Selamatkan Jiwa, Teduhkan Hati

Setyo Raharja di Shelter Tanggon. JAMILLUDIN

Ketika terjadi kejadian luar biasa (KLB) pada pertengahan 2021, Pemerintah Kapanewon Sewon membentuk Selter Gabungan Kapanewon Sewon, yang diberi nama Selter Tangguh Kapanewon (Tanggon). Letaknya berada di Jalan Parangtritis, Kalurahan Timbulharjo.

Sebelum selter dibuka, semua pamong Kalurahan Panggungharjo yang tidak sedang mengerjakan tugas penting diminta melaksanakan gotong royong untuk persiapan pembukaan selter. Kegiatan gotong royong berlangsung selama tiga hari, mulai dari membersihkan lingkungan selter, membersihkan ruangan selter, membuat penyekatan-penyekatan kamar (ruangan selter), mengatur tata letak kantor, dan lain-lain.

Sangat disayangkan, padahal sesuai dengan rencana, selter tanggon merupakan selter gabungan empat kalurahan di wilayah Kapanewon Sewon, tetapi yang aktif menjalankan manajemen Selter Tanggon hanyalah Pemerintah Kalurahan Panggungharjo. Sementara itu, ketiga kalurahan lain sangat lambat responnya.

Padahal, menurut informasi yang saya dapat, lonjakan kasus Covid-19 di Kapanewon Sewon pada saat itu tergolong tinggi. Saking banyaknya warga yang terpapar positif Covid-19, daerah ini langsung menjadi zona merah.

Sesuai instruksi Lurah Panggungharjo, Semua pamongnya ditugaskan untuk membantu semua kebutuhan relawan selter setiap harinya. Begitu pun dengan saya. Hampir setiap hari saya siap siaga di selter karena diberi mandat membantu tim logistik. Jadi, tugas saya mencukupi kebutuhan logistik yang cukup penting, seperti mengusahakan ketersediaan oksigen. Sebab, pasien yang sedang menjalani perawatan di Selter Tanggon membutuhkannya setiap saat. Sesekali saya tidak pulang dan harus ikut menginap di selter.

Saya pun mengalami suka dan duka ketika dalam misi mencari tempat isi ulang oksigen. Sukanya adalah saat sedang beruntung mendapat oksigen dengan cepat. Kala itu, saya baru saja keluar dari selter setelah salat Subuh. Tabung oksigen kosong yang saya bawa segera menemukan tempat untuk isi ulang.

Menjadi relawan di tengah kacaunya keadaan, tentu saja membuat saya sering dihampiri duka. Kejadian yang pernah membuat kesal hati saya adalah kelangkaan oksigen. Tak terhitung berapa tempat isi ulang yang kehabisan oksigen. Sejumlah narahubung tempat pengisian ulang oksigen yang saya miliki, semuanya tidak dapat dihubungi.

Suatu hari, saya bersama dengan Kepala Dukuh Garon, ingin membeli isi ulang tabung oksigen. Kebetulan tidak ada mobil di hari itu, terpaksa saya naik sepeda motor berboncengan dengan Kepala Dukuh Garon menuju tempat isi ulang oksigen. Dalam perjalanan tabung oksigen kosong yang dibawa oleh rekan saya ini terjatuh dan menggelinding sampai ke sawah. Sungguh sial rasanya.

Dampak dari kelangkaan tabung oksigen di Daerah istimewa Yogyakarta (DIY) membuat Lurah Panggungharjo berkeinginan membeli sebuah alat yang bernama oksigen konsentrator. Sebetulnya, terkait alat oksigen konsentrator ini, sudah ada di Selter Patmasuri. Akan tetapi, operasionalnya di bawah naungan Pemerintah Kabupaten Bantul.

Kami pernah ingin meminjam alat oksigen konsentrator yang dimiliki oleh Selter Patmasuri, sayangnya persyaratan yang diajukan terbilang sulit bagi Selter Tanggon untuk mengaksesnya. Sampai-sampai Lurah Panggungharjo menyayangkan situasi seperti ini.

Setelah berkoordinasi dengan panewu, Puskesmas Sewon I, dan Puskesmas Sewon II, akhirnya memutuskan membeli alat konsentrat sendiri untuk kebutuhan pasien yang dirawat di Selter Tanggon. Hari itu juga, saya bersama beberapa rekan berangkat ke Jakarta untuk membeli alat oksigen konsentrator.

