Inovasi Pendampingan Budi Daya Ikan Masyarakat

Panen Ikan Nila Segar. Dyogi Miyosa

Dalam proses budi daya ikan, masing-masing kelompok pasti mengalami problem. Masalah tersebut bisa melalui faktor lingkungan, alam, dan kualitas diri pembudidaya. Oleh karena itu penting melatih skil dan pengetahuan untuk menambah wawasan terkait budi daya ikan yang bisa menguntungkan.

Saat ini terdapat berbagai budi daya ikan air tawar, di antaranya, ikan bandeng, lele, ikan nila, gurame, ikan Mas, dan lainnya. Masing-masing ikan ini memiliki nilai ekonomi tinggi di pasaran. Di samping itu, masing-masing mereka membutuhkan perlakuan khusus yang berbeda-beda. Termasuk juga kadar air, semisal lele dan ikan nila, keduanya berbeda secara perawatan. Lele cenderung suka air keruh dan nila tidak demikian.

Meraup keuntungan dengan cara berbisnis di sektor budi daya ikan, bukan sesuatu yang salah. Namun harapan yang tinggi membutuhkan konsistensi dan keinginan belajar yang tinggi dari setiap problem yang muncul.

Problem yang Sering Dialami

Menjalankan bisnis usaha budi daya ikan senyatanya rumit, berbeda dibanding usaha kuliner. Perlu memahami langkah-langkah pemilihan bibit, memilih kolam dengan ukuran yang tepat, karena masing-masing ikan berbeda dibanding cara perawatannya.

Sebelum memutuskan fokus di bidang budi daya ikan, perlu memiliki wawasan menjadi pembudi daya dan cara merawat ikan yang tepat agar sehat dan menguntungkan. Karena jika tidak dibekali keilmuan dalam hal ini, bisa menyebabkan kerugian dan ketraumaan karena mengalami rugi.

Masih banyak masyarakat yang menggunakan cara kuno atau tradisional dalam budi daya ikan karena keterbatasan informasi. Inilah alasannya mengapa beberapa kelompok budi daya ikan berhenti menekuni bidang ini.

Mereka trauma dengan kerugian dan hasil panen ikan tidak sesuai harapan. Misal budi daya ikan nila dengan ikan lele, perlakuannya sangat berbeda. Ini yang menjadi poin urgen supaya proses budi daya berjalan lancar.

Jika memutuskan membangun usaha di sektor budi daya ikan, sebaiknya ikut terjun langsung mulai dari perawatan, panen dan proses penjualan. Jika pemilik menjalani proses ini, ia akan memiliki kemampuan analisis pasar bagus dibanding karyawannya. Oleh karena itu sebelum memutuskan membuka lapangan kerja, sebaiknya tekuni terlebih dahulu serta melakukan evaluasi secara berkala.

Harapan kadang tidak selalu berbanding dengan kenyataan yang ada. Masih banyak pembudi daya yang membutuhkan peran pendampingan pemerintah. Pendampingan seharusnya dilakukan secara intens, tapi ketersediaan anggota pendamping tidak berbanding dengan banyaknya jumlah pembudi daya. Hal ini dapat menjadi masalah yang harus dicarikan solusinya.

Selain masalah kualitas pembudi daya, perawatan ikan butuh konsistensi. Masalah yang selalu muncul sebaiknya dicarikan solusinya, bukan dengan berhenti dan tidak mau melakukan evaluasi.

Hal ini tentu sangat penting untuk keberlanjutan bisnis budi daya ikan, agar terus bertahan dan meraup keuntungan yang besar. Meski masalah selalu muncul silih berganti.

Alternatif Pendampingan Melalui Aplikasi

Tercatat sebanyak 600-an kelompok budi daya ikan di daerah Sleman. Mereka didampingi oleh penyuluh. Hampir setiap dusun terdapat pembudi daya ikan. Dengan jumlah kelompok pembudi daya sebanyak itu, dibanding jumlah penyuluh dari dinas itu sendiri hanya sekitar 3 orang penyuluh PNS, ditambah pula kurang lebih 7 orang penyuluh honorer.

