Membaca Budaya Literasi dan Urgensinya dalam Kehidupan

Literacy. FAWE

Membaca salah satu visi Indonesia di tahun 2030 mendatang, yakni menjadi negara yang termasuk dalam kategori negara terbesar kelima dalam sektor ekonomi. Pemerataan ekonomi, mewujudkan kualitas hidup yang modern secara merata. Semua itu rupanya tengah diagendakan oleh pemerintah. Namun, dibalik itu semua, kemungkinan besarnya bisa terwujud dan bisa juga tidak. Cita-cita tinggi butuh usaha besar dalam mewujudkan. Apa yang harus dilakukan oleh Indonesia? Menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan siap dalam mengelola dan maju bersama-sama mewujudkan semua itu.

Potensi Indonesia bukan tidak bisa mewujudkan semua cita-cita luhur dengan memajukan kesejahteraan umum dan menyelamatkan bangsa dari kemiskinan di tengah negara yang kaya Sumber daya Alam (SDA). Poin utama dari semua ini terletak di SDM. Artinya mencetak bangsa yang unggul-peran pendidikan untuk mencerdaskan generasi bangsa.

Membaca literasi Indonesia yang menurut UNESCO masih dalam kategori rendah semacam tamparan besar, bagaimana mungkin? Apa yang minus dari bangsa ini? Bagaimana mengatasinya? Menggerakkan literasi merupakan langkah utama yang perlu digalakkan kembali. Membaca literasi yang standarisasinya berkiblat pada standar Negara Barat memang serasa tidak imbang. Sebab Indonesia kaya akan budaya dan bahasa. Namun dibalik itu, Membaca literasi lebih dalam lagi sepertinya penting untuk kita telaah apa saja perkembangan yang terjadi saat ini.

Urgensi Literasi

Sebelum terlalu jauh mengkaji literasi yang menyiratkan makna global tersebut, penting untuk kita ketahui bahwa literasi yang berarti kemampuan menulis dan membaca, saat ini telah mengalami perkembangan makna. Dalam Seminar Nasional tentang Pengembangan kurikulum nasional ‘Merdeka Belajar,’ Maman Suryaman menyampaikan pandangannya bahwa tantangan di era 4.0 saat ini lebih kemampuan lembaga pendidikan mencetak generasi yang berkemampuan, memiliki skill-artinya menciptakan kurikulum yang link and match dengan lingkungan kerja.(1)

Dalam penjelasan lanjutannya, dengan membaca konteks saat ini literasi lama (kemampuan membaca dan menulis) seperti tidak cukup untuk mengejar ketertinggalan saat ini. Indonesia harus bangun dengan pemahaman akan ‘literasi baru’ yaitu kemampuan untuk membaca, menganalisis,dan menggunakan informasi (bid data) di dunia digital. Era sekarang menuntut kecakapan lebih untuk kita miliki. Itulah syarat untuk bangun dan membentuk peradaban baru menuju masa gemilang-berlari dari ketertinggalan.

Melihat perspektif dari tokoh Paulo Freire dan Donaldo Macedo menyatakan dalam bukunya, Literacy: Reading The Word and The World (1987), menyatakan bahwa literasi dipahami sebagai media yang terdiri dari proses membaca dan menulis. Membaca dan menulis dipandang pula sebagai act of knowledge and a creative act. Dalam telaah lanjutan yang ia paparkan juga menyebutkan, “literacy must be seen as a medium that constitutes and affirms the historical and existential moments of lived experience that produce a subordinate or a lived culture.”(2) Maksudnya literasi sebagaimana urgensinya dapat menjadi media yang membentuk atau menegaskan momen historis bahkan eksistensi diri berdasarkan pengalaman hidup sebagai hasil dari budaya.

Membangun literasi perlu menjadikannya sebagai budaya. Untuk mengetahui tradisi literasi, Brian V. Street membahasnya dalam buku yang ditulis dengan judul Social Literacies: Critical Approaches to Literacy in Development, Ethnography and Education (3). Ia mendefinisikan literasi tidak hanya sebatas kemampuan membaca dan menulis, sebagaimana literasi yang diperkenalkan oleh Norman di Inggris bahwa literasi meliputi pula “Melek Mental (Literate mentality)” yang melibatkan cara berpikir dan cara memandang budaya secara keseluruhan. Melek mental juga mengindikasikan bahwa literasi memiliki kaitan dengan kemampuan kognitif seseorang. Brian juga menyatakan bahwa perlu kehati-hatian dalam menggeneralisasikan makna literasi.

