Pandemi dan Panic Buying Ikan Nila Mina Arum

Budi Daya Ikan Nila Mina Arum. Dyogi Miyosa

Tahun 2021, dilansir oleh Liputan6 tentang budi daya ikan. KKP tengah memotivasi masyarakat untuk meningkatkan gizi kesehatan masyarakat melalui makanan gizi seperti ikan. Oleh karena itu KKP berharap terus tumbuh budidaya ikan dalam rangka meningkatkan daya tubuh masyarakat. Targetnya tahun 2020 angka konsumsi ikan naik menjadi 56.39/kg/kapita, dibanding tahun 2019. Mewujudkan upaya tersebut, maka Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memberi solusi untuk meningkatkan produksi ikan dengan budi daya ikan hingga mencapai jumlah produksi 4,5 juta ton.

Upaya ini selain bertujuan meningkatkan taraf kesehatan masyarakat juga membantu atas kesejahteraan nelayan dan pembudidaya ikan. Maka masyarakat dianjurkan untuk mengonsumsi banyak ikan, sebab kandungan gizinya yang bagus bagi tubuh dan juga membantu meningkatkan kecerdasan.

Hal ini tentu direspons baik oleh masyarakat Yogyakarta yang berinisiatif membangun budi daya ikan nila, seperti dalam kelompok budidaya ikan Mina Arum. Dengan memanfaatkan lahan kosong, beberapa diantara masyarakat termasuk juga saya, mengagendakan budi daya ikan nila. Target pasar kami dijual ke tengkulak ikan.

Tengkulak ikan nila yang kemudian didistribusikan ke berbagai rumah makan dan hotel di Yogyakarta. Sebelum kedatangan pandemi Covid-19, bisnis budidaya ikan nila MIna Arum ini lumayan lancar meski dengan melalui satu pintu yakni dijual kepada tengkulak ikan. Kami berlima merawat ikan bekerjasama dan saling menyemangati.

Mengapa harus ikan Nila? Karena warga Yogyakarta juga termasuk masyarakat yang suka mengonsumsi ikan nila. Harganya pun juga terjangkau, tidak seperti harga ikan lainnya. Kami melakukan perawatan mulai dari bibit hingga ikan siap panen. Membaca pasar di Yogyakarta, kebutuhan ikan nila bisa dibilang mencapai taraf banyak peminatnya. Panennya pun tidak tanggung-tanggung, dalam jumlah banyak.

Suatu hari pandemi datang di awal tahun 2020. Seluruh manusia di bumi dibuat takut untuk keluar rumah hingga muncul hastag ‘di rumah aja’ yang kemudian viral. Pemberitaan juga mulai gencar tentang bahaya Covid-19 yang mengancam hidup penderitanya. Sedangkan kami tidak bisa begitu saja diam atau menyerah terhadap keadaan. Ikan nila hasil budi daya kami harus terjual habis sebab akan terjadi penumpukan ikan di kolam, dan itu jelas tidak baik.

Awal tahun berlalu, kami masih memakluminya, tahun selanjutnya penjualan mulai berkurang hingga muncul aturan baru dari pemerintah yakni lock down, artinya pembatasan kegiatan dna keluar masuk antar daerah, serta pembatasan aktivitas di luar rumah. Kami Keadaan ini mempengaruhi keadaan bisnis budi daya ikan Mina Arum. Kami tidak bisa berjualan sebab tengkulak juga memutuskan tidak memesan ikan kepada kami di masa lock down. Keadaan ini berlangsung hingga April.

Sekitar empat bulan kami tidak menjual ikan, karena tidak adanya permintaan atau pemesanan dari tengkulak. Bisnis ikan ini memang hanya mengharap dari tengkulak. Keadaan ini tidak hanya mencekam kesehatan, juga berdampak pada ekonomi kami, nyaris bangkrut.

April berlalu begitu menyeramkan, kami beserta rekan kemudian saling mencari solusi untuk kembali bangkit dari keterpurukan keadaan. Akhirnya memutuskan pinjang biaya ke lembaga komunitas di Sleman, yaitu Unit Pengembangan Pembudidayaan (UPP). Kebetulan lembaga itu menyediakan layanan jasa simpan pinjam, seperti koperasi namun belum memiliki legalitas hukum.

