Peran Gapoktan dalam Pemberdayaan Petani

Pertemuan Gapoktan Manunggal. KALURAHAN PANGGUNGHARJO

Serumpun padi tumbuh di sawah

Hijau menguning daunnya

Tumbuh di sawah penuh berlumpur

Di pangkuan Ibu pertiwi

Sebait lirik lagu di atas menggambarkan kondisi di desa saya, yakni Kalurahan Tanjung yang ada di Kabupaten Kulon Progo. Desa tersebut, desa tempat saya dilahirkan, dididik, dan dibesarkan.

Suatu hari, ketika sedang jalan-jalan menyusuri area persawahan, saya melihat petani sedang mencangkul dan membajak sawah. Terlihat pula beberapa perempuan paruh baya sedang asyik menanam padi atau dalam bahasa Jawa disebut dengan tandur. Anehnya, ibu-ibu yang sedang tandur tadi menanam padinya dengan berjalan mundur. Entah, sampai sekarang pun saya belum tahu alasannya.

Seperti yang kita ketahui, sebagian besar mata pencarian warga desa adalah petani. Bahkan, barangkali mata pencarian warga desa di Indonesia didominasi oleh petani. Indonesia merupakan negara yang sebagian besar penduduknya bermata pencarian sebagai petani. Didukung dengan iklim tropis yang membuat tanaman dapat tumbuh subur di negara ini.

Selain itu, Indonesia merupakan negara yang berlimpah sumber daya alamnya, tetapi rakyat Indonesia tidak mampu mengolah lahan yang ada untuk mengangkat derajat hidupnya.

Begitu juga dengan salah satu kabupaten yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yaitu Kabupaten Kulon Progo. Daerah tersebut merupakan salah satu kabupaten yang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani. Melihat kenyataan yang ada di masyarakat, petani saat ini sangat sulit untuk mendapatkan pupuk, obat, dan bibit padi unggul sehingga petani merasa sulit untuk menghasilkan panen yang maksimal.

Padahal, pemerintah telah menganggarkan beberapa persen APBN untuk pertanian di Indonesia, bahkan juga memberi subsidi pupuk bagi petani kecil. Namun, sampai saat ini, nasib petani masih saja terpuruk. Mereka belum mampu mengangkat derajat hidup keluarganya.

Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) merupakan organisasi yang mendistribusikan dan melaksanakan beberapa kebijakan atau inovasi pemerintah yang bersifat mendukung. Istilah lainnya, Gapoktan adalah lembaga yang berperan sebagai penghubung antara petani dan lembaga pemerintah sehingga bantuan yang diberikan oleh pemerintah tepat sasaran.

Gapoktan juga berfungsi sebagai upaya pemberdayaan petani. Pemberdayaan petani adalah segala upaya untuk meningkatkan kemampuan petani untuk melaksanakan kegiatan usaha tani yang lebih baik melalui pendidikan dan pelatihan, penyuluhan dan pendampingan, pengembangan sistem dan sarana pemasaran hasil pertanian, pemantapan dan penjaminan luas lahan pertanian, kemudahan akses pengetahuan, teknologi dan informasi, serta penguatan kelembagaan petani.

Kelembagaan petani adalah lembaga yang dikembangkan untuk petani agar dapat memperkuat kerja memperjuangkan kepentingan petani. Namun, Gapoktan kurang bekerja secara optimal, terlebih Gapoktan yang ada di pedesaan.

Hal tersebut sangat disayangkan, sebab dibentuknya lembaga pertanian memiliki tujuan agar mampu membantu petani dalam meningkatkan produktivitasnya. Akan tetapi, sebagian lembaga malah tidak dapat dijangkau oleh petani karena keterbatasan akses terhadap lembaga tersebut.

Sama seperti dengan Gapoktan, Koperasi Unit Desa (KUD) juga sudah sangat jarang ditemukan di beberapa daerah. Jika ada, fungsinya belum berjalan dengan semestinya. Sebagai contoh, ada suatu desa yang sudah memiliki lembaga tersebut, namun jarang melakukan pertemuan, baik seminggu sekali maupun sebulan sekali.

Hal tersebut sangat mempengaruhi kualitas Gapoktan itu sendiri karena pada dasarnya perkumpulan antar petani satu dan yang lainnya adalah salah satu bentuk media bertukar pikiran. Semakin mereka jarang berkumpul, fungsi dari lembaga tersebut akan sia-sia belaka.

