Budi Daya Ikan Memberi Peluang Kerja Masyarakat

Foto: Dyogi Miyosa

Dunia bisnis tidak hanya menjanjikan keuntungan, ada pula yang harus mengalami kerugian. Keadaan yang lumrah terjadi di seluruh sektor kegiatan ekonomi, termasuk perdagangan. Melihat perkembangan keadaan ekonomi Indonesia saat ini berdasarkan artikel bisnis.com menunjukkan pemulihan yang lebih baik. Keadaan alam yang potensial dan terus berkembang. Beberapa sektor yang menunjukkan angka pemulihan, salah satunya perikanan.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memiliki program-program penting untuk meningkatkan budi daya ikan dan tingkat konsumsi ikan di masyarakat. Program tersebut diatur dengan struktur yang lengkap mulai dari penyiapan, pelaksanaan, dan evaluasi kerja yang matang.

Serangkaian struktur dan agenda program kerja yang matang, diharap memiliki peran signifikan bagi kesejahteraan masyarakat jika terpenuhinya kebutuhan ekonomi. Pemulihan ekonomi masih menjadi harapan bersama mewujudkan keadaan yang stabil serta terhindar dari inflasi. Oleh karena itu implementasi harus disesuaikan dengan regulasi.

Salah satu sumber daya alam Indonesia seperti ikan laut dan ikan air tawar. Menurut Ali Suman, dkk., (2016) sumber daya laut Indonesia diyakini dapat menjadi modal awal menuju kemakmuran bangsa Indonesia. Oleh karena itu, butuh pengelolaan yang tepat supaya dapat terwujud.

Keadaan Ekonomi Indonesia

Keadaan Ekonomi di negara Indonesia sejak pandemi sempat mengalami resesi. Suatu keadaan dimana kegiatan ekonomi mengalami penurunan di beberapa bulan terakhir (umumnya tiga bulan). Salah satu tandanya meningkatnya angka pengangguran. Pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu menyebabkan banyak perusahaan bangkrut hingga melakukan PHK terhadap karyawannya.

Dampak dari pandemi, kegiatan ekonomi terhenti sedangkan kebutuhan semakin bertambah untuk bertahan hidup. Masa yang mencekam bagi seluruh sektor, seperti bisnis, pariwisata, pendidikan, dan lainnya. Kemiskinan mulai meningkat sedangkan kesehatan masyarakat mulai menurun.

Melansir informasi dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2021 terkait tingkat pengangguran terbuka sebesar 6,26 persen. Pengangguran tertinggi pada anak muda di rentang umur 20 hingga 29 tahun. Kebanyakan mereka biasanya masih fresh graduate dan tingkat pemula.

Pandemi Covid-19 memiliki dua wajah, positif dan negatif. Negatif karena banyak yang mengalami PHK sehingga menjadi pengangguran dan lapangan kerja sangat minim. Sedangkan dampak positifnya terhadap masyarakat, muncul kesadaran untuk selalu belajar menghadapi tantangan dengan menemukan solusi, sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok budi daya Mina Arum Yogyakarta.

Kilas Budi Daya Ikan Mina Arum, Yogyakarta

Menjadi petani ikan itu sangat menyenangkan, bagi saya dan teman-teman kelompok budi daya ikan. Saya dan tim berupaya keras mempertahankan bisnis budi daya ikan ini supaya tetap beroperasi dan laku terjual di kalangan masyarakat. Meski memang pada perjalanannya banyak kerikil tajam yang harus dilewati (Baca: Rintangan).

Pengalaman di masa pandemi menuai banyak PR untuk bahan evaluasi terkait apa yang menjadi kekurangan. Kemudian mengisinya dengan solusi alternatif yang tepat. Konsultasi dan saling sharing pengalaman juga pernah kami coba untuk mencari solusi. Namun, nyatanya masih harus berusaha lebih keras lagi supaya dapat keluar dari keadaan buruk seperti tempo hari.

Beberapa bulan kami mengalami sepi konsumen, akhirnya ikan menumpuk di kolam, dan tidak ada pemasukan berbulan-bulan. bisnis ini hampir di ambang kerugian besar. Kami bersama tim kelompok budi daya ikan saling bahu membahu menemukan solusi.

Dinas Perikanan seperti membawa angin segar bagi kami dengan solusinya yang akhirnya membuka jalan kami, yakni menjualnya secara langsung kepada konsumen. Hal ini merupakan keadaan yang tepat untuk memperbaiki keadaan.

