Lea

ALAMY

Panas sinar matahari siang ini sungguh terlalu, terik sinarnya menghantam sepeda motorku yang terparkir di depan sebuah kantor asuransi di kawasan ruko Jogonegaran, Gedong Tengen, Yogyakarta. Aku bergegas masuk untuk sekadar bersembuyi dari matahari, tapi ternyata tidak ada tempat untuk berteduh di dalam. Petugas keamanan mempersilakanku menunggu di luar. Akhirnya terpaksa menunggu di angkringan depan ruko.

“Covid sialan,” gumamku.

Sebenarnya, antrean di dalam tidak terlalu ramai, namun karena ada pembatasan berjarak (social distancing) maka beberapa kursi diberi tanda silang. Ruangan yang sempit itu pun hanya mampu menampung sedikit orang.

Saya menegur penjual angkringan yang berada di dekat ruko sembari mengacungkan telunjuk ke maskernya yang turun ke dagu, “Mas, itu maskernya dibetulkan, sama pesan es teh satu, ya.”

Aku menggeser bangku yang terbuat dari kayu munggur, menjauhi tungku angkringan yang penuh arang. Terhirup bau seperti kayu terbakar dari tungku tersebut, mungkin arang yang dipakai kurang matang, jadi masih setengah kayu.

Aku aduk-aduk bongkahan es di dalam gelas Tong Djie. Saya tebak, penjual angkringan ini beli teh berhadiah gelas. Pusaran tumbukan perlahan antara air teh dan es batu di dalam gelas yang tinggal setengah seolah mengaduk isi hati dan emosiku. Dengan satu tarikan napas dan goyangan kepala perlahan, aku coba menghentikan adukan emosi yang terus menghantuiku sebulan ini.

“Mas, aku pamit. Jaga Sweetara anak kita.”

Itu pesan terakhir darinya yang dikirim melalui WhatsApp dari ruang isolasi di RS Panembahan Senopati. Rumah sakit itu menjadi tempat istriku tercinta, Lea Arkadewi Kusumaningtyas, bekerja sekaligus tempat terakhirnya menghembuskan napas tanpa didampingi orang-orang tercinta. Ia hanya berteman alat bantu napas dan monitor tanda-tanda vital.

“Covid ini realitas yang harus kita hadapi. Aku tidak mau gara-gara hasil tesku positif, mas tidak dapat berjualan. Bagaimanapun, mas adalah tiang keluarga. Biarlah Sweetara dijaga Tante Yul, untuk sementara pakai susu formula dulu karena ASI milikku tidak memungkinkan. Mas harus tetap semangat, jaga asa kita. Aku yakin hanya sebentar di ruang isolasi ini,” sebuah pesan singkat dari Lea satu jam setelah masuk ruang isolasi.

Ternyata memang benar, Lea hanya sebentar. Ia menepatinya. Kurang dari seminggu, ia sudah meninggalkan ruang isolasi. Namun, bukan pulang ke sisi kami, ia pulang ke sisi Allah Swt.

Ketika melakukan pencarian di internet, tanpa sengaja aku menemukan nama cantik itu, Lea Arkadewi Kusumaningtyas. Saat itu aku sedang membantu riset temanku dari Belanda, Jack van Couvorden, yang ingin menelusuri jejak grup musik legendaris bernama The Cats. Sebab, Cees Veerman selaku gitaris sekaligus vokalis grup musik tersebut sempat tinggal dan meninggal di Yogyakarta.

“Salah satu lagu yang paling populer dari The Cats berjudul ‘Lea’. Lagu itu pun sampai memengaruhi corak musik di Indonesia pada dekade akhir 60-an hingga awal 80-an,” kata Jack.

Berawal dari pernyataan Jack, berhari-hari aku ‘menekuni’ lagu itu. Sampai-sampai, tanpa sengaja aku menemukan nama Lea Arkadewi Kusumaningtyas di internet. Ia seorang mahasiswi tingkat akhir Program Studi Keperawatan UGM.