Mengambil contoh di daerah saya sendiri, mayoritas warganya merupakan petani, tetapi tidak ada lembaga Gapoktan. Hal ini terjadi karena warga tidak sadar akan pentingnya lembaga tersebut.

Dengan adanya Gapoktan maka dapat menambah relasi antar petani satu dan yang lainnya, serta sebagai fasilitator layanan kepada seluruh anggota untuk memenuhi kebutuhan sarana produksi, antara lain pupuk, benih bersertifikat, pestisida, alat mesin pertanian, dan permodalan usaha tani, yang bersumber dari permodalan usaha tani maupun dari sisa hasil usaha.

Saat ini, persoalan yang sering dihadapi oleh petani ketika belum tergabung dalam Gapoktan adalah mereka tidak dapat mengakses bantuan subsidi pupuk. Dengan kata lain, petani mandiri yang belum tergabung dalam Gapoktan akan memperoleh harga pupuk yang lebih mahal daripada petani yang sudah tergabung di Gapoktan.

Persoalan-persoalan lain yang dihadapi oleh petani mandiri, yaitu terkait dengan harga jual padi. Biaya operasional, mulai dari proses pengolahan tanah hingga panen cukup tinggi. Sulitnya mencari tenaga ibu-ibu petani yang menanam padi, menambah permasalahan yang dialami petani mandiri saat ini. Dengan demikian, petani mandiri yang belum bergabung dalam Gapoktan, sudah saatnya bergabung dengan organisasi ini.

Salah satu faktor yang menyebabkan masyarakat tidak menyadari pentingnya bergabung dengan Gapoktan, yaitu faktor usia dan status pendidikan. Mayoritas petani berumur 60 tahun ke atas dan berpendidikan rendah sehingga relatif lebih sukar untuk menerima inovasi pada sektor pertanian.

Strategi yang perlu dilakukan untuk mencapai pembangunan sektor pertanian yang merujuk pada Gapoktan adalah penyuluhan pertanian. Kegiatan penyuluhan dalam pembangunan pertanian berperan sebagai jembatan yang menghubungkan praktik yang dilakukan petani dengan pengetahuan dan teknologi pertanian yang selalu berkembang. Kegiatan penyuluhan pertanian yang dilakukan oleh petani merupakan salah satu faktor keberhasilan pembangunan pertanian, karena penyuluhan hadir sebagai penggerak pembangunan pertanian.

Kini, peran penyuluhan lebih dilihat sebagai proses membantu petani membuat keputusan sendiri dengan meningkatkan pilihan bagi mereka. Dengan membantu mereka mengembangkan wawasan tentang konsekuensi dari setiap pilihan melalui pertemuan rutin mingguan atau bulanan, petani menjadi mampu mengubah sistem pertanian menjadi lebih maju dan mendapatkan keuntungan lebih.

Dalam hal ini diperlukan alat penyuluhan pertanian yang proaktif dengan petani dan penyuluh profesional. Penyuluhan pertanian dapat dilakukan dengan pendekatan kelompok yang mendukung sistem agribisnis berbasis pertanian; tanaman pangan, hortikultura, peternakan, dan perkebunan.

Selain itu, perlu adanya pembinaan dalam rangka menumbuhkan dan mengembangkan kelompok tani menjadi kelompok yang kuat dan mandiri untuk meningkatkan pendapatan petani dan keluarganya. Menurut Triwibowo, Y et al (2019), pembinaan kelompok dan Gapoktan ditekankan dalam hal peningkatan kemampuan, kepemimpinan, dan manajerial, sehingga mampu mengembangkan usaha serta meningkatkan pendapatannya.

Melalui pembinaan maka para anggota mampu mewujudkan kedaulatan pangan. Selain itu, upaya pengembangan kelompok dan gabungan kelompok juga perlu pemahaman dan keterampilan manajerial karena Gapoktan diharapkan dapat maju dan berkembang.

Pengembangan kelompok tani diarahkan pada penerapan sistem agribisnis, peningkatan peran, partisipasi petani, dan anggota masyarakat pedesaan lainnya, dengan membina kerja sama antara petani dan pihak terkait yang lain untuk mengembangkan usaha tani. Pengembangan kelompok tani juga diharapkan dapat membantu dan menggali potensi, memecahkan masalah usaha tani anggotanya secara lebih efektif dan mempermudah akses informasi, pasar, teknologi, permodalan, dan sumber daya lainnya.

