Jalan Keluar Menangani Desa Tanpa Listrik

Ladang Panel Surya di Desa Wineru. DIREKTORAT JENDERAL EBTKE

Kita sebagai penduduk Indonesia di masa yang modern ini sudah tak asing dengan fasilitas yang mengandalkan teknologi untuk kelangsungan hidup sehari-hari. Contoh fasilitas yang seharusnya kita dapatkan, salah satunya adalah setiap rumah yang dialiri listrik.

Berbeda dengan zaman nenek moyang, rumah yang tak memiliki aliran listrik sudah menjadi hal yang biasa. Penyebabnya karena teknologi serta pengetahuan tentang itu belum mendukung pada zama dahulu. Mereka hanya menggunakan penerangan dengan lampu teplok atau obor yang terbuat dari bambu dan diberi sabut kelapa kering.

Pernah suatu hari, saya melihat televisi yang menayangkan beberapa rumah belum mendapat aliran listrik. Menurut informasi yang saya dapat, ada beberapa rumah yang sampai sekarang tidak mendapat aliran listrik karena rumah mereka yang sangat jauh dari pemukiman warga lainnya.

Rumah tersebut berada di sebuah hutan, bahkan untuk sekadar membeli makan sehari-hari pun mereka tidak mampu. Apalagi jika mereka mengaliri energi listrik di rumahnya, hal tersebut akan menambah pengeluaran pada setiap rumah. Padahal, pekerjaan pun mereka tidak punya, selama ini hanya bergantung pada keanekaragaman sumber daya alam di sekitarnya.

Pun demikian dengan kabupaten tempat saya tinggal, yakni Kabupaten Kulon Progo. Berdasarkan data pada tahun 2013, terdapat 238 desa yang belum tersentuh aliran listik. Faktor ekonomi menjadi salah satu penyebabnya. Beberapa upaya dilakukan oleh PLN, seperti meresmikan penyalaan listrik di daerah tersebut. Melalui Program Listrik Pedesaan (Lides), PLN membangun jaringan listrik untuk 25 desa yang berada di empat kabupaten di DIY pada tahun 2016.

Rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia di samping pangan dan sandang. Kita mampu berlindung dari paparan matahari ketika siang dan pelindung ketika hujan datang di dalam rumah. Walaupun demikian, pencahayaan merupakan hal yang harus terpenuhi, baik melalui sinar matahari langsung maupun lampu.

Pencahayaan yang cukup akan mempengaruhi hormon bahagia sang anak. Itulah sebabnya anak yang tinggal di rumah dengan penerangan yang memadai cenderung lebih tenang, fokus, dan punya mood lebih baik dibandingkan dengan anak yang tinggal di rumah dengan pencahayaan yang kurang.

Dengan perkembangan yang semakin pesat, sudah seharusnya setiap rumah tersentuh aliran listrik. Namun, faktanya hingga saat ini masih saja terdapat beberapa rumah warga yang hidup tanpa listrik. Masih ada beberapa desa di empat provinsi yang sampai sekarang belum merasakan listrik di rumahnya, yakni sebanyak 325 desa di Papua, 102 desa di Papua Barat, 5 desa di Nusa Tenggara Timur, dan 1 desa di Maluku. Hal itu disebabkan karena letak pedesaan berada di daerah terpencil sehingga masalah infrastruktur menjadi faktor utamanya.

Dengan kondisi tingkat pendidikan yang rendah, ekonomi yang masih lemah, dan lokasi terpencil, masih banyak penduduk yang kesulitan mendapatkan akses energi listrik. Oleh karena itu, saat ini pemerintah berkerja sama dengan PLN akan membangun pembangkit lokal di desa tersebut. Pembangkit dapat berupa tenaga surya, mikrohidro, atau biomassa.

Menurut B.T. Handrea (2020), energi merupakan salah satu dari sekian banyak kekayaan alam yang digunakan untuk kemakmuran rakyat. Peran energi menjadi sangat penting bagi masyarakat sebagai bagian dari pendorong kegiatan di berbagai sektor. Salah satu jenis energi yang saat ini sudah menjadi kebutuhan primer adalah energi listrik. Energi listrik merupakan bentuk energi sekunder dengan melalui proses panjang agar dapat digunakan.

Tenaga surya merupakan energi berupa panas dan sinar matahari yang dapat dimanfaatkan dengan menggunakan serangkaian teknologi seperti pemanas surya, listrik panas surya, dan arsitektur surya. Teknologi surya dapat digunakan sebagai teknologi penghasil aliran listrik.