Untuk mengetahui bagaimana literasi hidup dan berkembang di suatu tempat atau suatu lembaga, tentu membutuhkan beberapa pengetahuan tentang budaya itu berkembang di suatu wilayah atau di suatu lembaga. Seperti di lembaga pesantren, maka perlu kita mengetahui budaya yang berkembang di sana dan menjadi lakon oleh para santri. Oleh karena itu penting melakukan pendekatan kritis dan antropologi. Dari teori yang dinyatakan oleh Brian tersebut, bahwa ada keterkaitan antara literasi dan antropologi. Artinya untuk mengetahui perkembangan literasi yang berkembang di kalangan santri di Pesantren maka perlu pendekatan budaya bagaimana ia berkembang atau sampai dan terus mengakar hingga menjadi bagian dalam kehidupan.

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu oleh Ali Romdhoni, terdapat sesuatu yang relevan dengan teori yang dikemukakan oleh Brian. Pesantren sebagaimana hakikatnya sebagai lembaga pendidikan yang tetap menyelenggarakan pendidikan yang selaras dengan kehidupan dan kebutuhan masyarakat. Untuk mengetahui tradisi literasi seperti membaca dan menulis di lembaga pesantren, maka perlu pendekatan budaya disana. Pendekatan tersebut untuk mengetahui bagaimana literasi dapat berkembang dan hidup di kalangan santri. Kreativitas yang muncul dari tangan santri memiliki hubungan keterkaitan dengan lingkungan yang dapat membentuknya berproses. Ali Romadhani (4) juga menyatakan bahwa berawal dari ketertarikan terhadap figur sang Kiai yang memiliki keteladanan sikap. Oleh karena itu kreativitas santri berupa karya tulis terbentuk dari tradisi menulis yang hidup serta dipengaruhi pula oleh keteladanan tokoh.

Pendidikan Literasi

Sebagaimana urgensi pendidikan dalam kehidupan, literasi menjadi salah satu motivasi perkembangan pendidikan Indonesia sekaligus faktor penting bagi pendidikan. Dengan literasi pengetahuan seseorang dapat berkembang semakin luas. I Made Ngurah Suragangga (5) pernah menjelaskan dalam kajiannya, bahwa menulis dapat melatih pikiran menjadi lebih tertata, mengikat dan mengonstruksi gagasan, menajamkan sesuatu, meningkatkan daya ingat, dapat mengenali diri sendiri, memfasihkan komunikasi, membantu bekerjanya imajinasi, serta menyebarkan pengetahuan.

Dalam agama Islam juga sudah sejak awal Allah berfirman pada Surat Al-’alaq ayat pertama “Iqra’ ” yang berarti “Bacalah!”. Maksud ayat tersebut artinya perintah membaca untuk umat Islam. Sudah sejak awal Islam memerintahkan kepada kita untuk membaca. Membaca merupakan aktivitas menggali potensi individu sekaligus menambah pengetahuan. Berdasarkan konteks saat ini, membaca buku, berita, dan hal lainnya sangat penting untuk dilakukan. Tidak hanya bagi kalangan akademisi atau siswa-siswi. urgensi membaca dapat dirasakan oleh diri kita ketika pengetahuan baru kita dapatkan. Atau sudah menjadi kebutuhan primer sebagai penyeimbang supaya terhindar dari keterbelakangan.

Pada abad ke 21 kompetensi literasi didengungkan sebagai aspek yang dapat meningkatkan pendidikan. Namun kenyataannya, sulit diterapkan. Hal ini berkaitan dengan melemahnya tingkat literasi bangsa melalui hasil riset dari membangun budaya literasi perlu motivasi dan tindakan nyata.(6) Diantara tindakannya bisa diperhatikan melalui dua hal, diantaranya kemampuan serta kecenderungan membaca dan kecenderungan melakukan riset.(7)

Literasi selalu menjadi suatu hal yang terus diagendakan atau digalakkan, sebagai faktor utama dalam pengembangan diri manusia menuju yang lebih baik. Berdasar kenyataan dan manfaatnya, literasi diharapkan dapat menjadi budaya yang dipertahankan oleh masyarakat bangsa di tanah air. Demikian sebagaimana dinyatakan Martha, bahwa praktik literasi senyatanya tidak hanya sebatas membaca dan menulis. Namun dapat menjadikan keduanya sebagai budaya dan bagian dalam kehidupannya dan menjadi kebutuhan primernya. Kemudian dapat dibuktikan dengan lahirnya karya. Hal itu dianggap sebagai pencapaian kreativitas, dan literasi yang urgen.(8) Dengan menjadikan literasi sebagai tradisi secara tidak langsung melatih seseorang menjadi lebih kritis dan memiliki kemampuan intelegensi tinggi karena secara sadar ia akan lebih sering menggunakan otaknya untuk terus berpikir.

Menumbuhkan budaya literasi, sebagaimana hasil kajian yang dilakukan oleh Ane Permatasari (9), untuk menumbuhkan literasi baca, dapat dilakukan dengan beberapa langkah; a) Memperbaiki kualitas pendidikan untuk mendorong tingkat melek huruf semakin meningkat. b) Membangun lebih banyak perpustakaan di berbagai daerah. c) Adanya program-program untuk mengenalkan buku dan mendorong minat baca buku. d) Mendorong penerbit supaya menerbitkan lebih banyak buku yang berkualitas. e) Membangun peradaban membaca buku baik antara masyarakat dengan pemerintah.

