Sektor Pertanian Penyelamat Ekonomi Masa Pandemi

Area Pertanian. KEMENTERIAN PERTANIAN

Pandemi Covid-19 yang menyerang Indonesia sejak dua tahun silam meluluhlantakkan kondisi perekonomian di Indonesia. Pasalnya sejak ada pandemi, semua kegiatan belanja di berbagai sektor dapat dibilang stuck.

Berbagai macam orang yang bekerja, baik di pabrik maupun bekerja di bidang perdagangan terpaksa harus tinggal di rumah karena kondisi yang tidak memungkinkan. Bagaimana tidak? Ketika mereka memaksakan diri untuk bekerja pada masa pandemi Covid-19 maka akan membahayakan dirinya sendiri. Demikian pun keluarganya.

Mereka yang tetap di rumah saja, bahkan tidak kecil kemungkinan dapat terpapar penyakit tersebut, terlebih lagi jika mereka keluar dari rumah. Tentu akan sangat membahayakan satu sama lain. Pada masa pandemi Covid-19, mereka berdiam diri di rumah dan tidak bekerja. Lalu, bagaimana cara mereka menghidupi keluarganya? Dalam hal ini, warga tidak dapat begantung kepada siapa pun, selain Pemerintah.

Adanya pandemi Covid-19 ini, memberikan dampak bagi semua orang, baik dari kalangan kurang mampu ataupun yang sudah mampu dan berkecukupan. Contohnya kisah tukang bangunan yang tidak punya uang hingga tidur beralaskan tanah. Sungguh miris, bukan? Kisah pilu ini dialami oleh salah seorang warga yang bekerja sebagai tukang bangunan dan keluarganya terpapar Covid-19.

Pasangan suami istri ini, sebut saja Paino dan Siti. Mereka mempunyai dua orang anak. Ia bekerja sebagai tukang bangunan, tetapi sejak adanya wabah pandemi Covid-19, pekerjaannya menjadi sepi. Bahkan, sejumlah pekerjaan yang sudah kontrak pun dibatalkan. Ia juga tak sungkan menawarkan jasanya ketika melihat ada yang membangun rumah. Pada kondisi tersebut ia dan keluarganya benar-benar merasa kesulitan untuk hidup sehari-harinya.

Terlebih ia dan keluarganya tidak pernah mendapatkan subsidi berupa bantuan beras dan bahan pokok lainnya karena tidak mempunyai Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP), walaupun sudah menetap lama di tempat tinggalnya. Hal ini tentu menjadi PR bagi pemerintah, seharusnya pemerintah memperhatikan warganya secara lebih mendalam.

Ia yang hanya tamat SMP ini tinggal bersama keluarganya di lahan kosong milik kerabatnya. Kemudian, di situlah ia mendirikan sebuah gubuk kecil beratapkan seng serta tripleks bekas yang didapat dari tempat ia bekerja dulu, sedangkan lantainya masih beralaskan tanah. Kebutuhan lainnya, seperti air bersih dan listrik, ia dan keluarganya masih menumpang dari rumah tetangga.

Ia pun memanfaatkan terpal bekas sebagai bak darurat untuk menampung air, sedangkan kamar mandi dan toilet hanya ditutupi oleh empat lembar seng sebagai dinding tanpa atap. Tidak hanya itu saja, keluarga tersebut pernah mengalami kondisi tidak punya apa pun untuk dimakan. Kedua anaknya pun hanya dapat menangis karena terlalu lapar.

Mereka semakin sedih pada saat mengecek tabungan, yang tersisa uang receh sebesar Rp18.000. Melihat kondisi keluarga tersebut, rasa kepedulian warga muncul. Salah satunya adalah anggota polisi yang tergerak hatinya untuk membantu dengan cara menyisakan beras jatahnya dari kantor untuk diberikan kepada keluarga tersebut.

Hal itu tidak hanya dialami oleh keluarga tersebut. Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan RI, tercatat pertanggal 20 April 2020, pekerja yang terdampak Covid-19 jumlahnya mencapai 2.084.593 pekerja. Mereka pekerja dari 116.370 perusahaan. Lebih jelasnya, terdapat 1.304.777 pekerja dari 43.690 perusahaan yang dirumahkan. Sedangkan, sebanyak 241.431 pekerja dari 41.236 perusahaan mengalami PHK..

Tidak hanya itu, beberapa Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mengalami penurunan penjualan yang berdampak pada turunnya laba usaha mereka. Ketika laba usaha mengalami penurunan, otomatis usaha tersebut akan berhenti di tengah jalan. Setelah hal tersebut terjadi, warga yang mempunyai UMKM akan kesulitan menyambung hidupnya apabila usahanya selama ini adalah pohon uang bagi mereka.

Ada beberapa cara atau trik agar UMKM yang sedang kita geluti tidak berhenti di tengah jalan. Pertama, lakukan inovasi produk berdasarkan kebutuhan. Selama pandemi Covid-19, semua masyarakat dihimbau untuk memakai masker saat menjalani aktivitas di luar rumah. Otomatis permintaan masker akan mengalami pelonjakan. Oleh karena itu, salah satu usaha yang dapat dikembangkan untuk menyambung hidup adalah dengan memproduksi masker.

Kedua, tetap perhatikan standar kualitas produk. Banyak toko kelontong maupun toko sembako yang tidak beroperasi ketika pandemi, dapat dimanfaatkan dengan membuat paket ekonomis. Paket ekonomis tersebut berisi beras, gula, sayur, sarden, dan lain-lain.

