Pesan Kepada Anak Lanang

IG/STEFANNWILLIAM

Yusuf anakku lanang, dengarlah baik-baik, duduk sini dekat bapak, lalu sabar mendengar. Waktu berlari dengan cepat, berkejaran dengan usia bapakmu yang semakin merambat tua, rapuh, dan berkarat.

Lihatlah, kini kau semakin tumbuh besar dan kuat, laksana karang kokoh dan menjulang yang siap menerjang ombak, bahkan siap menghadang angin. Langkahmu tegak, lambaianmu mantap berisi, gerakanmu gesit dan serasi, serta rona wajah cerah berseri seakan tak ada masalah yang tak teratasi. Asa membawaku untuk ingin selalu menikmati lagi masa kemungilan, kelucuan, dan kegemasan tingkah polah keseharianmu.

Bahkan setiap memandangi wajahmu lekat-lekat, aku sering kali merasa takjub tanpa berkesudahan. Ajaib. Kau tumbuh bagaikan disulap, kau membesar seperti cepatnya waktu melipat sang gelap.

Tanpa disadari, sering kali gumam sesak penyesalan terucap, aku menisbikan kehadiranku untuk mengerjap akan hari ke hari tumbuh kembangmu, sedang sang waktu telah tega semakin merenggangkan masa lalu. Diriku pun sadar betul akan ungkapan bahwa bila kau ingin selalu dalam kenangan anak dengan abadi, kau harus menghabiskan waktu bersama mereka hari ini, bukan besok atau lusa.

Yusuf anakku jantan, di atas buritan kapal aku selalu ingin tahu dan menduga-duga, apakah gerangan yang kau ceritakan kelak? Adakah cita-cita menjadi seorang astronaut agar bisa menggapai kerjapan milyar bintang di angkasa masih terpatri rekat?

Gapai dan rengkuhlah cita cita setinggi apapun anakku, bapak akan selalu mendukungmu. Bapak akan selalu berusaha mengawalmu hingga tulang punggung ini membungkuk lelah, sampai dengan badan ini membujur ke utara berkalang tanah.

Kau tidak boleh lemah karena hidup di zaman sekarang yang semakin susah, jangan sampai tumbang dan jangan sekali-kali tertulis kata menyerah dalam kamusmu.

Lihat dan pandanglah dunia anakku, dengan tatapan mata dan hati yang benar benar terbuka, dengan rasa dan asa yang penuh gelora. Tegakkan sampai tegak benar keadilan. Tumbuhkan sampai tumbuh benar kebenaran. Suburkan sampai subur benar kejujuran. Hidupkan sampai hidup benar sebuah keyakinan. Salahkan yang salah, benarkan yang benar, jangan pandang siapa, beranilah kau anakku.

Yusuf buah hati kebanggaanku, keberanian itu adalah kesadaran karena di dalam keberanian kau harus sadar akan risiko yang ditanggung dalam setiap mengambil keputusan. Keberanian itu adalah keyakinan karena dalam keberanian kau harus yakin bahwa benar adalah benar dan salah adalah salah.

Keberanian itu adalah kekuatan karena dalam keberanian itu mengandung kekuatan, kau harus bisa menempatkan kekuatanmu secara arif dan menyalurkan secara bijaksana, jangan kau umbar kekuatanmu untuk sia sia. Keberanian itu adalah kebulatan karena dalam keberanian itu kau harus bisa membulatkan tekad untuk bisa mewujudkan cita-cita. Berusaha dan terus berusaha, berikhtiar, dan berdoalah selalu. Man jadda wa jadda.

Yusuf matahariku, untuk kesekian kali bapak berharap agar kau tidak menapaktilasi jejak bapakmu karena sampai hari ini, bapakmu masih menjadi pengecut untuk tidak berani menyabung nasib di kampung halaman. Barangkali yang harus kau lihat adalah keberanian untuk melakukan pengorbanan, pergi membelah lautan demi segenggam harapan.

Sementara itu, di sini, di antara debur ombak semenanjung Yucatan, di sela sepinya deretan sekoci, biarlah aku mengurai satu satu persatu hal yang telah dan yang akan kulakukan terbaik untukmu sambil menyeduh perlahan puisi dari Sang Gibran, “Engkau boleh berusaha menyerupai mereka, namun jangan membuat mereka menyerupaimu, sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur ataupun tenggelam ke masa lampau.”