Pengembangan Gapoktan perlu didorong menuju pembentukan atau pendirian koperasi Gapoktan. Pendirian koperasi Gapoktan berdasarkan beberapa tujuan yang ingin dicapai. Pertama, meningkatkan kehidupan ekonomi anggota Gapoktan. Kedua, meningkatkan kesejahteraan ekonomi anggota Gapoktan. Ketiga, membantu pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan Gapoktan yang adil dan makmur.

Keempat, menjadi saka guru dalam perekonomian nasional. Kelima, membantu petani dengan memberikan penawaran harga yang relatif lebih tinggi. Keenam, membantu pembeli dengan memberikan penawaran harga yang relatif lebih terjangkau. Ketujuh, memberikan bantuan peminjaman modal kepada unit-unit usaha mikro.

Suharsono ketika menjabat sebagai Bupati Bantul, pernah memaparkan bahwa berbagai upaya dalam urusan ketahanan pangan tidak hanya berfokus pada peningkatan ketersediaan pangan, pemerataan distribusi pangan dengan harga terjangkau, dan tercapainya pola konsumsi pangan yang bergizi, namun juga meningkatkan peran masyarakat dan pihak swasta dalam mendukung ketahanan pangan. Demikian sambutannya dalam menerima kedatangan Tim Verifikasi Lomba Gapoktan Tingkat Nasional yang digelar di Aula Balai Desa Panggungharjo pada Juli 2018.

Ia juga berpendapat, pembangunan di bidang pertanian akan berhasil jika bersandar pada kebutuhan dan kepentingan para petani. Dalam hal ini, keberadaan Gapoktan menjadi sangat penting karena Gapoktan adalah pilar pembangunan pertanian.

Bagaimana pangan yang sehat dan aman itu? Menurut saya, pangan yang sehat itu harus ‘aman’ sejak proses awal hingga akhir dan tidak tercemar berbagai zat yang membahayakan bagi tubuh. Air yang digunakan untuk menyiramnya pu pun tidak boleh tercemar oleh limbah rumah tangga, limbah industri, limbah pabrik, dan sebagainya. Pupuk yang digunakan harus berasal dari pupuk kandang atau pupuk organik karena lebih aman untuk tanaman serta lingkungan.

Penggunaan pupuk organik dalam tanaman tidak dapat merusak struktur tanah, bahkan menjadikan tanah lebih subur. Selain itu, tanaman yang dihasilkan jelas terjaga kesehatannya. Sayangnya, baik Gapoktan Kulon Progo maupun Gapoktan Panggungharjo belum menerapkan penggunaan pupuk organik dalam proses kegiatan pertanian.

Setelah saya melakukan Laboratorium Sosial (Labsos) di Kalurahan Panggungharjo, saya jadi mengenal Gapoktan Manunggal. Gapoktan Manunggal dibentuk melalui musyawarah anggota dengan tujuan meningkatkan produksi pangan yang berkualitas, serta meningkatkan kesejahteraan petani dan keluarganya.

Saat ini, Gapoktan Manunggal sedang mengembangkan unit-unit usaha simpan pinjam atau Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA). Program tersebut mendapat dukungan berupa bantuan modal dari pemerintah melalui Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP). Bantuan yang diterima Gapoktan sebesar Rp100.000.000 pada tahun 2010.

Melalui Gapoktan di Kulon Progo dan Kalurahan Panggungharjo, dapat disimpulkan bahwa Gapoktan mempunyai peran strategis dalam upaya memberdayakan petani-petani mandiri yang tergabung dalam Gapoktan. Memang ada kelebihan dan kekurangan terkait Gapoktan. Namun, Gapoktan memberi warna tersendiri dalam proses membangun ekosistem usaha bersama dalam bingkai kolaborasi antar petani sebagai warga desa yang keberadaannya butuh diberdayakan.

 

Referensi :

Wibowo, H.T.& Haryanto.Y.(2020). Kinerja Penyuluhan Pertanian Dalam Masa

Pandemi Covid-19 dikabupaten Magelang. Jurnal Penelitian

Peternakan Terpadu, 2(2),79-92.