Ragam Memori Penuh Rasa

Feti Pramida Sari Merawat Lansia di Selter Tanggon. FETI PRAMIDA SARI

Sebagai perempuan desa, saya ikut dalam keanggotaan Karang Taruna Cahyaning Amerta (KTCA) Kalurahan Panggungharjo. Setelah lulus dari SMK Kesehatan Bantul, saya melanjutkan studi di Stikes Guna Bangsa Yogyakarta. Pengalaman medis di bangku kuliah menjadikan saya pegawai di salah satu instansi pemerintah.

Paruh 2021, saya masih ingat jelas bahwa kasus Covid-19 meningkat tajam. Kenaikan itu terjadi di seluruh Nusantara, tak terkecuali Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pemerintah Kalurahan Panggungharjo pun membuka pendaftaran relawan Selter Tanggon karena untuk mengatasi lonjakan kasus itu membutuhkan banyak tenaga.

Jiwa dan raga saya pun terpanggil. Pada 25 Juli 2021, saya resmi menjadi anggota relawan Selter Tanggon. Sesuai dengan keahlian, saya masuk menjadi anggota tim di bawah komando Kamituwo Kalurahan Panggungharjo dan Kepala Dukuh Jaranan.

Saya tidak asing dengan tugas yang diberikan. Sebab, hal itu sudah menjadi kebiasaan saya sebagai lulusan sekolah tinggi kesehatan. Memantau kondisi pasien dengan memeriksa tanda-tanda vitalnya dan memberikan pelayanan prima kepada pasien adalah kewajiban saya.

Selama menjadi relawan di Selter Tanggon, saya pernah mendapati pasien yang gelisah. Tiba-tiba saja ia datang ke pos penjagaan sekitar pukul 23.00 WIB sambil menceritakan kondisinya yang tidak bisa tidur nyenyak. Penyebabnya adalah kerinduan dengan keluarga di rumah. Kemudian, tak jarang pula ia meminta kepada saya untuk menghubungi keluarganya di rumah melalui panggilan video. Panggilan beberapa menit itu berhasil mengubah raut wajahnya menjadi lebih cerah.

Setelah panggilan itu berakhir, ia tidak langsung kembali ke kamarnya, malah duduk-duduk di pos penjagaan sampai pukul 01.00 WIB dini hari. Saya pun menyuruhnya masuk ke kamar karena hari sudah malam dan harus istirahat supaya tubuhnya tambah sehat.

Kemudian, ketika saya sedang berdua dengan Kevin (salah satu relawan), pasien tersebut datang lagi. Katanya, ingin di pos penjagaan terus. Setelah saya perhatikan, pasien tersebut seperti sedang mengalami hari-hari yang berat dan membutuhkan penyemangat. Ia tidak tidur sama sekali dan hanya duduk-duduk di pos penjagaan. Saya merasa iba dan memutuskan menemani pasien tersebut sampai pukul 05.00 WIB karena saya harus bergantian piket.

Cerita selanjutnya datang dari pasien lanjut usia bernama Imam. Sejak saya bergabung menjadi relawan, Imam sudah menjadi penghuni Selter Tanggon. Kondisinya yang renta membuatnya harus didampingi oleh tim medis setiap melakukan kegiatan. Seperti menyuapi makanan, mendampingi ketika ia ingin buang air, dan mengganti diapernya.

Imam merasakan kondisi kegelisahan. Sama seperti pasien yang lain, ia pun meminta kami untuk menghubungi keluarganya. Padahal, menurut informasi, Imam hidup sebatang kara di Rusunawa Projotamansari I. Kami, Tim Selter Tanggon, tidak ada yang mengetahui keberadaan keluarga Imam, terlebih lagi nomor telepon keluarganya.

Suatu hari, ada yang mengaku sebagai cucunya. Ia mendatangi kami di Selter Tanggon. Inti kedatangannya adalah ingin memberi sejumlah uang kepada tim relawan untuk merawat kakeknya dengan baik. Akan tetapi, kami semua menolak pemberian uang tersebut dengan alasan bahwa semua kebutuhan Imam sudah dicukupi oleh pihak pemerintah.

