Melihat Krisis Kesehatan dari Dekat

Kunjungan ke Rumah Pasien. DAMAR SAKSOMO

Covid-19 yang meluluhlantakkan hampir semua aspek kehidupan memaksa kita untuk tetap tinggal di rumah. Covid-19 mengungkung banyak orang dalam ketakutan, walaupun hal itu tidak berlaku kepada saya.

Kalau saja ketakutan terhadap virus yang terus-menerus bermutasi itu ada di dalam diri saya, pada bulan Juli tahun lalu, saya tidak akan terdaftar sebagai relawan Selter Tanggon. Sebelum menjadi relawan di Selter Tanggon, saya sudah pernah berpartisipasi dalam penanganan Covid-19 di awal tahun 2020. Saat itu, tugas saya hanya membuat web untuk membantu Pemerintah Kalurahan Panggungharjo memantau kesehatan warganya.

Kondisinya sangat berbeda pada saat Covid-19 varian Delta menyerang. Tidak hanya bertugas menaikkan kualitas web, tetapi juga mendapat tugas untuk turun ke lapangan. Tidak pernah membayangkan bahwa saya harus memakai pakaian Alat Pelindung Diri (APD) sambil menaiki ambulans dengan menenteng tabung oksigen. Bagaimana bisa seorang yang tak memiliki ilmu medis mendatangi rumah pasien Covid-19 yang isolasi mandiri?

Dalam keadaan yang serba kacau, kami membuat segala skenario dan mengerahkan semua tenaga yang kami punya untuk menanganinya, termasuk membantu tim medis. Tenang saja, saya yang tidak mengerti tentang teknik merawat pasien hanya bertugas membantu tim medis. Bagaimanapun mereka tetap yang berwenang mengobati pasien.

Pemandangan seperti ini bukan hal yang asing di Selter Tanggon. Banyak relawan yang bukan berasal dari lulusan kesehatan, tetapi turut membantu para tenaga kesehatan. Penyebabnya adalah keterbatasan relawan medis.

Saya yang memiliki keahlian di bidang teknologi informatika dan tidak ada pengalaman yang bersinggungan dengan merawat, harus terjun langsung ke lapangan menggunakan pakaian APD. Pengalaman pertama kali memakai APD lengkap masih terbayang hingga sekarang.

Saya sering terjaga semalaman karena sibuk berkutat dengan perangkat komputer. Namun, kegiatan saat itu berbeda dari biasanya. Saya lupa kepanikan yang terjadi pukul berapa. Dilihat dari keadaan selter yang sudah sepi, saya hanya meyakini bahwa waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam.

Sialnya, di Selter Tanggon tinggal tersisa saya dan seorang rekan. Saya tidak berharap akan ada panggilan darurat yang masuk kala itu. Meskipun sudah mengharapkan hal-hal yang baik, terkadang jalannya cerita tidak sesuai dengan rencana. Benar saja, sebuah panggilan yang tidak diharapkan datang. Kami segera memakai APD dan menuju lokasi dengan ambulans. Barangkali memang belum terbiasa memakai APD karena ini pertama kalinya, sehingga sensasi sumpeknya membuat tidak nyaman.

Setiba di sana kami mendapati seorang lansia tengah kesulitan bernapas. Timbul perasaan sedih melihat keadaan yang menyakitkan bagi lansia tersebut. Namun, yang dibutuhkan saat itu hanya sikap profesional, bukan sekadar termenung. Lalu, dengan menjaga fokus agar dapat maksimal ketika mendampingi rekan saya, kami mulai mengecek tanda-tanda vitalnya.

Kami panik ketika mengetahui bahwa saturasi pasien sangat rendah. Kami mencoba memasok oksigen dari tabung ke dalam tubuhnya, berharap hal itu akan membantu menaikkan kadar oksigen dan membuatnya bernapas lega. Cukup lama di sana dengan perasaan campur aduk, kami memutuskan kembali ke selter karena merasa kondisi pasien membaik.

Malam yang panjang dan cukup melelahkan. Tak hanya lelah fisik, namun pikiran dan hati juga lelah bukan main menghadapi pasien yang napasnya tersenggal. Saya menyempatkan beristirahat di rumah dulu sebelum melanjutkan kegiatan yang masih banyak di Selter Tanggon. Waktu istirahat pun tidak lama.