Semua serba kebetulan, ternyata dia sedang membuat skripsi dengan topik hubungan pola makan dengan gastritis pada remaja. Salah satu yang ia teliti adalah makanan cokelat dan pengaruhnya kepada Lambung. Sebagai penjual cokelat, aku dianggap teman yang cocok untuk berdiskusi menyelesaikan skripsinya.

“Omong-omong, nama Lea itu artinya apa? Apakah ada hubungannya dengan lagu Lea dari The Cats?” tanyaku di suatu senja sembari menikmati lagu-lagu kenangan di Etnic Restaurant Purawisata.

“Hahaha,” tawanya berderai dan tangannya pun menutupi deretan gigi memutih serta dagu miliknya yang menggantung indah. Aku sering mengibaratkan, dagu cantiknya seperti Kate Middleton.

“Kalau itu yang jelas tahu jawabanya adalah bapakku,” jawabnya sambil matanya berkedip-kedip menatapku lurus. Sedangkan, aku tak mampu menatapnya lama-lama.

Jawabannya seperti dugaanku. Bapaknya adalah seorang pemandu wisata yang dapat berbahasa Belanda. Kebetulan, setahun terakhir sebelum Cees Veerman meninggal, bapaknya sering dipanggil untuk berdiskusi atau sekadar menyesap kopi di Kaliurang.

“Nama Lea itu telah mendapatkan izin darinya. Jadi, mungkin akulah satu-satunya Lea yang paling orisinal,” katanya.

Hingga hari ini, aku sungguh tidak mengerti, mengapa gadis cantik, pintar, supel, dan selihah seperti Lea mau menikah denganku yang hanya penjual cokelat keliling? Ia selalu bilang bahwa alasannya menikah denganku karena kadang-kadang aku menyebalkan.

Lea, apakah aku masih menyebalkan? Lihatlah cantiknya Sweetara Tunggadewi, buah hati kita yang sedang menangis karena mengompol, sedangkan aku belum terbiasa mengganti diapernya. Ah, aku sangat merindukanmu.

Sebenarnya, belum ada enam minggu dari masa nifasnya setelah melahirkan Sweetara. Karena lonjakan kasus Covid-19 menggila maka atas nama panggilan tugas, Lea langsung bekerja penuh waktu. Bahkan, ASI untuk Sweetara dipompa dan ditampung ke botol steril di ruang laktasi rumah sakit.

Kata Radit, seorang dokter yang berusaha menghiburku, kemungkinan Lea terpapar Covid-19 ketika sedang memompa ASI. Pekerjaan yang melebihi waktu membuat ‘tampungan’ ASI pecah. Lea pun terpaksa harus ke ruang laktasi. Barangkali karena terburu-buru dan menahan sakit di dada, proses memompa ASI kurang steril. Hal itulah yang menimbulkan malapetaka.

“Pak Wahyu,” teriak petugas keamanan membuyarkan lamunanku.

Hari ini tepat 30 hari setelah kepergian Lea, hari ini pula pertama kalinya aku keluar dari rumah untuk mengurus klaim asuransi atas nama Lea.

Cuitan suara burung perenjak, gemeresik daun bambu, tonggeret berdendang tertangkap runguku di suatu sore hari. Aku berjalan menelusuri jalan setapak, di balik bukit yang penuh dengan pohon bambu itulah letak Pemakaman Donoloyo. Tiba-tiba, di ujung jalan setapak, aku melihat sosok perempuan yang sedang duduk di tanah membelakangiku. Tangannya dihinggapi kupu-kupu. Sosok itu mengangkat tangannya membiarkan kupu-kupu terbang dari tangannya. Kupu-kupu pun berterbangan mengitari perempuan itu.

Aku segera menggeleng-gelengkan kepala dan berusaha untuk mengabaikannya. Sebab, tak mungkin ada perempuan seorang diri di tengah jalan seperti ini. Aku mempercepat langkah karena ingin segera melihatnya. Mungkin terlalu terburu-buru, aku jatuh tertelungkup. Ketika aku membuka mata dan menatap ke depan, perempuan itu sudah hilang.

Tepat di tanah tempat perempuan tadi duduk, aku melihat tulisan yang sangat jelas, “Love you and Sweetara.”