Secercah Harapan di Negeri Loh Jinawi

Upacara HUT RI di Belanda. KEMENLU

Tanah airku tidak kulupakan

Kan terkenang selama hidupku

Biarpun saya pergi jauh

Tidak kan hilang dari kalbu

Tanah ku yang kucintai

Engkau kuhargai

Walaupun banyak negeri kujalani

Yang masyhur permai dikata orang

Tetapi kampung dan rumahku

Di sanalah kurasa senang

Tanahku tak kulupakan

Engkau kubanggakan

Tanggal 17 Agustus, pukul 00.32 dini hari, lagu kebangsaan yang mengalun dari salah satu stasiun televisi mengakhiri jam tayang hari ini. Entah mengapa dari tadi tangan yang memegang remote tak kuasa untuk mematikannya. Mata ini nanar, haru menyeruak mengikuti alun lagu kebangsaan sepenggal demi sepenggal, bait demi bait, hingga usai. Barangkali, sentimen emosional menghadapi 17-an.

Ah, ingatan saya melayang ke sepuluh tahun yang lalu ketika masih bekerja di luar negeri dan menghadiri upacara; menyaksikan sang merah putih berkibar di angkasa. Memang rasa nasionalisme akan lebih terasa tebal ketika kita di negeri orang.

Kala itu rasa haru terpercik dalam hikmatku ketika sang saka dengan pelan, tetapi mantap mengangkasa di mooring area, tempat di mana upacara dilangsungkan. Sesaknya tempat karena darurat, tidak mengurangi semangat anak-anak bangsa di anjungan kapal MS Rotterdam untuk mengikuti bait demi bait lagu kebangsaan, lagu kebanggaan.

Haru meluap, sungguh. Bulir-bulir tipis mengkristal di ujung pelupuk, mengendap, hingga akhirnya membuncah seiring dengan berakhirnya kumandang lagu ‘Indonesia Raya’.

Indonesia raya merdeka, merdeka

Tanahku, negeriku yang kucinta

Seketika, pandangan saya tebar ke seantero mooring area. Begitu jelas wajah-wajah dari berbagai departemen. Mereka berasal dari berbagai suku bangsa Indonesia. Hal itu memancarkan semburat bangga. Bangga sebagai bangsa yang hari ini memperingati kemerdekaannya. Untuk sementara, mungkin mereka dapat menyampirkan kenyataan yang terjadi di tanah air tercinta.

Biaya hidup yang semakin tinggi, tingkat gizi yang rendah, timpangnya pemerataan pembangunan, hingga kesejahteraan ekonomi adalah beberapa kenyataan yang ada. Entah bagaimana anak-anak bangsa nanti akan hidup, berkembang menjadi anak-anak yang berbudi luhur, cerdas, dan mulia.

Ah, bagi kita pekerja migran atau tenaga kerja Indonesia, semua itu terkadang membuat kita galau, merasa minder menjadi warga negara Indonesia. Tak heran apabila ada yang berpendapat bahwa Indonesia belum merdeka.

Tak jarang pula ada yang mencela habis-habisan, mengumpat, mengutuk, penyelenggara negara tak becus mengurus, dan mengelola rakyatnya, padahal ia sendiri tak pernah sedikitpun memberi sumbangsih untuk negerinya.

Namun, kini semua mulai berubah, semua mulai berbenah dengan hadirnya pemimpin yang amanah untuk negeri ini. Kemerdekaan yang dimaknai dengan usaha mengelola serta mengendalikan negeri secara mandiri dan berdikari telah terbukti, walaupun masih banyak pekerjaan yang menanti. Tol laut, BBM satu harga di seantero negeri, pemerataan pembangunan, program satu juta rumah, serta pendidikan dan kesehatan rakyat makin membaik, negeri ini sedang menuju ke arah gemah ripah loh jinawi.

Tiba-tiba terlintas bayangan akan meriahnya suasana dan kegiatan kemerdekaan di kampung sana. Lihatlah para anak bangsa, mereka tetap saja bergembira. Riuh rendah bersorak-sorai, terpingkal-pingkal mengikuti lomba balap karung, makan kerupuk, panjat pinang, sampai lomba adu tepuk bantal.

Bahkan, ketika harus jatuh di sungai kecil yang kotor karena tepukan bantal temannya, mereka tetap berteriak senang. Wajah-wajah mungil itu tampak sumringah, walaupun harus pulang dengan tubuh berpeluh, berlumuran oli atau bau keringat yang menyengat. Suka cita, binar bola mata mereka bercerita.

Tidakkah kau lihat, pancaran bangga menjadi anak Indonesia? Padahal, bukankah mereka yang mestinya lebih berhak khawatir dan resah karena masa depan ini adalah miliknya? Namun, ternyata mereka dapat tersenyum, bernyanyi, menari, dan bergembira, walaupun dengan segala kekurangan yang ada di negerinya.

Ketika banyak koruptor yang menetap di luar negeri setelah puas mengeruk kekayaan Bumi Pertiwi atau orang berduit yang tak sudi dengan program Tax Amnesty atau masih banyaknya zombie-zombie politisi yang berjuang untuk kepentingan pribadi atau para remaja yang telah kehilangan jati diri dengan latah meniru budaya luar yang tak lebih baik, bahkan lebih rendah dari budaya negeri Ibu Pertiwi. Oleh karena itu, sepantasnya kita semua mau belajar dari anak-anak bangsa ini.

Anak-anak adalah penerus bangsa yang di bening bola matanya selalu ada gelora, yang senantiasa berteriak lantang gegap gempita, “Aku bangga menjadi anak Indonesia.”

Mereka pula gambaran masa depan bangsa, penerus cita-cita proklamasi nan mulia. Semoga seumur hayat mereka akan selalu menjunjung tinggi harkat dan martabat Indonesia. Entah nanti setelah besar terpaksa menjadi seperti saya, pelaut, TKI, atau tenaga kerja migran lainnya. Mereka pun tak malu, karena masih terselip rasa bangga.

Hingga suatu saat, ketika mereka telah menjadi orang pintar, diminta mengajar atau bekerja sebagai direktur di negeri orang, seperti Habibie atau Sri Mulyani, darah mereka masih pekat mengalir, merah putih belaka. Busungkan dan tepuk dada keras-keras, katakan kepada semua orang di dunia, “Aku asli Indonesia dan selalu bangga karenanya.”