Peran Posyandu dalam Merespons Problem Stunting dan Lansia di Tamanmartani

Posyandu. KEMKES

Hal terpenting menyoal status gizi balita merupakan indikator derajat kesehatan. Stunting pada balita akhir-akhir ini masih menjadi persoalan yang terus disorot dan dicari solusinya.

Melihat lebih mendalam tentang stunting, dipahami sebagai permasalahan gizi serius yang mengakibatkan tumbuh kembang anak menjadi terhambat. Tinggi anak lebih kerdil dibanding seusianya. Hal itu bisa terlihat dari perawakan anak dengan ciri-ciri tinggi badan di bawah rata-rata.

Persoalan stunting bukan hanya merupakan persoalan pendek saja, tetapi dapat menyebabkan gangguan tumbuh kembang pada anak terutama anak di bawah umur dua tahun. Dampak serius pada anak yang mengalami stunting, ia akan mengalami keterlambatan perkembangan kognitif dan motorik sehingga mempengaruhi produktivitasnya saat dewasa.

Dampak lain pada anak yang mengalami stunting, berisiko menderita penyakit kronis di masa dewasanya seperti diabetes, obesitas, dan penyakit jantung. Hal tersebut dapat membebani negara sebab bisa menyebabkan peningkatan pembiayaan kesehatan.

Salah satu cara untuk menanggulangi hal tersebut adalah melakukan monitoring kesehatan dan perkembangan balita melalui Program Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu).

Menanggapi isu problem stunting dan pencegahannya, Pemerintah mulai menggencarkan program posyandu. Sebagaimana upaya yang dilakukan pemerintah Tamanmartani dengan mengagendakan program posyandu.

Gandang Hardjanata selaku Lurah Tamanmartani memiliki pandangan khusus terkait hal ini, bahwa posyandu memiliki peran yang signifikan di tengah masyarakat. kegiatan posyandu cukup banyak, tidak hanya pelayanan bayi, ternyata ada pula program posyandu yang juga diperuntukkan bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan pasangan usia subur.

Posyandu merupakan program yang tepat hadir di tengah masyarakat dan menjadi garda terdepan dalam pencegahan stunting pada anak. Hal ini dibuktikan dengan adanya penurunan balita kasus stunting di berbagai wilayah. Kehadiran Posyandu menjadi alternatif pelayanan kesehatan terdepan dari Pemerintah.

Titik utama kekuatan Posyandu adalah pada deteksi awal dan kader di lapangan. Deteksi awal tersebut juga terkait pada pemantauan pertumbuhan dan perkembangan bayi seiring berjalannya usia. Oleh karena itu jika ditemukan masalah atau abnormalitas pertumbuhan anak di usia 0 sampai 23 bulan bisa diketahui di posyandu.

Posyandu bisa menjangkau masyarakat secara langsung. Terutama bagi ibu-ibu yang bisa diberdayakan untuk selalu memperhatikan kesehatan anak dan keluarganya. Ibu-ibu yang sedang hamil dianjurkan untuk mengikuti kelas ibu hamil dengan rajin. Tujuannya supaya anak sehat serta terhindar dari risiko stunting.

Untuk anak usia remaja, dianjurkan untuk mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) secara teratur agar terhindar dari Anemia (kurang darah). Konsumsi TTD bermanfaat untuk meningkatkan konsentrasi belajar, dan lainnya.

Selain kegiatan pemantauan tumbuh kembang, ada pula kegiatan-kegiatan lain yang bersifat diseminasi informasi tentang gizi seimbang dan ASI eksklusif di posyandu, pemberian makanan bayi dan anak (PMBA) bertujuan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku positif ibu dan untuk mencegah stunting.

Jika ditemukan balita yang mengalami masalah gizi seperti stunting, kader akan melaporkan kepada bidan desa dan merujuknya kepada puskesmas agar mendapatkan penanganan lebih intens.

Pihak Pemerintah Kalurahan Tamanmartani juga kerap memberikan pelatihan kepada para kader posyandu. Oleh karena itu Pemerintah Kalurahan Tamanmartani menggandeng Tim Program Pengabdian Masyarakat (PPM) PKM Hibah Dana Kemenristekdikti Universitas Ahmad Dahlan (UAD) untuk menggelar pelatihan yang bertujuan meningkatkan kemampuan kader dalam melakukan deteksi dini masalah perkembangan bayi dan balita terutama terkait isu stunting.

