Membangkitkan Kembali Pariwisata Indonesia

Sektor Pariwisata masih menjadi sektor yang paling terpukul sebagai akibat dari pandemi Covid-19 dan sepertinya prospek dunia pariwisata masih belum stabil di tahun 2021. Namun, di tengah keadaan yang belum menentu, secercah harapan tentang hadirnya vaksin telah menyuntikan energi sekaligus menumbuhkan sikap optimis bahwa setiap kesulitan pasti ada jalan menuju terang.

Geliat pariwisata domestik telah dimulai di beberapa daerah yang memiliki destinasi wisata. Hal ini terasa sangat membantu pemulihan sektor tenaga kerja dan membangkitkan perekonomian setempat, walaupun di beberapa tempat mengalami kedodoran dalam mengadaptasi new normal dan kurang mengimplementasi protokol kesehatan.

Pemerintah dalam kebijakannya untuk mendukung pemulihan sektor pariwisata telah mengambil tindakan yang positif dan proaktif. Tindakan tersebut berguna meredam pukulan terhadap sektor pariwisata, namun pemulihan masih perlu mendapatkan dukungan dan kerja sama dari semua sektor secara terkoordinasi, menyeluruh, dan berkelanjutan.

Sebaiknya, dalam kebijakan pemulihan pariwisata itu memprioritaskan beberapa aspek. Pertama, memulihkan kepercayaan wisatawan. Kedua, orientasi bisnis pariwisata yang beradaptasi (well adapted) dan bertahan (survive). Ketiga, penguatan pariwisata domestik sembari promosi pariwisata internasional yang aman dan sehat. Keempat, konsistensi dan kejelasan dalam penyampaian informasi terbaru kepada pelaku bisnis dan wisatawan. Kelima, memperkuat kerja sama antarlembaga dan kerja sama antarnegara.

Dalam hal ini, pemerintah hendaknya bersikap fleksibel dalam pemulihan ekonomi pariwisata. Perlu disadari juga bahwa pariwisata di era sekarang hidup berdampingan dengan Covid-19. Kesadaran diri harus dilakukan untuk mengambil langkah-langkah yang tepat dengan belajar dari krisis agar dapat tanggap setiap saat.

Adanya pandemi Covid-19 menjadi kesempatan untuk memikirkan kembali pariwisata Indonesia di masa yang akan datang. Perkembangan pariwisata di dunia sekarang, sepertinya sedang berada di simpang jalan. Jika salah dalam mengambil tindakan maka implikasinya akan berdampak jangka panjang. Oleh karena itu, beberapa hal harus diperhatikan kembali.

Pertama, menunda Program 5 Destinasi Super Prioritas. Dalam kondisi normal, program ini jumlah anggarannya sangat fantastis, yakni mencapai 21 triliun rupiah. Adalah kebijakan yang bagus, namun saat ini akan lebih bijak apabila anggaran pemerintah lebih difokuskan untuk penanggulangan dampak Covid-19.

Terdapat berbagai alasan Program 5 Destinasi Super Prioritas sebaiknya ditunda, antara lain lebih dibutuhkan aksi yang cepat dengan hasil yang relatif cepat pula (quick action to win). Sedangkan, program ini tentunya memakan waktu yang relatif lama. Hasilnya pun baru dinikmati 10 atau 20 tahun mendatang.

Secara global, Investasi sektor pariwisata mengalami penurunan yang sangat signifikan seiring dengan tutupnya hotel dan beberapa amenitas di destinasi pariwisata. Dengan demikian, investor kurang berminat berinvestasi di hotel. Sementara itu, destinasi super prioritas berada di kawasan wisata. Walaupun pemerintah yang membangun kawasan dan berbagai insentif ditawarkan kepada swasta untuk membangun hotel, sepertinya masih ada kelesuan.

Kedua, pengembangan potensi cruise line (kapal pesiar) industri tahun 2017 menunjukan bahwa industri ini memberikan dampak besar terhadap perekonomian dunia, yakni 26,7 juta wisatawan, 1,2 juta tenaga kerja yang terserap, dan 134 miliar dolar transaksi. Pada tahun yang sama, Indonesia hanya mampu mendatangkan 89,224 wisatawan melalui kapal pesiar. Keadaan tersebut sangat jomplang.

Potensi pengembangan pariwisata kapal pesiar di Indonesia sangatlah besar. Sedangkan, pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap perkembangan ekonomi sangatlah signifikan. Pengaruh ekonomi dari potensi kapal pesiar tidak hanya bertumpu dari ‘spending passengers on spot’, namun juga dari kegiatan bisnis barang dan jasa yang dipasok ke kapal pesiar. Selain itu, kapal pesiar memerlukan dukungan administrasi, agensi, tranportasi, dan bentuk layanan profesional lainnya.

Ketika negara-negara lain masih sibuk berkutat dalam penanggulan pandemi, alangkah baiknya kita memulai dan menyelesaikan pekerjaan rumah tentang hal-hal mendasar. Seperti pembenahan manajemen pelabuhan, sistem air bersih di pelabuhan, pengolahan sampah, ketersediaan perangkat, dan lain-lain.

Dalam amanatnya, Presiden Republik Indonesia menyatakan bahwa Indonesia harus memanfaatkan situasi ini untuk membajak momentum krisis guna memperbaiki kondisi di dalam negeri. Melalui beberapa cara, seperti efisiensi, kolaborasi, dan penggunaan teknologi.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Jokowi, “Jangan sia-siakan pelajaran yang diberikan oleh krisis. Jangan biarkan krisis membuahkan kemunduran. Justru momentum krisis ini harus kita bajak untuk melakukan lompatan kemajuan.”