Pasang Surut Budi Daya Ikan Nila Dampak Pandemi

Distribusi Ikan Nila Budi Daya Mina Arum. DYOGI MIYOSA

Awal Januari tahun 2020 budi daya ikan nila Mina Arum seperti tengah mengalami mimpi buruk yang tidak terduga sebelumnya. Kami menduga dunia akan baik-baik saja, tapi ternyata tidak demikian. Sebagai pelaku ekonomi yang bergerak dalam sektor bisnis usaha mandiri, tidak jauh berbeda dengan pelaku bisnis lainnya. Merasakan pasang surut. kadang untung dan juga rugi.

Namun, kali ini keadaan berbeda dari biasanya. Januari mulai berkembang isu wabah penyakit mengerikan di Wuhan Cina yang menyebabkan banyak nyawa lenyap (meninggal). Media mulai menyoroti kabar tersebut, sering menjadi headline surat kabar tentang bahayanya virus yang mewabah tersebut.

Nama virusnya dikenal dengan istilah virus Corona atau Covid-19. Virus yang diduga muncul akhir tahun 2019 itu di suatu daerah yakni Wuhan, kawasan Cina. Virus mematikan bagi masyarakat yang terdampak. Penyebarannya pun cukup massive.

Akhirnya banyak penduduk di bumi ini yang mulai takut terdampak virus. Efek dari virus ini selain terhadap kesehatan juga pada berbagai bidang, termasuk ekonomi. Akhirnya bisnis budi daya ikan kami mengalami masa buruk, Tidak ada tengkulak yang membeli ikan kami.

Keadaan berlangsung hingga April. Mulai dari Januari hingga April 2020, tidak ada pesanan, ikan nila di kolam menumpuk, sedangkan biaya operasional terus berjalan. Apa yang kami lakukan dalam keadaan ini? Tidak begitu berharap banyak selain ada yang membeli ikan nila hasil budi daya ini.

Pasar kami hanya terbatas menjual kepada tengkulak, atau bekerja sama dengan para pedagang ikan yang nantinya mereka mendistribusikannya kepada rumah makan. Ternyata dalam kondisi pandemi, tidak dapat diharapkan. Akhirnya kami mencari solusi dengan mendatangi Dinas Perikanan sekitar.

Sesuai dengan dugaan, kami mendapat solusi yang harus dilaksanakan. Yakni menjual ikan kepada konsumen secara langsung. Pihak Dinas meminta kami menjualnya kepada pegawai di kantor sana.

Kami mencobanya, ternyata lumayan banyak yang memesan. Harga nuga tetap masih terjangkau dan tidak jauh berbeda dengan harga pasar. Kami memberi pelayanan maksimal kepada pembeli dengan membersihkan ikan sehingga konsumen bisa terima bersih tanpa repot membersihkannya lagi, mereka cukup pesan dan bayar kami akan mengantarkan.

Bagaimana hasilnya? Meski tidak begitu signifikan mencapai target, namun kami bersyukur setidaknya ikan terjual dan tidak menumpuk di kolam. Dalam seminggu ikan nila terjual sebanyak satu ton.

Bagaimanapun kami harus mensyukuri keadaan ini, kami menekuni pasar baru ini selama masa pandemi. Untungnya ketika kami menjual ikan, bertepatan dengan momen panic buying masyarakat.

Mereka yang takut keluar rumah dan menghindari ke pasar akhirnya memesan kepada kami. Kami juga memperbesar cakupan pasar, tidak hanya di wilayah pegawai Dinas Perikanan, bahkan ke masyarakat secara umum.

Pesanan demi pesanan mulai berdatangan dari berbagai RT dan RW, kami juga siap mengantarkannya. Penawaran jasa ini supaya mencapai target laku terjual habis, juga membuat jam kerja kami bertambah.

Jadwal di masa saat ini jauh berbeda, bahkan mencapai 12 jam lebih kami bekerja mulai dari panen ikan, memberi makanannya, membersihkan ikan, hingga mengantarkan ke konsumen. Banyaknya pesanan mengharuskan kami membuka lowongan kerja baru dan memberi kesempatan kepada masyarakat sekitar hingga masyarakat umum.