Masing-masing kelompok ada yang berjumlah 20 orang, ada yang di bawahnya. Jadi jika dijumlahkan sekitar 1200-an orang pembudi daya ikan di daerah Sleman. Bagi kami, jika melihat fakta ini seperti tidak sebanding. Sebab akan ada kelompok yang tidak mendapat dampingan dari penyuluh.

Karena terbatasnya jumlah yang tidak begitu efektif, sedangkan masing-masing kecamatan terdapat 40-50 kelompok petani ikan. Memang tidak akan cukup waktu untuk mendatangi dan mendampingi masing-masing kelompok petani ikan. Oleh karena itu, kami berinisiatif membuat aplikasi baru untuk pendampingan petani ikan dan mengembangkan fitur lainnya.

Aplikasi ini berfungsi sebagai analisis usaha, tutorial budi daya dan juga cara budi daya ikan lainnya. Tujuan dari dibuatnya aplikasi ini tidak lain untuk memudahkan penyuluh dalam pendampingan terhadap kelompok budi daya (masyarakat), serta bagi petani ikan bisa juga untuk transaksi penjualan, artinya ini solusi tepat untuk mempertemukan petani dengan tengkulaknya.

Suatu gebrakan baru untuk menciptakan aplikasi pendampingan tersebut. Namun, biayanya cukup mahal, oleh karena itu sembari mencicil biaya pembuatan aplikasi yang tidak murah itu, kami terus berupaya meningkatkan proses budi daya ikan dan juga daya jualnya.

Tentang aplikasi pendampingan budi daya, kegunaannya tidak hanya untuk masa sekarang, tapi di masa depan. Jika kita menerawang keadaan di masa depan, semisal dari 600 kelompok ini rata-rata usia mereka sudah 45 tahun, berarti 10 tahun kedepan usia mereka sudah tidak produktif lagi untuk aktif bekerja. Oleh karena itu perlu generasi petani muda yang siap melanjutkan.

Adanya generasi muda berpeluang bagus untuk melanjutkan rintisan bisnis budi daya ini. Namun, mereka harus memiliki wawasan terlebih dahulu. Aplikasi pendampingan ini pun, juga dapat memudahkan bagi generasi selanjutnya. Artinya mereka tidak perlu repot-repot mencari informasi lain terkait cara membudi daya ikan yang tepat. Cukup dengan membaca informasi melalui aplikasi tersebut. Di Aplikasi pendampingan ini juga akan tersedia banyak fitur-fitur dan konsep-konsep budi daya yang tepat.

Keterbatasan biaya membuat kami harus bekerja secara mandiri, meski ini membantu pekerjaan pemerintah nantinya. Jika berharap bantuan dari pemerintah, Tentu membutuhkan proses panjang karena memang mayoritas kepentingan dinas dan dewan sangat berbeda dan jarang yang senada.

Semisal, dinas memilih kelompok A berdasarkan pencapaiannya yang bagus, sedang dewan memilih kelompok B karena kepentingan lainnya. Padahal yang berwenang penuh terhadap kebijakan adalah para dewan. Dinas harus mengikuti aturan. Inilah yang menjadi kendala untuk melakukan banyak hal yang kadang prosesnya lama dan bisa jadi tidak mendapat persetujuan dari pemangku kebijakan terkait.

Lalu apa yang akan terjadi? Masyarakat harus mencari solusi secara mandiri untuk tetap bangkit dan mencari alternatifnya. Meningkatkan wawasan dan terus berproses. Sebab faktor pentingnya adalah kualitas SDM.

Jika kualitas SDM bagus, mau belajar dan berlatih, tidak menutup kemungkinan solusi diperoleh dan mampu menyelamatkan bisnis budi daya ikan tersebut. Inisiatif pembangunan aplikasi ini memang sudah mendapat respons positif dari berbagai kalangan termasuk dari dinas pemerintah.

Jika keadaan yang serba terbatas ini, minimal pemerintah juga harus menambah jumlah penyuluh di lingkungan kami. Sebab masih banyak masyarakat yang membutuhkan pendampingan secara intens.