Berangkat menuju Jakarta sekitar pukul 10.00 WIB dan pulang ke Panggungharjo sekitar pukul 04.00 WIB. Selama 20 jam perjalanan, kami pulang pergi tanpa menginap, hanya istirahat, salat, dan makan. Itu saya lakukan karena alat konsentrat tersebut sangat dibutuhkan oleh warga yang sedang menjalani karantina di Selter Tanggon.

Walaupun Selter Tanggon dapat berjalan baik, namun beberapa hal masih perlu dikoreksi. Menurut saya, ada masukan untuk panewu yang perlu direnungkan ke depannya. Apabila suatu saat membuat program kerja sama seperti Selter Tanggon lagi, semoga panewu akan mengerahkan energinya dalam mengintervensi pihak-pihak yang diajak kerja sama sehingga dapat bersinergi dengan paripurna, bukan hanya menjadi tanggungan satu pihak.

Cerita-cerita itu tidak datang dari Selter Tanggon saja. Sebagai kepala dukuh, tentu saya punya cerita di padukuhan yang saya pimpin. Ada satu cerita menarik dari warga Padukuhan Pandes RT 06. Semua anggota keluarga ini terpapar Covid-19. Satu orang di antara anggota keluarga tersebut meninggal dunia. Dalam situasi dan kondisi yang menegangkan tidak ada satu tetangga pun yang mau mendekati jenazah.

Atas dasar rasa kemanusiaan, saya dan Sugiyantara selaku warga RT 06, memberanikan diri dan berusaha mencukupi kebutuhan pemakaman jenazah Covid-19 menurut protokol kesehatan yang diterapkan oleh pemerintah.

Hal itu juga yang membuat saya dan Sugiyantara harus menjalani isolasi mandiri sambil menunggu pelaksanaan tes Polymerase Chain Reaction (PCR) yang dijadwalkan oleh Pemerintah Kalurahan Panggungharjo. Karena ada kendala yang tak terduga, jadwal tes PCR kami mundur. Tidak ingin berlama-lama, kami memutuskan tes antigen di klinik dekat rumah. Alhamdulillah, setelah isolasi mandiri selama 5 hari, hasil tes antigen menunjukan negatif.

Kejadian tak mengenakan lainnya pun menghampiri satu keluarga ini. Salah satu menantu perempuannya mendadak melakukan hal-hal yang membuat beberapa orang kebingungan. Ia dibujuk untuk masuk rumah sakit khusus Covid-19 tidak mau, setelah mau diajak isolasi di selter dan sampai di sana, ia malah minta pulang. Kami, para relawan, tidak mengerti alasan ia bersikap seperti itu. Kami hanya menebak-nebak, apakah ini dampak psikologis akibat menderita Covid-19?

Saya memberi izin perempuan itu untuk isolasi mandiri di rumah, tetapi dengan pengawasan yang ketat. Empat belas hari berlalu, alhamdulillah, pasien dinyatakan sembuh. Ia pun juga sembuh dari tingkahnya yang ‘tak biasa’ itu.

Peristiwa ketika ia melakukan hal-hal yang membuat kami mengerutkan kening, sempat direkam oleh seseorang. Si perempuan diberi lihat video tersebut. Lucunya, ia heran dan bertanya kepada suami sambil tertawa sendiri, “Kok, saya bisa begitu, ya?”

Menjadi kepala dukuh sekaligus satgas Covid-19, ternyata menghasilkan banyak catatan yang ditujukan untuk warga saya. Pertama, masih ada warga yang sudah jelas-jelas dirinya terpapar positif Covid-19, tetapi bersikap tak acuh. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada dirinya. Kedua, masih rendahnya pemahaman tentang herd immunity akibat adanya berita palsu dan narasi negatif terkait vaksin.

Pemakaman jenazah Covid-19 secara protokol kesehatan di Padukuhan Pandes terjadi sebanyak tujuh kali. Kejadian ini bagai memberikan efek jera bagi para penikmat berita palsu dan mereka yang bersikap tak acuh kepada Covid-19. Sebab, terlihat ada peningkatan kesadaran warga Padukuhan Pandes untuk melakukan vaksin. Sangat disayangkan, mereka berubah patuh harus menunggu korban jiwa dahulu.

Tanpa saya sadari, kegiatan kerelawanan dapat membahagiakan hati saya. Ada perasaan bahagia juga puas ketika dapat menyelamatkan jiwa dan raga para warga. Menurut saya, hal itu karena hidup di masyarakat sifatnya bergantian, terkadang kita membutuhkan bantuan orang lain dan terkadang kita dibutuhkan orang lain.