Sekitar pukul 09.00 pagi hari, motor sudah melaju membawa saya menuju selter itu lagi. Ketika di tengah perjalan, saya melihat bendera putih berkibar di dekat rumah pasien yang semalam kami rawat. Bak dipenuhi kupu-kupu, dada saya terasa sesak dan perasaan sudah tidak enak. Namun, saya tetap melanjutkan perjalanan sambil mencoba berpikir tentang segala hal baik.

Saya tidak pernah menyangka kabar duka akan saya terima pada pagi itu. Sesuai dugaan, bendera putih yang berkibar tadi berasal dari pasien yang semalam kami kunjungi. Seketika saya merasa sedih dan timbul penghakiman terhadap diri sendiri. Seandainya saya lebih berusaha, apakah ia dapat bertahan? Perasaan itu masih muncul sampai sekarang.

Mengalami kisah pilu selama menjadi relawan di Selter Tanggon membuka mata saya tentang kondisi yang sesungguhnya terjadi. Apakah pernah membayangkan banyak orang yang membutuhkan rumah sakit, tetapi kondisi tidak memungkinkan untuk mendapat perawatan? Hal mengerikan itu memang benar-benar terjadi di pertengahan 2021. Covid-19 varian Delta terkonfirmasi sudah menjangkiti orang-orang dengan menimbulkan banyak gejala parah.

Ketika kejadian berlangsung, rumah sakit tak mampu menampung semua pasien karena fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan kita jumlahnya kalah besar. Hal ini menjadi alasan kami membantu tim medis Selter Tanggon, walaupun pengalaman medis tidak ada. Melihat kondisi di lapangan juga menyadarkan saya bahwa dibentuknya Selter Tanggon adalah kebutuhan yang tak dapat ditawar.

Sejujurnya, ketika sudah bergabung menjadi relawan, saya masih seseorang yang tidak menganggap Covid-19 berbahaya. Melihat dari data Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Nasional yang selalu terpampang setiap kali membuka portal berita, persentase kematiannya sangat kecil. Berdasarkan data real time yang selalu diperbarui, saya mengambil kesimpulan tersebut.

Menurut saya, Covid-19 tidak terlalu berbahaya. Jika terpapar virus itu, gejalanya akan seperti flu biasa. Walaupun saya memiliki prinsip yang agak berlawanan dari kebanyakan orang di masa sekarang, tidak pernah sedikit pun mengajak orang-orang di sekitar satu jalan pikiran dengan saya. Tak ada keinginan mendoktrin mereka dengan segala pendapat saya.

Sadar betul bahwa pernyataan tersebut dapat membuat sebagian orang mendidih ketika membacanya. Barangkali juga, para pakar kesehatan akan menganggap saya sok tahu.

Berdiri di atas prinsip ini, tak membuat saya menihilkan keberadaan Covid-19. Kalau Covid-19 tidak ada, bagaimana mungkin saya menjadi relawan? Kekacauan yang terjadi saat itu membuktikan bahwa Covid-19 memang ada. Oleh karena itu, bergabung dengan Selter Tanggon salah satu cara membantu mereka yang terdampak kekacauan tersebut.

Melihat kondisi pandemi Covid-19 dari dekat melalui Selter Tanggon memberi kejutan yang tidak menyenangkan. Beberapa kali saya menyaksikan kematian di selter yang disebabkan oleh virus itu. Sedikit menampar saya bahwa bagi sebagian orang, ternyata Covid-19 berbahaya. Namun, saya masih tak percaya apabila Covid-19 sangat berbahaya karena saya tidak bisa mengabaikan keberadaan mereka yang masih selamat.

Jika ditanya, apakah saya menyarankan orang-orang untuk mematuhi protokol kesehatan; memakai masker, menjaga jarak, dan rajin mencuci tangan? Jawabannya, iya. Covid-19 memang tidak begitu berbahaya, tetapi bagaimana kalau tanpa sadar kita menularkannya pada orang yang rentan?

Kejadian di pertengahan 2021 memang memberikan pelajaran banyak bagi saya, terlebih lagi selama menjadi relawan di Selter Tanggon. Saya menyadari, penuhnya rumah sakit dan kurangnya tenaga medis menunjukkan bahwa ada yang abai terhadap protokol kesehatan. Saya juga menyadari, melihat ulang prinsip saya melalui dua sisi itu sangat penting. Mungkin saja selama ini ada kesalahan dalam berpikir.