Legenda Hikmah Sunan Tembayat

Komplek Makam Bayat. KEMENDIKBUD

Ada sebuah cerita dari Sunan Pandanaran atau yang juga disebut dengan Sunan Tembayat. Suatu hari, ia sedang duel menghadapi kesaktian dari Begawan Prawira Sakti. Lawan dari Sunan Tembayat merupakan orang yang sakti mandraguna.

Ora tedas tapak paluning pande sisaning gurindro. Adalah ungkapan untuk menunjukkan betapa saktinya Begawan Prawira Sakti. Ia tidak kenal takut oleh tantangan atau ancaman apapun karena merasa sudah mumpuni untuk bertanding.

Begawan Prawira Sakti ini sedang bertapa di lembah yang disebut lembah Sapit Urang di Dukuh Jerukan yang tidak jauh dari tempat tinggal Sunan Tembayat di Bukit Jabalkat. Rupanya, ia terusik dengan kedatangan Sunan Tembayat di daerah itu. Ia pun merasa kedatangan Sunan Tembayat sebagai ancaman.

Begawan Prawira Sakti memutuskan untuk mengajukan tiga pertandingan kesaktian dengan syarat yang kalah harus pergi daerah itu (tundung minggat). Sunan Tembayat akhirnya menerima tantangan yang ditujukan padanya. Sebelum adu kesaktian, Sunan Tembayat berdoa kepada Allah Swt, memohon petunjuk agar diberikan kebaikan dan kebenaran dari masalah yang dihadapi.

Adu kesaktian yang pertama yang perlu dilakukan Sunan Tembayat adalah menangkap merpati yang dilepas ke udara oleh Begawan Prawira Sakti. Ternyata, begitu mudah merpati itu ditangkap dengan cara menyambit menggunakan selop kirinya.

Adu kesaktian yang kedua adalah menangkap blangkon yang dilempar tinggi sekali ke langit hingga tak terlihat oleh pandangan mata. Lagi-lagi, dengan mudahnya Sunan Tembayat menangkap blangkon itu dengan cara menyambit menggunakan selop yang sebelah kanan. Blangkon pun jatuh tepat di hadapannya.

Begawan Prawira Sakti semakin penasaran. Oleh karena itu, adu sakti yang ketiga atau yang terakhir, Sunan Tembayat ditantang untuk mencari keberadaan Begawan Prawita Sakti yang bersembunyi. Keberadaannya tidak tampak karena bersembunyi dengan cara yang tidak biasa. Kalis kaliwat, ilang katutup selo bandempo.

Namun, sekali lagi, Sunan Tembayat berhasil menemukan keberadaan Begawan Prawira Sakti dengan mudahnya. Padahal, tempat persembunyiannya sangat sulit ditebak, yakni di bawah sebongkah batu besar yang berbentuk gong.

Setelah tiga kali adu kesaktian, menunjukkan bahwa Sunan Tembayat dapat melewatinya tanpa kesulitan. Kini, giliran Sunan Tembayat yang memberikan tantangan. Ia hanya memberikan satu tantangan saja kepada Begawan Prawira Sakti. Tantangan itu adalah mencari keberadaan Sunan Tembayat.

Berbeda dengan Sunan Tembayat yang langsung berhasil menyelesaikan misi, Begawan Prawira Sakti gagal menemukan dalam permainan “petak umpet” ini. Walaupun telah berusaha mati-matian dengan mengerahkan semua kesaktiannya, ia tetap gagal. Sebab, pandangan mata yang terbatas tak dapat menjangkau karena Sunan Tembayat bersembunyi di antara kedua alis Begawan Prawira Sakti.

Sebenarnya, cerita di atas mengandung hikmah yang tersembunyi di balik simbol-simbol. Seperti burung merpati adalah lambang dari rezeki atau kekayaan yang kita miliki. Merpati yang terbang begitu saja dan datang tanpa peringatan mengajarkan betapa rezeki sangat mudah hilang serta kembali ketika Allah Swt menghendaki.

Blangkon adalah tutup kepala yang melambangkan pikiran atau emosi seseorang. Sama seperti rezeki, dua hal tersebut demikian mudah “hilang kendali” dan mudah untuk berganti-ganti sesuai dengan kehendak Allah Swt.

Bersembunyi di antara kedua alis melambangkan aib dan kekurangan yang kita miliki, namun kita sering tak menyadarinya. Padahal, aib dan kekurangan seseorang dapat kita lihat dengan jelas, walaupun sudah disembunyikan atau tertindih di balik batu besar sekalipun. Wallahu a’lam bis-shawab.