Sebagai dukungan untuk program ini, maka kami mengagendakan acara penanggulangan stunting. Acara ini sebagai upaya meningkatkan kapasitas kader dalam penanggulangan stunting dan untuk meningkatkan kesadaran mengenai bahaya stunting pada anak.

Pelatihan kader se Kalurahan Tamanmartani membahas tentang pentingnya komunikasi terapeutic untuk para kader agar mampu memberikan komunikasi yang efektif, melakukan deteksi dini pada permasalahan gizi anak, dan cara menyajikan mpasi untuk bayi.

Pelatihan kader sangatlah penting karena mereka memiliki peran penting dan menjadi ujung tombak pelayanan masyarakat. Seperti di masa pandemi Covid-19, para kader posyandu terus melakukan pemantauan kepada balita di Kalurahan Tamanmartani.

Proses pemantauan terhadap balita dilakukan dengan sangat berhati-hati. Mulai dari sebelum diperiksa hingga setelah pemeriksaan, mengikuti protokol kesehatan yang ada. Termasuk memberikan pelayanan dan membersihkan alat-alat terlebih dahulu menggunakan desinfektan, dilengkapi dengan alat pelindung diri yang memadai, mulai dari masker, sarung tangan hingga face shield.

Pemberian vitamin dan gizi pada balita merupakan aspek yang semakin diperketat. Makanan yang diberikan bersifat alami bukan instan dan langsung dibungkus. Hal itu supaya lebih higiene dan ternetralisir dari kuman dan virus.

Pandemi memberi dampak yang cukup signifikan mulai dari kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan lainnya kepada masyarakat termasuk warga Tamanmartani. Namun, pandemi juga merekatkan keakraban dan kepedulian warga yang masih menjunjung sikap kebersamaan dengan perilaku gotong-royong membangun desa tanpa memandang perbedaan dan keadaan.

Problem Stunting Balita di Sleman

Ibu Kustini Sri Purnomo semasa menjabat sebagai Bupati Sleman waktu itu pernah mengatakan bahwa andaikata Pemerintah Kabupaten Sleman berhasil menekan kasus stunting dalam tiga tahun terakhir. Akhir tahun 2020 menunjukkan angka yang lebih baik, penekanan angka stunting di Sleman berhasil menjadi 7,24 persen dari total balita. Jika melihat Tahun 2017 lalu angka stunting sebanyak 11,99 persen menjadi 8,38 persen pada tahun 2019.

Salah satu faktor pendorong keberhasilan pencapaian ini adalah tersedianya regulasi Perbup Nomor 38/2015 tentang Inisiasi Menyusui Dini dan Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif. Selain itu juga adanya Perbup Nomor 27/2019 tentang Program Percepatan Penanggulangan Balita Stunting.

Ada beberapa capaian inovasi untuk mencegah bayi mengalami stunting, diantaranya Gerakan Tanggulangi Anemia Remaja dan Thalasemia (Getar Thala), Pelayanan Antenatal Care Terpadu Menuju Triple Eliminasi Menuju Semua Layanan (Pandu Teman), Pecah Ranting (Pencegahan Pada Rawan Stunting) dan Gambang Stunting (Gerakan Ajak Menimbang Cegah dan Atasi Stunting).

Langkah lain dari upaya Pemerintah Kabupaten Sleman ialah menggalakkan adanya konselor ASI dan motivator Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) terlatih di 25 puskesmas dan beberapa rumah sakit. Hal itu dalam rangka untuk menekan kasus stunting. Dinas Kesehatan juga terus menggenjot jumlah kader kesehatan supaya jumlahnya bisa mencukupi dan terlatih dalam melakukan pemantauan pertumbuhan dan membantu pelaksanaan kegiatan.

Untuk mendukung program ini supaya tetap berlanjut, Kabupaten Sleman mengupayakan sistem informasi, pencatatan, dan pelaporan berbasis elektronik seperti SIM KIA Sembada dan Pencatatan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e PPGBM). Namun, hal terpenting yaitu kerja sama lintas program dan lintas sektor dan ketersediaan anggaran, sarana dan prasarana untuk menekan kasus.

