Pendidikan Kewirausahaan di Pondok Pesantren Guna Mencapai Kemandirian Ekonomi

Unit Usaha Pondok Pesantren Lintang Songo. STAI YOGYAKARTA

Saat mendengar kata santri, hal apa yang pertama kali terlintas dipikiran? Kalau saya, yang terpikirkan adalah kata ‘mandiri’. Mengapa begitu? Pertama, mereka rela berjauhan dengan orang tua. Kedua, mereka dituntut harus mengerjakan semuanya seorang diri. Biasanya, ketika saya di rumah, baju masih dicucikan oleh orang tua. Berbeda dengan kehidupan di pondok, saya harus mencucinya sendiri. Ketiga, mereka juga dituntut harus dapat mengatur waktu, terlebih lagi dengan jadwal mengaji yang cukup padat sekaligus jadwal sekolah.

Mereka yang terbiasa dimanja ketika di rumah, akan merasa kaget dengan suasana baru yang mereka temui. Tidak hanya soal mencuci baju atau mencuci piring sendirian, mereka juga harus mampu berbaur dengan santri-santri lain.

Masing-masing orang mempunyai karakter yang berbeda, tentu berbeda pula cara menghadapinya. Dengan perbedaan karakter itu, santri diharap mampu memahami satu sama lain. Peran pengasuh juga sangat penting dalam hal ini. Pengasuh perlu membersamai para santri untuk dapat bersatu dalam perbedaan karakter.

Salah satu hal yang dilakukan oleh pengasuh adalah dengan melakukan kegiatan berwirusaha untuk para santri. Kegiatan tersebut sudah berlangsung di salah satu pondok pesantren yang berada di Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, yaitu Pondok Pesantren Al Imdad. Selain sebagai saran menyatukan para santri dalam rangka untuk memahami karakter antara satu dengan yang lainnya, hal ini bertujuan untuk menciptakan kemandirian ekonomi pada pondok pesantren tersebut.

Pondok Pesantren Al-Imdad ini mampu memberikan perubahan sosial masyarakat di daerah sekitarnya. Pondok pesantren yang didirikan oleh Humam Bajuri pada tahun 1980, terus mengalami peningkatan yang pesat. Dibuktikan pada tahun 2013, pesantren ini sudah memiliki 250 santr. Pada tahun 2017, jumlahnya mengalami peningkatan hingga mencapai 550 santri. Sudah dapat dibayangkan, berapa kira-kira jumlah santri pada tahun ini?

Setelah Humam Bajuri wafat pada tahun 1996, tongkat estafet kepengurusan dilanjutkan oleh istrinya yang bernama Aisyah Humam dan anaknya. Dengan berbagai upaya dan jerih payah, ia mampu mendirikan lembaga pendidikan. Saat itu, ia hanya mampu mengelola Madrasah Tsanawiyah (MTs). Seiring bertambahnya waktu, jumlah santri semakin meningkat sehingga ia mendirikan sebuah lembaga pendidikan berupa Madrasah Aliyah (MA) yang didirikan pada tahun 2012.

Terdapat dua program yang dikembangan Pondok Pesantren Al-Imdad, yaitu program pendidikan dan program pemberdayaan ekonomi santri. Program-program pendidikan yang ada di pondok pesantren tersebut, di antaranya Tahfidzul Qur’an, Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), Madrasah Diniyyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, Ma’had Aly, Pembelajaran Membaca Kitab Kuning, Majlis Ta’lim, dan Majlis Mujahadah.

Kemudian, program pemberdayaan ekonomi santri yang merujuk pada wirausaha santri, berdiri di bawah Lembaga Mandiri Mengakar di Masyarakat atau biasa disebut LM3. Lembaga tersebut merupakan wadah bagi santri serta warga sekitar pondok pesantren untuk meningkatkan penghasilan.

