Alternatif Problem Sampah, Wujudkan Tamanmartani Bersih

Pengelolaan Sampah Rumah Tangga. JOGJAPROV

Sampah sering menyebabkan permasalahan serius, terutama pada lingkungan. Sumber penyakit yang akhirnya berdampak pada kesehatan manusia. Oleh karena itu, sampah membutuhkan perhatian khusus, sebagai alternatif supaya tidak menyebabkan masalah signifikan terhadap lingkungan sekitar.

Di kawasan Tamanmartani, Kabupaten Sleman merupakan salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan penduduk yang cukup banyak. Hasil Sensus Penduduk tahun 2020 (SP2020) menyatakan bahwa laju pertumbuhan penduduk DIY mencapai 0,58 persen per tahun sejak 2010 hingga 2020.

Jumlah penduduk di Yogyakarta terbesar di wilayah Sleman, mencapai 1,13 juta orang atau 30,69 dari total penduduk. Berkaitan dengan problem sampah, bahwa setiap orang akan menghasilkan sampah per harinya. Volume sampah di Kabupaten Sleman yang dibuang ke Tempat Penampungan Sampah Terpadu (TPST) di kawasan Piyungan Bantul sampai saat ini terus mengalami peningkatan.

Lalu permasalahan yang muncul di lapangan, cara masyarakat desa mengatasi sampahnya yang cenderung menimbun sampah organik dan sampah anorganik di satu tempat yang sama, mereka juga membakar sampah.

Tampaknya langkah masyarakat dalam mengelola sampah masih menggunakan sistem dikumpulkan, diangkut, dan dibuang ke tempat pemrosesan akhir. Hal ini tentu bukan alternatif yang tepat. Oleh karena itu PKK Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman berupaya untuk merintis bank sampah di setiap pedukuhan. Seperti di Padukuhan Randugunting Tamanmartani yang menggagas bank sampah Kartini.

Siti Marfuah, selaku Ketua Tim Penggerak PKK Tamanmartani memiliki alternatif dengan pembentukan bank sampah tersebut. Hal ini disebabkan dari keprihatinan pengurus PKK dan tokoh masyarakat yang melihat kebiasaan masyarakat, membakar dan membuang sampah sembarangan.

Siti Marfuah juga menuturkan bahwa pengurus dan anggota PKK Randugunting bisa memulai kegiatan mengelola sampah dengan kegiatan sedekah sampah. Bisa dengan mengajak warga untuk mengumpulkan sampah rumah tangga pribadi. Ia juga mengungkapkan bahwa selama ini warga masyarakat Randugunting masih memandang sampah sebagai barang sisa yang tidak bernilai. Padahal sampah juga bisa menjadi solusi ekonomi keluarga .

Bank Sampah Kartini berdiri sejak tahun 2013, merupakan program baru tujuannya adalah mengajak masyarakat supaya lebih giat dalam mengelola sampah terutama sampah pribadi. Tujuan didirikannya program Bank Sampah ini untuk menciptakan lingkungan dusun yang bersih dan sehat. Penyadaran terhadap masyarakat dalam memandang barang sisa ini ternyata bisa menjadi barang bernilai atau didaur ulang.

Dalam mekanisme kerja bank sampah ini, dibuat tidak jauh berbeda dari umumnya, setiap anggota mendapat sebuah rekening pribadi. Menabung sampah hampir sama dengan mekanisme menabung uang di perbankan pada umumnya.

Mekanisme program bank sampah ini mencakup dua hal, pertama menabung sampah secara individual. Mekanismenya, warga memilah sampah kertas, plastik, kaleng atau botol dari rumah kemudian ditabung secara berkala ke bank sampah. Kedua, menabung sampah secara komunal. Warga memilah sampah kertas, plastik, kaleng atau botol dari rumah dan ditabung di TPS yang ada di tiap RT (kelompok masyarakat) secara berkala. Jadi petugas sampah hanya mengangkut sampah ke TPS.

Program Bank Sampah Kartini ini menerapkan sistem bagi hasil antara pengurus bank sampah dengan masyarakat sebagai nasabahnya. Alternatif ini harapan besarnya dapat menambah penghasilan masyarakat dan meringankan kegiatan petugas sampah. Solusi yang apik dari Siti Marfuah.

