Kelompok Budi Daya Mina Arum sebagai Wadah Mencari Nafkah

Kelompok Budi Daya Mina Arum. PUTRI INDAHSARI

Kelompok Budi Daya Mina Arum merupakan kelompok budi daya ikan air tawar yang didirikan 20 tahun lalu, tepatnya pada tanggal 8 Februari 2001. Lokasi Kelompok Budi Daya Mina Arum berada di Dusun Karang, Widodomartani, Sleman. Pada awal pembentukannya, kelompok ini membudi dayakan berbagai jenis ikan air tawar, seperti ikan tombro, lele, nila, hingga tawes. Kini, Kelompok Budi Daya Mina Arum hanya membudi dayakan salah satu jenis ikan air tawar yang menjadi primadona untuk dibudi dayakan, yakni ikan nila.

Tujuan utama didirikannya Kelompok Budi Daya Mina Arum yakni sebagai wadah usaha para anggotanya. Dengan memanfaatkan konsep mencari nafkah secara berkelompok, anggota Kelompok Budi Daya Mina Arum dapat menutup kekurangan modal yang jika dilakukan secara perseorangan dengan cara meminjam modal usaha ke Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman.

Selain menjadi peluang usaha dan sebagai wadah pengembangan ekonomi, tujuan didirikannya suatu kelompok perikanan adalah untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan perilaku pelaku usaha sehingga dapat menambah kemampuan dan kemandirian dalam mengelola usaha perikanan.

Pada awal berdiri, Kelompok Budi Daya Mina Arum membuka kesempatan bagi warga di luar Dusun Karang untuk bergabung. Namun, pada tahun 2005 terjadi konflik internal yang menyebabkan Kelompok Budi Daya Mina Arum vakum selama sembilan tahun.

Menurut Sunarta (2010), adanya konflik dalam suatu kelompok tidak hanya membawa dampak negatif, tetapi juga membawa dampak positif, seperti keakraban dinamika serta jalinan yang dimiliki kelompok dapat terasah. Hal tersebut dikarenakan konflik yang diselesaikan dengan damai dan adil akan melahirkan keharmonisan serta kebersamaan yang saling menguatkan.

Selain itu, konflik juga dapat dijadikan pelajaran untuk masa yang akan datang, dapat memperbaiki manajemen yang buruk, dapat melahirkan karakter anggota yang kritis, cerdas, kreatif, inovatif, serta dapat menghadapi perbedaan sifat, sikap, dan perilaku orang lain.

Hal tersebut dibuktikan oleh Kelompok Budi Daya Mina Arum yang mulai aktif kembali pada tahun 2014, diikuti dengan pembaruan dengan anggota yang tersisa. Anggota Kelompok Budi Daya Mina Arum yang pada awalnya berjumlah 56 orang, kini menurun menjadi 28 orang. Walaupun demikian, jumlah tersebut tidak membatasi produktivitas kelompok, sebab semua anggota kelompok aktif.

Salah satu pembaruan yang ditetapkan oleh Kelompok Budi Daya Mina Arum adalah penetapan peraturan baru tentang keanggotaan, yakni pelarangan warga di luar Dusun Karang untuk menjadi anggota kelompok. Selain itu, Kelompok Budi Daya Mina Arum juga mengadakan proses seleksi bagi para anggota baru. Sebab, menurut Joko Widodo selaku ketua Kelompok Budi Daya Mina Arum, para anggota kelompok yang tersisa mengalami trauma atas konflik yang pernah terjadi.

Tidaklah mudah untuk sampai pada titik ini, Joko Widodo menambahkan bahwa Kelompok Budi Daya Mina Arum merupakan salah satu kelompok budi daya ikan yang masih dapat bertahan. Wilayah Sleman pernah memiliki kelompok budi daya ikan sebanyak 574. Akan tetapi jumlah tersebut terus menurun hingga kini ada 100 kelompok budi daya ikan yang masih aktif.

Ada banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Walaupun begitu, Joko Widodo berpesan agar kegiatan budi daya ikan ini perlu dilakukan dengan hati yang senang juga memprioritaskan kenyamanan antaranggota kelompok agar hasilnya baik dan maksimal.