Saat ini, bidang yang digarap adalah bidang pertanian karena sebagian besar santri dan alumni merupakan petani. Terdapat beberapa kegiatan dalam lembaga ini, yaitu pengolahan sampah dan pendirian toko I-Mart.

Kegiatan pengolahan sampah bertujuan untuk meningkatkan budaya hidup sehat dengan menjaga kebersihan lingkungan melalui pemanfaatan limbah. Hal tersebut juga bertujuan untuk meminimalisasi dampak negatifnya. Selain dapat mengurangi pencemaran lingkungan, juga dapat mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Beberapa kegiatan pengolahan sampah yang telah dilakukan adalah pembuatan pupuk organik.

Pupuk organik dibuat menggunakan sampah dan limbah yang ada di pondok pesantren. Limbah yang terkumpul, kemudian dipisahkan menurut spesifikasinya masing-masing, yaitu sampah organik dan anorganik. Setelah itu, sampah difermentasi menggunakan dekomposer.

Dekomposer adalah organisme yang menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme mati. Pembuatan dekomposer dengan menggunakan bahan-bahan yang mudah didapat, seperti bawang merah, pisang, tempe, dan nanas yang dilarutkan dalam larutan gula.

Cairan tersebut diendapkan sekitar dua minggu, lalu dilarutkan ke dalam air dan disemprotkan pada sampah yang akan dibuat menjadi kompos. Proses fermentasi sampah membutuhkan waktu 20 hingga 25 hari. Setelah itu, kompos siap dikemas dan dipasarkan.

Selain itu, Pondok Pesantren Al-Imdad juga mempunyai kebun bibit yang diproduksi sendiri. Bibit yang diproduksi, antara lain bibit sengon, mahoni, pepaya, jambu biji, dan lain-lain. Media yang digunakan adalah tanah yang dicampur dengan kompos hasil dekomposisi sampah.

Kegiatan beternak juga dilakukan di Pondok Pesantren Al-Imdad. Kegiatan ini berfungsi sebagai katalisator siklus pengelolaan sampah. Kambing yang dirawat difungsikan sebagai pemakan sampah dedaunan. Selain itu, kotoran yang berasal dari kambing dapat dimanfaatkan pula menjadi pupuk tanaman. Sedangkan, belibis berfungsi sebagai predator sampah sisa makanan karena sampah akan menimbulkan bau yang tidak sedap jika difermentasi menjadi pupuk.

Selanjutnya, Pondok Pesantren Al-Imdad juga melakukan kegiatan pemanfaatan sampah menjadi kerajinan. Tidak semua sampah anorganik laku dijual ke pengepul. Sampah yang tidak terjual akan dibuat kerjajinan. Namun, pengelolaan sampah ini sifatnya masih pembelajaran, jadi masih sangat diperlukan pelatihan.

Kegiatan wirausaha yang lain adalah pendirian I-Mart, yaitu sebuah unit usaha pesantren yang bergerak di bidang ekonomi berupa toko serba ada. Pendirian I-Mart bertujuan untuk menciptakan kemandirian pondok pesantren serta mengimplementasikan perannya dalam membantu pemulihan ekonomi nasional pondok pesantren. Sejak peresmian yang dilakukan pada 26 oktober 2021, I-Mart yang berlokasi di pusat Kabupaten Bantul ini telah berkolaborasi terhadap perputaran roda ekonomi dengan melayani kebutuhan masyarakat.

Tidak jauh berbeda dengan Pondok Pesantren Al-Imdad. Penerapan kegiatan wirausaha juga dilakukan di Pondok Pesantren Lintang Songo. Pondok pesantren pada umumnya mendidik santri dengan pendidikan berbasis agama, tetapi berbeda dengan Pondok Pesantren Lintang Songo.

Pondok Pesantren yang berlokasi di Kapanewon Piyungan, Kabupaten Bantul ini, selain mengajarkan ilmu agama, juga menekankan pendidikan berupa keterampilan. Para santri yang ada di pondok pesantren tersebut, selain diberi bekal pendidikan agama, juga diajarkan cara berwirausaha dengan praktik secara langsung.

