Keadaan Pangsa Pasar Budi Daya Ikan Mina Arum di Masa Pandemi

Budi Daya Ikan Mina Arum, Maguwoharjo Yogyakarta. Dyogi Miyosa

Pandemi memang bagaikan mimpi buruk bagi semua manusia di bumi ini. Pasalnya, lock down dengan pembatasan aktivitas untuk meminimalisir munculnya kasus baru Covid-19 yang mengancam kesehatan jiwa. Banyak yang tidak selamat dari virus berbahaya itu, lebih-lebih kepanikan yang memunculkan rasa khawatir berlebih juga mengganggu kesehatan. Tidak hanya itu, dampaknya terasa di semua bidang, ekonomi, pendidikan, politik, dan lainnya pun demikian.

Termasuk juga bisnis budidaya ikan Mina Arum. Masa pandemi merupakan mimpi buruk bagi bisnis penjualan ikan nila ini. Bagaimana cara kami bisa bertahan di tengah pandemi Covid-19? Bersusah payah seluruh tim saling memotivasi mencari solusi. Kami tidak menyangka akan mengalami masa pandemi dengan keadaan yang tidak diduga.

Sekitar selama empat bulan lebih budi daya ikan nila kami tidak bergerak. Disebabkan tidak adanya pemesanan dari tengkulak ikan seperti biasanya. Awal tahun 2020 yang mencekam, merambah ke kehidupan dna ketahanan ekonomi serta pangan.

Bagaimanapun keadaannya, operasional tetap berlangsung dan kami harus menjualnya sebagaimana target yang telah kami sepakati. Namun awal pandemi seperti tidak menunjukkan ada tanda-tanda pemesanan dali klien, akhirnya kami menunggunya hingga empat bulan lamanya di tahun 2020.

Selama Pandemi, kelompok budidaya ikan bekerja sama dengan para pedagang. Hasil panen ikan dari kami kemudian diambil oleh tengkulak. Di masa awal pandemi beberapa tahun lalu. Sebelumnya dari bulan Januari awal hingga April bisnis ini tidak bisa menjual ikan sama sekali. Karena semua lock down dan kami tidak bisa jualan ikan.

Oleh karena itu kamu punya inisiatif menjual sendiri kepada konsumen secara langsung. Sebab kami tidak memiliki kapasitas kemampuan untuk berjualan, akhirnya kami meminta izin menjual ikan ke Dinas Perikanan yang selama ini menjadi mitra kami.

Setelah mendatangi mereka, harapan cemas sebelumnya seperti mendapat alternatif baru, solusi dari masalah yang kami hadapi. Mereka merespons dengan baik dan meminta kami untuk membawa dan menjualkan ikan-ikannya kepada mereka, para pegawai kantor Dinas Perikanan.

Begitu kami menjual ikan lagi kepada pihak pegawai Dinas Perikanan, ternyata momennya pas dengan momen panic buying. Ikan nila kami laku habis mencapai satu ton dalam sehari. Momen yang jarang terjadi, dan kami mulai menargetkan pencapaian ini setiap harinya.

Oleh karena itu, seluruh tim bekerja keras selama 12 jam lebih dengan pembagian tanggung jawab berbeda. Diantaranya tanggung jawab panen ikan, membersihkannya, serta mengirimkan kepada pembeli (konsumen).

Ini merupakan pengalaman pertama kami menjual ikan nila kepada konsumen, sebab sebelumnya kami hanya bekerja sama dengan pedagang atau kita sebut tengkulak. Mereka kemudian menjualnya lagi, baik ke hotel dan lainnya.

Ikan nila hasil budi daya Mina Arum mencapai lima kuintal lebih. Biasanya panen setiap minggu dengan target ikan terjual habis. Sebelum pandemi, pesanan datang bersama-sama secara serentak. Supaya tidak kepayahan kami mengatur tempo batas pemesanan.

Biasanya hari Sabtu merupakan waktu pengumpulan list pemesanan. Kami mengatur jadwal ini supaya lebih kondusif dan lebih efisien. Pemesanan lebih banyak di dua minggu pertama dari awal bulan. Ternyata pembagian waktu ini cukup ampun dan lebih efektif.

