Membekali Diri dengan Nilai-nilai Integritas Santri

Pondok Pesantren Al-Miftah. KEMENDIKBUD

Dalam pemikiran saya, apakah seorang santriwati dapat menjadi kepala desa yang membawa perubahan? Saya rasa, seorang santri merupakan figur yang lengkap dengan nilai integritas. Bagaimana nilai integritas yang diajarkan di lembaga pendidikan nonformal pondok pesantren?

Sejauh pengetahuan saya, selama menjadi santri di salah satu pondok pesantren yang ada di Jogja, saya diajari berbagai nilai kehidupan, seperti kemandirian, kejujuran, tanggung jawab, berani, sederhana, peduli, disiplin, adil, dan kerja keras. Nilai-nilai integritas tersebut diajarkan oleh guru-guru saya dan hanya didapatkan di pondok pesantren.

Sebelum mengenal pondok pesantren beberapa tahun lalu, saya yang berumur sembilan tahun diajak oleh kedua orang tua ke salah satu pondok pesantren di Kulon Progo. Mengunjungi pondok pesantren tersebut untuk memeriahkan khataman santri-santrinya (akhirus sanah). Pondok pesantren yang kami datangi bernama Al-Miftah namanya.

Letak Pondok Pesantren Al-Miftah lebih tepatnya berada di Kauman, Jatisarono, Nanggulan, Kulon Progo. Tempat ini merupakan salah satu pondok pesantren di Kulon Progo yang terbilang cukup murah pada saat itu. Hanya dengan membayar uang syahriyah perbulan sebesar Rp250.000 sudah mendapatkan jatah makan pagi dan sore.

Bahkan, lemari baju juga sudah tersedia, walaupun hanya mampu memuat sekitar sepuluh baju. Namun, santri-santri di sana menerima dengan rasa syukur.

Selama acara berlangsung, saya melihat beberapa santri lalu-lalang memakai baju putih beserta sarungnya yang khas. Sebagian dari mereka berjalan bersama orang tuanya, sebagian lagi berjalan bersama gerombolan temannya.

Mereka menyusuri jalanan yang penuh dengan pedagang; dari ujung sampai ketemu ujung lagi. Mereka sibuk menawarkan barang dagangannya kepada setiap orang yang lewat. Ada pedagang baju, minyak wangi, tasbih, kopiah, aneka makanan, dan lain-lain.

Sekilas saya melihat ada canda tawa dari interaksi antarsantri. Entah mengapa, hal itu membuat saya jadi jatuh cinta pada suasana pondok pesantren. Hati yang sudah terpikat, membuat saya berkeinginan untuk mondok ketika besar nanti.

Padahal, canda tawa mereka pada saat itu hanyalah sebuah topeng. Tentu banyak kejadian yang mereka alami sebelumnya. Barangkali mereka pernah merasa tidak betah dan hampir memutuskan untuk pulang ke rumah. Perasaan itu baru saya ketahui saat menjadi santri.

Tiga tahun setelahnya, ketika berusia 12 tahun, saya memutuskan untuk tinggal di pondok pesantren yang pernah saya kunjungi; Pondok Pesantren Al-Miftah. Seperti yang sudah saya katakan, senyum yang merekah pada acara khataman tiga tahun silam hanyalah topeng. Ya, hal ini saya alami sendiri saat masih menjadi cah anyar (anak baru). Cah anyar yang baru lulus SD dan belum pernah mengenal dunia luar ini, tentunya masih sangat kekanakan.

Saat itu, saya bersama teman sekamar baru bermain seperti anak-anak pada umumnya. Kami bermain di kamar lantai dua, sedangkan lantai satu adalah ndalem (rumah pengelola pesantren).

Ya, kami dimarahi karena dianggap mengganggu waktu istirahat bapak dan ibu ndalem. Lalu, apa reaksi kami setelah dimarahi? Cengingas-cengingis. Dengan berbagai macam rintangan yang dihadapi–dimarahi merupakan rintangan bagi saya–tidak membuat saya menyerah begitu saja.

Salah satu rintangan atau cobaan anak pondok adalah korengan. Korengan merupakan salah satu penyakit kulit yang disebabkan karena kurang menjaga kebersihan dan luka yang terinfeksi. Padahal, saya yang masih masuk kategori anak baru ini sudah sangat menjaga kebersihan, bahkan mandi pun sampai tiga kali sehari. Namun, tetap saja mendapat koreng di kulit.

