Mengulik Potensi Desa

Goa Rancang Kencono, Salah Satu Potensi Desa Bleberan, Kabupaten Gunungkidul. KABUPATEN GUNUNGKIDUL

Potensi tidak selalu dapat disadari oleh semua orang, perlu kepekaan dan ide kreatif untuk tahu bahwa suatu objek bisa menjadi sebuah kebermanfaatan. Bagaimana cara menemukan potensi suatu desa untuk kemudian dimanfaatkan secara optimal dan menjadi sebuah potensi yang aktual?

Pengamatan atau Observasi

Untuk menemukan potensi suatu desa bisa dilakukan observasi dengan memanfaatkan anugerah pemberian Tuhan berupa indera. Mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan perasaan untuk merasakan. Semua indera ini dapat digunakan untuk mengamati lingkungan sekitar yang kemudian akan diperoleh potensi yang dapat dimaksimalkan.

Namun, pengamatan menggunakan indera manusia memiliki kelemahan dan keterbatasan. Persepsi subjektivitas seseorang dapat memengaruhi hasil pengamatan yang hanya mengandalkan indera. Walau demikian, tetap saja indera merupakan alat yang sangat powerful sebagai pendeteksi awal adanya sebuah potensi.

Ada dua jenis alat bantu yang bisa digunakan, pertama, alat bantu rekam visual berupa kamera dan alat tulis dan kedua, alat rekam audio atau suara. Penggunaan indera dan alat bantu pendukungnya akan mengurangi bias yang akan terjadi pada indera sehingga hasil pengamatan akan lebih akurat.

Dengan hasil rekam kedua alat bantu tersebut kemudian dapat dilakukan validasi dengan menggunakan indera perasa. Hasil rekam ini kemudian dapat dimanfaatkan untuk meninjau hasil temuan yang diperoleh dan menjadi bahan dokumentasi. Selain itu, hasil rekam visual menggunakan kamera dapat membantu melihat dengan jarak yang jauh.

Setelah menemukan potensi yang dirasa dapat diberdayakan, hasil observasi dapat dijadikan bahan diskusi bersama tim atau pihak desa. Tindakan selanjutnya yang dapat dilakukan setelah melakukan pengamatan dan observasi adalah melakukan diskusi dengan tim dan pihak desa guna melakukan peninjauan.

Tahap ini penting, karena untuk bisa memberdayakan sebuah potensi, diperlukan persetujuan dari pihak berwenang dari wilayah potensi tersebut ditemukan. Harapannya, dengan berdiskusi dapat ditemukan apakah ada kendala bila potensi tersebut diberdayakan, dan bagaimana solusinya.

Apabila semua telah mencapai titik temu, dapat dilanjutkan ke tahap selanjutnya yakni tahap perencanaan atau planning.

Perencanaan atau Planning

Perencanaan atau planning bertujuan agar tindakan yang dilakukan sesuai dengan rencana dan terhindar dari perbuatan mubazir. Perencanaan dapat disusun dengan mengadopsi Adapun sebuah rencana harus didokumentasikan sedemikian rupa dengan menggunakan kerangka 5W+1H.

5W+1H adalah sebuah kerangka yang berupa pertanyaan-pertanyaan yang membantu untuk dapat lebih mengarahkan kepada tujuan. Komponen 5W+1H adalah sebagai berikut;

What, apa program yang akan dibuat oleh desa tersebut, apakah bermanfaat bagi desa?

Who, siapa saja orang yang akan terlibat dalam pelaksaan program tersebut dan siapa yang bertanggung jawab?

Why, mengapa program tersebut dilakukan?

When, kapan program tersebut akan dimulai?

Where, di mana program tersebut akan dilakukan?

How, bagaimana program tersebut bisa dilakukan terkait pendanaan?

Perancangan atau Desain

Dari hasil perencanaan dengan kerangka 5W+1H kemudian dibuatlah sebuah rancangan. Rancangan akan berisi nama program, waktu yang dibutuhkan, pihak yang bertanggung jawab, pendanaan, gambar rancangan program, dan cash flow atau alur keluar masuk dana.

Rancangan diperlukan agar program bisa berjalan secara berkelanjutan. Rancangan alur masuk dana diatur sedemikian rupa agar program tidak terhenti ditengah jalan karena alasan pendanaan. Terutama jika terjadi kejadian yang tidak diinginkan. Sehingga, dalam pelaksanaan program nantinya akan dapat dievaluasi dengan baik dan benar, serta bentuk pelaporan yang terstandarisasi sehingga bisa meminimalisir adanya kecurangan.

Pelaksanaan Program

Dalam kegiatan proyek, rentan terjadi kesalahan baik yang disengaja maupun tidak. Melalui evaluasi mingguan akan dapat diambil keputusan sesegera mungkin apabila terjadi kesalahan.

Program desa dapat dilaksanakan dengan baik apabila telah melalui beberapa tahapan di atas. Sehingga, dalam pelaksanaannya tinggal dilakukan evaluasi secara berkala setiap minggunya untuk mengurangi terjadinya kesalahan.

Evaluasi Akhir

Apabila program telah berjalan stabil, dapat dilakukan serah terima proyek dengan penyerahan Berita Acara Serah Terima (BAST). Dalam BAST tercantum pihak pelaksana menyerahkan proyek setelah dilakukan evaluasi sebelumnya. Hal ini dilakukan agar setiap pelaksana proyek bertanggung jawab penuh atas proyek yang telah dilakukannya kepada pihak desa.