Tim Gawat Darurat yang Tak Tergantikan

Kunjungan ke Ruang Isolasi Selter. SYLVY DWI KUSUMAWARDANI

Sebelum dibentuk Selter Tanggon saya bertindak sebagai relawan mandiri. Saya sudah bantu-bantu di Puskesmas Sewon II untuk mengantar swab. Lambat laun, saya turut membantu mengantar pasien Covid-19 ke rumah sakit menggunakan ambulans Puskesmas Sewon II, terkadang pula menggunakan mobil pribadi Lurah Panggungharjo yang terkenal dengan sebutan mobil sejuta umat.

Kemudian, sejak berdirinya Selter Tanggon, saya diminta Lurah Panggungharjo mengisi posisi tim gawat darurat. Pada awalnya tugas pokok tim gawat darurat adalah mengondisikan pasien Covid-19 dari rumah-rumah warga ke selter dan dari selter ke rumah sakit, maupun sebaliknya.

Setiap harinya yang datang ke selter hanya orang-orang itu. Dengan kata lain kami kekurangan tenaga relawan, sehingga semua boleh menyokong semua kebutuhan pasien ketika ada waktu luang. Kondisi ini sampai dianalogikan oleh Lurah Panggungharjo, “Ibaratnya, selter ini adalah anak kecil yang lari-lari ke luar tapi belum memakai celana.”

Jadi, situasi dan kondisi selter saat itu tetap terpontang-panting. Akhirnya, dengan penuh keberanian, saya terkadang ikut membantu Kepala Dukuh Jaranan yang kebetulan memiliki disiplin ilmu medis.

Berdasarkan hasil koordinasi bersama, kami memutuskan untuk membuka jadwal baru dengan tiga pergantian waktu piket untuk mengecek ke ruang-ruang isolasi selter. Adapun pembagian waktu piket, yaitu pukul 08.00 sampai 16.00 WIB yang bertugas mengecek adalah saya, Bimo, dan Fendika. Piket di pukul 16.00 sampai 24.00 WIB yang bertugas adalah Lurah Panggungharjo dan Laras. Pada piket selanjutnya, di pukul 24.00-08.00 WIB yang bertugas adalah saya, Bimo, dan Fendika.

Untuk waktu piket di jam pertama dan ketiga, petugasnya selalu diacak antara saya, Bimo, atau Fendika. Kemungkinan, bakal ada waktu piket yang isinya hanya satu orang. Ketika jatahnya Bimo atau Fendika yang sendirian, biasanya saya sering menemani.

Sebenarnya, saya tidak mempunyai ilmu dasar medis. Modal saya hanya nekat. Namun, terkait praktik langsung untuk mengoperasikan pengecekan tanda-tanda vital pasien, saya sudah terbiasa. Pengalaman tersebut pernah saya dapatkan ketika masih aktif di Palang Merah Remaja (PMR) ketika SMA dulu.

Selama menangani pasien Covid-19, ada beberapa kejadian yang saya alami. Pertama, ketika selter kedatangan dua orang. Mereka sepasang suami istri dari Panggungharjo. Menurut diagnosis medis, ketika datang pertama kali ke selter yang lebih parah adalah suami. Saturasinya 80 persen, sementara si isteri saturasinya 90 persen. Oleh karena itu, untuk menaikkan kadar oksigen, si suami dipasangi alat bantu napas. Saturasinya pun naik terus, tetapi si istri malah menurun.

Karena ada kendala persediaan oksigen maka langkah yang kita lakukan adalah melepaskan alat bantu napas, lalu kami pasangkan ke istri. Namun, hal ini tidak berdampak baik, saturasi si istri turun terus hingga 40 persen. Hal itu mengakibatkan si istri berhalusinasi. Misalnya tirai dianggap air terjun dan sepatu boot dianggap ketela. Kami minta ia untuk istigfar, tetapi tak diresponnya. Diselimuti pun tidak mau, malah dilepaskan terus.

Kejadian tersebut kami komunikasikan kepada Lurah Panggungharjo. Atas sarannya, kami diminta menuntunnya membaca kalimat syahadat dan berupaya menguatkan si suami agar mentalnya tidak ambruk.