Kata salah satu kiai, “Kalau belum korengan, belum jadi santri seutuhnya.” Walaupun begitu, kami tidak menghiraukannya. Saya hanya berpikir agar cepat sembuh.

Tidak hanya rintangan yang saya terima, tetapi juga pengetahuan. Saya baru mengetahui, belajar mengaji dan membaca kitab memiliki beberapa metode. Tentu ini menjadi pengalaman baru bagi saya.

Metode pembelajaran yang digunakan di Pondok Pesantren Al-Miftah ada dua, yaitu bandongan dan sorogan. Bandongan merupakan metode pembelajaran khusus kitab kuning. Pada metode belajar ini, kiai akan membacakan, menerjemahkan, dan menjelaskan isi kitab kuning. Sedangkan, santri mendengar, menyimak, dan mencatat. Bandongan biasanya terdiri dari lima orang santri yang dikumpulkan dalam satu waktu untuk mengaji bersama.

Metode sorogan hampir sama dengan metode bandongan. Perbedaannya terletak pada jumlah orang. Model bandongan dilaksanakan secara bersamaan, sedangkan model sorogan hanya dilakukan oleh perorangan. Metode ini biasa digunakan para santri yang menghafalkan nadhoman.

Selanjutnya, membagi kelas mengaji di Pondok Pesantren Al-Miftah berdasarkan tahun masuk menjadi santri. Kelas awal bernama kelas i’dad yang didominasi anak baru. Urutan kedua bernama kelas ibtida, kemudian kelas jurumiyah, kelas yang terakhir kelas ihya’.

Namun, pembagian kelas hanyalah formalitas. Faktanya, beberapa yang menduduki kelas senior, tidak menjamin kemampuannya lebih tinggi daripada kelas junior. Justru, semakin tinggi kelas, malah semakin pong bolong.

Hal tersebut terjadi pada saya. Waktu itu, tepatnya tiga tahun lalu, saya menduduki kelas alfiyah, kelas dengan kategori yang sudah tinggi. Namun, apakah selama ini saya paham dengan semua materi yang terdapat dalam kitab kuning? Tidak sama sekali.

Terlebih lagi tentang materi mengaji nahwu. Entah mengapa, nahwu memang sangat membosankan di mata saya. Kata orang-orang, “Senangi dulu, nanti akan paham dengan sendirinya.” Masalah yang terjadi, saya tidak senang maka tidak paham-paham.

Saya masih berlanjut menjadi santri di pondok pesantren sampai sekarang. Sudah sembilan tahun saya hidup terpisah dengan orang tua. Berjauhan dengan orang tua bukan menjadi hal yang mudah bagi sebagian orang, banyak yang enggan jadi santri di pondok karena tidak mau berpisah dengan orang tua.

Berbeda dengan saya, karena sejak kecil sudah memiliki tekad untuk jadi santri di pondok, hidup terpisah dengan orang tua rasanya biasa aja. Bahkan, ketika orang tua memasrahkan saya kepada kiai, saya tidak menangis seperti santi-santri baru pada saat itu.

Oleh karena itu, tanamkan kebaikan sebiji zarah pun pada anak. Terlebih ketika anak masih berusia sangat belia, karena keingintahuan mereka pada saat itu sangat tinggi. Saat mereka penasaran dengan sesuatu yang dianggap menarik, mereka akan mencobanya.

Contohnya saya sendiri. Saya yang dari kecil sudah diajak pengajian ke beberapa pondok pesantren, kini dapat merasakan suka dan duka menjadi santri.

Salah satu ilmu atau pelajaran hidup yang tidak saya temukan di tempat lain adalah tentang kemandirian, kejujuran, tanggung jawab, berani, sederhana, peduli, disiplin, adil, dan kerja keras. Salah satu nilai kemandirian yang didapatkan di pondok pesantren adalah mandiri dalam berbagai hal. Sebagai contoh, sikap mandiri selama berjauhan dengan orang tua. Ketika kita tidak tinggal bersama orang tua, mau tidak mau kita harus hidup mandiri.

Kemudian, kejujuran. Kejujuran sangat sulit diterapkan oleh beberapa orang yang mungkin memang tidak dibekali ilmunya sejak kecil. Contoh paling sederhana nilai kejujuran yang ada di pondok pesantren adalah jujur ketika melanggar peraturan. Atas sikap tersebut maka kita diharuskan untuk mengakui kesalahan diri sendiri.

