Menjaga Air untuk Keberlangsungan Makhluk Hidup

Air Limbah. KEMENDIKBUD

Ketika libur semester telah tiba saya sangat antusias sekali. Karena dari jauh-jauh hari sebelumnya, saya bersama keluarga telah merencanakan untuk mengunjungi beberapa tempat wisata atau dalam bahasa kerennya staycation. Libur semester sering dijadikan ajang untuk healing. Healing setelah melewati waktu yang membuat otak penuh dengan pikiran berkecamuk. Terlebih tugas yang diberikan dosen seperti tidak pernah akan ada habisnya.

Rasanya, semakin hari semakin banyak. Namun, sebenarnya bukan itu yang menjadi permasalahan utama. Hal ini tergantung kepada kita dalam memanajemen waktu, jika mampu mengaturnya maka tidak ada yang namanya tugas menggunung.

Tempat wisata yang kami kunjungi pertama kali adalah Titik Nol Kilometer yang terletak di kawasan persimpangan Gondomanan, Yogyakarta. Tempat ini kerap dikunjungi oleh wisatawan karena lokasinya strategis dan dekat dengan banyak lokawisata.

Titik Nol Kilometer dikelilingi oleh beberapa bangunan kuno yang membuat wisatawan senang berjalan-jalan di area tersebut. Bahkan beberapa bus yang membawa siswa-siswa study tour, juga terlihat di tempat wisata tersebut. Saat itu, kami tiba di sana pukul 09.00 WIB, kondisi Titik Nol Kilometer sudah sangat ramai dikelilingi oleh orang yang lalu lalang.

Terlihat pula beberapa orang sedang mengambil foto bersama rekan atau swafoto. Daerah ini memang memberikan suasana zaman dahulu sehingga bagus dan patut dijadikan tempat untuk berfoto, terlebih lagi bangunan putih di seberang titik nol kilometer. Bangunan itu menjadi faktor pendukung dalam menciptakan foto yang memiliki nilai estetika. Saya dan keluarga angsung menempatkan diri untuk foto bersama. Walaupun tidak menggunakan kamera Digital Single Lens Reflex (DSLR), kami cukup puas dengan foto yang dihasilkan.

Kemudian, terdapat salah satu bangunan kuno yang masih ada sampai sekarang, yaitu Kantor Pos Besar Yogyakarta atau sering disebut sebagai Kantor Pos Titik Nol. Bangunan itu sudah ada sejak zaman Hindia Belanda pada tahun 1912. Sudah sangat lama, bukan? Hal yang lebih mencengangkan, dari mulai berdiri sampai sekarang, bangunan itu masih berfungsi sebagai kantor pos. Selain bangunan yang kokoh, bangunan tersebut juga terawat dengan baik.

Setelah cukup puas berfoto, kami beralih ke tujuan selanjutnya, yaitu Alun-alun Utara. Letaknya tidak jauh dari Titik Nol Kilometer. Gambaran singkatnya, kami hanya perlu lima langkah menuju ke sana. Alun-alun Utara terletak di utara Keraton Yogyakarta.

Dengan pemandangan yang dapat dikatakan cukup menarik, tempat wisata dengan tanah lapang itu patut dijadikan tempat sebagai sarana healing. Apalagi jika sudah memasuki senja, pemandangan matahari terbenam yang sangat indah akan tersaji dari sini.

Tujuan wisata terakhir adalah pantai yang terdapat di selatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yaitu Pantai Samas. Pantai Samas merupakan salah satu pantai yang berada di sebelah barat Pantai Parangtritis. Pantai ini terletak sekitar 14 kilometer ke arah selatan dari pusat Kabupaten Bantul atau sekitar 35 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta. Pantai yang terletak di Kalurahan ini terkenal dengan ombaknya yang menggulung, angin lautnya yang kencang, dan sebagai tempat bersinggahnya penyu-penyu langka.

