Kepekaan terhadap Potensi dan Peluang di Desa

Embung Tonogoro. TANIKU KULON PROGO

Bulan-bulan di akhir tahun ini terasa sangat melelahkan. Saya lelah dengan semua hal. Kebetulan, saya tinggal di salah satu pondok pesantren yang ada di Bantul. Lebih tepatnya di Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hadi Yogyakarta. Walaupun sering dianggap tidak terlalu ketat peraturannya karena ada tambahan kata ‘mahasiswa’, pondok pesantren yang saya tempati dapat dikatakan cukup ketat menurut saya.

Jadwal mengajinya pun cukup padat. Pertama, mengaji yanbu’a. Yanbu’a merupakan salah satu metode pembelajaran sebelum kita mulai membaca Al-Qur’an. Metode ini hampir sama dengan iqra, tetapi metode pembelajaran jenis ini lebih efektif dan efisien. Karena metode ini lebih ringkas serta lebih mudah dipelajari dibandingkan dengan metode lainnya.

Mengaji yanbu’a dilaksanakan setelah salat Subuh dan diampu oleh ustaz atau ustazah yang merupakan santri senior di pesantren ini. Biasanya, mengaji yanbu’a akan selesai sekitar pukul 05.30 WIB.

Kedua, mengaji sorogan. Sorogan merupakan salah satu metode pembelajaran dengan cara membaca kitab yang dikaji. Pembacaan kitab disimak oleh ustaz yang merupakan pengasuh pondok pesantren tersebut. Sorogan akan dimulai setelah selesai mengaji yanbu’a, yaitu sekitar pukul 06.00 WIB sampai selesai.

Ketiga, mengaji bandongan. Bandongan merupakan salah satu metode dengan cara kiai membacakan, menerjemahkan, dan menerangkan kepada para santri. Jika sorogan dilakukan secara individu, metode bandongan dihadiri oleh semua santri yang tergabung dalam satu majelis.

Keempat, mengaji kitab di kelas masing-masing. Setiap santri mendapatkan data nama dan kelas tempat mereka belajar. Pesantren ini memiliki empat kelas, yaitu kelas i’dad, kelas ibtida, kelas jurumiyah, dan kelas imrithi. Setelah mengaji bandongan usai, para santri kemudian melaksanakan salat Isya secara berjemaah. Selesai salat, para santri akan bergegas menuju kelas masing-masing sesuai dengan data yang ada. Biasanya, mengaji kelas dimulai pukul 20.00 WIB hingga 21.00 WIB.

Bahkan, terkadang dilakukan latihan membaca kitab kosongan dan menjelaskan alasan pembacaan tersebut (i’robi). Hal itu akan merubah jadwal yang sudah ditetapkan. Awalnya, pembelajaran dilakukan selama satu jam, tetapi ketika ada latihan selesainya pukul 21.30 WIB. Kadang juga ada yang baru selesai pukul 22.00 WIB.

Hal tersebut tentunya sangat melelahkan, bukan? Terlebih lagi ada kegiatan selain di pondok pesantren, yakni sedang menempuh pendidikan sarjana di Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta (UNU).

Dengan jadwal yang menurut saya cukup padat, saya sering merasa tidak enak hati untuk izin tidak ikut mengaji ketika kegiatan kampus belum selesai. Jika saya meminta izin terus-menerus, terasa lebih sulit mendapatkan izin dibandingkan dengan santri yang hanya izin satu atau dua kali.

Ketika tinggal di pesantren kita dituntut untuk dapat menyeimbangkan antara pondok dan kuliah. Tentu menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Sebab, saya sudah berada di penghujung semester yang membuat saya semakin sibuk.

Pikiran saya menjadi tidak karuan. Sebenarnya, ketika kita dapat mengatur waktu dengan baik, keseimbangan itu akan tercipta. Namun, pada kenyataannya, saya belum mampu mengatur waktu dengan baik. Tepatnya, saya masih kurang mampu ketika memikirkan dua hal dalam satu waktu. Pikiran yang entah perginya telah memberi penghakiman dengan meragukan kemampuan diri sendiri, serta ketakutan tidak dapat menyeimbangkan kedua hal tersebut membuat saya ingin rehat sejenak.

