Pendidikan Karakter Sejak Dini Ciptakan Kondisi Damai dan Berkeadilan

Pendidikan Karakter Anak. KEMENDIKBUD

Ini kisah saya ketika nyantren di Pondok Pesantren Al Miftah yang terletak di Padukuhan Kauman, Kalurahan Jatisarono, Kapanewon Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo. Pada kisah sebelumnya, saya menyinggung tentang kegiatan yang dilakukan ketika di pondok, mulai dari bangun tidur sampai ngaji serta waktu pelaksanaan ngaji sesuai dengan jadwal yang sudah dibuat. Kali ini saya akan bercerita tentang peraturan yang tertulis serta konsekuensi yang akan didapat ketika melakukan pelanggaran.

Ketika di pondok pesantren tersebut, saya mendapati beberapa santri yang kedapatan mencuri. Barang yang dicuri bermacam-macam, mulai dari kerudung hingga baju. Akan tetapi, kasus pencurian kebanyakan terjadi pada uang. Tepatnya, uang saku yang diberikan orang tua dan sudah diletakkan di lemari masih saja dapat dicuri. Nominal uang yang dicuri berkisar antara Rp10.000 sampai Rp1.000.000. Entah apa motif yang mendorongnya melakukan pencurian tersebut.

Barangkali, santri yang melakukan pencurian waktu itu karena uang saku yang ia dapatkan dari orang tua sudah habis sehingga hal tersebut rela ia lakukan. Tentu, lembaga ini memiliki peraturan di dalamnya, yang mana setiap anggota wajib mematuhi ketentuan yang ada. Ketika mereka tidak mematuhi peraturan maka mereka harus membayar konsekuensi berupa hukuman.

Hukuman yang telah ditetapkan oleh pondok pesantren bermacam-macam. Ketika seorang santri tertangkap basah melakukan mencuri maka akan diberikan sanksi ringan terlebih dahulu. Jika hal itu masih saja diteruskan, mau tidak mau santri tersebut harus dikeluarkan dari pondok pesntren. Tindakan pencurian tidak hanya terjadi di lingkungan pesantren, banyak orang di luar area pondok pesantren yang melakukan pencurian, baik pencurian berupa barang-barang pribadi maupun uang.

Kasus pencurian merupakan salah satu dari beberapa tindakan kriminalitas. Tindakan kriminalitas merupakan kejahatan dalam bentuk tingkah laku yang bertentangan dengan moral kemanusiaaan, merugikan masyarakat, dan melanggar hukum serta undang-undang pidana. Tindakan kriminalitas terbagi menjadi empat bagia. Pertama, kelompok kejahatan terhadap hak milik seseorang. Kejahatan dalam bentuk ini contohnya adalah pencurian, perampokan, pembegalan, pembakaran yang disengaja, dan penggelapan.

Seperti halnya kasus pencurian yang terjadi di pondok pesantren. Kasus pencurian juga terjadi di berbagai sudut daerah. Berdasarkan data dari Kepolisian Republik Indonesia (Polri), kasus tindakan pencurian dengan pemberatan mencapai 335 kasus, tindakan pencurian dengan kekerasan mencapai 63 kasus, tindakan pencurian kendaraan bermotor berjumlah 148 kasus, tindakan pencurian biasa berjumlah 581 kasus, dan tindakan pencurian lainnya sebanyak empat kasus.

Menurut R.H. Harahap dkk, dalam jurnalnya mengatakan bahwa ada beberapa indikasi atau faktor yang timbul sesaat sebelum melakukan tindakan pencurian, yaitu faktor ekonomi. Faktor ekonomi menjadi salah satu yang paling mempengaruhi tindakan kriminalitas. Terlebih mereka yang kehidupan ekonominya merosot, hal ini akan dijadikannya sebagai tambahan penghasilan untuk melangsungkan kehidupan.

Setiap individu tentu mempunyai pendapatan yang berbeda-beda, ia pun harus tetap memenuhi kebutuhan pokok yang terus meningkat. Karena ia tidak mampu mencukupi kebutuhan pokoknya, ia berpikir bahwa dengan melakukan pencurian akan menyelesaikan masalah.

