Menciptakan Desa Sehat dan Sejahtera

Pedesaan. SETKAB RI

Ketika sedang berjalan menyusuri jalanan kota menggunakan sepeda motor, saya melihat seorang ibu menggendong anaknya yang masih balita. Ibu itu berjalan di bawah teriknya matahari tanpa menggunakan payung dan beralaskan sandal jepit yang sudah terkikis.

Dengan memainkan sebuah alat musik yang menghasilkan bunyi nyaring disertai dengan nyanyian yang terdengar seperti rintihan kelaparan. Ibu itu mendatangi kendaraan di setiap sisi pemberhentian lampu merah. Ia menyodorkan sebuah bungkus plastik yang di dalamnya sudah berisi beberapa uang recehan.

Selain melihat ibu bersama anaknya di lampu merah, pernah juga melihat seorang anak kecil membawa beberapa botol air mineral. Ia berjalan di sekitar lampu merah. Pakaian yang dipakainya, saya rasa sudah tidak layak pakai. Pemandangan itu mengundang iba bagi yang melihatnya. Terlebih lagi ia hanya seorang diri, seketika terlintas dipikiran, di mana orang tuanya berada? Mengapa tega sekali membiarkan anak usia sekolah dipekerjakan seperti ini?

Saya menemui orang tua yang menurut saya sudah tidak sepantasnya masih bekerja. Saat itu, ia sedang menarik sebuah bak sampah yang mempunyai roda. Banyaknya sampah yang ia bawa membuatnya terlihat keberatan serta kelelahan. Usia kakek itu sekitar 80 tahun.

Padahal, di usia tersebut seharusnya ia manfaatkan untuk menikmati masa tuanya. Namun, ia mempunyai alasan yang sangat kuat untuk tetap bekerja. Barangkali, hanya ia yang mampu bekerja guna menghidupi keluarga atau ia hanya hidup seorang diri sehingga jika tidak bekerja, tidak ada yang menghidupinya.

Itu baru terjadi pada satu daerah saja, belum lagi kota-kota lain dengan jumlah penduduk yang banyak. Pasti mencari pekerjaan semakin susah, contohnya Ibukota Jakarta. Kota ini sering digadang-gadang sebagai kota penghasil uang. Sebab, DKI Jakarta merupakan pusat bisnis.

Berdasarkan data yang dimuat oleh sensus penduduk per tahun 2020, dengan luas sekitar 661,52 kilometer persegi, Provinsi DKI Jakarta ini dihuni oleh 10,56 juta jiwa. Dengan jumlah penduduk sebanyak itu, tidak ada jaminan penduduknya sehat dan sejahtera. Seseorang dapat dikatakan sehat ketika kebutuhan nutrisi sehari-hari mereka dapat terpenuhi sehingga kondisi fisik akan sempurna, serta bebas dari penyakit.

Selain itu, pengertian sehat dalam konteks ini, berarti sehat secara mental maupun sosial. Sedangkan, sejahtera merupakan suatu kondisi ketika seseorang merasa aman, makmur, dan selamat atau bebas dari berbagai macam gangguan atau ancaman.

Padatnya penduduk di kota-kota besar mempersulit petugas memantau kesehatan warganya. Perbedaan kepadatan penduduk berguna sebagai pendorong menciptakan desa yang lebih sehat dan sejahtera daripada kota. Lingkungan yang kecil dan jumlah penduduk yang tak sebanyak di kota, menjadi kelebihan yang dapat dimanfaatkan pemerintah desa.

Untuk dapat menciptakan kondisi desa yang sehat dan sejahtera, terdapat beberapa langkah untuk mencapainya. Pertama, meningkatkan Gerakan Masyarakat Sehat (Germas). Germas merupakan salah satu program yang dibuat oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Gerakan ini dilatarbelakangi oleh bertambahnya kasus penyakit menular, serta munculnya jenis penyakit yang seharusnya sudah dapat diatasi. Contohnya, ketika pandemi Covid-19 menyerang Indonesia dua tahun lalu.

Germas dianggap mampu menjadi solusi untuk mengurangi jumlah orang yang terkena penyakit tersebut dengan cara melakukan pola hidup sehat, serta meninggalkan kebiasaan buruk. Aksi Germas dapat dilakukan dengan cara menanamkan perilaku hidup bersih dan sehat.