Berdasar dari kajian tersebut, maka dapat diketahui bahwa untuk membudayakan literasi, baik membaca maupun menulis, dapat dilakukan dengan langkah-langkah, diantaranya: Penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang dapat mendorong tumbuhnya minat baca buku, membangun perpustakaan, dan menyediakan buku-buku, adanya kerjasama lingkungan untuk membangun peradaban membaca buku, dan lainnya.

Literasi-tradisi-kreativitas, ketiga komponen tersebut menjadi hal urgen untuk menyelamatkan masyarakat dari keterbelakangan intelektual. Terdapat kontribusi signifikan dalam fakta yang menyatakan ketiganya memiliki peran. Dampaknya bagi seseorang dapat memahami tujuan keberadaan diri dalam lingkungannya. Ia juga dapat terlatih berpikir kritis dan mampu memecahkan problem. Masyarakat yang cenderung memiliki tingkat kesadaran literasi tinggi, ia mampu menanamkan nilai-nilai positif dari pengetahuan yang ia dapat sebagai aktualisasi diri dalam kehidupannya. Hal demikian dikatakan bahwa literasi sebagai apresiasi budaya dengan menyebarkan nilai-nilai positif pada lingkungan.

Selanjutnya, pembahasan pengaruh literasi menulis dalam pengembangan diri, menurut I Made Ngurah S. yang menyatakan bahwa dengan menulis beberapa dapat membentuk nilai positif, diantaranya membuat pikiran lebih tertata, seseorang dapat merumuskan keadaan diri, mengikat dan mengonstruksi gagasan, menajamkan pemikiran seperti semakin pandai dalam memahami sesuatu, meningkatkan daya ingat, dapat lebih mengenal diri sendiri, memfasihkan komunikasi, dan sebagainya. Dengan menulis, gagasan suatu ide-ide sebagai hasil dari pikiran dan imajinasi dapat tersalurkan. Jika ide-ide pikiran tersalurkan dapat berwujud menjadi karya. Sama halnya dengan level literasi, menulis tidak hanya menulis, tulisan memiliki level keunikan tersendiri. Karya tulis dapat berupa essay, artikel, jurnal ilmiah, puisi, cerpen, novel, serta karya ilmiah dari hasil riset. Semakin unik karya seseorang, semakin berpotensi dikenal khalayak. Hal demikian berpeluang besar meningkatkan aktualisasi diri, bertumbuh menjadi pribadi yang berpengetahuan luas dan berkarakter.

 

Referensi

  1. Maman Suryaman, “Orientasi Pengembangan Merdeka Belajar,” Prosiding Seminar Daring Nasional: Pengembangan Merdeka Belajar, 21 Oktober 2020. https://ejournal.unib.ac.id/index.php/semiba/article/view/13357.
  2. Paulo Freire and Donaldo Marcedo, Literacy: Reading the Word and The World, London: Routledge, 1987.
  3. Brian V. Street, Social Literacies: Critical Approaches to Literacy in Development, Ethnography and Education, New York: Routledge, 2013.
  4. Ali Romadhani, “Dakwah dan Tradisi Literasi di Pondok Pesantren: Studi Kasus di Pondok Pesantren Al-Anwar, Rembang Jawa Tengah,Jurnal Bimas Islam, vol.9, No. 1, 2016.
  5. I Made Ngurah Sragangga, “Mendidik Lewat Literasi Untuk Pendidikan Berkualitas,” Jurnal Penjaminan Mutu, Vol. 3, No. 2, Agustus 2017.
  6. Sri Agustin dan Bambang Eko Hari Cahyono, “Gerakan Literasi Sekolah Untuk Meningkatkan Budaya Baca di SMA Negeri 1 Geger,”Linguista, vol.1, No.2, Desember 2017.
  7. Aylin Mentis Koksoy, “Examination of “Art Literacy” Levels of Students Studying in The Education Faculties,” Journal of Education and Training Studies, vol.6, No.5, May 2018.
  8. Martha C. Pennington, “Literacy, Culture, and Creativity in a Digital Era,” Pedagogy: Critical Approaches to Teaching Literature, Lenguage, Composition, and Culture, Vol. 17, No. 2, 2017, doi 10.1215/15314200-3770149.
  9. Anne McKeough, et all. (edt), Understanding Literacy Development: A Global View, (London: Lawrence Erlbaum Associates, 2008.
  10. Ane Permatasari, “Membangun Kualitas Bangsa dengan Budaya Literasi,” Prosiding Seminar Nasional Bulan Bahasa UNIB, 2015, repository.unib.ac.id/11120/ .