Kami terus belajar memperbaiki keadaan. Dan ternyata keadaan kembali secara bertahap. Di masa pandemi di mana banyak bisnis kecil mulai gulung tikar, termasuk kelompok budi daya ikan kami.

Ternyata kami tidak sendiri, keadaan serupa juga dirasakan oleh pembudi daya ikan lainnya di daerah Sleman, Yogyakarta. Masalah penjualan masih menjadi problem urgen untuk dicari-temukan solusinya.

Di Sleman sendiri terdapat sekitar 600 kelompok petani ikan. Mereka semua terdiri dari kelompok-kelompok petani ikan. Hampir di setiap desa dan dusun masing-masing terdapat beberapa kelompok budi daya ikan, bahkan ada yang lebih dari 1 kelompok petani ikan.

Hampir di setiap kecamatan terdapat kelompok petani ikan, hingga mencapai 40 orang atau 50 kelompok pembudi daya ikan. Masing-masing kelompok ada yang terdiri dari belasan hingga 20 orang. Kemudian Dilengkapi dengan 11 penyuluh yang terdiri dari 4 penyuluh PNS, dan 7 penyuluh honorer.

Banyaknya jumlah ini menjadi penanda bahwa di Yogyakarta terdapat banyak kelompok budi daya ikan yang tidak sedikit. Sejalan dengan tujuan visi dan misi Kementerian dan Kelautan, salah satunya meningkatkan budi daya ikan dalam naungan Direktorat Jenderal Perikanan Budi daya (DJPB).

Program tersebut merupakan upaya pemerintah untuk terus meningkatkan pengembangan budi daya ikan berbasis pada ekspor dan pembangunan kampung perikanan budi daya berbasis kearifan lokal.

Artinya, apa yang tengah diusahakan oleh kami cukup relevan dengan harapan masyarakat. Terciptanya kampung perikanan bertujuan memperbanyak budi daya ikan dan tingkat konsumsi masyarakat terhadap ikan segar semakin tinggi.

Adanya kelompok-kelompok budi daya ikan dapat membangun usaha ekonomi kreatif atau UKM (Usaha Kecil dan Menengah) mandiri masyarakat. Hal penting lainnya yakni membuka lapangan kerja.

Semakin banyak munculnya kelompok budi daya ikan, menjadi penanda semakin banyak orang yang bermata pencaharian menjadi petani ikan. Di daerah Sleman sekitar 600 kelompok petani, berarti sekitar 1200 an orang yang berprofesi sebagai petani ikan.

Hal ini perlu disorot dan diperhatikan lebih intens dan memberikan pelayanan terbaik supaya semakin banyak lagi lapangan kerja yang tercipta sehingga masyarakat dapat hidup sehat dan sejahtera.

Salah satu faktor kesejahteraan yakni keadaan ekonomi. Jika keadaan ekonomi masing-masing menjadi lebih baik, masyarakat dapat hidup tenang dan nyaman. Hal itu juga berimplikasi pada kesehatan mereka.

Banyaknya kelompok petani ikan di Sleman membutuhkan perhatian pemerintah, berupa pendampingan dan kebutuhan lainnya. Mereka butuh konsultasi tentang cara membudi daya ikan yang tepat sesuai dengan standar pemerintah agar ikan yang dihasilkan sehat dan dna berukuran besar sehingga laku di pasaran.

Ikan segar mengundang daya tarik masyarakat untuk dikonsumsi. Sebab rasanya berbeda dibanding ikan yang tidak segar. Namun, kenyataannya, jumlah penyuluh tidak sebanding dengan banyaknya kelompok ikan di Sleman. Oleh karena itu masyarakat harus mencari tahu sendiri, dan itu tidak efektif.

Mengagendakan pelatihan budi daya ikan juga menjadi salah satu agenda urgen, tapi perlu dilakukan dengan hati-hati. Sebab masih banyak masyarakat memiliki pola pikir tradisional yang tidak terbuka dengan budaya baru.

Pengetahuan baru cenderung memiliki step-step yang baru juga. Implikasinya, jika masing-masing kelompok budi daya ikan sukses dan mampu bertahan, serta produk ikan mereka laku di pasaran, artinya seluruh petaninya berdaya. Begitu juga sebaliknya, jika produk tidak laku di pasaran, kegiatan ekonomi tidak berjalan, berimplikasi terhadap kesejahteraan petani ikan.