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menjalani pola hidup yang lebih sehat, yakni melakukan aktivitas fisik, makan buah dan sayur, tidak merokok, tidak mengkonsumsi alkohol, melakukan cek kesehatan secara berkala, menjaga kebersihan lingkungan, dan menggunakan jamban sebagai sarana pembuangan kotoran.

Kedua, meningkatkan keanekaragaman dan keamanan pangan. Keanekaragaman pangan dapat memberi pengaruh terhadap kesejahteraan. Contohnya, ketika kita mampu berinovasi pada jenis olahan makanan maka akan tercipta kesejahteraan berupa kemampuan seseorang dalam membiayai atau mencukupi keluarganya sendiri.

Sedangkan, keamanan pangan memberikan pengaruh pada kesehatan. Ketika sebuah merek makanan sudah memiliki izin Badan pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sudah dapat dipastikan produk tersebut sehat dan aman untuk dikonsumsi.

Ketiga, meningkatkan pelayanan medis. Meningkatkan pelayanan medis merupakan salah satu upaya perbaikan pada dunia medis atau dunia kesehatan. Hal itu dilakukan untuk mencapai standar yang sudah ditetapkan di setiap puskesmas atau rumah sakit. Pelayanan yang ditingkatkan berupa pelayanan langsung kepada konsumen.

Pelayanan yang baik dan tepat menimbulkan dampak positif bagi pasien, salah satunya adalah proses menuju kesembuhan akan semakin cepat. Selain itu, perlu juga meningkatkan pelayanan penunjang medis berupa radiologi, radioterapi, patologi anatomi, patologi klinik, farmakologi, rekam medis, dan lain-lain.

Keempat, meningkatkan aksesibilitas dan pelayanan yang berkualitas. Salah satu upaya untuk meningkatkan aksesibilitas dan pelayanan, yaitu dengan membangun sebuah puskesmas yang dapat dijangkau oleh warga masyarakat. Langkah lainnya, meningkatkan sarana dan prasarana alat puskesmas sehingga puskesmas mampu membuka layanan rawat inap.

Kelima, pelayanan meningkatkan gizi yang berkualitas bagi ibu dan anak. Gizi sangat penting diberikan oleh ibu dan anak karena menjadi salah satu faktor dalam tumbuh kembang bayi. Pemberian gizi baik kepada ibu yang menyusui serta anak yang tidak sesuai takaran, akan berdampak buruk pada anak.

Akibatnya, tumbuh kembang anak dapat terhambat. Tanda-tanda yang sering dialami oleh anak yang kurang gizi, dapat dilihat dari tubuh anak tersebut. Biasanya, anak dengan gizi yang tidak mencukupi akan terlihat lebih lesu dan badan kurang berisi.

Keenam, penyehatan lingkungan. Adalah suatu upaya yang dilakukan untuk mengendalikan faktor risiko penyakit, baik penyakit menular maupun penyakit tidak menular. Hal tersebut dapat dicapai melalui meningkatkan kemampuan penyehatan, pengendalian, dan pengamanan lingkungan, baik secara fisik, biologi, kimia, maupun sosial.

Penyehatan lingkungan dapat dilakukan melalui berbagai macam cara, yaitu cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum rumah tangga, pengelolaan sampah rumah tangga, dan pengelolaan limbah cair rumah tangga.

Ketujuh, rehabilitasi penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat-zat adiktif (Napza). Penyalahgunaan Napza dapat menjadi ancaman bagi generasi muda. Hal itu harus segera ditangani agar tidak terjadi kecanduan yang hebat bagi pemakainya. Salah satu daerah dengan jumlah pemakai konsumsi Napza tertinggi adalah Provinsi Sumatera Utara. Jenis Napza yang banyak dikonsumsi adalah sabu-sabu dan ganja. Oleh karena itu, rehabilitasi untuk pemakai NAPZA sangat penting dilakukan.

Kedelapan, pelayanan Program Keluarga Berencana (KB) bagi perempuan. Hal ini berupaya untuk meningkatkan kepedulian dan peran masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, serta peningkatan kesejahteraan keluarga.