Suaminya kami tempatkan di kamar perempuan agar dapat berdampingan dengan si istri. Kemudian, Laras selaku dokter di Puskesmas Sewon II, merujuknya RS PKU Muhammadiyah Bantul. Laras yang ditemani saya dan Fendika, menyetir sendiri ambulans milik Puskesmas Sewon I untuk mengantarkan kedua pasien tersebut. Setelah beberapa hari, kami mendapat kabar dari pihak RS PKU Muhammadiyah Bantul bahwa pasien yang kami antar waktu itu sudah meninggal dunia.

Kedua, ketika ada pasien yang katanya mantan atlet datang dengan kondisi yang masih terlihat sehat, bahkan ia mampu berjalan sendiri. Namun, setelah kami mengecek tanda-tanda vitalnya, saturasi si atlet turun terus. Akhirnya, kami berikan penanganan khusus. Singkat cerita, pasien tersebut berhasil sembuh dan mendapat izin pulang ke rumahnya.

Ketiga, ketika menangani pasien yang ketergantungan oksigen, padahal persediaan oksigen masih langka. Strategi yang kami lakukan adalah dengan tetap membagi oksigen dengan rata kepada pasien lainnya, tidak hanya kepada pasien yang ketergantungan oksigen. Tentunya kami mempertimbangkan skala prioritas juga.

Keempat, ada sepasang suami istri yang kondisinya terus memburuk. Karena kondisinya itu, kami menempatkan mereka di ruangan khusus. Ketika saya masuk dengan Lurah Panggungharjo sambil membawa tabung oksigen yang besar, saya melihat si suami sebenarnya sudah pamit. Sebab, saya melihat makhluk hitam besar berada di depan ruang khusus tersebut.

Kami membawa suami ke Rumah Sakit Lapangan Khusus Covid-19 di Bambanglipuro, Bantul. Namun, pihak rumah sakit menolak. Saya tetap berusaha memberi kode kepada petugas jika pasien sudah meninggal dunia. Saya katakan kepada petugas jaga rumah sakit bahwa saya membutuhkan formalitas surat yang menerangkan pasien meninggal dunia dalam perjalanan dari Selter Tanggon ke Rumah Sakit Lapangan Khusus Covid-19.

Kelima, kejadian yang menimpa sebuah keluarga yang berasal dari Rusunawa Projotamansari I. Keluarga tersebut terdiri dari lima orang. Ibunya sakit dan tidak dapat berjalan, setelah di tes swab hasilnya positif Covid-19. Kemungkinan, ia tertular oleh anaknya yang lebih dulu terpapar Covid-19. Sang ibu pun meninggal dunia. Jenazahnya dibawa ke Rembang dan dimakamkan disana.

Sepulang dari Rembang, satu keluarga tidak ada yang mau melakukan tes swab, termasuk sang bapak. Padahal ia sudah merasakan gejala, tetapi tetap tidak mau tes swab.

Terjadilah peristiwa yang sangat dramatis. Anak pertama terkonfirmasi positif Covid-19. Saya pun mencarikan rumah sakit rujukan. Setelah dapat, saya antar ke RSUD Panembahan Senopati. Ketika dibawa ke RSUD Panembahan Senopati, kondisi pasien masih bisa jalan. Namun, Allah berkehendak lain, setelah tiga hari dirawat di rumah sakit, anak pertama itu meninggal dunia.

Kami memakamkannya di Krapyak Kulon. Berita duka tersebut tidak saya beritahukan kepada istrinya karena kondisinya baru melahirkan. Si istri pun mengetahui kejadian itu dari pihak RSUD Panembahan Senopati.

Setelah menjalani tes swab, anak kedua hasilnya juga positif. Saya antar ke RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Ketika masuk rumah sakit, kondisi pasien masih dapat jalan, tetapi ia merasakan sesak napas. Selang satu hari, kami mendapat kabar dari pihak rumah sakit, jika pasien telah meninggal dunia. Meninggal dunianya anak pertama dan anak kedua, tidak saya beritahukan kepada bapaknya. Hal itu dilakukan dengan banyak pertimbangan.