Hal itu dinamakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). PLTS merupakan pembangkit listrik yang memanfatakan energi dari cahaya matahari untuk menghasilkan energi listrik. Komponen utaman dari PLTS adalah panel surya fotovoltaik yang dapat mengubah energi matahari menjadi energi listrik sehingga dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Arus listrik yang dihasilkan oleh panel surya fotovoltaik ini adalah aliran arus listrik searah (DC). Oleh karena itu, dibutuhkan komponen lain untuk mengubah arus listrik searah (DC) menjadi arus listrik bolak-balik (AC). Selain pemanfaatan panel surya menggunakan fotovoltaik, cara kerjanya dapat melalui pemusatan energi surya.

Prinsip kerja ini menggunakan lensa atau cermin yang dikombinasikan dengan sistem pelacak. Hal itu bertujuan agar energi matahari dapat fokus pada satu titik sehingga menggerakkan mesin panas. Perbedaan antara fotovoltaik dengan pemusatan energi surya adalah terletak pada cara kerjanya.

PLTS di Indonesia dipercaya memiliki potensi yang besar. Hal itu karena banyak masyarakat yang ingin menggabungkan energi listrik konvensional atau PLN dengan energi alternatif tenaga surya. Namun, dalam hal ini penerapan pemanfaatan energi matahari tidak dapat menjadi solusi yang tepat untuk menjawab permasalahan yang terjadi di desa terpencil.

Cara kedua, yang ingin ditempuh pemerintah dalam rangka menanggulangi permasalahan belum terjamahnya listrik di beberapa daerah, yaitu melalui mikrohidro atau biasa disebut sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH).

Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) adalah suatu pembangkit listrik dengan skala kecil yang menggunakan tenaga air sebagai penggeraknya. PLTMH ini memanfaatkan saluran irigasi, sungai, dan air terjun. Cara ini dinilai sangat efektif jika rumah warga berada di dekat perairan. Apabila hal ini diupayakan dan dikembangkan dengan baik maka desa tersebut dapat terjamah aliran listrik.

Kemudian, cara ketiga adalah pemanfaatan biomassa untuk aliran listrik. Biomassa merupakan bahan yang berasal dari makhluk hidup, meliputi pohon, tanaman produksi dan residu serat-serat tanaman, limbah hewan, limbah industri, serta limbah-limbah lain yang berupa bahan organik. Pemanfaatan energi biomassa yang sudah banyak saat ini berasal dari limbah biomassa itu sendiri, yaitu sisa-sisa biomassa yang sudah tidak terpakai, bekas tebu ireng, tangkai jagung, tangkai padi, dan lain lain-lain.

Bahan pembuat biomassa dikategorikan menjadi dua jenis. Pertama, pembuatan biomassa dari hewan berupa mikroorganisme maupun makroorganisme. Kedua, pembuatan biomassa berasal dari tumbuhan seperti tanaman sisa pengolahan atau hasil panen.

Biomassa dapat diubah menjadi tiga energi, yakni energi panas dan listrik, energi bakar transportasi, dan energi baku kimia. Pembuatan energi biomassa menjadi listrik adalah dengan cara pembakaran pada biomassa padat sehingga boiler akan menghasilkan uap.

Pada tahun 2017, sebenarnya pemerintah sudah membagikan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) kepada masyarakat pedesaan yang belum mendapatkan akses listrik. Paket LTSHE mencakup tenaga surya dengan kapasitas 20 watt, empat lampu hemat energi, baterai, biaya instalasi, dan jasa pelayanan selama tiga tahun.

Saat ini, pengguna LTSHE sudah mencapai angka 360.429 rumah tangga. Namun, sayangnya LTSHE ini belum memenuhi standar yang diharapkan oleh Badan Energi Dunia atau International Energy Agency (IEA). Penyebabnya adalah LTSHE hanya dapat digunakan sebagai penerangan dan pengisian daya telepon genggam.

LTSHE belum mampu digunakan untuk peralatan elektronik lainnya, seperti radio, televisi, kipas angin, dan kulkas. Hal ini karena rata-rata konsumsi listrik pertahun pada setiap keluarga pengguna LTSHE baru sekitar 389 kWh, sedangkan standar yang diberikan oleh IEA adalah 1250 kWh perrumah tangga.

