruh menanam dua pohon beringin di tengah alun-alun yang bibitnya diambil dari depan Gapura Segara Muncar, yaitu gapura pertama di kompleks pemakaman Sunan Bayat.

Kembalinya dari Bayat, Sultan Agung segera menanam pohon tersebut tepat di tengah alun-alun, barangkali saking khidmat dan menghayatinya akan petunjuk dari Sunan Bayat, saat menanam pohon tersebut semua terdiam, dari raja sampai punggawa.

Setelah tertanam di tengah alun-alun, Sang Raja pun memeriksanya. Ia berjalan di tengah dan berkeliling di antara pohon beringin tersebut. Kemudian, ia bersabda kepada para punggawanya untuk merawat dan menjaga pohon tersebut agar jangan sampai mati. Apabila ada yang berani menebang pohon tersebut maka akan terkena bencana.

Sejak saat itulah tradisi ini berawal. Mereka melakukan tapak tilas Sang Raja dengan mengelilingi pohon beringin sambil topo bisu (perjalanan diam sambil berdoa). Tapak tilas itu tidak hanya dilakukan para abdi dalem dan punggawa kerajaan, namun juga diikuti secara luas oleh masyarakat mataram.

Rupanya, sabda dari Sultan Agung itu dilanggar oleh anaknya sendiri, yakni Raja Amangkurat I. Ketika menggantikan kedudukan sebagai raja, ia jauh dari kata bijaksana seperti ayahnya. Ia masih mengedepankan ego dan sifat kekanak-kanakan. Hanya karena layang-layang yang ia mainkan tersangkut di pohon beringin itu, ditebanglah semua pohon di alun alun, termasuk pohon beringin wasiat dari Sunan Bayat.

Kelakuan kekanak-kanakan Raja Amangkurat I tersebut telah direkam rapi dalam catatan Johan Karel Jacob de Jonge dalam karyanya De opkomst dan memang terbukti kejayaan Kesultanan Mataram di bawah Amangkurat I meredup. Hal itu menjadi awal bencana kehancuran Kesultanan Mataram, banyak rakyat dikorbankan demi memuaskan ego Sang Raja, termasuk membantai ulama dan pengikut keturunan Sunan Bayat.