Karena tidak ada informasi terkait kondisi sang bapak, saya berinisiatif mengantarkannya ke RS Nur Hidayah. Namun, menantunya datang dan memberi kabar bahwa hasil tes swabnya positif Covid-19. Saya bingung karena tidak ada pemberitahuan terkait sang bapak sudah melakukan tes swab atau belum.

Lalu, saya ditelepon pihak RS Nur Hidayah, mereka meminta saya untuk menjemput pasien tersebut. Karena dari pihak kami belum ada yang menjemput sang bapak, oleh pihak RS Nur Hidayah diantar ke rusunawa. Kejadian itu saya laporkan kepada Lurah Panggungharjo. Ia menyarankan untuk membawa sang bapak ke Selter Tanggon.

Setiba di sana, yang merawatnya adalah saya dan Lurah Panggungharjo. Sebenarnya, motivasi sang bapak untuk sembuh itu sangatlah besar sehingga kami carikan rumah sakit untuknya. Alhamdulillah, Rumah Sakit Lapangan Khusus Covid-19 mau menerimanya.

Perjalanan menuju rumah sakit tersebut, banyak firasat yang terjadi. Ambulans terasa seperti ditimpa sesuatu, hingga rasanya berat sekali. Saya pun melihat ada makhluk tak kasat mata yang merangkul saya, juga merangkul sopir ambulans.

Saat sampai di Rumah Sakit Lapangan Khusus Covid-19, pasien masih respon dan masih dapat turun sendiri dari ambulans menuju ke kursi roda tanpa dibantu. Ketika saya mendorong kursi roda itu, sang bapak sempat bertanya kepada saya, “Anak-anak saya sehat semua, kan, Mbak? Saya juga bisa sembuh, kan, Mbak?”

Saya hanya dapat menjawab, “Iya, Pak.”

Sang bapak saya tidurkan ke tempat tidur sambil saya pasangkan sendiri alat-alat untuk mengecek tanda-tanda vital karena kebetulan petugasnya masih sibuk menangani pasien lainnya. Namun, di luar dugaan saya, kondisinya terus memburuk dan harus dibantu dengan alat pacu detak jantung. Sang bapak pun menyusul kedua anak dan istrinya, ia sudah meninggal dunia.

Hari itu menjadi hari yang super sibuk bagi saya. Ada seorang pasien lagi bernama Atiqoh yang sudah mendapatkan penanganan khusus dari saya. Setiap dua jam sekali, pasti selalu saya cek kondisinya.

Kondisi terakhir, ia masih dapat diajak komunikasi. Sambil menunggu kabar dari pihak Rumah Sakit Lapangan Khusus Covid-19 terkait proses menyucikan jenazah sang bapak, saya dapat kabar dari keluarga atau tetangga Atiqoh bahwa posisinya sudah bergeser ke tengah ruangan.

Setelah memakamkan jenazah sang bapak yang dari rusunawa, saya bersama seorang teman langsung menuju ke rumah Atiqoh. Karena terburu-buru, kami sampai lupa tidak membawa Alat Pelindung Diri (APD), hanya membawa sarung tangan. Kami pun memberanikan diri mengecek Atiqoh tanpa APD. Bermodal sarung tangan saja, saya mengecek renyut nadinya. Namun, sudah tidak ada. Saya mengecek matanya. Namun, sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi.

Karena jenazah cukup berat, saya minta tolong keluarganya ketika ingin mengembalikan ke posisi semula agar mudah menyucikan Atiqoh. Sayangnya, keluarga Atiqoh tidak ada yang berkenan membantu. Saya, seorang teman saya, dan suami Atiqoh yang akhirnya menggotong, walaupun napas saya sudah terengah-engah karena terlalu lelah.

Seiring berjalannya waktu, ketika pasien selalu berdatangan ke Selter Tanggon. Saya ditunjuk oleh Lurah Panggungharjo untuk mengisi dua posisi, yaitu sebagai tim gawat darurat yang tidak tergantikan oleh siapa pun dan menjadi tim medis. Sebab, saya dianggap mampu menjalankan dua pekerjaan sekaligus. Akhirnya, saya menerimanya dengan alhamdulillah.