Mewujudkan kampung pertanian itu perlu diimbangi dengan beberapa hal, seperti meningkatkan kualitas SDM serta melakukan pendampingan. Kualitas SDM merupakan hal urgen yang perlu terus diperjuangkan.

Kunci keberhasilan suatu bisnis usaha termasuk budi daya ikan ini adalah mau belajar banyak hal dan terbuka wawasan. Saat ini banyak cara baru yang lebih sederhana dan memudahkan bagi kalangan masyarakat awam, hal baru itu perlu disampaikan dengan cara yang tepat supaya mereka mau menerimanya.

Sebagaimana pengalaman kami, berusaha keras mencari alternatif supaya tetap bertahan dan terus beroperasi. Step by step, keadaan berangsur pulih, kami memperluas jangkauan pasar dan juga konsumen. Pesanan pun juga semakin bertambah hingga akhirnya kami merasa kepayahan kemudian membuka lapangan kerja.

Kini kami memiliki banyak reseller yang kerjaannya sebagai marketer advertiser kepada masyarakat lainnya. Mereka pun mendapat upah dari setiap pesanan. Karena kami menerapkan penjualan dengan pre order. Bagi reseller ada persenan atau potongan khusus perkilonya. Dengan begitu reseller tidak perlu repot menjual ikan. mereka hanya mengumpulkan pemesan, uang pesanan, dan terima bersih.

Kami pun memiliki layanan pengiriman produk kepada konsumen, oleh karena itu kami juga membuka lapangan kerja kurir yang mengantarkan ikan kepada konsumen dalam tempo sesuai jadwal. Para kurir hanya bekerja sebagai pengantar saja ke reseller maupun konsumen lainnya secara langsung.

Semakin usaha bisnis ini berjalan lancar, tidak menutup kemungkinan kami pun membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat untuk bergabung menjadi bagian dari tim kerja kami. Bekerja sama dengan penuh totalitas, sebab keuntungan akan dirasakan bersama.

Dari hal tersebut, akhirnya banyak masyarakat yang berdaya dan sejahtera. Mereka memiliki penghasilan dan membantu keadaan ekonomi keluarga. Jika hal ini juga dialami oleh semua kelompok ikan (sebanyak 600 tadi) di Sleman, tidak menutup kemungkinan masing-masing mereka juga akan membuka kesempatan lapangan kerja bagi masyarakat lainnya. Akhirnya pengangguran pun semakin berkurang. Perekonomian dapat berjalan lebih baik, serta kesejahteraan masyarakat pun meningkat.

Proses ini seperti mata rantai yang saling terkait dan saling berimplikasi saling mendukung satu sama lain. Kami juga terbuka untuk sharing dengan kelompok lainnya yang tengah berusaha memajukan budi daya ikannya. Kami pun mempersilahkan mereka untuk mengikuti langkah-langkah kami jika mereka berkenan.

Mayoritas dari mereka juga mempraktikkan tips penjualan dari kami, ada yang laku di awal dan kemudian tidak bertahan lama. Daya beli masyarakat menurun hingga akhirnya gulung tikar.

Masa buruk dari budi daya ikan juga banyak dialami oleh beberapa kelompok petani ikan, termasuk pun kelompok kami di masa pandemi 2020 lalu. Beberapa bulan tidak ada pemasukan bahkan ikan menumpuk hingga akhirnya kami mencari alternatif untuk mengembalikan keadaan menjadi lebih baik. Saat ini keadaan berangsur pulih meski pandemi belum juga usai dengan semangat dan kerja sama tim yang saling mensuport.

 

Sumber:

Badan Pusat Statistik (BPS), “Tingkat Pengangguran Terbuka Sebesar 6.49 persen,” Diakses tanggal 20 Mei 2022,

https://www.bps.go.id/pressrelease/2021/11/05/1816/agustus-2021–tingkat-pengangguran-terbuka–tpt–sebesar-6-49-persen.

https://kkp.go.id/djpb/page/2979-direktorat-produksi-dan-usaha-budidaya

Ali Suman, Hari Eko Irianto, Fayakun Satria, Khairul Amri, “Potensi dan Tingkat Pemanfaatan Sumber Daya Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP RI) Tahun 2015 Serta Opsi Pengelolaannya,“ Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia (Indonesian Fisheries Policy Journal), Vol. 8, No. 2, 2016.