Pandemi Tanduk Majeng

Jembatan Suramadu. STIEBP

Lelaki itu menghentikan langkahnya setelah mengelilingi rumah dan pekarangan besar sebanyak tiga kali. Kini, tanah dan bangunan ini bukan lagi miliknya karena kemarin semua asetnya, termasuk isi rumah, kendaraan, dan mesin pertanian telah laku terjual.

Bibirnya menyunggingkan senyuman sembari tangannya menyeka keringat, seakan puas telah melakukan ritual perpisahan dengan tempat yang telah ditinggalinya selama lima belas tahun terakhir. Firasatnya mengatakan bahwa ia tidak akan pernah kembali lagi ke sini dan menjadi petani kentang di Minidoka County, Idaho, Amerika Serikat.

Tiba-tiba, lelaki yang bernama Brudin terjatuh dan batuk-batuk. Tangannya mendekap dadanya yang terasa panas, sakit kepala menyengat serasa dunia berputar, suhu badannya mendadak naik.

Ia mencoba menggapai sisi teras rumah untuk berdiri, tetapi batuk kering terus mendera, napasnya berat tersengal-sengal. Akhirnya, ia hanya dapat telentang dan merasakan lidahnya kelu. Penciumannya pun berkurang dan ia tidak dapat mengecap rasa, walaupun ada tanah yang masuk ke mulutnya ketika terjatuh.

Brudin berjuang beberapa jam agar tetap tersadar dengan badan yang menyandar pada sisi luar teras sebelum akhirnya ditemukan sopir taksi yang memang sudah dipanggil untuk mengantarkannya ke Boise Airport untuk pulang kembali ke tanah kelahirannya, Sumenep, Madura.

Sang sopir taksi pun akhirnya memapah tubuh lemah Brudin ke jok belakang dan membawanya ke Minidoka Memorial Hospital, bukan ke Boise Airport seperti tujuan semula. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Brudin mengigau dengan selalu menyebut kata ‘Suramadu, pesantren, Madura’ yang tidak dimengerti oleh sopir taksi itu.

Brudin terdampar di pedalaman Amerika adalah suatu kebetulan. Ketika itu, sebagai awak kapal pesiar MS Zaandam yang sedang berlabuh di New York Harbour, ia mendapatkan jatah libur setengah hari. Saat sedang jalan-jalan menuju Times Square di sekitaran Bryan Park 6th Avenue, terjadi aksi tembak-menembak antara gangster di sana. Kakinya robek terserempet peluru salah satu gangster karena peristiwa itu tepat di depan matanya.

Singkat cerita, ia diselamatkan oleh tuan penolongnya yang bernama Peter Mardosa. Kemudian, ia dibawa dan dirawat di rumah pertaniannya di Minidoka County, Idaho. Sebagai saksi kunci, tentunya Brudin banyak diburu, baik oleh kedua gangster maupun aparat penegak hukum New York Police Department (NYPD). Untuk itulah, Peter Mardosa berinisiatif menyembunyikan Brudin jauh dari New York ke rumahnya di pedalaman Amerika. Lebih tepatnya, di State of Idaho.

Sebagaimana tipikal orang Madura yang teguh memegang janji, sejak saat itu, Brudin giat dan tekun bekerja membantu Peter Mardosa dalam mengelola tanah pertaniannya. Peter Mardosa sangat terkesan dengan sikap dari Brudin yang penurut, tidak neko-neko, dan selalu riang gembira dalam mengerjakan setiap tugasnya.

Dalam bekerja, ia selalu bersiul menyanyikan lagu Tanduk Majeng yang sewaktu ditanya oleh Peter Mardosa tentang arti lagu tersebut, ia menjawab bahwa ini lagu mantra penyemangat. Abental ombek asapok angèn salanjânggah (berbantal ombak berselimut angin sepanjang malam).

Brudin sangat betah sekali bekerja di tanah pertaniannya Peter Mardosa yang luasnya hampir 42 hektare dengan pemandangan yang indah. Tepat di sebelah barat dibatasi oleh Danau Walcott dan di sebelah utara dibatasi oleh Sungai Snake River. Ia menyamakan bahwa Danau Walcott itu persis seperti Telaga Kermata dan Sungai Snake River itu persis seperti Kali Patrean di Sumenep sana.

