Orang-orang Baru, Pengalaman Baru

Kunjungan ke Rumah Pasien Isolasi Mandiri. JAMILLUDIN

Ketika ada ajakan bergabung menjadi relawan Covid-19, oleh ketua Karang Taruna Cahyaning Amerta (KTCA) saya tidak mempunyai pilihan untuk menolak. Terlebih lagi sebagai lulusan SMK Kesehatan Bantul dan lulusan salah satu sekolah tinggi kesehatan di Yogyakarta. Oleh karena itu, sudah selayaknya menyanggupi menjadi relawan medis di Selter Tanggon.

Suasana di selter menyenangkan, saya banyak berkenalan dengan orang-orang yang asyik. Setiap waktu mereka selalu punya guyonan, namun kerja sama tim tetap berjalan dengan luar biasa. Tidak hanya bertemu orang-orang yang menyenangkan, saya pun menjumpai mereka yang rewel dan ngeyel.

Saya juga bertemu dengan orang-orang baik, seperti beberapa pihak kelurga pasien ada yang memberi kami makanan. Selain itu, untuk pertama kalinya di selter saya menjumpai pasien perempuan yang meminta nomor ponsel. Namun, tidak pernah saya beri karena takut ia akan menganggu tugas-tugas saya.

Selter Tanggon menjadi tempat saya bertemu banyak orang baru dan juga cerita baru. Sama seperti mereka yang saya temui selama berada di kegiatan kemanusiaan ini, pengalaman-pengalaman yang saya jalani juga membuat saya merasa asyik, pilu, hingga kesal.

Masih teringat jelas pengalaman menegangkan sekaligus memilukan yang saya dapati. Ketika itu, saya mendapat jatah kunjungan ke warga yang sedang isolasi mandiri. Kondisinya menunjukan kesehatan yang kurang menggembirakan.

Sekitar pukul 11.00 WIB, saya sampai di rumah pasien. Setelah saya mengecek tanda-tanda vitalnya, saturasi menunjukan angka 50. Selanjutnya, saya membantu pasien tersebut agar bernapas lega. Sayangnya, kondisi tak berangsur membaik. Saturasinya tetap berada di angka tersebut.

Kami segera mencarikan rumah sakit rujukan Covid-19 agar pasien mendapat perawatan lebih lanjut, tetapi kami tidak menemukan rumah sakit rujukan Covid-19 yang mau menerima. Hal itu karena semua fasilitas kesehatan penuh dan persediaan oksigen di pasaran baru saja kosong. Siang atau sore harinya, saya mendapatkan kabar duka bahwa pasien tersebut telah berpulang ke pangkuan Allah Swt.

Cerita duka lagi. Siapa pun yang pernah mengalami menjadi relawan ketika Covid-19 varian Delta ataupun mereka yang hanya tinggal di rumah, pasti tahu betul kacaunya keadaan waktu itu. Begitu juga dengan kami yang berada di Selter Tanggon.

Kami menerima laporan lagi di call center Selter Tanggon. Penelepon meminta kami untuk mengecek seseorang yang diduga meninggal dunia. Sesampainya di lokasi, kami melakukan pemeriksaan sesuai dengan prosedur; memompa jantung pasien.

Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun pasien sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Ia memang sudah meninggal dunia sejak kami datang. Kemudian, sesuai dengan prosedur, kami laporkan kepada tim FPRB Timbulharjo untuk proses pemakaman jenazah Covid-19 selanjutnya. Oh, iya, jenazah tersebut merupakan warga Kalurahan Timbulharjo.

Tidak melulu kisah sedih yang saya kenang. Beberapa kisah pun terasa lucu dan seram. Kunjungan ke rumah pasien isoman sebelumnya meninggalkan kisah duka, namun di tempat yang berbeda, saya ingin membagi cerita yang berbeda dengan suasana yang lebih cerah.