Prosedur penabungan sampah, dengan cara dipilah di masing-masing rumah warga, kemudian dibawa ke bank sampah Kartini. Sampah-sampah kemudian ditimbang dan dicatat di buku besar serta buku tabungan nasabah sesuai dengan nilai harga sampah.

Kegiatan sedekah sampah ini akan dijemput oleh pengelola bank sampah, kemudian ditimbang dan dicatat di buku besar dilengkapi dengan nama orang yang bersedekah. Jika sampah sudah terkumpul, para pengelola bank sampah Kartini kemudian menjual sampah kepada pihak pengepul secara berkala.

Pelayanan bank sampah ini memiliki jadwal, di buka tiap hari Sabtu. Pelayanan tabungan sampah dibuka pada pukul pukul 09.00 pagi sampai dengan pukul 11.00 WIB menjelang siang.

Berdasarkan peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 13 Tahun 2012 Tentang Pedoman Pelaksanaan 3r (reduce, reuse, dan recycle) melalui bank sampah, yang dimaksud dengan bank sampah adalah tempat pemilahan dan pengumpulan sampah yang dapat didaur ulang atau diguna ulang sehingga memiliki nilai ekonomi.

Peraturan tersebut, senyatanya untuk masyarakat dan dikembalikan kepada masyarakat. Sebenarnya Bank sampah merupakan salah satu strategi untuk membangun kepedulian masyarakat supaya bisa memanfaatkan sampah dan mengelolanya dengan tepat.

Bank sampah tidak dapat berdiri sendiri melainkan harus diintegrasikan dengan gerakan 3r di kalangan masyarakat, sehingga manfaatnya untuk pembangunan lingkungan yang bersih dan hijau guna menciptakan masyarakat yang sehat.

Dengan menyatukan bank sampah dengan gerakan 3r, akan tercipta kesatuan yang utuh antara warga, bank sampah, dan lingkungan bersih dan hijau di tingkat lokal. Program bank sampah Kartin ini merupakan inovasi yang dilakukan oleh PKK Tamanmartani untuk mengubah masyarakat Randugunting menjadi masyarakat yang peduli terhadap sampah dan lingkungan.

Program bank sampah Kartini merupakan kegiatan untuk mendidik masyarakat Randugunting supaya dapat mengelola sampah dengan baik dan tepat. Mereka pun menjadi lebih peduli terhadap lingkungan. Dampaknya, intensitas pembakaran dan pembuangan sampah liar menjadi berkurang, sebaliknya bahwa program ini dapat menambah penghasilan keluarga dari tabungan sampah, penjualan kompos, dan hasil penjualan kerajinan daur ulang sampah.

masyarakat membutuhkan pendampingan dari pemerintah, oleh karena itu PKK Tamanmartani mengagendakan pelatihan pengelolaan sampah yang tepat untuk meningkatkan partisipasi warga masyarakat Randugunting dalam program kerja bank sampah Kartini.

Salah satu bentuk pelatihan yang sering diadakan oleh bank sampah Kartini yaitu pelatihan membuat kerajinan daur ulang sampah. Kegiatan pelatihan seperti membuat kerajinan daur ulang sampah, untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat Randugunting cara membuat kerajinan dari bahan baku sampah menjadi produk yang memiliki nilai dan dapat dipasarkan.

Terselenggarakannya pelatihan ini, masyarakat dapat memperoleh penghasilan tambahan. Terutama ketika produk yang dihasilkan terjual habis pada acara pameran dan acara-acara di Kalurahan. Beberapa produk yang telah dihasilkan oleh masyarakat Randugunting, berupa tas dari bahan baku sampah kemasan plastik, bantal plastik, pin atau bros yang berasal dari sampah plastik, gantungan kunci, bunga dari sampah plastik, dan berbagai macam kreasi sampah lainnya.

Selain itu PKK Tamanmartani juga melakukan pendampingan terhadap masyarakat Randugunting dalam mengolah sampah organik menjadi kompos. Anjuran bagi masyarakat untuk mengolah limbah organik yang dihasilkan rumah tangga hingga berhasil diubah menjadi pupuk kompos.