Cucunya memaksa memberi uang sebesar Rp200.000 untuk membeli kebutuhan perlengkapan yang tidak ada di Selter Tanggon. Berdasarkan pengalaman tersebut, saya ingin menyampaikan bahwa semua pasien yang dirawat di selter membutuhkan perhatian khusus.

Pengalaman unik yang saya rasakan selama menjadi relawan adalah ketika mendapat panggilan dari hotline Selter Tanggon. Kepala Dukuh Jaranan dan Lurah Panggungharjo menindaklanjuti laporan dari warga Piringan, Pendowoharjo. Ambulans segera meluncur. Saya dan Ari anggota Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) berangkat ke sana.

Pasien tersebut mengalami penurunan kesadaran, pihak keluarga pun meminta dirujuk ke rumah sakit rujukan Covid-19. Ketika itu kondisi pasien semakin menurun, namun kami tidak bisa merujuk ke rumah sakit rujukan Covid-19 karena tidak ada surat dari dokter yang resmi.

Langkah yang kami lakukan adalah memberi arahan kepada pihak keluarga pasien agar mau membawanya langsung ke IGD RS PKU Muhammadiyah Bantul. Kondisi steri pasien saat itu histeris hebat seraya mengatakan bahwa suaminya tidak ada harapan lagi. Hal itu menimbulkan perdebatan antara kami dan isteri pasien. Namun, kami tetap membawa pasien ke IGD RS PKU Muhammadiyah Bantul, lalu kami putuskan untuk pulang. Saya pun tidak tahu kelanjutan kondisi pasien tersebut.

Selter Tanggon ini bertempat di sebuah sekolah. Yang namanya sekolah, pasti ada saja cerita seramnya. Apesnya, saya menjadi saksi dari kemistisan bangunan sekolah pada malam itu.

Jarum jam menunjukkan pukul 01.00 WIB. Ketika ada permohonan kunjungan ke rumah melalui hotline Selter Tanggon, saya sontak mengambil pakaian Alat Pelindung Diri (APD). Tiba-tiba, seperti ada bayangan di belakang saya. Saya sempit berpikir bahwa tidak mungkin itu bayangan orang karena saya sedang sendirian.

Ternyata memang benar, saya sedang ditemani makhluk tidak kasat mata. Ketika akan memakai pakaian APD, bulu kuduk berdiri semua. Akhirnya, saya lari ke pos jaga saking takut dan merindingnya. Saya melanjutkan memakai pakaian APD di pos jaga, walupun sebenarnya tidak diperbolehkan.

Ada juga cerita tentang cinta lokasi di Selter Tanggon. Kalau kata orang, sih, cinta segi enam. Selama saya menjadi relawan, saya mendapat kawan-kawan yang menyenangkan. Entah saya merasa geer (gede rasa) atau tidak, sepertinya ada yang menaruh perhatian khusus kepada saya.

Witing tresna jalaran saka kulina yang memiliki arti cinta tumbuh karena terbiasa. Dalam konteks ini, tentu saja perasaan itu datang seiring kebiasaan jaga selter bersama. Kami, para relawan, sering mengobrol hingga makan dan minum bersama. Kami juga cerita tentang hewan peliharaan yang sama.

Sejak bergabung menjadi relawan, ada empat laki-laki; sebut saja A, B, C, dan D yang menyatakan perasaan cintanya kepada saya. Tetapi, saya menolak halus perasaan A dengan alasan menjaga perasaan B. Menolak halus perasaan B dengan alasan menjaga perasaan C. Menolak halus perasaan C dengan alasan menjaga perasaan D. Menolak halus perasaan D dengan alasan menjaga perasaan A.

Kalau boleh jujur, saya menaruh hati kepada seorang lelaki yang menjadi relawan Selter Tanggon, sebut saja orang itu E. Saya tidak menduga ternyata E menolak halus perasaan saya, ia mengatakan, “Saya bukan orang baik, lebih baik kamu dengan teman saya saja.”

Ketika kegiatan relawan di Selter Tanggon berakhir—bahkan hingga saat ini—saya pun masih setia dengan kesendirian alias jomlo. Pernyataan ini juga sebagai bentuk klarifikasi atas beredarnya informasi liar yang mengatakan bahwa saya menjalin hubungan dengan seseorang.