Faktor lainnya adalah faktor individu. Faktor ini dipengaruhi oleh diri sendiri. Biasanya hal ini dilakukan oleh seorang yang menganggur. Karena sudah banyak lamaran pekerjaan yang ia masukkan, tetapi belum juga mendapat panggilan, ia berpikir bahwa dengan mencuri maka ia mampu hidup sebagaimana mestinya.

Selanjutnya adalah faktor kurangnya pengetahuan agama. Keyakinan dan pengetahuan seseorang mengenai agama membuatnya tidak memiliki iman yang kuat. Orang dengan kelemahan imannya cenderung mudah terpancing emosinya serta melakukan tindakan kejahatan. Dalam hukum Islam, jika melakukan pencurian selama satu kali, dihukum dengan dipotong tangan kanannya. Apabila ia masih mencuri untuk kedua kalinya maka hukuman potong di kaki kirinya.

Jika masih saja melakukan pencurian yang ketiga kalinya maka tangan kiri yang akan dipotong. Jika melakukan pencurian yang keempat kalinya, kaki kanannya yang dipotong. Jika pencuri masih saja belum jera maka akan dilakukan hukuman ta’zir.

Kedua, kejahatan terhadap hak pribadi. Contohnya pembunuhan, pemerkosaan, dan penganiayaan. Hal tersebut dapat dimuat dalam satu fokus, yaitu tindakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Saat ini, angka kasus KDRT di Indonesia masih tinggi dan mayoritas KDRT dilakukan terhadap istri. Bahkan, menurut Komnas Perempuan serta LBH APIK Jakarta menyatakan bahwa terjadi peningkatan kasus KDRT sejak pandemi Covid-19.

Saat ini, kekerasan terhadap istri menempati peringkat pertama dengan 50 persen atau 3.221 kasus. Terdapat beberapa faktor yang mengakibatkan terjadinya KDRT pada masa pandemi. Salah satunya adalah karena aktivitas ekonomi selama pandemi menjadi terhenti.

Ketika pandemi covid-19 menyerang Indonesia, banyak terjadi Pemutus Hubungan Kerja (PHK) sehingga tidak ada pemasukan untuk membiayai kehidupan sehari-hari. Berdasarkan permasalahan tersebut, dapat memicu tekanan yang menyebabkan emosi yang berujung pada kekerasan fisik.

Ketiga, kelompok perilaku negatif menurut pandangan masyarakat. Misalnya perjudian, pelacuran, dan narkotika. Saya akan mengambil contoh pada tindakan kriminal narkotika. Narkotika merupakan salah satu tindakan kriminal ketika seseorang mengonsumsi narkotika dengan sengaja dan penuh kesadaran. Fungsi mengkonsumsi narkotika bagi peminumnya adalah untuk sekadar menghilangkan stres atau menghilangkan rasa lelah. Namun, hal tersebut justru merugikan dirinya sendiri.

Dalam berita yang dimuat oleh Kata Data, jumlah pengguna narkoba atau narkotika tahun ini mengalami peningkatan, yaitu 0,03 persen menjadi 3,6 juta orang. Bahkan, pengguna narkoba rata-rata berada di rentang usia dari 15 hingga 65 tahun. Penyalahgunaan narkoba yang dilakukan secara terus menerus akan mengakibatkan terjadinya gangguan kesehatan yang dialami pengguna. Seperti gangguan pada jantung, otak, sistem saraf, paru-paru, serta dapat terinfeksi penyakit menular seperti AIDS.

Menurut Muhammad Iqbal R.B. (2019), pada era ini tingkat kepedulian pada masyarakat terhadap keadaan suatu bangsanya berada di titik paling bawah. Hal itu tidak terlepas dari pemikiran yang terkontaminasi dengan masuknya racun-racun yang memengaruhi. Salah satu racun yang telah merambah di kalangan sebagian besar masyarakat Indonesia adalah narkotika, seperti yang telah saya paparkan di atas.

Keempat, kerusuhan dan pelanggaran lalu lintas. Kerusuhan sering terjadi di kalangan pelajar dan mahasiswa. Biasanya, hal itu disebabkan oleh perselisihan antarsekolah atau antargeng. Kerusuhan ini akan mengakibatkan perkelahian yang menimbulkan kekerasan. Selain tindak kerusuhan, beberapa pelajar dan mahasiswa juga melakukan demo yang terkadang berakhir kurang kondusif. Hal tersebut juga akan mengakibatkan sebuah perkelahian jika tidak dikondisikan dengan baik dan tertib.