Upaya penekanan kasus stunting, yakni meningkatkan jumlah kader kesehatan sehingga jumlahnya bisa mencukupi dan terlatih dalam melakukan pemantauan pertumbuhan dan membantu pelaksanaan kegiatan.

Urgensi Mendirikan Posyandu Lansia

Posyandu di Kelurahan Tamanmartani tidak hanya bergerak melayani balita, posyandu ini juga mengupayakan perannya untuk melayani para lansia. Proses pelayanan posyandu tidak jauh berbeda dari posyandu balita, yaitu meningkatkan kesehatan lansia yang merupakan bagian dari warga Tamanmartani.

Para kader kesehatan berperan memberikan informasi kepada lansia tentang perilaku hidup sehat dan menjaga kesehatan termasuk di suasana pandemi seperti saat ini. Penyampaian informasi dilakukan dengan tepat dan santun supaya para lansia bisa mendapatkan informasi yang tepat dan jelas mengenai Covid-19. Upaya yang dilakukan oleh mereka seperti membagikan masker untuk para lansia.

Tujuan pendirian posyandu lansia tidak hanya untuk mempertahankan kesehatan fisik, tapi juga kesehatan mental mereka. Para lansia umumnya merasakan kesepian di usia itu karena jauh dari anak dan keluarganya. Dibangunnya Posyandu lansia juga sebagai wadah bertemu dan berkomunikasi dengan teman sebayanya mereka.

Beberapa hal yang dilakukan oleh petugas kesehatan dalam memantau kesehatan lansia, seperti mengecek tensi atau tekanan darah, kolesterol, hingga gula darah. Mereka juga memberikan bimbingan atau konsultasi kesehatan gratis, termasuk penerapan protokol kesehatan terutama di masa pandemi saat ini.

Pemantauan kesehatan lansia ini berlangsung seminggu sekali. Tujuannya untuk meningkatkan kesehatan warga. Adanya pemeriksaan tersebut dinilai dapat meringankan para keluarga lansia, khususnya bagi lansia dari ekonomi kurang mampu.

Dalam Undang-undang nomor 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia dijelaskan bahwa Indonesia juga memiliki kewajiban untuk mensejahterakan lanjut usia. Negara wajib memberikan perlindungan sosial bagi rakyatnya. Sehingga lanjut usia juga menjadi tanggung jawab suatu negara.

Berdasarkan Undang-undang tersebut sudah jelas terkait hak-hak para lansia dalam menjalankan roda kehidupannya. Hal itu juga dipaparkan dalam penjelasan pasal 19 Undang-undang nomor 13 Tahun 1998 bahwa upaya perlindungan sosial terdiri dari pemenuhan kebutuhan sosial para lanjut usia maupun kemudahan dalam mendapatkan pelayanan.

Perhatian khusus kepada lansia memang merupakan suatu keharusan. Hal ini pun sesuai dengan Undang-undang Nomor 13 Tahun 1998 pada Bab 1 Pasal 1 Ayat 2 yang menyebutkan bahwa usia 60 tahun adalah usia permulaan tua. Menua bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan proses yang berangsur-angsur mengakibatkan perubahan yang kumulatif, merupakan proses menurunnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam dan luar tubuh yang berakhir dengan kematian.

Permasalahan yang sering muncul pada lansia selalu dihadapkan pada berbagai persoalan yang menyangkut menurunnya daya tahan tubuh dan munculnya berbagai penyakit akibat usia lanjut. Kondisi ini sering menyebabkan lansia merasa bersedih hati. Belum lagi ia merasa sudah tidak berguna lagi karena pikiran dan tenaganya yang semakin hari melemah.

Keterbatasan yang dialami lansia menyebabkan mereka selalu tergantung pada orang lain. Ketergantungan yang semakin tinggi itu menyebabkan lansia mudah tersinggung, terutama jika mereka tidak diperhatikan atau diacuhkan oleh anak dan keluarganya.

Hal yang menjadi poin urgen bagi lansia adalah kesadaran dan pemakluman keluarga terdekat terhadap lansia, seperti perhatian dan kasih sayangnya kepada mereka supaya mereka tetap bahagia di masa tuanya. Perhatian dan kasih sayang tidak perlu berlebih, semisal kemewahan barang, makanan, dan lainnya. Realitanya, mereka hanya butuh perhatian (care) kita sebagai keluarga terdekat.