Perlawanan Kampung Glondong pada Serangan 1 Maret

Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949 KEMDIKBUD

Menurut cerita suwargi bapak dan simbah-simbah saya dahulu, pada masa Kanjeng Sinuhun Hamengkubuwono (HB) I, belum ada penduduknya dan masih berupa hutan belantara. Lama-kelamaan berkembang terus sampai ke wilayah Kampung Dukuh. Hingga akhirnya terbentuk tiga kalurahan, yaitu Kalurahan Cabeyan, Kalurahan Prancak, dan Kalurahan Krapyak.

Menurut perkembangan sejarahnya, Kampung Dukuh lebih dahulu berdiri daripada Kampung Glondong. Terbukti bahwa di Kampung Dukuh sudah ada tokoh masyarakat yang menjabat menjadi jagabaya.

Setahu saya, nama Padukuhan Glondong berasal dari aktivitas mengumpulkan upeti dari semua padukuhan di tiga kalurahan, kecuali Krapyak Kulon, Krapyak Wetan, dan Tegal Krapyak. Pada waktu itu, belum ada Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Kata Gelondong berasal dari kata ‘gelondong pengarem-arem’ yang dikumpulkan sebelum disetorkan ke Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Jadi, semua upeti itu dikumpulkan menjadi satu dan tempat kumpulnya di Kampung Dukuh. Selanjutnya, setelah kampung berkembang maju diberi nama Kampung Glondong.

Setelah adanya penyatuan tiga kalurahan menjadi Kalurahan Panggungharjo, kampung tersebut berubah nama menjadi Padukuhan Glondong. Adapun yang menjadi kepala dukuh pertama setelah memenangkan pesta demokrasi di tingkat padukuhan adalah Tugiyono.

Namun, baru sekitar tiga bulan menjabat kepala dukuh, ternyata ada salah satu pamong Kalurahan Panggungharjo yang menjabat sebagai jagabaya. Jagabaya itu bernama Pawirodimejo alias Pariman yang berasal dari Padukuhan Glondong. Kami biasa memanggilnya dengan nama Simbah Dadok. Karena ia buta huruf maka Pemerintah Kalurahan Panggungharjo mengambil kebijakan dengan rolling jabatan. Pawirodimejo Kepala Dukuh Glondong, sementara Tugiyono menjadi carik atau wakil carik.

Menurut cerita dari orang tua, Ponco Irono alias Pramodo (biasa dipanggil Simbah Modo) dan Mangun Kusumo merupakan cikal bakal Padukuhan Glondong. Konon, Kampung Glondong pernah dijadikan markas Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Menurut cerita, markas TKR berpindah-pindah ke arah selatan. Pelemsewu pernah dijadikan markas TKR, sebelum Belanda mengetahui keberadaan mereka. Kemudian, dari Pelemsewu pindah ke Sawit. Lalu, pindah ke Glondong. Ada dua nama komandan TKR yang sangat terkenal selain Soeharto, yaitu Komarudin dan Widodo.

Pada waktu terjadi Serangan Umum 1 Maret 1949 atau dikenal pertempuran enam jam di Yogyakarta. Ketika warga Yogyakarta mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan perang melawan Belanda, ada tiga warga Kampung Dukuh yang meninggal dunia.

Pertama, Partodinomo yang sedang memandikan sapi peliharaannya di sungai, tiba-tiba dihujani peluru oleh tentara Belanda hingga menghembuskan napas terakhirnya di tempat kejadian. Kedua, Kromorejo yang betul-betul melawan Belanda di Karangnongko. Kromorejo seorang pejuang tangguh yang bersenjata sebuah cangkul.

Dengan berani Kromorejo mencangkul dada salah satu dari pasukan Belanda hingga meninggal dunia. Melihat temannya dibunuh oleh Kromorejo maka Kromorejo diberondong dengan senjata yang mereka gunakan. Hal itu membuat Kromorejo menghembuskan napas terakhir.

Konon, setelah meninggal dunia, jenazah Kromorejo masih dicabik-cabik bagian perut hingga keluar semua isinya. Masih belum puas, alat vital Kromorejo dipotong-potong.

Ketiga, Kasan. Pada saat rumah-rumah warga Kampung Dukuh dibakar oleh tentara Belanda dengan menggunakan senjata berpeluru api, membuat rumah milik Kasan juga terbakar. Saat itu, Kasan masih berada di dalam rumah. Kasan pun meninggal dunia di tempat kejadian.

Keempat, bapak saya sendiri, Wasiyo Arjo Pawiro. Bapak saya lahir pada tahun 1918. Tugas bapak saya adalah membawakan radiogram ke mana-mana. Suatu hari, ketika terjadi pertempuran, banyak tentara Belanda yang meninggal dunia.

Kemudian, tentara Belanda melakukan pengejaran kepada semua pejuang kemerdekaan. Waktu itu, bapak saya berpapasan dengan tentara Belanda. Bapak saya lari bersembunyi ke rumah Joyo Rame, akhirnya selamat dari kejaran tentara Belanda setelah dikurungi dan ditimbun sampah.

Pada peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, bapak saya ikut berperang melawan Belanda juga. Dengan tugas pokoknya membawakan radiogram milik TKR. Bahkan menurut ceritanya, bapak saya tahu siapa saja orang penting dibalik Serangan Umum 1 Maret 1949.

Bapak saya meninggal dunia pada tahun 2009. Sebagai penerus perjuangan bapak, adik saya menjadi anggota TNI. Karena bapak pernah mengatakan bahwa di dalam darah saya ada darah pejuang kemerdekaan RI.

Pada tahun 1950-an, Padukuhan Glondong terkenal dengan seni pertunjukan wayang orang. Orang yang pertama merintisnya adalah Atmo Suwito. Slamet, Mujiyono, Ngatijan, dan Tugiyono turut menjadi bagian dari pertunjukan wayang orang. Terkadang, Padukuhan Pandes juga bergabung dalam pertunjukan tersebut.

Perkembangan seni wayang orang sempat mati suri hingga tahun 1960-an. Lalu, kembali dirintis oleh Isnu Hadi Winarno (Senen). Sekitar tahun 1963, saya masuk menjadi anggota kelompok wayang orang. Pada pertengahan tahun 1965, adalah pentas terakhir. Hingga saat ini, kesenian wayang orang hanya tinggal kenangan.

Sekitar tahun 1977, digagas kesenian ketoprak oleh Kadarisman dibantu Tugiyono sebagai penasihat. Tokoh-tokoh pelaku seni ketoprak, orangnya hampir sama dengan yang menjalankan seni wayang orang.