Mengungkap Kebajikan yang Terbayarkan

PEMERINTAH KOTA JOGJA

Dua puluh tahun yang lalu, di suatu malam yang telah larut, seorang pemuda berbadan tinggi, kurus, dan berambut ikal sedang melamun sendiri di pojok kamar Kos Bu Dharmo yang terletak di Nologaten, belakang Hotel Royal Ambarrukmo. Pemuda itu bernama Nerius. Ia jauh-jauh dari tanah Papua untuk menuntut ilmu di salah satu akademi pariwisata di Jogja.

Pandangannya kosong, menatap lurus dinding kamarnya yang kuning kusam. Sebagian catnya telah mengelupas, robek sana sini, terlihat kontras dengan bercak hijau; warna cat tembok yang lama. Tangannya dari tadi memegang perut yang seharian tidak terisi sebutir nasi. Barangkali, kondisi lambungnya tak berbeda dengan tembok di kamar. Cairan asam di dalam perut terasa tak sabar mencerna makanan, hingga dinding lambungnya seperti dirobek-robek.

Tiba-tiba terdengar suara mendesis, “Oi, Ner, Nery, sudah tidur, ya?”

Ia terkejut dan segera bangkit dari kasur busa tipis nan apeknya, “Belum, Pak Min,” jawab Nerius.

“Ini ada nasi kucing. Lauknya oseng tempe dan sambal teri seperti biasanya. Cepat buka jendelamu, Ner,” sahut Min yang kali ini terdengar agak terburu-buru.

“Waduh, Pak Min, terima kasih sekali. Besok kalau wesel dari papa sudah datang, segera kubayar,” jawab Nerius dengan mata yang berkaca-kaca.

“Hus, tidak usah dipikir. Yang penting kamu di sini, di Jogja, sekolah yang bener,” sahut Min dan langsung berlalu meninggalkan Nerius.

“Pak Min orang yang super baik, saya berjanji, suatu saat nanti akan kubalas semua kebaikan yang telah kau limpahkan kepadaku. Kau sendiri bukan orang mampu, tapi pedulimu kepadaku berlimpah, tak mengenal waktu. Setiap hari, kebaikanmu hadir selalu,” gumam Nerius tak jelas. Punggung tangannya mengusap air mata, entah air mata haru atau bahagia, karena malam itu ia dapat tidur nyenyak tanpa terganggu dengan rintihan pilu si lambung.

Lima belas tahun kemudian, terlihat seorang lelaki berperawakan tegas tengah berdiri di depan rumah Min. Lelaki itu mengenakan pakaian perlente. Tangannya menenteng amplop besar. Penuh semangat, ia mengetok pintu milik Min dengan keras.

“Pak Min, Pak Min, anakmu dari tanah Papua datang,” teriak lelaki itu dari balik pintu.

Nggih, sebentar. Siapa, ya?” jawab Min sambil tangan yang tampak gentar meraih tongkat di hadapannya.

Sepertinya, Min tidak bisa lagi melihat dengan jelas karena indra penglihatannya terkena Glaukoma. Setelah pintu terbuka, samar samar Min mengenali suara lelaki yang mengetok pintunya, sedangkan lelaki perlente itu tercekat tak bisa berkata-kata. Mungkin karena melihat keadaanb Min yang semakin tua dan keriput. Ia berdiri dengan gentar bersandarkan tongkat. Penglihatannya pun buram. Terasa memprihatinkan.

Segera dipeluk erat sosok tua dan rapuh di depannya sambil sesenggukan. Air mata tumpah, mengucur deras. Ia mengenang segala kebaikan orang tua yang fisiknya sudah sangat menurun ini. Mereka pun saling menumpahkan air mata.

“Bu, ini, lho, anakmu lanang yang dari Papua datang,” teriak Min kegirangan atas kembalinya sang anak yang lama menghilang.

Lelaki perlente itu ternyata Nerius. Ia masih menangis haru, air matanya terus mengalir tanpa mampu dibendung.

“Nery, untung kamu datang sekarang. Untung aku masih bisa melihatmu. Kalau kamu ke sini tahun depan, aku ragu kita sempat bertemu,” gumam Min seakan menyampaikan firasat tentang dirinya.

Kemudian, rumah kecil depan siskamling di Kampung Nologaten itu berubah menjadi renyah. Mereka saling menuturkan kisah yang sudah terlewat dan baru sempat dibagi. Setelah saling berbagi kisah dan acara melepas rindu dirasa telah cukup, Nerius bangkit sambil menyerahkan amplop besar yang berisi puluhan juta kepada istrinya Min. Namun, sungguh kaget ia karena Min menolak pemberian yang memang sepantasnya diterima.

“Ner, tolong didengarkan, ya. Kalau kedatanganmu kesini, hanya untuk ini, terpaksa aku tolak. Aku masih mampu, sekarang anakku telah bekerja, telah memberi makan aku sehari-hari. Aku sudah tua, tidak butuh apa-apa. Bahkan, saat ini aku hanya menanti ‘waktu’ itu tiba,” tatap Min dengan serius.

Setengah memaksa, Nerius mencoba menyakinkan istrinya Min bahwa ini adalah hadiah atas kebaikan suaminya yang telah bertahun-tahun melimpahkan budi. Ia pun menyakinkan bahwa uang ini dapat dipakai untuk berbagai keperluan di hari tua.

Akhirnya, setelah didesak, Min mau menerima. Tentunya dengan syarat yang tidak boleh ditolak oleh pemuda itu, Nerius pun menyanggupinya.

 

“Karena kamu sudah mengakui aku sebagai orang tuamu di Yogya maka uang ini aku terima, tapi aku juga minta tolong padamu. Aku titip kepadamu, uang ini berikan kepada cucu-cucuku. Ya, itu anak-anakmu. Mereka yang sebenarnya masih membutuhkan uang itu,” Tegas Min.

Air mata pun kembali tumpah untuk kedua kalinya.

 

Ini sebuah cerita nyata yang dituturkan oleh pelakunya sendiri. Mungkin matanya masih berkaca-kaca jika mengenang kebaikan Pak Min. Pak Min adalah penjaga warung nasi kucing di sebuah gardu ronda poskamling Nologaten puluhan tahun yang lalu.