Tim yang bekerja juga menjadi lebih terjadwal, Sabtu pesanan dna panen, minggu membersihkan, Senin mengirimkan kepada pemesan. Pembeli juga merasa nyaman sebab ikan-ikan dari kami sudah dibersihkan, artinya mereka hanya menerima bersih dari kami.

Mungkin pandemi memberi dampak negatif di awal-awal. Namun, setelah mendapat solusi dan momennya tepat ketika panic buying, kami mendapat keberkahan ikan kami laku habis dan kami memiliki pangsa pasar baru selain hanya kerja sama dengan pedagang.

Apakah ini tidak melelahkan? Menemukan pangsa pasar baru selama pandemi hingga saat ini, jelas menyulitkan kami dalam bekerja. Sebab pesanan bisa jadi lebih besar. Kami akhirnya membutuhkan bantuan tangan orang lain, dengan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.

Menjual sendiri kepada konsumen, merupakan teknik baru bagi kelompok Mina Arum ini. Kami terus belajar hal-hal baru mulai dari seraya mengejar target penjualan per hari. Meski kadang tidak mencapai target, kamu tetap berupaya menggali kekurangan dan menemukan solusinya.

Kami juga terbuka kepada reseller yang ingin menjualkan ikan nila ini, dengan harga yang berbeda, supaya harga di pasar tidak rusak dan tetap simbang. Harga reseller tentu berbeda dari lainnya.

Keadaan sudah mulai menunjukkan new normal, kegiatan ekonomi pun mulai berangsur membaik dan bernafas kembali. Mall, kafe-kafe, dan warung makan juga mulai buka meski dengan batas waktu yang ditentukan. Termasuk juga keadaan bisnis budidaya ikan nila ini, meski pada perjalanannya naik turun, rugi, dan untung.

Ketika masa new normal para tengkulak ikan mulai order lagi kepada kami di bulan Juli 2020 lalu. Pemesanannya pun tidak banyak, kurang lebih sekitar 30 kilo, tidak seperti biasanya yang memesan lebih banyak dari itu. Sebab biasanya mereka memesan ikan kepada kami sekitar satu kuintal banyaknya per hari.

Di masa pandemi ini, sehari 20 hingga 30 kilo. Namun saat ini mulai normal lagi. Dampak pandemi sangat signifikan membuat produksi dan permintaan tidak imbang. Produksi yang banyak sedangkan permintaan masih belum mencapai standar. Keadaan harus dicarikan solusi lai, pasalnya ikan bisa jadi menumpuk di kolam, dan itu tidak baik tentunya untuk kesehatan ikan nila di kolam.

Bagaimana keadaan pasar baru budi daya ikan nila ini? Jelas berangsur baik sebab pangsa pasar baru semakin memberikan peluang besar kepada kami untuk bersaing di ranah baru. Jangkauan budi daya ikan Mina Arum ini tidak hanya menjangkau daerah Sleman, Yogyakarta. Namun, menjangkau daerah Imogiri kawasan Bantul.

Bagi kami ini merupakan pencapaian dna peluang besar untuk lebih fokus memasarkan dan mengenalkan kepada masyarakat Jogja tentang budi daya ikan nila Mina Arum. Permintaan masyarakat juga banyak berdatangan. Kami juga mengaktifkan kanal marketing dengan harga khusus.

Langkah ini dipercaya dapat menjangkau lebih jauh lagi hingga seluruh kawasan Yogyakarta. Ikan yang segar dan pelayanan yang bagus dengan pelayanan langsung terima bersih merupakan salah satu wujud pelayanan jasa kami kepada konsumen dan dapat menarik daya beli masyarakat kepada kami.

Kami juga memanfaatkan pemasaran di setiap RT dan RW untuk membroadcast di grup paguyuban mereka yang tertarik memesan ikan nila sesuai batas waktu yang ditentukan. Ikan segar menarik sangat baik untuk kesehatan, terutama harga yang terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat menengah ke bawah.

Namun ada pula yang dikhawatirkan, yakni adanya persaingan atau kompetitor lain yang berimplikasi merusak harga pasar kami. Untuk mengantisipasinya, maka kami terus mencoba memperbaiki pelayanan kepada masyarakat. Jika budi daya ini laku habis, yang untung juga masyarakat yang bekerja pada kami. Budi daya ini merupakan bisnis milik bersama.