Penyu yang sering singgah di pantai ini meliputi penyu sisik dan penyu hijau. Pantai Samas juga dikenal memiliki delta-delta sungai dan air tawar yang membentuk telaga. Oleh Dinas Perikanan DIY, telaga-telaga tersebut digunakan sebagai tempat pengembangan perikanan, penyu, dan udang. Akan tetapi, ketika berkunjung di Pantai Samas tidak disarankan untuk mandi atau sekadar berenang, karena memiliki bibir pantai yang agak curam.

Namun, keindahan yang disajikan pantai tersebut menjadi sirna. Kami yang memiliki tujuan awal untuk melihat matahari terbenam di pantai itu seketika jadi hilang gairah. Sebab, ketika di sana, kami melihat ada cairan kental yang diduga adalah aspal yang mencemari perairan Pantai Samas.

Sudah dapat dipastikan, pencemaran tersebut adalah aspal curah dari kapal tongkang. Selain itu, saya menduga karena ada kapal tanker yang karam dan menumpahkan cairan berminyak. Jika cairan itu banyak, kemungkinan akan merusak terumbu karang, ketika terumbu karang rusak makan akan berdampak pada hilangnya ikan dan makhluk hidup di dalam laut. Hal itu juga berdampak pada manusia, seperti hasil tangkapan ikan nelayan akan menurun.

Ketika manusia dengan tanpa dosa membuang barang atau limbah dari kapal tongkang maka dapat mengakibatkan tercemarnya. Dampak paling parahnya adalah mampu memunahkan ekosistem laut. Pencemaran air juga dapat terjadi di sumber mata air, sumur, sungai, dan rawa-rawa. Penyebab pun tidak hanya berasal dari pembuangan minyak di perairan dengan sembarangan.

Ada beberapa bahan yang membuat air tercemar. Pertama, limbah industri. Limbah ini berasal dari industri. Pencemaran yang dihasilkan dapat berupa limbah organik yang bau, seperti limbah pabrik tekstil atau limbah pabrik kertas. Selain itu, limbah anorganik. Limbah industri ini berupa cairan panas, berbuih, berwarna, serta mengandung asam belerang. Jika limbah ini dibuang ke saluran air, pencemaran air tak dapat dihindarkan dan ekosistem di dalamnya punah.

Kedua, limbah rumah tangga. Limbah jenis ini berasal dari kegiatan perumahan, seperti limbah rumah tangga, perkantoran, pasar, rumah makan, dan lain-lain. Selain itu, limbah rumah tangga juga bisa dihasilkan dari sampah sisa makanan; kayu, daun, dan kertas yang dapat diurai oleh mikroorganisme. Penguraian tersebut berakibat pada penurunan oksigen yang dapat merugikan kehidupan biota di dalamnya.

Ketiga, limbah pertanian. Sebenarnya limbah pertanian tidak menimbulkan dampak negatif pada lingkungan. Akan tetapi, terkadang pengaplikasian pestisida secara berlebih dapat menimbulkan dampak negatif pada keseimbangan ekosistem air.

Pupuk yang tidak terserap, akan membuat tanaman ganggang tumbuh subur di atas permukaan air. Tanaman ganggang ini dapat menutupi seluruh permukaan air sehingga mengurangi kadar sinar matahari yang masuk ke perairan tersebut. Hal itu berakibat terhadap terganggunya proses fotosintesis fitoplankton yang merugikan makhluk hidup di dalamnya.

Selain limbah pertanian berupa pupuk yang dibuang sembarangan, terdapat beberapa limbah pertanian lain, seperti daun pepaya, daun katuk, dan daun jagung yang terlihat berserakan di atas permukaan air. Menurut Yuli Retnani et al (2014), limbah pertanian yang dibuang sembarangan, sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Hal itu karena limbah tersebut mempunyai zat aktif yang dapat memacu produktivitas ternak.

Jika sudah mengetahui beberapa penyebab tercemarnya air, baik itu sumber mata air, sungai, rawa-rawa, danau, maupun laut, perlu mengetahui lebih lanjut ciri-ciri air yang sudah tercemar? Fungsinya untuk lebih berhati-hati. Terlebih lagi air yang digunakan untuk minum atau memasak.