Waktu itu, saya bersama Lurah Panggungharjo mendapat laporan dari salah satu warga yang di Padukuhan Sawit. Menurut laporan, warga tersebut saturasinya 80. Setelah dicek oleh Lurah Panggungharjo, ternyata warga tersebut hanya lemas biasa dan tidak terpapar Covid-19.

Lemasnya pun disebabkan tingginya gula darah. Warga tersebut memang mempunyai riwayat diabetes. Informasi saturasi yang dilaporkan tadi, rupanya bukan saturasi, melainkan denyut nadinya. Padahal, denyut nadi 80 perdetik adalah hal yang normal. Dengan sedikit menahan tawa, kami kembali ke selter. Namun, saya bersyukur kunjungan kali ini tidak berakhir tangis.

Cerita yang menggelitik tidak hanya ada ketika melakukan kunjungan ke rumah warga yang isoman, tetapi juga datang dari pasien yang isolasi di Selter Tanggon. Pasien ini seorang lansia. Ia tinggal di rusunawa seorang diri. Sebelumnya ia menderita sakit biasa, tetapi karena hidup sebatang kara akhirnya dibawa ke selter.

Tentu saja lansia itu berubah status menjadi pasien Covid-19. Agak membingungkan, apakah tidak ada tempat selain Selter Tanggon? Malah terpapar virus, kan. Bagaimanapun juga, keputusan itu berawal dari niat baik sehingga patut kita hargai.

Saya pernah ditolak olehnya ketika ingin menyuapi makanan. Setelah saya usut, lansia itu hanya ingin disuapi oleh tim medis perempuan. Ia sama sekali tidak mau disuapi oleh tim medis laki-laki, seperti saya.

Bahkan, cerita seram turut mewarnai pengalaman menjadi relawan. Masih tidak habis pikir, bagaimana bisa, gitu? Kejadian ini saya alami di ruang penyimpanan tabung-tabung yang besar. Posisi saya baru bangun tidur, sekitar pukul 02.00 WIB.

Ketika melihat ke arah tabung oksigen yang besar, mengapa jumlah tabung ada tiga? Seingat saya, tadi hanya dua tabung. Semakin heran lagi karena satu tabung itu lebih tinggi daripada dua tabung lainnya.

Dalam hati kecil, saya sudah berprasangka bahwa tabung yang tinggi itu adalah penampakan ‘ia’ yang berbeda dunia. Tetapi, saya tidak memperpanjang kecurigaan dan memilih meneruskan tidur. Karena penasaran, keesokan harinya saya cek lagi, ternyata memang hanya ada dua tabung besar saja.

Pengalaman-pengalaman tersebut menemani saya di tengah tugas yang sangat padat. Bagi saya, tugas ini memang sangat padat. Setiap pagi hari, kami harus sudah siap mengecek tanda-tanda vital yang berjumlah sekitar 20 atau lebih. Saat pengecekan, tak jarang kami tiba-tiba mendapat panggilan dari warga yang isolasi mandiri.

Kami pun juga harus menghadapi pasien bergejala psikosomatik dengan tenaga kesehatan seadanya, karena di Selter Tanggon tidak ada dokter jiwa atau psikolog. Ditambah, beberapa pasien mengeluh napas dan meminta dibantu dengan alat pernapasan, padahal kenyataan tidak demikian.

Pasien tersebut tidak mengalami sesak napas karena Covid-19, tetapi kecemasan yang dialami membuatnya kesulitan mengatur napas. Mereka mengalami perasaan takut karena kondisi yang ada. Oleh karena itu, saya coba melakukan edukasi para pasien.

Saya mengajari mereka cara membaca oksimeter. Lalu, saya mengajari mereka cara menenangkan hati apabila perasaan cemas menyerang; meminta mereka menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Walaupun saya bukan perawat jiwa, saya pernah mendapat sedikit ilmu tentang itu. Saya, bahkan kami, berupaya memahami keadaan mental mereka dengan terbatasnya tenaga medis dan ilmu.