Sarjana Teknik Jadi Relawan Medis

Sugiharto Ketika Menjadi Pasien di Selter Tanggon. SUGIHARTO

Pada tanggal 20 Juni 2021, saya terkonfirmasi positif Covid-19. Keluarga saya yang semuanya berjumlah tujuh orang, lima orang di antaranya juga terkonfirmasi positif Covid-19. Hanya kakak ipar dan keponakan saya yang tidak terpapar virus tersebut.

Namun, baru pada tanggal 27 Juni 2021 saya mendaftarkan diri masuk Selter Tanggon sebagai pasien, bukan sebagai relawan. Hehehe. Saya menjadi pasien di awal berdirinya Selter Tanggon.

Semasa menjadi pasien, teman-teman relawan terkadang meminta bantuan saya untuk menangani sesama pasien selter yang membutuhkan pertolongan, terutama dari kalangan lansia. Pada tanggal 5 Juli 2021, ketika sudah tidak bergejala lagi dan dinyatakan sembuh secara medis, saya boleh pulang.

Pertama kali masuk setelah sembuh dari Covid-19, saya bertugas membantu mendata pamong Kalurahan Panggungharjo yang bertugas di Selter Tanggon. Sebab, ada kebijakan dari Lurah Panggungharjo untuk fokus pada penanganan pandemi Covid-19. Selain itu, juga karena tidak adanya pekerjaan terkait program pembangunan yang selama ini menjadi tugas pokok saya.

Lonjakan kasus Covid-19 yang semakin merajalela, mendorong Lurah Panggungharjo membentuk divisi-divisi untuk memaksimalkan penanganan Selter Tanggon. Ia membagi menjadi divisi medis (klinis) dan divisi nonmedis (nonklinis). Saya pun ditunjuk dan ditugaskan masuk ke divisi medis.

Pada awalnya, saya menolak tugas dari Lurah Panggungharjo dengan beberapa alasan, di antaranya adalah kedua orang tua keberatan jika saya bertugas di selter dan saya tidak memiliki pengetahuan tentang medis. Namun, ia terus berusaha meyakinkan saya dan mencontohkan cara memasang instalasi oksigen pada pasien. Saya pun akhirnya menyanggupi tugas dari Lurah Panggungharjo tersebut secara diam-diam dan tidak memberitahukan hal tersebut kepada kedua orang tua saya.

Berawal dari sini saya banyak menemui kejadian yang tidak akan pernah terlupakan. Suatu hari, sekitar pukul 10.00 WIB, datang seorang paruh baya dengan gejala berat. Ia warga Kalurahan Timbulharjo yang bernama Teguh. Begitu masuk ke Selter Tanggon, kami langsung memeeriksa tanda-tanda vitalnya. Tensinya 160 dan saturasi 60 sampai 65 persen. Kami bertanya, “Apakah mengalami sesak napas?”

Lelaki paruh baya itu hanya menjawab dengan gelengan kepala. Lalu, kami menempatkannya di kamar yang berada di dekat pos screening agar lebih mudah dan lebih cepat dalam penanganan. Proses perawatan selanjutnya kami serahkan kepada tim yang jaga setelah kami, yakni Melina dan Vina.

Menurut informasi dari Melina dan Vina, pada pukul 12.00 WIB, Teguh dicek tanda-tanda vitalnya lagi. Saturasi pada saat itu menurut drastis hingga 30 persen. Oleh Melina dibawa ke ruang oksigenasi. Teguh masih dalam pemantauan tim medis. Sekitar pukul 17.30 WIB, ketika melakukan kunjungan lagi ke selter, ia tidak ada dikamarnya.

Ternyata ia sedang mandi lalu jalan-jalan. Setelah berhasil menemukannya, kami cek lagi saturasinya. Kadar oksigen di tubuhnya menunjukkan angka 55. Kami sudah mencoba memberi oksigen berukuran besar dengan kecepatan 10 liter perdetik , tetapi tidak dapat terisi.

Karena yang diurusi tidak hanya Teguh, kami merawatnya sembari melayani pasien lain. Namun, menurut informasi yang saya dapat, instalasi oksigen yang dipasangkan kepadanya terkadang dilepas, terkadang dipasang lagi, hingga ada tim medis yang menyayangkan tindakan tersebut.

Pada pukul 07.00 WIB, seperti biasa, iringan lagu-lagu diputar dan disalurkan melalui pos penjagaan. Setelah dua jam berlalu, tiba-tiba musik tidak terdengar lagi. Penyebabnya adalah mati listrik. Hal tersebut membuat Teguh mengalami sesak napas.

Kemudian, saya memasangkan saluran oksigen dari tabung kecil untuk memberikan pertolongan pertama. Karena Alat Pelindung Diri (APD) yang saya pakai sobek, saya keluar sebentar untuk menutupnya dengan isolasi. Akhirnya, listrik pun menyala sehingga dapat memakaikan oksigen konsentrat kepadanya.

Datanglah adik Teguh bersama suaminya ke Selter Tanggon. Saya bertanya, “Apakah mau menemuinya?”

Jawabannya adalah mau. Syarat untuk menemui pasien yang isolasi harus memakai APD lengkap. Setelah memakai APD lengkap, keluarga Teguh menemuinya dengan membawakan bekal untuknya. Keluarganya pun menanyakan terkait kapan Teguh akan dirujuk ke rumah sakit rujukan Covid-19. Saya hanya dapat menjawab bahwa masih menunggu surat rujukan dari Puskesmas Sewon I.

