Pariwisata di Masa New Normal

Pariwisata New Normal. BOB KEMENPAREKRAF

Krisis kesehatan masyarakat atau pandemi Covid-19 yang sedang melanda seluruh dunia ini merupakan krisis multidimensi yang pengaruhnya luar biasa. Pandemi Covid-19 tidak hanya membuat struktur sosial dan ekonomi mengalami guncangan hebat. Kondisi ini memberikan tantangan warga dunia untuk keluar dari krisis dengan selamat.

Pada pertengah tahun 2020, Jokowi meminta kepada masyarkat Indonesia agar dapat berdamai dengan Covid-19 selama belum ditemukan vaksin. Hal yang disampaikan olehnya selaras dengan pernyataan dari World health Organization (WHO) karena virus ini memiliki potensi tidak akan segera menghilang dan tetap ada di tengah masyarakat.

Berdamai dengan Covid-19 berarti hidup berdampingan dengan virus tersebut, tapi bukan berarti meminta masyarakat untuk menyerah. Justru sebaliknya, keputusan yang diambil adalah bentuk dari penyesuaian kondisi masa sekarang. Hal ini menjadi titik awal dari kehidupan baru agar masyarakat menjalani kehidupan sambil menerapkan protokol kesehata guna mencegah penyebaran Covid-19. Jokowi juga meminta masyarakat sadar dengan keadaan hidup di tengah wabah dalam konsep tatanan kehidupan baru (new normal).

Dalam tata kehidupan baru, tentunya seluruh warga dunia ikut berpikir memulihkan keadaan. Pemulihan ini membutuhkan waktu panjang dan banyak adaptasi. Oleh karena itu, mungkin akan dilaksanakan secara bertahap sesuai kondisi yang berkembang. Demikian pula yang terjadi dengan sektor pariwisata, yang saat ini turut memikirkan langkah-langkah efektif memerangi wabah sekaligus menghidupkan kembali kinerja ekonomi pariwisata.

Industri pariwisata adalah umbrella industry yang memayungi banyak sektor, antaranya hotel, akomodasi, kegiatan layanan makanan dan minuman, transportasi wisata, agen perjalanan, kegiatan budaya, serta kegiatan olahraga dan hiburan. Industri pariwisata pun sangat terhubung erat dengan sektor pendidikan, keuangan, pertanian, medis, konstruksi, real estate, retail, dan lain-lain.

Berdasarkan banyaknya sektor yang terdampak, upaya pemulihan harus dilakukan secara bertahap serta paralel dengan pemulihan sektor-sektor lain. Langkah-langkah yang diusulkan harus terintegrasi dengan semua sektor. Semua itu dilakukan untuk memastikan keselamatan bagi para wisatawan maupun tenaga pariwisata. Hal ini perlu menjadi perhatian utama para pemangku kepentingan industri pariwisata.

Beberapa masalah yang penting untuk dipikirkan sekarang adalah waktu, biaya, dan orang. Terkait masalah waktu, harus benar-benar diperhitungkan waktu pembukaan destinasi wisata. Sedangkan, masalah biaya adalah mengantisipasi kalkulasi biaya yang diperlukan dengan adanya protokol kesehatan dan variabelnya yang bergerak dinamis sesuai dengan tuntutan di era new normal.

Faktor yang tak kalah penting adalah faktor manusia, yakni menyiapkan SDM yang memahami standar protokol kesehatan. SDM di industri pariwisata harus mampu mengikuti perubahan-perubahan perilaku wisatawan yang berkaitan dengan new normal, terutama perubahan perilaku terhadap kebersihan, kesehatan, dan keamanan.

Sebenarnya, dengan adanya kejadian pandemi Covid-19 ini, memunculkan kreativitas masyarakat dengan menggali kearifan lokal. Seperti penyediaan tempat cuci tangan di depan rumah atau tempat tempat umum yang terbuat dari tanah liat atau biasa disebut dengan gentong. Kebiasaan menyimpan air dalam gentong memang sudah dilakukan oleh masyarakat Indonesia di zaman dahulu.

Salah satu wujud kearifan lokal dari masyarakat Nusantara adalah menjaga kesehatan tubuh dengan mengolah dan mengkonsumsi daun-daunan, biji-bijian, umbi-umbian, rimpang, bunga, serta buah-buahan. Hampir semua obat-obatan yang dapat digunakan untuk menjaga kesehatan diambil dari alam Nusantara. Sebagai contoh, wedang uwuh yang berasal dari berbagai tumbuhan terbukti mampu meningkatkan kekebalan tubuh.

Berdasarkan contoh kearifan lokal di atas, apabila diterapkan di tempat-tempat wisata, hotel, hingga tempat-tempat umum maka akan terjadi dampak luar biasa pada ekonomi masyarakat. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di daerah Kasongan sebagai sentra industri gerabah akan bangkit karena permintaan gentong yang melimpah. Sama halnya dengan UMKM wedang uwuh yang banyak ditemui di daerah Imogiri.

Seperti yang diungkapkan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Wishnutama Kusubandio, diperkirakan akan terjadi lonjakan kinerja di sektor pariwisata setelah pandemi ini berakhir. Sikap optimis yang dibagikan oleh Wishnutama tersebut menjadi dorongan bagi seluruh insan di sektor pariwisata. Karena bangsa Indonesia bukan bangsa pecundang, kita harus yakin dapat melalui badai ini. Seperti semangat yang sudah dikobarkan oleh Bali dengan adanya semboyan Bali Bisa (Bersih, Indah, Sehat, dan Aman).