Sampah-sampah organik yang dihasilkan oleh warga tersebut dicacah dan dimasukkan ke dalam komposter yang disediakan oleh bank sampah Kartini. Sampah organik tersebut berpotensi besar pupuk kompos yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman, baik tanaman hias maupun pertanian. Komposter tersebut diperoleh dari bantuan dari Badan Lingkungan Hidup Sleman yang juga ikut serta terlibat dalam berdirinya bank sampah Kartini.

Daur Ulang Sampah di Sleman

Pemerintah Kabupaten Sleman berkomitmen bersama seluruh pihak berupaya mengatasi bahaya plastik. sebuah motivasi besar untuk mengatasi sampah dengan cara sistematis dalam mengurangi, mengolah, dan melakukan pengelolaan sampah berkelanjutan melalui kegiatan daur ulang.

Berdasar pada data Adipura KLHK 2018 lalu, komposisi sampah plastik di Indonesia mencapai kurang lebih 16 persen dari total timbunan sampah secara nasional dan sumber utama sampah plastik berasal dari kemasan makanan dan minuman, kantong belanja, dan pembungkus barang lainnya.

Dari total timbunan sampah tersebut, sampah yang didaur ulang diperkirakan sekitar 10-15 persen, atau 60-70 persen dan ditimbun di TPA, ada sekitar 30 persen masih belum terkelola ke lingkungan terutama lingkungan perairan seperti sungai, danau, pantai, dan laut.

Oleh karena itu Pemerintah Kabupaten Sleman mengajak masyarakat untuk berpartisipasi aktif melakukan pengelolaan sampah plastik secara berkelanjutan. Bisa dengan redesain kemasan plastik, memanfaatkan kembali kemasan, atau mendaur ulang lagi.

Pengelolaan sampah penting dilakukan untuk seluruh lapisan masyarakat. Volume sampah di Kabupaten Sleman tercatat mencapai 2.500 meter kubik per hari. Namun jumlah tersebut belum termasuk sampah yang dihasilkan oleh kegiatan wisata dan pendidikan.

Berdasarkan data DLH Sleman, sampah yang disalurkan melalui armada truk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) baru mencapai 319,56 meter kubik per hari. Pengendalian sampah plastik ini membutuhkan partisipasi dan kolaborasi dari semua pihak, baik pemerintah, masyarakat, maupun pihak swasta. Pemkab Sleman juga mendukung munculnya pengelola sampah mandiri, semua pihak harus berperan aktif untuk meminimalisir penggunaan plastic, atau bisa juga mengupayakan agar sampah plastik bisa didaur ulang.

Menyikapi permasalahan sampah yang demikian, dibutuhkan sinergitas dan upaya bersama dari seluruh pihak, baik Pemerintah maupun stakeholder lain dan terutama masyarakat sebagai subjek maupun objek dari problem ini.

Caranya bisa melalui 3R (Reduce, Reuse, Recycle), yakni mulai mengelola sampah dengan mengurangi timbunan sampah terutama sampah plastik. Caranya bisa beralih menggunakan tas yang ramah lingkungan saat berbelanja maupun aktivitas lainnya.

Langkah selanjutnya, sampah organik bisa dijadikan kompos sebagai media tanam sedangkan sampah anorganik dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan atau bisa dengan dijual. Langkah terakhir, residu sampah dapat dibuang ke TPA dengan memanfaatkan pelayanan jasa angkut UPT kebersihan BLH untuk meminimalisir tingkat sampah dan tingkat pembuangan sampah yang tidak tepat.

Metode seperti yang demikian dipercaya menjadi alternatif dari permasalahan sampah ini. Dampaknya pun positif, yaitu muncul kesadaran dan kedisiplinan seluruh masyarakat untuk dapat menerapkannya bersama-sama membangun lingkungan yang lebih bersih dengan pengelolaan sampah yang tepat.

Saat ini kita telah memiliki banyak kelompok pengelola sampah hingga di tingkat RT. Harapannya dengan hadirnya mereka (kelompok-kelompok pengelola sampah) dapat menjadi pioner dalam menumbuhkan kepedulian masyarakat sekaligus motivator bagi perubahan perilaku masyarakat terkait pengelolaan sampah di wilayah mereka masing-masing.