Berbagai cara dilakukan untuk kembali menghidupkan budidaya ikan nila ini. Kami pun mencoba pergi ke Dinas Perikanan untuk mencari solusi atas keadaan ini. Pemerintah Dinas akhirnya memberi solusi supaya dijual ke kantor-kantor di sana. Tanpa pikir panjang akhirnya kami mencoba langkah ini, menjual kepada konsumen secara langsung.

Jam kerja kami bisa dikatakan melebihi 12 jam lebih, bagaimana tidak jika kami dengan jumlah tim di bawah 10 orang menangkap ikan dengan jumlah banyak, mulai dari panen, membersihkan ikan untuk memudahkan pembeli, dan mengirimnya ke konsumen. Waktu itu penjualan berangsur meningkat. Dalam seminggu sekitar satu ton ikan nila laku banyak. New normal memberi keberkahan kepada bisnis ini. Kami pun juga akhirnya membuka lapangan kerja kepada masyarakat.

Panic buying di kalangan masyarakat terhadap ikan nila kami di masa pandemi lalu. Kami sangat bersyukur sebab penjualan dalam seminggu sudah mencapai satu ton, dibanding selama empat bulan lamanya tidak terjual satu pun. Panic buying terhadap ikan nila menguntungkan kami untuk kembali bangkit dari keadaan.

Kami akhirnya menekuni pasar baru ini dan mulai mencobanya. Sebab tengkulak masih belum juga order ikan, sementara biaya operasional terus berjalan. Masing-masing kami memiliki job masing-masing, kami berbagi tugas, mulai panen, membersihkan ikan, dan mengirim, jam kerja kami juga bertambah, berangkat jam sembilan pagi pulang jam 10 malam.

Bisnis ini berangsur membaik, seiring berlalunya pandemi Covid-19. Pemesanan mulai bertambah dan tengkulak pun mulai memesan ikan lagi kepada kami. Artinya kami mencoba bermain di dua pasar, pertama target tengkulak ikan, kemudian konsumen secara langsung. Panic buying di masa pandemi ternyata berdampak positif dan negatif pada budi daya ikan nila ini.

Meski keadaan berangsur pulih, namun tetap saja masih dibawah standar. Ikan yang mulai menumpuk dengan jumlah beberapa kwintal ini harus segera laku di pasaran, maka kami menargetkan satu ton dalam sehari. Namun, itu tidaklah mudah meski penjualan satu ton dalam waktu seminggu. Menjual dengan strategi dua pintu ini ternyata juga membantu memulihkan keadaan.

Sebagaimana manusia dengan rencananya, dan Tuhan yang Maha Kuasa, keadaan kembali begitu seram, dan bisnis ini kembali diterpa problem lagi, yakni PPKM. Pertengahan tahun 2021 lalu, kasus pandemi meningkat, banyak orang terkena virus ini dan mayoritas mereka membutuhkan oksigen bantuan.

Akhirnya oksigen didistribusikan ke rumah sakit. Lalu bagaimana dengan ikan nila kami? Sebagaimana praduganya, Ikan nila kami dalam perawatannya membutuhkan oksigen sebab mereka tidak bisa ke permukaan air untuk menghirup oksigen, Jadi kami kekurangan oksigen, ketika itu. Seorang teman memberi usulan untuk mencoba hal baru sebagai alternatif.

Alternatifnya yakni menggunakan pemompa aquarium. Karena keawaman ini kami akhirnya mencobanya, daripada menanggung resiko keadaan ikan mati semua, kami akan rugi banyak. Bermodal keyakinan ini, kami pun mencobanya. Keesokan harinya, kami dibuat heran dengan keadaan yang tidak sewajarnya terjadi. Ikan nila mati sekitar berjumlah delapan kuintal banyaknya, dan kami rugi.

Lagi-lagi PPKM dan pandemi Covid-19 membuat bisnis kami akhirnya istirahat selama dua bulan. Sembari mencari cara lagi dan bangun dari kegagalan. Begitulah hidup yang tidak jarang sesuai dengan harapan dan impian manusia. Selama dua bulan itu kami mencari solusi lagi bersama-sama.

Suatu hari, bersamaan dengan kebutuhan operasional untuk mengejar pemasukan lagi, kami akhirnya mendapat proyek kerja sama dari lembaga BKIPM Yogyakarta, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Yogyakarta. Yaitu lembaga/instansi pemerintah di daerah Maguwoharjo, Sleman Yogyakarta, yang salah satu bagian agendanya bergerak di bidang sosial, yakni membagikan ikan segar kepada masyarakat. Kemudian Keadaan berangsur membaik kembali.