Spesialis Merawat Pasien Lansia

Menjadi Relawan Vaksin. VINA DWI LESTARI

Tahun lalu, sewaktu awal Covid-19 merebak di Indonesia, saya baru pulang dari Taiwan. Setahun kemudian, saya langsung bergabung menjadi relawan di Selter Tanggon. Kegiatan kemanusiaan seperti ini sudah menjadi hobi buat saya. Oleh karena itu, tanpa pikir panjang langsung menyanggupi ketika diajak menjadi relawan.

Motivasi saya bergabung menjadi relawan Selter Tanggon karena ingin ibadah kepada Allah Swt. Bagi saya, ini adalah bentuk ibadah dengan cara membantu sesama warga desa yang sedang berjuang dari serangan Covid-19 yang merajalela. Terlebih lagi sudah pernah mendapat pengalaman bertahan di tengah krisis, sebab di Taiwan pun sudah terbiasa digembleng sebagai Detasemen Wanita Banser (Denwatser).

Walaupun bukan berasal dari sekolah keperawatan, ilmu merawat pasien didapat dari bekerja di Panti Jompo dan pernah mendapatkan pelatihan keperawatan sebagai pramurukti. Inilah yang menguatkan saya dapat menerapkan ilmu yang pernah dipelajari. Lalu, ilmu tersebut diamalkan di Selter Tanggon yang bertugas di tim medis.

Karena pernah merawat lansia di panti jompo, tugas itu pun juga diberikan kepada saya ketika menjadi relawan. Tetapi, ketika Kamituwo Panggungharjo terpapar positif Covid-19 dan koordinator digantikan oleh Kepala Dukuh Jaranan, saya diberi tugas lain. Tugas itu adalah melakukan kunjungan ke rumah-rumah pasien Covid-19 yang melakukan isolasi mandiri.

Selain aktif menjadi relawan yang tergabung dalam Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Kalurahan Panggungharjo, saya juga aktif dalam relawan Sapu Jagad. Tugas yang diemban oleh relawan Sapu Jagad, yakni menangani pasien Covid-19 yang berasal dari luar wilayah Kalurahan Panggungharjo.

Banyak sekali cerita suka dan duka ketika menangani penyintas lansia. Sukanya, banyak sekali momen-momen di selter yang membuat hati saya gembira. Cerita dari pasien ibu-ibu yang terlihat bersemangat berjuang demi kesembuhannya. Rasa lega itu juga datang kala dapat membantu menyuapi dan sekadar membantu mengelap badan ataupun mengganti diaper mereka. Kegiatan merawat lansia membuat hati hangat sehingga teringat kepada ibu saya yang sudah meninggal dunia.

Sedih rasanya ketika sudah merawat mereka sepenuh hati, selalu menunggu mereka sampai tidak tidur semalaman, namun salah satu dari mereka ada yang meninggal dunia karena saturasinya terlalu rendah. Kami pun sudah berusaha berkeliling ke sana ke mari mencari rumah sakit, sayang sekali tidak mendapat rumah sakit yang mau menerima pasien Covid-19.

Ada cerita lucu ketika saya mendapat shift malam. Salah satu pasangan suami istri, yang sepertinya sang istri mengalami kondisi mental yang kurang baik. Ia suka teriak-teriak sendiri dan sangat mengganggu pasien lainnya.

Waktu saya masuk untuk memeriksanya, ternyata sang istri masih berada di dalam kamar mandi dan tidak mau balik ke ruangannya. Pernah terjadi, saat ingin memeriksa suhu, saturasi, dan tekanan darahnya, tiba-tiba saja ia mengamuk dan mendorong tubuh saya hingga hampir terjatuh.

Kemudian, tindakan yang saya lakukan, saya pegang keningnya sambil membaca Al-Fatihah sebanyak tiga kali. Sang istri pun akhirnya berangsur tenang. Sempat mencuri dengan, katanya di kamar mandi tersebut ada penunggunya.

Menjadi relawan di tengah berkecamuknya Covid-19 varian Delta, menempatkan saya pada situasi harus merasakan kesulitan mencari tempat isi ulang tabung oksigen di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Eh, di saat-saat lonjakan pandemi Covid-19 sudah mulai melandai turun, saya malah menerima bantuan tabung oksigen besar dari sahabat saya sebanyak sepuluh buah. Hingga sekarang, saat saya menuliskan cerita ini, baru tiga buah tabung oksigen besar yang habis terpakai, sisanya masih utuh belum terpakai.

Banyak pengalaman ketika menangani jenazah Covid-19 karena saya tergabung dalam tim kubur cepat FPRB Kalurahan Panggungharjo. Sekitar sepuluh jenazah Covid-19 yang saya sucikan sebelum dimakamkan. Menurut ingatan yang sekelebat, saya pernah menyucikan jenazah Covid-19 di Padukuhan Krapyak Kulon, Dongkelan, Kweni, Sawit, Pelemsewu, Geneng, dan Glondong. Ada satu jenazah dari luar Kalurahan Panggungharjo, jenazah tersebut berasal dari Kapanewon Pandak.

Berdasarkan pengalaman menyucikan jenazah Covid-19, hampir semuanya dilakukan dengan cara tayamum, hanya ada satu jenazah Covid-19 yang pihak keluarganya meminta disucikan dengan air mengalir. Menurut informasi yang saya ketahui, jenazah tersebut meninggal dunia sudah sejak pagi hari. Tetapi, pihak keluarga baru mengetahui sore harinya. Setelah ada permintaan pemakaman jenazah Covid-19 dari pihak keluarga ke tim FPRB Kalurahan Panggungharjo, kami pun baru dapat menyucikan jenazah setelah maghrib.

Sesampainya di rumah duka, kondisi jenazah sudah kaku sekali. Kami kesulitan sekali meluruskan kakinya. Sampai-sampai saya berinisiatif untuk sedikit menekan lututnya sampai terdengar bunyi ‘krek’, sepertinya tulang di bagian kaki patah. Dalam hati saya yang terdalam, saya memohon maaf atas kejadian ini kepada jenazah tersebut.

Walaupun sudah dibantu oleh Kaum Rais Pelemsewu untuk meluruskan kaki jenazah tersebut, tetap tidak bisa. Akhirnya, saya melanjutkan proses menyucikan jenazah Covid-19 dengan memandikan jenazah seperti biasa, yaitu dengan air mengalir, tetapi protokol kesehatan tetap saya patuhi.