Pertama, terdapat warna pada air. Salah satu ciri yang paling mudah untuk melihat air tersebut tercemar atau tidak adalah memperhatikan warnanya. Air yang sehat tentunya terlihat jernih dan tidak memiliki warna. Ketika air yang seharusnya jernih, tetapi tiba-tiba berubah warna, dapat dipastikan bahwa air sudah tercemar. Perubahan warna dapat disebaban oleh beberapa zat atau limbah yang dibuang sembarangan.

Kedua, terdapat bau aneh pada air. Air yang tidak bau merupakan indikator bahwa air tersebut sehat. Ketika air berbau, otomatis air sudah tercemar. Bau yang ditimbulkan biasanya bau busuk atau menyengat. Berbagai jenis polutan yang mengakibatkan tercemarnya air adalah limbah industri, pertanian, atau rumah tangga.

Ketiga, air mempunyai rasa. Sangat aneh ketika air mempunyai rasa, kecuali memang ditambah zat perasa, seperti air yang ditambahkan sirup, teh, kopi, dan lain-lain. Namun, ketika air berubah rasa tanpa ditambahi zat perasa, kemurnian air dipertanyakan.

Keempat, derajat keasaman atau pH air tidak netral. Air yang normal biasanya memiliki pH atau tingkat keasaman sekitar tujuh. Ketika air tercemar dengan polutan, pH air akan berkurang atau bertambah. Sedangkan, organisme yang hidup di air lebih menyukai air dengan pH normal. Semakin jauh dari netral maka akan mengganggu kelangsungan hidup organisme tersebut.

Kelima, terdapat perubahan pada suhu air. Air mempunyai suhu yang rendah dibandingkan dengan suhu lingkungan. Oleh karena itu, ketika kita menyentuh air, terasa dingin. Saat kondisi normal, suhu air relatif lebih rendah daripada suhu lingkungan. Misalnya suhu pada lingkungan adalah 30 derajat celcius maka suhu air normal sekitar 25 hingga 27 derajat celcius.

Keenam, terdapat endapan atau bahan terlarut. Endapan merupakan bahan-bahan yang terdapat di dasar air. Sedangkan, bahan terlarut merupakan zat yang bercampur menjadi satu tanpa disadari. Kedua endapan itulah yang menyebabkan perubahan warna, bau, rasa, serta pH air di dalamnya. Sampah endapan dapat berupa sampah rumah tangga; plastik, air sisa detergen, dan lain-lain, limbah pertanian, serta sisa pupuk cair.

Ketujuh, kelebihan jumlah mikroorganisme. Sampah atau limbah yang menjadi polutan akan diuraikan oleh mikroorganisme. Semakin banyak sampah, semakin banyak pula mikroorganisme. Sedangkan, mikroorganisme yang datang tidak semuanya baik. Ada beberapa mikroorganisme yang bersifat sebagai pembawa penyakit.

Kedelapan, meningkatnya radioaktif di air. Zat radioaktif berasal dari berbagai aktivitas manusia. Hal itu sangat memungkinkan terjadinya berbagai macam kerusakan biologis. Zat radioaktif merupakan suatu zat yang memancarkan energi. Radiasi ini biasanya merujuk kepada radiasi nuklir, ketika kita minum dari air yang sudah tercemar nuklir, berisiko terserang penyakit kanker.

Oleh karena itu, sebagai warga negara yang baik, kita harus turut serta dalam menjaga kebersihan lingkungan air. Salah satu cara mudah yang dapat kita lakukan adalah dengan tidak membuang limbah rumah tangga ke laut maupun ke sungai. Selain berdampak positif terhadap manusia, hal tersebut juga memberikan dampak baik kepada ekosistem di air. Jika air terlihat jernih dan bebas dari limbah, bukankah akan lebih enak ketika dipandang?

Referensi

Retnani, Y et al. 2014. Teknik Membuat Biskuit Pakan Ternak dari Limbah Pertanian. Bogor: Penebar Swadaya.