Nilai integritas tanggung jawab. Sikap tanggung jawab yang ditanamkan di pondok pesantren, salah satunya bentuk tanggung jawab dalam menyelesaikan piket, baik piket harian maupun piket mingguan. Piket harian dijadwalkan perindividu. Piket harian yang dilakukan berupa membersihkan kamar dan menyapu, sedangkan piket mingguan dilakukan secara bersama-sama atau gotong royong. Piket mingguan ini berupa membersihkan seluruh area pondok pesantren dengan pembagian beberapa kelompok.

Nilai integritas lainnya adalah keberanian. Santri dituntut untuk berani dalam bertindak, bersikap, serta berpendapat. Untuk dapat membangun desa, salah satu sikap yang diperlukan, yaitu keberanian. Terutama sikap berani berpendapat. Tidak hanya berani, pendapat yang rasional juga menjadi salah satu indikator pemimpin yang kompeten.

Selanjutnya, nilai integritas sederhana. Hidup di pondok pesantren tidak lepas dari kesederhanaan atau dalam bahasa Jawa disebut urip prihatin. Mulai dari santri yang tidur tanpa menggunakan kasur, makan yang ala kadarnya, dan lain-lain.

Lalu, nilai integritas kepedulian. Sikap peduli pun ditanamkan di pondok pesantren, di antaranya peduli terhadap teman yang sedang sakit, membantu orang yang sedang ada kesulitan, dan lain-lain. Hal ini menjadi salah satu faktor mendasar yang wajib dimiliki oleh calon kepala desa. Sebagai calon kepala desa, salah satu sikap ini penting agar warga desa merasa terlindungi dan diperhatikan.

Nilai integritas yang lain adalah disiplin. Disiplin menjadi hal yang sangat sulit diterapkan di era ini. Salah satu contohnya adalah disiplin waktu. Beberapa orang masih menganggap remeh masalah ketepatan waktu. Namun, di pondok pesantren, santri diajarkan menghargai dan memanfaatkan waktu.

Sebagai contoh, ketika waktunya mengaji, santri harus mengaji. Jika ada santri yang melanggar maka akan dikenakan hukuman. Pengadaan ta’ziran di pondok pesantren juga berguna untuk lebih mendisiplinkan santri-santri.

Nilai integritas yang terakhir adalah adil dan kerja keras. Contoh sikap adil yang diterapkan di pondok pesantren adalah adil dalam hal pembagian piket, ta’ziran yang sesuai dengan jenis pelanggaran, dan lain-lain.

Bekerja keras pun diajarkan oleh para kiai dan nyai di pondok pesantren. Contohnya, kerja keras untuk dapat menyelesaikan target hafalan pada waktu tertentu, kerja keras menyeimbangkan mengaji dan belajar, dan lain-lain.

Oleh karena itu, nilai-nilai integritas seorang santri menjadi hal yang sangat penting diterapkan oleh calon kepala desa. Hal tersebut bertujuan agar desa menjadi semakin maju karena kepala desa berkualitas. Selain itu, apabila dipimpin oleh kepala desa yang berlatar belakang seorang santri di pondok pesantren, akan tercipta ketenteraman dan kesejahteraan meningkat.

Menurut Atikah Mumpuni (2018), pengembangan nilai-nilai integritas bertujuan untuk menghasilkan orang yang baik perilakunya. Kebaikan perilaku yang dimaksud diwujudkan dalam kepribadian yang mandiri, jujur, bertanggung jawab, berani, sederhana, peduli, disiplin, adil, dan kerja keras. Nila-nilai integritas tersebut diawali dari pengetahuan terhadap baik atau buruknya nilai, nilai yang baik akan terus dijaga dan dibina.

Nilai-nilai yang diyakini kebaikannya diwujudkan dalam tindakan nyata hingga melekat dalam diri seseorang. Hal itulah yang dinamakan karakter. Ketika seorang calon kepala desa mempunyai karakter sedemikian rupa maka akan tercipta desa yang maju dan bermartabat. Selain itu, otomatis akan tercipta pula warga desa yang makmur.

Referensi

Mumpuni, Atikah. 2018. Integritas Nilai Karakter dalam Buku Pelajaran Analisis Konten Guru Teks Kurikulum 2013. Yogyakarta: Deepublish.