Respons yang baik, dalam waktu yang tidak lama, banyak kerja yang hendak bergabung menjadi tim bagian dari budi daya ikan nila Mina Arum ini. Langkah ini adalah alternatif supaya pekerjaan dapat selesai sesuai pesanan. Sebab kebanyakan konsumen lebih senang jika barang pesanannya cepat datang.

Pandemi masih belum juga usai, muncullah new normal. Kenormalan baru ini yang digadang-gadang oleh pemerintah merupakan upaya untuk memperbaiki tatanan yang sempat terhenti dengan pembatasan aktivitas yang longgar.

Para tengkulak atau pedagang ikan mulai memesan ikan nila kepada kami, tapi dalam volume yang tidak banyak seperti biasanya. Alasannya banyak orang yang masih enggan keluar rumah sebab takut terdampak virus Corona.

Hari demi hari berlalu begitu baik. Penjualan semakin meningkat meski tidak mencapai target tiap harinya. Namun, selalu saja ada konsumen yang memesan ikan kepada kami.

Awalnya bagi kami, pandemi merupakan mimpi buruk. Lama kelamaan, pandemi memberi kesempatan kepada kami untuk membuka pasar baru lagi, yakni menjual ikan secara langsung kepada konsumen.

Setelah new normal, kami memiliki dua pasar dalam penjualan ikan, pertama kepada pedagang, kedua kepada masyarakat secara langsung. Untuk mencapai target, di masing-masing RW ada yang berperan sebagai marketer, yang menawarkan ikan kepada masyarakat. Mereka kemudian mencatatnya.

Kami membuka layanan pendaftaran pesanan khusus hari Sabtu. Ikan diantar hari Senin sebab hari minggunya ikan dibersihkan. Cara seperti ini sepertinya lebih efektif dan efisien. Selain itu langkah kami, menjual secara langsung jika ada yang datang ke tempat kami. Intinya kami tidak membatasi pasar.

Pasang surut keadaan dalam bisnis budi daya ikan tidak jauh berbeda dengan bisnis lainnya. Ternyata efek pandemi tidak hanya berdampak negatif, tapi ada juga yang positif.

Respons dari Dinas Perikanan sangat membantu memulihkan keadaan bisnis budi daya ikan nila. Kuncinya memang harus terbuka terhadap pemikiran luar. dan mau mencoba hal baru yang lebih masuk akal.

Mungkin agak sulit di awal, namun lama-lama dapat menjadi alternatif yang menguntungkan. Kami belajar step by step membenahi kekurangan. Dukungan dari lingkungan membuat bisnis ini bertahan hingga saat ini.

Namun, persaingan bisnis ikan nila sudah pasti ada. Kami tidak mengurangi harga yang demikian meski itu menguntungkan dan menarik daya beli masyarakat. Kesepakatan harga antara pembudidaya ikan memang harus disepakati. Inilah yang dinamakan bersaing secara sehat.

Namun, selalu saja ada yang mengacaukan, semisal ada yang membudidayakan ikan dan dengan harga penjualan yang tidak sebanding dengan harga pasar. Akhirnya banyak masyarakat yang mulai bergeser daya belinya kepada mereka. Hal ini pun pernah dialami kami.

Keadaan pasang surut budi daya ikan memberi warna yang variatif. Sebagaimana bisnis, jika tidak untung ya rugi begitu sebaliknya. Oleh karena itu satu hal yang masih menjadi PR bagi kami, tetap memaksimalkan pelayanan dan marketing untuk menjangkau pasar dan konsumen lebih banyak lagi. Masyarakat harus mencicipi ikan yang sehat dan segar, supaya imun tubuhnya tetap terjaga dengan baik.

Inilah yang rupanya juga sedang diprioritaskan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dengan mendukung budi daya ikan di berbagai daerah, tujuannya supaya tingkat konsumsi masyarakat terhadap ikan segar meningkat. Dengan begitu tingkat kesehatan masyarakat juga semakin tinggi.

Sejalan dengan prioritas ini, kami juga menjual ikan segar dalam keadaan bersih. Pelayanan seperti ini tentu membantu konsumen tidak kerja dua kali. Dengan menjaga kualitas, kami percaya bisnis budi daya ikan nila Mina Arum menjadi rekomendasi yang tepat untuk masyarakat Jogja dan sekitarnya.