Namun, rehat versi saya, sebatas mengelilingi Jalan Malioboro, melihat matahari terbenam, atau sekadar makan bakso di pinggir jalan. Bukan rehat secara total dengan mengistirahatkan badan yang kerempeng ini. Setelah beberapa lama berpikir menentukan tujuan langkah saya, barulah menemukan sebuah ide untuk jalan-jalan di sekitar pondok pesantren.

Pesantren yang terletak di dalam kota dengan banyak gang di dalamnya, serta ada beberapa halaman rumah yang cukup luas, membuat saya berpikir bahwa halaman rumah tersebut dapat dimanfaatkan untuk budi daya hidroponik. Hidroponik merupakan salah satu teknik penanaman menggunakan media instalasi.

Instalasi terbuat dari paralon yang dibuat berundak-undak dengan tujuan agar instalasi dapat saling teraliri air. Air tersebut dialirkan dari sebuah drum yang diletakkan di bagian bawah instalasi. Air yang dialirkan bukan yang sembarangan. Sebelum dialirkan, air dalam drum ditambahkan nutrisi Ab-mix dengan takaran 500 mililiter setiap satu liternya. Nutrisi tersebut berguna sebagai pengganti pupuk pada tanaman.

Menurut saya, rumah di perkotaan yang memiliki halaman cukup luas dapat berpotensi meningkatkan jumlah pendapatan serta kemandirian pangan rumah tangga. Potensi dalam konteks ini diartikan sebagai sesuatu yang terpendam dan dapat dirasakan hasilnya setelah kemampuan itu dikembangkan.

Sedangkan, peluang adalah suatu kesempatan seseorang untuk mengembangkan usaha atau bisnisnya dengan cara memanfaatkan sumber daya yang ada. Modal yang dibutuhkan untuk memulai usaha atau bisnis pun tidak terlalu besar.

Oleh karena itu, warga perkotaan yang mempunyai halaman cukup luas dapat memanfaatkannya untuk budi daya tanaman hidroponik. Cara tersebut cukup mudah untuk diaplikasikan karena perawatan hidroponik tidak sulit. Hanya perlu memberikan nutrisi dan mengecek secara rutin setiap dua hari sekali.

Selain itu, perkotaan yang terkenal dengan panas yang menyengat tanpa ampun ini dapat mendukung kesuksesan budi daya hidroponik. Karena jika tanaman tidak terpapar matahari dengan cukup, akan mempengaruhi pertumbuhan pada tanaman hidroponik.

Daerah tempat saya tinggal, yaitu Dusun Tanjung, Kalurahan Banjaroyo, Kapanewon Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, sebenarnya memiliki potensi untuk mengembangan bisnis pada sektor pertanian dengan membuat toko yang menjual berbagai macam olahan durian.

Dalam berita online yang dimuat oleh Kompas, menyebutkan bahwa Banjaroyo merupakan pusat petani durian khas Menoreh. Salah satu durian yang terkenal ialah jenis buah menoreh kuning. Selain menoreh kuning, terdapat dua jenis durian lagi, yakni durian menoreh putih dan durian abu.

Setiap jenis durian tentu memiliki rasa yang berbeda. Durian menoreh putih mempunyai daging tebal, bertekstur lembut, bijinya yang kecil, dan rasanya pahit. Kemudian, durian abu cenderung berbuah manis dan pahit. Untuk durian menoreh kuning dengan warna daging kuning, teksturnya lembut dengan rasa yang manis dan pahit.

Berdasar pada tiga jenis durian tersebut, yang paling diminati oleh pemburu durian adalah jenis durian menoreh kuning. Bahkan pembeli yang datang tidak hanya dari daerah tersebut.

Beberapa dari mereka jauh-jauh dari luar kota demi menikmati duriannya Banjaroyo. Melihat potensi yang dimiliki Kalurahan Banjaroyo, membuat saya sadar bahwa inovasi berupa pembuatan toko khusus mengolah buah durian dapat menjadi peluang bagi warga. Selain terkenal dengan buah duriannya, tidak jauh dari lokasi penjual durian terdapat tempat wisata berupa embung atau waduk kecil. Tempat wisata ini sering dijadikan warga untuk jalan-jalan sore.