Dengan dilakukannya KB maka kehidupan di masa yang akan datang akan lebih terarah. Sebagai contoh, sebuah keluarga yang mempunyai banyak anak dengan jarak yang dekat membuat keluarga tersebut kebingungan dalam menghidupi keluarga. Keadaan dengan latar belakang seperti itu menyebabkan keluarga sulit mencapai titik kesejahteraan.

Kesembilan, pelayanan kesehatan reproduksi bagi perempuan. Persoalan ini sering dianggap sepele, bahkan ketika organ reproduksi terganggu, sebagian orang tidak menyadarinya. Guna meningkatkan kepekaan, penting mengadakan sosialisasi tentang kesehatan reproduksi agar para calon ibu mengetahui fungsi dan prosesnya sehingga apabila ada perubahan dalam prosesnya, mereka dapat mencari jalan keluar.

Kesepuluh, pelayanan sistem rujukan. Sistem ini melayani pasien yang membutuhkan rawat inap. Surat rujukan dapat menggunakan kartu BPJS agar tidak ada biaya ketika pasien mendapat perawatan. Sistem rujukan berfungsi sebagai penjamin pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang membutuhkannya, terutama ibu dan bayi yang baru lahir. Tetapi, sangat disayangkan karena BPJS hanya dapat digunakan untuk berobat di puskesmas atau rumah sakit tempat ia tinggal.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistika (BPS), jumlah kemiskinan paling tinggi berada di Kabupaten Bantul. Dengan jumlah penduduk sekitar 995 jiwa, 139 ribu jiwa di antaranya merupakan warga berstatus miskin. Sudah sepantasnya mereka memperoleh fasilitas kesehatan seperti BPJS. Mereka akan terbantu dengan adanya fasilitas yang mampu meringankan biaya ketika melakukan rawat inap.

Menurut data BPS Kabupaten Bantul pertahun 2018, warga yang mengalami penyakit tuberkulosis berjumlah 406 jiwa, balita yang menderita pneumonia berjumlah 1.093 jiwa, demam berdarah sebanyak 182 jiwa, dan diare sebanyak 4.877 jiwa. Dengan tenaga kesehatan mencapai 663 orang maka diharapkan dapat membantu menyembuhkan orang yang terkena berbagai penyakit tersebut.

Ketika penanganan penyakit berjalan dengan lancar, dapat dipastikan bahwa desa atau kota tersebut sudah menyandang status sehat dan sejahtera. Desa sehat dan sejahtera sebenarnya sudah ada di depan mata. Melalui bantuan Dana Desa pada tahun 2021, pemerintah telah menetapkan strategi pemerataan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Bantuan lain juga dikeluarkan oleh pemerintah berupa uang tunai dan stimulus Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Dengan adanya bantuan tersebut, diharapkan warga dan pemerintah desa dapat memanfaatkannya dengan baik dan bijak. Pemanfaatan dana yang tepat dapat memberikan pengaruh positif terhadap tercapainya desa yang sehat dan sejahtera. Melalui Dana Desa, berbagai macam bisnis dapat dikelola pemerintah desa dengan tujuan menyejahterakan warganya. Ketika titik kesejahteraan tercapai maka otomatis kesehatan juga akan mengikutinya.

Berbeda dengan yang disampaikan Rosdiana dan Horas Perencanaan dan Pengelolaan Keuangan: dalam Mewujudkan Keluarga Sejahtera (2018), mereka berpendapat bahwa perencanaan dan pengelolaan keuangan dapat dijadikan upaya untuk mewujudkan kesejahteraan. Langkah yang perlu dilakukan oleh masyarakat adalah merencanakan serta mengelola uang dengan cara investasi.

Investasi yang dilakukan dapat berbentuk tabungan emas. Investasi dianggap mampu mewujudkan kesejahteraan masyarakat karena mereka akan memperoleh keuntungan yang lebih besar jika menjual barang investasi tersebut di masa mendatang.

 

Referensi

Rosdiana, Endang dan Horas Djullius. 2018. Perencanaan dan Pengelolaan Keuangan: dalam Mewujudkan Keluarga Sejahtera. Yogyakarta: Diandra Kreatif.