Serangkaian upaya dalam pengelolaan sampah yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Sleman diantaranya melakukan pembinaan pengelolaan sampah rumah tangga melalui sosialisasi dan pelatihan, penyediaan sarana dan prasarana meliputi pengadaan kompartemen, komposer, mesin pencacah organik, transfer depo, truk sampah, tempat Pembuangan Sampah Terpadu 3r dan beberapa TPS yang tersebar di wilayah Sleman.

Pada tahun 2020 lalu, ada penambahan tujuh unit Dump Truck untuk mengangkut sampah. Penambahan armada truk sampah ini diharapkan dapat membantu Pemkab Sleman dalam mengatasi permasalahan sampah. Diharapkan dengan penambahan armada truk sampah ada perbedaan dan tidak ada lagi tumpukan sampah di Kabupaten Sleman yang didominasi sampah plastik.

Alternatif Penanganan Sampah yang Efektif

Efektivitas penanganan masalah sampah oleh Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) RI Perwakilan Provinsi D.I.Yogyakarta dengan memberikan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) kinerja efektivitas penanganan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga tahun anggaran 2019 sampai dengan semester I tahun 2020 kepada Pemerintah Kabupaten Sleman.

Pemeriksaan yang telah dilakukan oleh BPK berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN), Hasilnya mengharuskan BPK merencanakan dan melakukan pemeriksaan ulang supaya memperoleh keyakinan memadai terkait kinerja entitas. Langkah-langkah yang dilakukan oleh BPK yakni mengembangkan kriteria dengan menggunakan model kriteria yang telah dikomunikasikan dan dipahami bersama dengan entitas pemeriksaan.

Topik pemeriksaan kinerja tersebut tentang pemilihan pemeriksaan kinerja efektivitas penanganan sampah yang didasari peningkatan kegiatan ekonomi dari berbagai sektor, di antaranya sektor pendidikan, pariwisata, pelayanan kesehatan dan industri, dan pertambahan jumlah penduduk yang dapat menimbulkan permasalahan sampah.

Oleh karena itu, BPK perlu berperan aktif membantu Pemerintah Daerah untuk meningkatkan kinerjanya dalam pengelolaan sampah. Berdasarkan pemeriksaan LHP, diketahui bahwa Pemerintah Kabupaten Sleman telah menyediakan sarana pengumpulan sampah berupa TPS3R sebanyak 24 unit, transfer depo sebanyak 17 unit, serta TPS yang disediakan bersama dengan masyarakat sebanyak 309 unit yang tersebar di 17 Kecamatan.

Identifikasi awal pemeriksaan tersebut karena sampah yang masuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan mayoritas sampah yang belum dipilah. Pemilahan sampah belum dilakukan secara maksimal. Sarana dan prasarana TPA Piyungan saat ini tidak memadai. Umur ekonomis sudah habis dan dalam kondisi overload.

Selain itu, di TPA Piyungan juga tidak ada proses pemilahan yang sistematis. tidak adanya alat berat, tidak terdapat backup energi listrik pada operasional serta jalan operasional masih menyatu dengan jalan masyarakat. Artinya pengelolaan sampah masih mengikuti metode yang lama. Perlakuan sampah mulai dari dikumpulkan, diangkut, dan akhirnya dibuang ke TPA di Piyungan, Bantul. Dampak dari sistem tersebut, akhirnya memerlukan banyak biaya untuk mengatasi sampah yang dikeluarkan sebab sudah semakin besar.

Secara teoritik, langkah untuk mengatasi persoalan sampah perlu pendekatan dari pendekatan ujung-pipa (end-pipe of solution) ke pendekatan sumber. Melalui langkah ini (pendekatan sumber), sampah ditangani pada hulu sebelum sampai ke tempat pengolahan akhir (hilir). Pendekatan sumber ini bertujuan mengurangi produk sampah yang akan dikirim ke tempat pengolahan akhir.

Langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk mengurangi sampah, yakni dengan pemilahan sampah dan penerapan prinsip 3R, dan mendaur ulang sampah. Langkah ini merupakan alternatif yang diterapkan dalam rangka mengurangi produksi sampah yang melimpah dan tidak terkontrol di masyarakat.