Hal tersebut berakibat pada kesenjangan besaran konsumsi energi semakin melebar. Meskipun demikian, ratusan ribu pengguna LTSHE masuk dalam kategori rumah tangga berlistrik tanpa memperhatikan keberlanjutan dan kualitas akses program tersebut.

Berdasarkan macam upaya yang akan dilakukan oleh pemerintah, menurut saya, cara yang paling tepat untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan menggunakan prinsip kerja PLTMH. Cara ini dirasa cukup efektif dan efisien karena dalam pengembangannya membutuhkan sumber daya alam, yakni sungai dan sumber daya manusia untuk mengelolanya.

Apabila PLTMH dapat diwujudkan maka tujuan SDGs Desa untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan telah terpenuhi melalui salah satu indikator penerapan aliran listrik pada desa yang belum mendapat listrik. Selain itu, indikator lain yang dapat digunakan untuk mengukur tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan adalah keberadaan dan bentuk kerja sama desa dengan pihak ketiga.

Kerja sama sangat penting dilakukan agar pembangunan dapat tercapai secara berkelanjutan. Karena pembangunan desa tidak akan maksimal jika tidak ada keterlibatan antara pihak-pihak terkait, mulai dari tokoh masyarakat, pemuda penggerak desa, perempuan penggerak desa, perguruan tinggi, dunia usaha, aparatur desa, dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD).

Sebagai contoh, kemitraan yang dilakukan Kantor Desa Bhuana Jaya dengan manajemen PT. Khotai Makmur Insan Abadi, melalui team CSR perusahaan meluncurkan beberapa kemitraan yang bertujuan untuk pembinaan dan pemberdayaan masyarakat desa. Mereka menjalin kemitraan dalam rangka membantu UMKM unggulan di desa yang terpilih, meliputi perizinan produksi, pemasaran hasil produksi, serta keberlangsungan pembinaan hingga benar- benar menjadi UMKM yang mandiri.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat diketahui bahwa fungsi dari kemitraan sangat penting untuk membantu mencapai pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Dalam hal ini, sumber daya manusia dan sumber daya alam juga menjadi faktor pendukung tercapainya pembangunan berkelanjutan.

Pembangunan berkelanjutan akan membutuhkan berbagai sektor dan aktor yang saling bekerja sama dengan mengumpulkan sumber daya keuangan, pengetahuan, dan keahlian. Ketika hal tersebut sudah dijadikan satu atau berpadu dalam satu wadah, akan memudahkan proses pembangunan berkelanjutan.

Pembangunan berkelanjutan memungkinkan generasi mendatang menerima modal yang lebih besar daripada yang diterima saat ini. Hal tersebut membuktikan bahwa praktik bisnis tidak semata berorientasi pada tujuan ekonomi perusahaan, tetapi juga mempunyai tujuan secara lebih luas dari sisi lingkungan dan sosial. Selain itu, pembangunan tidak semata diindikasikan dengan suksesnya bisnis yang sedang berjalan. Justru kemitraanlah yang menjadi dasar tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan.

Menurut Khalisah dan Serlika (2021), diperlukan komitmen yang kuat antara individu satu dan yang lainnya untuk segera melaksanakan kebijakan berkelanjutan sesuai rencana pelaksanaan dan program kemitraan dalam melaksanakan pembangunan berkelanjutan. Manfaat dari pembangunan berkelanjutan melalui pembangunan kemitraan, antara lain tantangan pedesaan, terlebih desa terpencil, kebutuhan sarana dan prasarana tidak dapat berhasil apabila hanya dihadapi sendiri.

Nirwono (2017), berpendapat bahwa kemitraan juga membangun budaya saling toleransi dan kebersamaan. Jika kemitraan telah dilakukan maka dapat lebih efisiensi, salah satunya dalam segi biaya. Kemitraan membuat komunikasi dan koordinasi dapat lebih efektif sehingga menghasilkan komitmen yang kuat. Dalam hal ini, tidak ada satu pun negara yang dapat menangani permasalahannya sendiri tanpa adanya kemitraan. Oleh karena itu, kemitraan menjadi hal yang sangat mendasar guna terciptanya pembangunan berkelanjutan.

Referensi

Handrea, B. T. 2020. Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Yogyakarta: Deepublish.

Hayattudin, Khalisah dan Serlika Aprita. 2021. Hukum Lingkungan. Jakarta: Kencana.

Nirwono, Joga. 2017. Mewariskan Kota Layak Huni. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.