Sekitar pukul 12.00 WIB, surat rujukan dari Puskesmas Sewon I sudah jadi. Dalam surat itu menyebutkan, pasien dirujuk ke RS Panembahan Senopati. Setelah mobil ambulans siap, saya menanyakan kepada Teguh, “Apakah dapat berjalan?”

Ia sudah tidak bisa menjawabnya. Namun, tiba-tiba Teguh sudah berdiri dari kasur sambil gemetar sekali. Saya berusaha memapahnya menuju mobil ambulans. Begitu sampai mobil ambulans, mendadak Teguh tidak sadarkan diri, hingga saya harus meminta bantuan ke relawan selter yang lain untuk menaikkannya.

Dalam kondisi tidak sadar, saya memangkunya selama perjalanan menuju RS Panembahan Senopati. Namun, takdir berkata lain. Sebelum sampai Perempatan Manding, saya merasakan bahwa Teguh telah meninggal dunia.

Sesampainya di RS Panembahan Senopati, perawat mengecek kondisinya. Sesuai dugaan saya, saturasi dan denyut nadinya saat itu ada di angka 0. Untuk memastikan meninggal dunia atau tidaknya, Teguh tetap dibawa ke ICU. Selang beberapa menit, kita mendapat informasi, Teguh telah meninggal dunia.

Pengalaman berkesan yang kedua ini, saya dapat ketika menindaklanjuti laporan dari hotline Selter Tanggon. Pasien yang menelepon seorang difabel. Saya melakukan kunjungan ke rumah pasien bersama Sugik selalu sopir ambulans dan disusul oleh Silvi selaku tim medis.

Dalam perjalanan dari selter menuju rumah pasien, ada kejadian aneh. Pertama, Sugik meminta tolong kepada saya untuk membetulkan posisi spion sebelah kiri yang berada di dekat saya. Namun, tidak tahu mengapa, tiba-tiba spionnya putus. Sudah mencoba dibetulkan, tetap tidak bisa.

Kedua, kejadiannya di rumah pasien. Saya sudah menyiapkan tabung oksigen lengkap dengan instalasinya, termasuk kunci inggris. Entah mengapa, Sugik yang saya tunggu di rumah pasien malah tidak datang-datang. Saya pun menyusulnya ke mobil ambulans, ternyata Sugik masih mencari keberadaan kunci inggris yang sudah saya bawa dari tadi.

Begitu ketemu, pasien sudah tidak sadarkan diri. Istrinya sangat panik. Setelah saya cek, saturasinya menunjukkan angka 30 persen. Setelah diberi oksigen selama setengah jam, saturasinya naik menjadi 65 persen dan sempat sadarkan diri. Setelah dicek lagi, saturasi naik terus. Kami pun memutuskan pulang ke selter.

Sebelum kami pulang, saya memberikan pelatihan singkat kepada keluarganya terkait penanganan pertama, serta memberi tahu cara menghidupkan dan mematikan tabung oksigen. Kami juga memberikan nomor telepon jika terjadi kondisi darurat.

Sesampainya di selter, keluarga pasien yang kami datangi tadi menelepon karena oksigennya mati. Setelah dipandu melalui panggilan suara, oksigen dapat hidup kembali. Saya mendapatkan informasi dari seorang relawan bernama Kevin bahwa panggilan dari pasien difabel itu datang lagi. Keluarganya mengatakan alat saturasi tidak berfungsi. Kevin pun bergegas ke rumahnya, tetapi sesampainya di sana, ternyata pasien sudah meninggal dunia.

Selain bertemu dengan pasien yang meninggalkan kisah sedih, saya juga bertemu dengan pasien yang selalu menghadirkan tawa. Seperti pertemuan dengan pasien yang humoris, pasien yang suka mengajak ngopi bareng, pasien yang suka mengajak makan lotis bersama, dan pasien yang suka melakukan swafoto.

Ada juga pasien yang ingin menonton bareng sinetron ‘Ikatan Cinta’. Keinginan nonton bareng itu akhirnya benar-benar terealisasi. Kami menontonnya menggunakan layar lebar selama satu minggu.

Menurut saya, nilai-nilai positif yang dipraktikkan oleh sesama pasien Covid-19 karena rasa kegotongroyongan masih terjalin dengan baik. Mereka saling memotivasi dan menghibur. Hal itu berdampak positif, yakni dapat meningkatkan daya imunitas sehingga proses penyembuhannya cepat.

Ada satu cerita tentang romantika sesama tim relawan selter yang menimbulkan benih-benih cinta dan kecemburuan. Ya, pada waktu itu terdengar semacam isu yang mengaitkan saya dengan seseorang. Mungkin karena sifat supel saya, banyak orang yang salah mengartikannya.

Hampir setiap hari, ada dugaan saya menjalin suatu hubungan dengan seseorang. Seseorang yang disangka mempunyai hubungan dengan saya, bercerita tentang beberapa orang yang selama ini menggosipkan kami berdua.

Berdasarkan cerita yang ia sampaikan, saya pun jadi ingin memanas-manasi suasana untuk sebatas guyonan. Pada suatu malam, saya merencanakan untuk membuat status di WhatsApp dengan menggunakan foto dari rekan saya yang bekerja di salah satu rumah sakit yang ada di Kasihan Bantul.

Setelah saya mengunggah status, ada yang menanggapinya, “Ini tangannya si ‘dia’, ya?”

Sontak saya tertawa. Ternyata benar, ada yang terpancing dengan status saya ini. Terlepas dari semua itu, saya juga ingin menegaskan bahwa saya memang tidak mempunyai hubungan khusus dengan siapa pun dan yang selama ini rekan-rekan lihat, mungkin hanya sebatas gaya berteman saya saja yang akrab dengan siapa pun.