Prepared for the Worst, But Hope for the Best

Petugas Otoritas Kesehatan Memeriksa Suhu Tubuh Seorang Penumpang Kapal dari Malaysia. ASWADDY HAMID

Suatu ketika Yudhistira sang pemimpin Pandawa yang bijaksana, harus menjawab pertanyaan terakhir dari Raksasa Yaksa sebagai syarat untuk menghidupkan kembali keempat saudaranya yang dibunuh raksasa itu.

“Musuh apakah yang tidak terlihat? Penyakit apa yang tidak bisa disembuhkan? Manusia macam apa yang mulia dan hina?” Raksasa Yaksa terus mencecar Yudhistira dengan pertanyaan.

Yudhistira menjawab, “Kemarahan adalah musuh yang tidak terlihat. Ketidakpuasan adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Manusia mulia adalah yang mengharapkan kebaikan untuk semua makhluk. Manusia hina adalah yang tidak mengenal pengampunan.”

Ternyata jawaban bijak dari Yhudhistira itu membuat sang Raksasa Yaksa puas. Ia pun menghidupkan kembali Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa.

Saya pernah membaca artikel harian Kompas dengan judul ‘Berkaca dari Vaksin HIV, Bagaimana Jika Vaksin Corona Tidak Berhasil Ditemukan?’. Judul yang sangat menarik untuk direnungkan karena harapan terbesar umat manusia untuk menghentikan keganasan virus ini adalah ditemukannya vaksin Covid-19.

Dalam artikel itu disebutkan bahwa para ahli dunia belum dapat menemukan Vaksin Human Immunodeficiency Virus (HIV), sehingga sampai saat ini HIV telah merenggut 32 juta jiwa.

Sangat sulit untuk membayangkan apabila vaksin Covid-19 gagal dikembangkan dan ditemukan. Tentunya kehidupan di dunia akan sangat berbeda dengan sebelum adanya terjangan gelombang virus yang mematikan ini. Roda dunia masih akan berputar seperti biasanya, tetapi kehidupan akan selalu dihantui dengan bayang-bayang menakutkan virus ini.

Karena virus ini tidak mengenal waktu dan tempat maka serangan kembali (second wave) dapat terjadi sewaktu-waktu, sedangkan pemerintahan di seluruh dunia ini akan disibukkan dengan tes swab, pelacakan kontak, social distancing, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), lockdown, dan lain-lain.

Saya akan sedikit menyinggung tentang kemungkinan yang terjadi di dunia pariwisata, yang menurut saya paling terdampak dari terjangan virus Covid-19 ini. Seperti artikel yang pernah saya tulis sebelumnya bahwa sektor pariwisata kemungkinan akan menjadi gerbong belakangan untuk dapat ‘sembuh’. Saat itu, pikiran rasional saya mengatakan bahwa pandemi Covid-19 harus diakhiri agar sektor pariwisata dapat ditata ulang.

Terlebih lagi, selama ini paradigma yang berkembang di sektor pariwisata adalah tolok ukur keberhasilan pariwisata Indonesia adalah pada jumlah kedatangan wisatawan mancanegara. Sebagai contoh, kebijakan Bebas Visa Kunjungan (BVK) apabila dihadapkan dengan gelombang pandemi Covid-19 maka kebijakan ini akan kontra produktif.

Sementara itu, negara-negara di seluruh dunia akan membatasi mobilitas manusia dengan pembatasan perjalanan internasional, karena mereka tidak ingin ‘mengimpor’ kasus Covid-19 baru.

Dengan alasan pertumbuhan ekonomi, mungkin beberapa negara melonggarkan pembatasan perjalanan internasional dengan syarat mengantongi Covid-19 Free Certificate. Namun, justru kebijakan ini yang menjadi permasalahan. Misalnya, apakah sertifikat dari negara Indonesia akan di akui oleh negara-negara lain di dunia atau sebaliknya? Bagaimana dengan standar internasional untuk terbitnya sertifikat ini? Apakah WHO yang menerbitkannya? Bagaimana prosedur dan tetek bengek persyaratan lainnya?

Belum lagi apabila ditinjau dari negara yang dituju memiliki kebijakan harus memperlihatkan kredibilitas menangani pandemi Covid-19. Ini bukan sesederhana tentang laporan jumlah pasien yang terjangkit, angka mortalitas, dan jaminan pemerintah setempat, tetapilebih kompleks daripada itu. Kejadian pandemi Covid-19 mungkin adalah momentum. Karena sudah saatnya pemangku kepentingan pariwisata lebih memperhatikan wisatawan domestik dengan tidak mengesampingkan pertumbuhan wisata mancanegara.

Kejadian bom Bali telah memberikan contoh bagi pelaku pariwisata. Ketika wisatawan mancanegara masih trauma, justru wisatawan nusantara berbondong-bondong berwisata ke Bali. Hal itu tentunya menyelamatkan perekonomian dan dunia pariwisata di sana.

Sebagaimana Perang Bharatayudda, Yudhistira sang pemimpin yang bijaksana telah berhasil memimpin Pandawa memenangkan perang. Oleh karena itu, sebaiknya berilah kesempatan kepada para pemimpin bangsa Indonesia yang saat itu menghadapi perang melawan pagebluk Corona bin Candrabirawa. Dukunglah langkah dan upaya para pemimpin bangsa Indonesia untuk menghadapi makhluk tak kasatmata ini.

Endapkanlah rasa kemarahan dan ketidakpuasan dalam menyorot kebijakan pemerintah menangani kasus Covid-19 ini. Jika dirasa perlu memberikan saran, sampaikanlah dengan santun dan kritik yang membangun karena saya yakin pemimpin kita, Sang Yudhistira, sedang merentangkan Gendewa Panah Cakra Baskara untuk memusnahkan makhluk tak kasatmata Corona bin Candrabirawa enyah dari bumi Nusantara.

 

Kasongan, 3 Mei 2020

 

Add Comment