Area pondok pesantren yang mempunyai keanekaragaman hayati, kemudian dimanfaatkan sebagai sarana untuk menghasilkan bahan pangan dan sumber energi. Pondok pesantren yang sudah berdiri sejak tahun 2006, kini mempunyai 21 jenis unit usaha.

Berawal dari hobi keluarga besarnya, yaitu budi daya pada bidang pertanian serta pekerjaannya sebagai guru mengaji pada saat itu, usaha tersebut bergerak di bidang pertanian, peternakan, perikanan, penatu, pembuatan roti, konveksi, hingga pembuatan sabun. Unit usaha Pondok Pesantren Lintang Songo dikembangkan oleh 60 santri.

Pasca gempa 2006 yang meluluhlantakkan semua bangunan pesantren, ia mendapatkan bantuan kemitraan Australia-Indonesia untuk membangun gedung Pondok Pesantren Lintang Songo. Berbeda dengan pondok pesantren pada umumnya, pesantren ini lebih mengedepankan pendidikan berbasis karakter.

Artinya, santri yang belajar di sini juga akan dibimbing mengenai pemahaman usaha sekaligus praktik langsung. Hal tersebut sesuai dengan visi dan misi pengasuh Pondok Pesantren Lintang Songo, yakni agar para santri menjadi insan yang berkualitas, bermanfaat untuk orang banyak, dan menjadi orang yang mandiri. Para santri diharapkan dapat menghadapi dan menyelesaikan permasalahan hidupnya sesuai dengan nilai kewirausahaan yang sudah diajarkan.

Pendidikan kewirausahaan yang diajarkan santri bertujuan agar para santri pandai berwirausaha, tidak hanya pandai mengajar. Pendidikan keterampilan yang digeluti adalah usaha bisnis rumahan, seperti usaha penatu, pembuatan es, pembuatan roti, usaha parut kelapa, usaha giling tepung, dan pembuatan sabun.

Berbagai sabun telah dibuat oleh santri, seperti sabun cuci piring, sabun cuci tangan, dan sabun cuci baju. Modal awal yang dikeluarkan untuk pembuatan sabun menghabiskan uang sebesar Rp250.000 dengan menghasilkan 100 liter sabun. Bahan yang diperlukan untuk pembuatan sabun sebanyak 40 liter adalah 1.200 gram, coto 40 kilogram, foambaster 240 gram, sodium 400 gram, Linear Alkylbenzene Sulfonate (LAS) 1.400 gram, enzim AR 40 gram, teilon 24 gram, devisil 44 gram, pewarna 25 gram, dan parfum 60 gram.

Semua bahan dicampur dengan air sebanyak delapan liter dan diaduk secara terus-menerus hingga bahan tercampur secara merata. Setelah bahan tercampur dan rata, ditambah air lagi sampai 40 liter sehingga menghasilkan sabun 40 liter. Lama proses pembuatan sabun memakan waktu sekitar delapan jam.

Berdasarkan pendidikan kewirausahan yang dihadirkan oleh Pondok Pesantren Al-Imdad dan Pondok Pesantren Lintang Songo, dapat disimpulkan bahwa penanaman nilai kewirausahaan pada era ini sangat penting. Selain dapat berguna bagi santri untuk menciptakan kemandirian pangan keluarganya ketika sudah keluar dari pondok pesantren, hal tersebut juga mengajarkan para santri untuk berpikir luas serta memahami kondisi sekitar.

Setelah pemahaman tersebut didapat, para santri diharapkan mampu membuat inovasi. Diharapkan pula, para santri dapat menciptakan peluang, menanam kepercayaan diri, serta memahami kondisi ekonomi yang semakin sulit karena peresentase penduduk miskin di Indonesia semakin meningkat.