Mencari Untung Tanpa Mencelakai

Kominfo Berbagi di Tengah Pandemi. KOMINFO

Beberapa saat setelah gempa dahsyat meluluhlantakan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Kabupaten Klaten di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2006, permintaan bahan bangunan untuk membangun kembali tempat tinggal menjadi tinggi karena langkanya beberapa bahan bangunan. Tidak heran apabila harganya mengalami kenaikan yang tidak wajar.

Sepertinya, keadaan itu ditangkap sebagai peluang oleh temanku yang sore itu main ke rumah untuk mengajak kerja sama. Ia menyakinkanku bahwa kenal baik dengan beberapa juragan besi dan bahan bangunan di Kota Solo. Katanya, nanti barang dapat diambil dulu, lalu dijual dengan harga tinggi menggunakan trik penjualan dengan beberapa skema penjualan, salah satunya melalui kredit.

Rupanya, ibuku mendengar pembicaraan kami. Ketika mengambil air sirup ke dapur untuk suguhan, ibu berkata, β€œNak, mencari rezeki jangan sampai menyakiti. Mencari untung jangan sampai mencelakai.”

Hati saya langsung tersentil mendengar petuah itu. Pendek saja Ibuku bilang, namun dengan petuah singkat yang sangat mengena, mempersingkat pula pertemuan sore itu karena saya memutuskan tidak tertarik.

Besoknya, saya sengaja menghampiri teman lama yang berbisnis bahan bangunan, khususnya produk dari kayu. Saya pun menceritakan kejadian tadi malam. Temanku sambil tersenyum segera merespon, β€œOalah, banyak yang mengajak hal seperti itu, bahkan beberapa bisnis temanku sudah jalan, tapi aku tidak. Malahan aku ingin membantu, keadaan lagi susah, kok, dimanfaatkan. Dalam berbisnis, perlu prinsip tuna sathak bathi sanak (walaupun rugi sedikit, yang penting jadi saudara).”

Walaupun waktu berlalu lebih dari satu dekade, perilaku memanfaatkan penderitaan orang guna menguntugkan diri sendiri masih terulang. Seperti yang terjadi di awal-awal tahun 2020 hingga sekarang, yakni ketika Covid-19 masuk ke Indonesia.

Sudah dua tahun pandemi Covid-19 berjalan. Selama itu pula, ia telah berhasil mempermainkan perasaan khawatir, cemas, dan rasa takut kita. Terlebih lagi pada bulan Juli tahun lalu ketika naiknya kasus dalam beberapa minggu. Hampir setiap hari kita disuguhi berita tentang obat cacing Ivermectin yang katanya manjur mengobati Covid-19. Kehebohan yang tak terbendung membuat Ivermectin tiba-tiba menghilang dari beberapa apotik dan toko obat.

Jagad maya pun menjadi gempar menyambut kabar melambungnya harga obat ini. Dengar-dengar, harganya melonjak gila-gilaan tidak terkontrol, bahkan sudah naik mencapai 1000 persen. Harga semula Rp30.000 per papan menjadi Rp350.000 sampai Rp500.000. Demikian juga dengan obat yang sejenis.

Kalaupun ludesnya obat tersebut karena permintaan yang luar biasa, barangkali masih dapat dimengerti. Aapabila ada unsur kesengajaan memanfaatkan keadaan untuk keuntungan pribadi maka perilakunya sungguh tidak terpuji. Ini bukan lagi menari di atas penderitaan, tapi sudah seperti memasang jerat di tanah genting. Kata peribahasa, sudah tidak nihil perasaan simpati dan empatinya, yang nampak hanyalah keegoisan, picik, jiwa yang rakus, dan nafsu eksploitatif yang niretika.

Dalam era pandemi seperti sekarang ini, ketika masyarakat semakin hari semakin ingin mempertahankan kesehatannya maka perilaku oknum dalam mencari keuntungan di atas penderitaan, sepertinya semakin menghebat. Sungguh ironis karena perilaku tersebut tidak akan mengendur sepanjang adanya permintaan.

Untuk menjawab fenomena menyedihkan yang terjadi, mungkin jawabannya kembali pada warisan kearifan lama bahwa prinsip tuna sathak bathi sanak. Prinsip ini pada dasarnya ingin menyampaikan pesan, sejatinya transaksi perdagangan tidak hanya proses jual beli, namun lebih luas dan bermakna. Sebab, perdagangan adalah bagian dari ritme kehidupan yang saling memberi dan menerima, karena hidup itu untuk saling berbagi, bukan untuk saling menyakiti.