Mbah Modin

Mbah Modin. WAHYU INDRO WIDODO

Siapa pun yang baru pertama kali berjumpa dengan sosok laki-laki sepuh ini, besar kemungkinan akan memiliki pendapat yang sama dengan saya tentangnya. Kesan pertama yang ia pancarkan, adem.

Senyumnya selalu meronai wajahnya yang sudah tampak gurat-gurat keriput. Tatapannya teduh seakan mewakili raut kesabaran dan kebijakan dalam menjalani hidup. Sekilas mirip dengan Mbah Moen, kiai karismatik dari Rembang.

Orang-orang di desa saya tidak banyak yang tahu nama asli laki-laki sepuh ini. Ia hanya dipanggil Mbah Modin, sesuai dengan profesinya, yaitu sebagai modin atau di daerah lain disebut Kaum Rais. Tugasnya adalah melayani urusan bidang kerohanian, khususnya agama Islam.

Tugas seorang modin, menurut saya sangat vital karena menangani tiga fase sakral dalam siklus kehidupan manusia, yakni saat kelahiran, pernikahan, dan kematian. Ia selalu setia hadir pada saat momen penting tersebut untuk memimpin doa.

Selain itu juga, sering kali Mbah Modin dipanggil untuk acara syukuran, pengajian, sunatan, dan paling laris diundang pada saat seperti sekarang ini, acara menyadran. Sebuah tradisi yang dilakukan untuk menyambut datangnya bulan Ramadan, yang rangkaian acaranya berupa ziarah, membersihkan makam, dan mendoakan arwah leluhur atau kerabat yang sudah meninggal.

Mbah Modin yang nama aslinya tidak diketahui ini, kadang membuat saya galau. Apakah ia sudah menyiapkan kader sebagai penggantinya kelak? Atau, apakah kader tersebut akan sehebat Mbah Modin? Mbah Modin adalah aset sesungguhnya bagi Kampung Blunyahan, sayang kalau tidak ada yang mewarisi dan meneruskan legasinya. Sebab, cerita kehebatan Mbah Modin cukup melegenda, bahkan sampai ke tetangga desa, khususnya daerah Bantul Utara.

Sudah menjadi rahasia umum, apabila warga yang anaknya mengalami panas dingin, mengigau, hingga kesurupan, biasanya akan memanggil Mbah Modin. Ia pun tidak pernah menolak dan anehnya selalu menolak halus ketika akan dibayar. Mbah Modin hanya menyarankan si empunya untuk infak ke masjid atau menyumbangkannya ke anak yatim piatu.

Ia hanya datang membawa sebotol air yang diambil dari padasan di langgar di depan rumahnya. Biasanya, waktu pengobatan berlangsung sebentar karena hanya didoakan. Kemudian, wajah dan rambutnya diusap dengan air dan sisanya diminumkan dari botol tadi. Tak lama kemudian, si anak tertidur dan sembuh. Sungguh menakjubkan.

Pernah saya bertanya, “Mbah, apakah air ini ada ramuan atau jampi-jampinya?”

Ia malah tertawa hingga menampakkan gigi yang sudah tanggal semua. “Tidak ada, Mas, ini hanya air tawar biasa.” jawabnya.

Keingintahuan saya mendapat jawaban dari ketua RT di suatu malam ketika ronda. Ternyata, Mbah Modin selalu melakukan ‘ritual laku’ yang dilakukan minimal lima kali dalam sehari. Sebelum dan sesudah mengambil air wudu di padasan yang berada di langgar, Mbah Modin selalu komat-kamit dengan tangan menengadah yang lumayan lama.

Sontak saya jadi teringat postingan di grup WhatsApp beberapa waktu lalu tentang penelitian seorang ilmuwan dari Jepang yang sangat terkenal berjudul Messages from the Water. Dalam penelitian itu disebutkan bahwa air dapat hidup karena partikel air menjadi indah dan mengagumkan ketika mendapat reaksi positif, seperti doa, sapaan yang lembut, kata-kata yang manis dan lain-lain.

Sebaliknya, partikel air itu akan menjadi buruk dan tidak sedap dipandang mata apabila mendapat reaksi negatif di sekelilingnya, seperti umpatan kotor, bentakan kasar, dan lain-lain. Sepertinya, Mbah Modin jauh lebih dulu mempraktikkan daripada Masaru Emoto. Hanya saja, mungkin ia bingung ketika ditanya teori Messages from the Water tersebut.

Sebenarnya banyak cerita tentang sepak terjang dan kehebatan Mbah Modin. Katanya, dahulu waktu muda, pernah melumpuhkan maling yang sering menyatroni desa itu dengan seorang diri. Bukan diajak berduel, tetapi diajak mengobrol, disuruh minum air, dan makan ketela rebus. Keesokan harinya maling tersebut sudah tobat dan menjadi tukang bersih-bersih di masjid desa.

Mbah Modin itu hanya mempunyai anak tunggal, seorang perempuan, yang sekarang ikut suaminya di desa tetangga. Kini, ia hanya tinggal berdua dengan sang istri di rumah kunonya yang cukup asri dan luas.

Namun, di belakang langgar ada beberapa kamar yang dihuni oleh empat mahasiswa ISI Yogyakarta. Mereka semua berasal dari Indonesia Timur dengan ciri khas rambut keritingnya. Mereka terlihat betah tinggal di situ. Bukan karena tidak dipungut biaya, tetapi yang membuat heran adalah apakah mereka tidak terganggu ketika setiap azan berkumandang? Apakah mereka sudah terbiasa, walaupun keyakinan mereka barangkali berbeda?

Apabila Mbah Modin ditanya tentang toleransi, mungkin ia akan balik bertanya, “Toleransi itu makanan terbuat dari apa, ya?”

Karena toleransi bagi Mbah Modin sudah menjadi konsumsi sehari-hari, yang sudah lama dikunyah dan ditelan selama menjalani hidup. Sebelum mengisi pengajian, ia sering kali mengutip ujaran-ujaran Jawa sebagai pesan untuk kami. “Ojo mbedakake marang sapadha-padha.” Ujarnya dalam bahasa Jawa yang berarti hargai perbedaan, jangan membeda-bedakan sesama manusia.

Urip iku mung mampir ngombe, mulane goleko banyu apikulan warih. Golek geni adedamar karono urip iku urup. Mengaten, njih, Mbah? (Hidup itu hanya sebentar, sekadar mampir minum maka carilah penghidupan dengan cara yang baik. Cari air dengan pikulan, cari api dengan pelita karena hidup itu nyala sinarnya harus memberi manfaat bagi orang di sekitar. Begitu, ya, Mbah?)

Ketika sejenak menoleh ke dalam kenyataan hidup sekarang ini, kadang saya bergetar menyadari bahwa sosok Mbah Modin adalah manusia langka. Kadang kita merasa lebih; lebih suci dan lebih beragama dalam bersosial. Betapa banyak saya terima pesan terusan di grup WhatsApp yang berisi doa, betapa sering saya melihat orang berlomba-lomba mengunggah status berisi doa yang mungkin belum tentu dibaca, dimengerti, dan diamalkan si empunya.

Lihatlah, televisi dan media sosial penuh dengan ‘ustaz karbitan’ yang kerjanya mengamen doa. Mereka tak peduli konten tersebut berkualitas atau tidak. Bagi mereka, yang penting kolom komentar penuh dengan pendukungnya.

Sebagai informasi, saya sudah tau nama asli Mbah Modin RNU (Real Name Unknown). Nama aslinya adalah Jumaroh Hadi. Saya mengetahuinya karena kemarin Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) miliknya tertukar dengan milik saya.