Tidak hanya warga, tetapi ada juga yang berasal dari luar kota. Saya pun sering menjumpai beberapa mobil yang membawa siswa-siswinya untuk berkunjung ke sana. Melihat potensi yang ada di desa saya, sebenarnya ada peluang untuk berkolaborasi antara bisnis durian dan wisata embung ini.

Toko yang ditempatkan di area wisata akan berpotensi terhadap kenaikan jumlah pengunjung. Pasalnya, pengunjung tidak hanya disuguhkan oleh pemandangan bukit nan menawan, tetapi juga santapan durian yang menggoda.

Dalam hal ini, inovasi mempunyai beberapa tujuan. Pertama, menghemat waktu. Inovasi bertujuan agar memudahkan manusia untuk menggunakan waktu secara lebih efektif dan efisien. Kedua, meningkatkan produktivitas. Dengan menerapkan inovasi, kita dapat mengerjakan banyak hal dalam satu waktu.

Ketiga, meningkatkan efisiensi. Efisiensi yang tinggi akan menciptakan banyak output yang dihasilkan. Keempat, memperbaiki dan meningkatkan kualitas produk dan jasa. Perbaikan kualitas dan jasa ini disesuaikan dengan zaman. Kelima, menciptakan kenyamanan. Ketika membuat inovasi maka semuanya akan menjadi lebih mudah bagi pelanggan.

Keenam, memenuhi kebutuhan pelanggan. Ketika inovasi dilakukan maka dapat memenuhi kebutuhan manusia secara perlahan-lahan. Ketujuh, pengalaman pelanggan yang memuaskan. Ketika pelanggan puas dengan produk atau layanan kita, otomatis mereka akan loyal dengan bisnis kita. Inovasi tersebut dapat mempermudah kita dalam menciptakan kepuasan konsumen melalui perkembangan teknologi.

Kedelapan, mengurangi risiko. Inovasi dapat mengurangi risiko yang mungkin akan terjadi. Kesembilan, mempercepat kinerja karyawan. Dengan dilakukan inovasi maka pekerjaan yang dilakukan karyawan akan lebih sedikit. Kesepuluh, mengembangkan wawasan atau pengetahuan yang kita miliki. Semakin berkembangnya inovasi, akan berkembang pula ilmu pengetahuan kita. Kesebelas, bisnis akan semakin kompetitif.

Selain itu, ada beberapa manfaat yang diperoleh ketika kita melakukan inovasi. Pertama, inovasi dapat memecahkan permasalahan yang terlihat tidak mungkin dapat terselesaikan. Kedua, inovasi dapat meningkatkan produktivitas diri dan karyawan di tempat kerja.

Ketiga, inovasi dapat menciptakan sesuatu hal yang unik. Keempat, inovasi dapat membantu bisnis kita dalam mengalahkan pesaing bisnis yang tangguh. Melihat beberapa manfaat yang ditimbulkan dari berinovasi, diharapkan masyarakat semakin berani melalukan inovasi untuk desanya.

Menurut Nikmatul Masruroh (2018), desa dengan keragaman sumber daya alam memiliki beberapa potensi yang jika dikembangkan akan bernilai luas. Contohnya potensi pada bidang pertanian, peternakan, perikanan, kerajinan, dan lain-lain. Hanya saja, desa saya belum memiliki kemandirian dalam mengembangkan potensi tersebut atau bahkan belum mengetahui adanya potensi yang dimilikinya.

Oleh karena itu, sebagai warga negara Indonesia yang katanya baik ini, perlu lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Jangan sampai tidak menyadari potensi yang dimiliki. Selain dapat menguntungkan warganya, inovasi akan berdampak pada eksistensi desa. Setelah eksistensi itu sampai ke telinga pemerintah daerah hingga pusat, desa diberi dana untuk mengembangkan usaha.

 

Referensi

Masruroh, N. 2018. Menggali Potensi Desa Berbasis Ekonomi Kerakyatan. Surabaya: CV Jakad Publishing Surabaya.