Brudin juga menyadari bahwa statusnya adalah imigran ilegal, jadi ia tak pernah pergi ke mana-mana, karena begitu diketahui maka akan ditangkap, lalu dimasukan ke sel tahanan, dan kemudian dideportasi. Padahal, ia punya cita-cita untuk membangun pondok pesantren yang akan dinamai Pondok Pesantren Putri Aisyah, seperti nama nenek yang merawatnya sejak bayi.

Peter Mardosa hidup sendiri tanpa keturunan, istrinya meninggal beberapa tahun silam. Oleh karena itu, ia menganggap Brudin sebagai anakknya. Selama bekerja di sana, Brudin menerima gaji yang layak, ia pun sangat hemat dalam membelanjakan uangnya.

Setiap bulan, gajinya ditransfer kepada keponakannya bernama Fatimah agar uang tersebut dikelola olehnya. Sebab, cita-cita Brudin adalah mendirikan pondok pesantren di desa kelahirannya, Desa Tanah Merah, Madura.

Brudin betah hidup menyendiri setelah ia dikhianati istrinya sewaktu ditinggal bekerja di kapal pesiar. Dalam hidupnya, ia hanya punya dua cita-cita, yakni ingin membangun pondok pesantren dan ingin jalan kaki bolak-balik tiga kali menyeberangi Jembatan Suramadu yang belum pernah dilihatnya, kecuali di Internet.

Ia percaya bahwa Presiden Megawati, sebagai pemrakarsa Jembatan Suramadu telah menerima wangsit dari leluhurnya bernama Arya Wiraraja untuk membangun jembatan yang menghubungkan Jawa dan Madura. Sering kali menjelang tidur, Nenek Aisyah menuturkan bahwa ia adalah keturunan Arya Wiraraja. Sebagai bukti, ada toh (tanda lahir) di pergelangan tangan kirinya.

Katanya, Arya Wiraraja leluhur yang sakti mandraguna itu membangun jembatan agar dapat dilewati oleh bala tentara Sumenep. Hal itu untuk membantu Raden Wijaya mengusir pasukan Tar-tar kembali ke Mongol. Arya Wiraraja hanya menjulurkan lengannya ketika membangun jembatan itu. Kemudian, lengannya memanjang dan membesar sampai ke pulau jawa, akhirnya seluruh para tentara dapat melewatinya.

Dua minggu yang lalu, Peter Mardosa tiba-tiba jatuh sakit, persis seperti yang dialami Brudin saat ini. Namun, sebelum dibawa ke rumah sakit, Peter Mardosa menyuruh Brudin menelepon Mr. Thompson, pengacaranya. Ia meminta Brudin memanggil pengacaranya untuk segera datang ke rumah. Rupanya, Peter Mardosa sudah mempunyai firasat bahwa ia telah mendekati hari-hari akhir dalam hidupnya. Ia memanggil Mr. Thompson untuk mengurus semua hartanya agar diwariskan kepada Brudin.

Kurang dari seminggu, Peter Mardosa pun meninggal dunia. Kemudian, diketahui bahwa penyebabnya adalah Covid-19. Brudin sangat terpukul. Beberapa hari setelah pemakaman, ia tak melakukan apa-apa. Akhirnya, ia mengambil keputusan untuk pulang ke Madura dan menjual semua aset yang kini telah menjadi miliknya.

Sekarang, dalam kesendiriannya, napas Brudin tersengal-sengal di bangsal rumah sakit Minidoka Memorial Hospital. Ia terus membayangkan pondok pesantren dan sebuah jembatan indah yang membentang dari tanah Jawa ke Madura sembari mendengdangkan lagu Tanduk Majeng.

Ngapotè wak lajârâh è tangalè (layar putih mulai kelihatan)

Rèng majâng tantona lah padâ mole (nelayan tentulah sudah pada pulang)

Mon è tengguh deri abid pajâlânnah (kalau dihitung dari lamanya perjalanan)

Masè benyak’ah onggu le ollèna (sepertinya sangat banyak perolehanya)

Duh, mon ajâlling odiknah oreng majângan (kalau dilihat kehidupan orang nelayan)

Abental ombek asapok angèn salanjânggah (berbantal ombak berselimut angin selamanya)

Olè… olang, paraonah alajârâh (perahunya segera berlayar)

Olè… olang, alajârâh ka Mâdurâ (akan berlayar ke Madura)