Membangun Wisata Desa Kerakyatan

Wisata Edukasi Budaya Desa Wisata Grogol JOGJAPROV

Pariwisata adalah salah satu bisnis yang sedang marak di negeri ini, terlebih lagi untuk desa-desa yang memiliki potensi wisata. Seperti daerah yang memiliki potensi wisata alam, terutama yang menyajikan pemandangan indah, berupa gunung, bukit, hutan, sungai, ngarai, laut, sawah, air terjun, kolam alam, dan sebagainya. Ada pula yang tidak memiliki potensi alam, tetapi memiliki potensi lain, seperti kuliner, seni budaya, kerajinan, fashion, home stay, dan lain-lain.

Ada juga yang mengembangkan wisata minat khusus, seperti panjat tebing, naik gunung, kebun teh, arung jeram, bersepeda, wisata otomotif khusus, berkuda, panahan, dan sebagainya. Sebenarnya, masih banyak objek wisata lain yang dapat diangkat ke permukaan, tetapi masih perlu pemikiran khusus untuk melihatnya sebagai potensi wisata yang layak atau tidak.

Wisata adalah cara orang menghabiskan waktu untuk menghilangkan penat atas rutinitas yang dijalaninya selama berbulan-bulan. Dalam menikmati wisata ada dua cara, yaitu dengan gaya lama dan gaya baru. Metode yang baru dan kekinian lebih mementingkan tempat bagus untuk berfoto, istilah lainnya adalah instagramable. Istilah ini muncul karena para wisatawan mengenal media sosial sebagai media untuk memengaruhi orang lain, khususnya Instagram sebagai salah satu media yang mementingkan keindahan visual.

Berawal dari sinilah muncul istilah instagramable. Banyak orang berlomba-lomba menunjukkan tempat dan aktivitas yang menarik agar dapat disebarluaskan melalui Instagram, sehingga orang lain terdorong untuk mengunjungi tempat tersebut. Aktivitas inilah yang membentuk cara baru berwisata.

Hal yang sering kali menjadi kendala bagi masyarakat desa dalam membangun pariwisata adalah kemampuan untuk mengelola objek-objek yang telah dibangun. Tak jarang objek-objek yang telah dibangun tidak layak untuk dikunjungi lagi karena kurangnya perawatan. Tentu saja yang menjadi kendala adalah kurangnya tenaga profesional dan dana.

Kurangnya tenaga profesional sering kali menjadi kendala dalam mengelola objek wisata. Wisata adalah entitas bisnis yang memerlukan tindakan profesional untuk menanganinya, karena melibatkan banyak orang dan banyak dana yang dibutuhkan. Pengelolaan yang profesional sangat penting untuk mempertahankan tempat wisata yang telah dibangun.

Membangun adalah hal yang mudah dilakukan banyak desa, tetapi merawat yang sudah dibangun merupakan hal yang sulit. Terlebih lagi jika tenaga profesional tidak terlatih serta pendanaan yang terbatas. Oleh karena itu, penting sekali merancang sebuah program dengan jangka waktu yang lama agar pendanaan mampu mencukupi sebelum program tersebut dapat mandiri dalam pembiayaan.

Hal ini penting dilakukan agar pengelola lebih siap mengelola secara profesional, karena ada jaminan kemampuan finansial selama masa awal buka sampai mandiri. Namun, dengan catatan pendanaan awal tidak boleh untuk hal-hal selain pembiayaan operasional.

Mengelola objek pariwisata bukanlah hal yang mudah, apalagi mengelola pariwisata kekinian, di mana tingkat kebosanan pengunjung sangat tinggi. Perlu pendampingan seorang profesional yang memahami benar cara mengelola pariwisata, seperti penuh kreativitas dan imajinasi dalam segala bidang. Tujuannya, agar mampu mendayagunakan setiap lini untuk mendukung objek wisata terus bertumbuh dan berkembang.

Pengelola tidak hanya mengelola objek wisata sebagai entitas benda saja, tetapi juga mengelola manusia sebagai sumber dayanya dan mengelola brand yang jadi kekuatannya. Selain itu, mengintegrasikan semua kekuatan yang dimiliki desa untuk menyelaraskan langkah dan gerak guna mencapai tujuan. Juga, menyelesaikan setiap benih konflik yang mungkin terjadi agar dapat dikelola sebagai potensi positif untuk membangun.

Konflik yang acap kali muncul di desa adalah adanya kekuatan antara pihak kepala desa dan perangkat lainnnya, seperti Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Lembaga Kemasyarakatan (LK), kerja sama antardesa, dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Antarlembaga akan tarik-menarik kepentingan jika komunikasi tidak berjalan dengan baik.

Oleh karena itu, perlu musyawarah untuk menyepakati program yang akan dilaksanakan dan penanggungjawabnya. Jika orang-orang yang terlibat sudah memiliki kesadaran penuh untuk sama-sama membangun desa maka apapun yang dilakukan terasa lebih mudah, karena semua orang merasa memiliki tanggung jawab serta peranan yang sama penting.

Masalah lain yang sering kali menjadi konflik adalah kedudukan desa dan organisasi desa yang masih bersifat ambivalen. Hal itu menyebabkan desa tidak independen dalam mengambil keputusan yang terbaik bagi desanya. Ini juga akan menyebabkan kesulitan pengelolaan keuangan desa yang sebagian besar bersumber dari lembaga supradesa; pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten atau kota.

Sumber pembiayaan desa biasanya bersifat tradisional, seperti iuran warga yang sangat terbatas. Apabila perangkat desa memiliki gaji yang layak maka mereka akan dapat bekerja lebih baik dan profesional.

Dengan adanya Dana Desa, diharapkan perangkat desa dapat menerima gaji yang layak. Apalagi jika upaya desa dalam membangun usaha melalui BUMDes telah berjalan baik dan dapat digunakan untuk menyejahterakan perangkat desa. Apabila permasalah desa dapat diurai dan diselesaikan akan membawa desa lebih percaya diri menatap masa depan.