Jadi, mereka masih menerapkan metode tradisional dalam budi daya ikan, sedangkan zaman terus berkembang pesat menuntut kita peka dan kompetitif. Jika tidak, bisnis budi daya ikan mengalami penurunan, sehingga kita akan mengalami kesulitan mengonsumsi ikan segar lagi.

Harapan besarnya terhadap pemerintah adalah pendampingan masyarakat harus diupayakan lebih intens. Meski realita dalam tubuh pemerintah juga mengalami kekurangan dalam aplikasi keberpihakan sebab keterbatasan wewenang. Jika pendampingan tidak lebih intensif akan berdampak banyak budi daya ikan, menjadi gulung tikar.

Banyak petani-petani yang masih menggunakan metode budi daya tradisional atau metode lama, terutama masalah pengelolaan keuangan. Mereka masih belum tahu bagaimana cara mengelola keuangan dengan tepat. Semisal uang modal, biaya operasional, dan lainnya masih menjadi satu pengelolaan.

Hal itu sangat berbahaya bagi keberlanjutan bisnis budi daya ikan. Jadi, jika SDM di dampingi dengan baik, kualitas SDM akan menjadi lebih baik.

Namun, masalah lainnya adalah realita masyarakat yang kebanyakan masih berpola pikir tradisional dan memegang teguh budaya leluhur. Ini cukup sulit, kecuali dilakukan dengan penuh kehati-hatian.

Setidaknya jika diwakili dengan aplikasi budi daya dapat memudahkan masyarakat, ditambah lagi dengan budaya masyarakat yang minim literasi baca buku, dibanding berselancar di aplikasi sosial media. Fitur aplikasi pendampingan menjadi alternatif dan jawaban dari keresahan masyarakat selama ini.

Fitur-fitur di aplikasi yang sedang dibangun tersebut, di antaranya mencakup tutorial budi daya ikan, tutorial penjualan yang tepat, dan mempertemukan antara pembudi daya dengan tengkulaknya. Jadi, bagi pembudi daya ikan yang tengah mengalami kesulitan dalam menjual ikannya, akan mudah berkomunikasi dengan tengkulak. Para tengkulak juga akan menjadi member tetap.

Lahirnya aplikasi yang akan digarap ini ternyata berimplikasi positif karena merangkul petani ikan, untuk menyediakan berbagai alternatif solusi bagi bisnis budi daya mereka.

Di aplikasi itu juga akan diketahui data petani ikan, kapasitas ikan dari masing-masing kelompok dna termasuk kelompok mana aja yang udah hampir panen ikan sehingga pedagang juga bisa langsung order dengan mudah.

Masalah-masalah yang sering dialami oleh pembudi daya ikan, mayoritas di proses penjualan. Jika daya beli masyarakat menurun, maka tidak baik jika ikan menumpuk di kolam. Oleh karena itu kami terus berupaya mencari tips-tips terbaru untuk meningkatkan daya beli masyarakat.

Caranya dengan bisa memperbanyak pasar, kerja sama dengan pedagang, dan tetap saling support. Intensitas daya konsumsi masyarakat akan tinggi jika tidak digempur terus dengan penjualan secara terus menerus.

Kami menerapkan trik sendiri untuk tetap menjaga daya beli masyarakat, yakni memperbanyak reseller. Dari beberapa reseller itu kami kemudian mendapat pesanan dari berbagai masyarakat di daerah Yogyakarta.

Untuk mempertahankan bisnis budi daya yang sering pasang surut perlu mengaktifkan semua kanal yang berpotensi mendatangkan pesanan dari konsumen. Tentu langkah ini tidak mudah, tapi seperti itulah proses untuk mendapat kepercayaan dari konsumen.

Saat ini banyak proses transaksi penjualan diarahkan melalui aplikasi online. Ternyata itu sangat memudahkan untuk menjangkau pasar lebih luas lagi. Aplikasi pendampingan seakan solusi untuk pembangunan ekonomi lebih lanjut, memberdayakan para pembudi daya ikan supaya berkembang lebih baik.

Daya konsumsi masyarakat terhadap ikan masih tinggi, hanya saja masyarakat butuh mediator penyampai informasi dan pemesanan yang tidak ribet. Proses yang masih tradisional cenderung ditinggalkan seiring perkembangan zaman.