Budi Daya Ikan oleh Kelompok Mina Arum

Kelompok Budi Daya Mina Arum membagi segmen budi dayanya menjadi dua, yakni segmen pembenihan dan segmen pembesaran. Arti pembenihan dalam budi daya ikan adalah membudi dayakan ikan melalui benih ikan, sedangkan arti pembesaran dalam budi daya ikan adalah membudi dayakan ikan menggunakan ilmu dan teknik tentang aktivitas perkembangan ikan untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

Ikan-ikan yang masuk dalam segmen pembenihan, nantinya akan dialokasikan ke waduk-waduk yang sudah dipercaya. Sementara itu, ikan-ikan yang masuk dalam segmen pembesaran, nantinya akan didistribusikan ke pasar-pasar yang ada di wilayah Sleman.

Dalam proses mengembangkan segmen pembenihan dan pembesaran, anggota harus melakukannya dengan baik dan benar. Sau (2017) menjelaskan bahwa kegiatan usaha budi daya ikan ditujukan untuk dilakukan dengan rasa tanggung jawab yang penuh dan berkelanjutan, mulai dari kegiatan pembenihan hingga pembesaran.

Hal tersebut dikarenakan kualitas benih merupakan salah satu faktor untuk menilai tingkat keberhasilan usaha budi daya. Jadi, dalam kegiatan usaha pembenihan harus menerapkan teknik pembenihan sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Standar Operasional Prosedur (SOP), juga menerapkan manajemen mutu pembenihan ikan yang baik menurut Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB).

Selain itu, pada kegiatan usaha pembesaran ikan juga tidak berbeda dengan kegiatan usaha pembenihan, yakni menerapkan teknik pembesaran sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) serta menerapkan manajemen pembesaran yaitu cara pembesaran ikan yang baik.

Beberapa tahapan yang perlu dilakukan dan diperhatikan dalam kegiatan pembenihan adalah pemeliharaan induk dan pemijahan induk. Dalam kegiatan pemeliharaan induk, terdapat tiga pendekatan yang perlu dilakukan, yakni pendekatan dengan lingkungan, pakan, dan hormonal.

Pada kegiatan pembesaran juga terdapat beberapa tahapan kegiatan. Pertama, mempersiapkan wadah untuk mendapatkan lingkungan yang optimal, kemudian dilanjutkan dengan pengeringan dasar kolam, pengangkatan lumpur, perbaikan pematang dan pintu air, pengapuran, pemupukan, pengisian air, pemberantasan hama dan penyakit, dan pengisian air lanjutan. Estimasi waktu yang diperlukan pada kegiatan ini adalah satu hingga empat minggu, tergantung kondisi cuaca.

Kedua, penebaran benih untuk meletakkan ikan dalam wadah dengan padat penebaran tertentu. Ketiga, pemberian pakan. Selaku faktor yang sangat berperan, pemberian pakan harus diperhatikan, tidak hanya untuk menjaga kondisi tubuh ikan, melainkan juga untuk mengembangkan jaringan otot pada ikan.

Keempat, pengelolaan air untuk mempersiapkan lingkungan yang berkualitas bagi ikan. Kelima, pemberantasan hama dan penyakit. Keenam, pemantauan populasi dan pertumbuhan ikan. Poin ini bertujuan untuk menghasilkan informasi kelangsungan hidup ikan, laju pertumbuhan ikan, dan kondisi kesehatan ikan. Ketujuh, pemanenan. Setelah ikan mencapai ukuran pasar, ikan dipanen dengan ukuran yang bervariasi.

Dalam Kelompok Budi Daya Mina Arum terdapat organisasi yang menyediakan fasilitas untuk memodali kebutuhan budi daya, seperti benih, pakan, vitamin, dan lain-lain. Salah satu fasilitas yang dipinjamkan dari Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman adalah pakan.

Pada dasarnya, hampir seluruh anggota kelompok memelihara ikan, juga memfasilitasi tempat, serta tenaga. Selain itu, kebutuhan budi daya disediakan oleh kelompok. Oleh sebab itu, penjualan hasil panen dilakukan kelompok dan atas nama Kelompok Budi Daya Mina Arum.

Dari total anggota yakni sebanyak 28 orang, ada 20 orang yang memiliki kolam ikan. Jika ada anggota kelompok yang tidak memiliki lahan kolam, anggota kelompok lainnya akan mengusahakan untuk menyediakan lahan kolam dari tanah-tanah desa, dengan menyewa ke kelompok lalu dibagikan ke anggota kelompok.

Jadi, anggota kelompok memiliki hasil pribadi karena proses budi dayanya dilakukan di lahan kolam masing-masing. Kelompok hanya menyediakan fasilitas, seperti bibit dan pakan, serta proses penjualannya melalui kelompok.