Pelanggaran lalu lintas sering terjadi di jalan raya. Pelanggaran itu tetap saja dilakukan oleh seseorang karena tidak mengindahkan peraturan yang ada. Dampak yang akan muncul ketika orang melanggar larangan lalu lintas, salah satunya adalah terjadi kecelakaan. Kecelakaan yang dialami akan berimbas pada diri sendiri. Jadi secara tidak langsung, ia telah melakukan tindakan kriminalitas kepada dirinya sendiri.

Hal di atas adalah beberapa tindakan kriminalitas yang ada di Indonesia. Tindakan kejahatan atau kriminalitas yang terjadi di Kabupaten Bantul mengalami kenaikan. Sepanjang periode tahun 2021, terjadi kenaikan kasus sebanyak 206 kasus dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yakni pada tahun 2020 terdapat 1039 kasus. Sedangkan, di tahun 2021 menjadi 1245 kasus. Kenaikan ini disebabkan meningkatnya pemeriksaan yang dilakukan Polres Bantul dalam mengungkap kasus.

Kasus kejahatan yang saat ini sedang marak terjadi adalah pencurian. Pencurian dalam konteks ini meliputi pencurian kendaraan bermotor, pencurian dalam rumah, dan pencurian dengan kekerasan. Berdasarkan data, kasus pencurian kendaraan bermotor terjadi peningkatan. Pada tahun 2020 ada 103 kasus, kemudian di tahun 2021 meningkat menjadi 104 kasus.

Salah satu contoh, terjadi pencurian sepeda motor yang di Kapanewon Jetis beberapa bulan yang lalu. Sepeda motor bermeerk Yamaha NMAX dicuri oleh dua orang warga asal Kabupaten Bantul dan Sleman. Peristiwa itu terjadi di Toko Asna Sumber Agung, Jetis, Bantul.

Penangkapan berawal dari seorang wanita yang melaporkan kehilangan motornya. Kemudian, polisi melacak CCTV yang ada di sekitar toko. Berdasarkan pemantauan CCTV, pencuri berhasil ditangkap dan dijatuhi hukuman masing-masing tujuh dan empat tahun. Belum diketahui secara pasti motif di balik kasus kriminal yang mereka lakukan.

Kemudian, pencurian yang dilakukan dalam rumah. Beberapa waktu yang lalu sempat viral sebuah pencurian yang dilakukan oleh seorang pemuda di Kabupaten Bantul. Pemuda tersebut rela mencuri perabotan di rumah sendiri dengan dalih untuk membahagiakan sang pacar yang berada di Jawa Timur.

Jika ditotal, perabotan yang sudah ia jual selama ini mencapai 30 juta. Bahkan, terakhir kali ia rela menjual genteng rumahnya sendiri. Tentu ibunya merasa kesal dan kewalahan sehingga membuat keputusan untuk melaporkan anaknya ke pihak yang berwajib.

Melihat dan menganalisis beberapa kejadian tindak kriminalitas di atas, apakah menurut kalian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), khususnya di Kabupaten Bantul sudah cukup aman dan damai? Tentu belum. Oleh karena itu kesadaran akan berbahayanya tindak kriminal perlu ditanamkan sejak dini.

Sikap yang dapat ditanamkan pada anak dengan usia balita adalah melalui cara melatih kejujuran. Kejujuran yang sudah ditanamkan pada anak usia balita ini akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan di masa selanjutnya.

Mulailah dari hal kecil saja, tanamkan pada anak sikap jujur dengan contoh. Ketika seorang anak melihat selembar uang yang tergeletak di lantai maka sang Ibu perlu memberikan pemahaman bahwa barang yang tergeletak begitu saja tidak boleh diambil karena bukan haknya.

Tidak hanya belajar tentang kejujuran, anak sudah sepatutnya dibekali dengan pendidikan karakter yang baik. Sebelum anak menduduki bangku sekolah, tumbuh dan kembangnya sangat dipengaruhi oleh cara orang tua mendidik. Oleh karena itu, pendidikan karakter yang terbangun dari rumah dan kuatnya ikatan anak dengan orang tua dapat menjadi benteng dari lingkungan sekitar anak yang kurang baik.