Pada masa pandemi Covid-19, warga lebih mementingkan membeli barang yang berguna untuk keluarganya saat itu juga. Tentu usaha penjualan paket ini dapat dijadikan solusi meningkatkan taraf hidup bagi warga dan masyarakat lain yang menggeluti usaha tersebut.

Ketiga, maksimalkan layanan pengiriman di hari yang sama. Pelayanan oleh konsumen menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Terlebih pada bisnis atau usaha dalam jaringan (daring) atau online. Hal ini harus dibarengi dengan kebutuhan layanan logistik. Usaha tersebut memanfaatkan layanan pengiriman di hari yang sama agar produk dapat diterima dengan cepat oleh konsumen.

Terlebih lagi jika yang dibeli konsumen adalah kebutuhan yang mendesak. Ketika pendiri usaha mampu memaksimalkan hal tersebut maka akan tercipta kepuasan konsumen yang berorientasi pada pembelian ulang. Konsumen yang telah memutuskan untuk membeli ulang, dapat dikatakan bahwa usaha tersebut berjalan dengan lancar.

Demikian dengan sektor pertanian. Sektor pertanian digadang-gadang mampu menyelamatkan kondisi ekonomi pada masa pandemi Covid-19. Indonesia dengan sumber daya alamnya yang sangat berlimpah dan di antaranya berupa lahan pertanian, mampu membantu pemerintah dalam mengatasi kekurangan bahan pokok warga Indonesia. Selain itu, sektor pertanian juga dapat menjadi solusi dalam krisis ekonomi yang menimpa negara Indonesia.

Ketika terjadi peningkatan produktivitas pertanian secara simultan, akan meningkatkan taraf hidup petani, mengurangi kemiskinan, dan menjadi solusi untuk mengatasi kekurangan bahan makanan pada masa pandemi Covid-19.

Gathak dan Ingersent dalam Lutfi Muta’ali (2019), menyatakan bahwa sektor pertanian memiliki peran di dalam kontribusi produk, kontribusi pasar, kontribusi faktor-faktor produksi, dan kontribusi devisa. Selain itu, sektor pertanian layak untuk menjadi sektor andalan dalam perekonomian nasional karena sifatnya strategis.

Sektor pertanian dapat menjadi salah satu upaya untuk menumbuhkan ekonomi pada masa pandemi Covid-19. Ini dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan oleh M. Zainul Abidin (2021), pada tahun 2020, sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang mencapai pertumbuhan ekonomi tertinggi. Hal ini tidak lepas dari jasa petani, khususnya di Indonesia karena mereka akan terus menjalankan kegiatan pertaniannya, meskipun belum mengetahui kepastian harga komoditas ketika panen tiba.

Kesiapan para petani untuk menghadapi hal itu harus didukung dengan berbagai kebijakan. Ada dua kebijakan yang perlu dilakukan untuk menghadapinya. Pertama, dengan menjaga kelancaran distribusi bahan pangan.

Dalam hal ini pemerintah harus menjamin kelancaran distribusi bahan pangan ke seluruh daerah, walaupun sedang dilakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Perlu juga pemetaan ulang stok-stok komoditas pada masing-masing daerah, guna memetakan arah pendistribusian pangan secara nasional.

Pemetaan dapat dilakukan mulai dari tingkat kabupaten atau kota serta semua komoditas yang dihasilkan dan penghitungan kebutuhan pangan pada masing-masing penduduk di daerah. Pemetaan terhadap daerah yang menjadi kantong-kantong produksi perlu ditinjau kembali dan dioptimalkan perannya untuk mencukupi ketersediaan bahan pangan bagi daerah sekitarnya yang rawan pangan.

Kedua, adaptasi pasar. Para petani perlu menyesuaikan keadaan di tengah pandemi, terutama kondisi pasar. Beberapa komoditas yang kemungkinan dapat berkurang permintaannya perlu diganti dengan komoditas yang prospek pasarnya lebih baik. Misalnya petani hidroponik aneka selada.

Awalnya, segmen pasar selada meliputi hotel, restoran, dan pusat perbelanjaan. Namun, karena adanya pandemi Covid-19 prospek di segmen pasar ini berkurang. Oleh karena itu, petani beralih menjadi petani kangkung atau sawi yang segmen pasarnya masih bagus karena dikonsumsi semua kalangan.

Kestabilan harga komoditas pertanian juga perlu dijaga agar harga komoditas tidak terlalu anjlok sehingga petani masih bersedia untuk memproduksi bahan pangan. Pemerintah dapat bekerja sama dengan beberapa koperasi maupun BUMDes untuk membantu petani memasarkan produknya. Tentu ini akan membantu petani akrena mereka tidak lagi mengalami kendala pemasaran. Selain itu, platform pemasaran komoditas pertanian online dapat dimanfaatkan untuk membantu petani dalam memasarkan hasil panennya.

Koperasi petani di desa juga dapat menjadi penyedia modal bagi para petani. Hal itu perlu dilakukan untuk mengatasi kondisi permodalan petani yang sangat lemah di tengah pandemi.

Kemudahan akses petani terhadap faktor produksi, seperti pupuk, benih, dan saluran irigasi harus tetap terjamin. Sesungguhnya bahan makanan harus tersedia dengan jumlah yang cukup, mutu yang baik, dan harga terjangkau di tengah pandemi Covid-19 dua tahun silam.

Peran koperasi dan kelompok tani yang ada di suatu daerah sangat penting dalam menyukseskan proses penjualan komoditas pertanian. Melalui koperasi, petani dapat memperbaiki posisi rebut tawar mereka, baik dalam memasarkan hasil produksi maupun dalam pengadaan input produksi yang dibutuhkan. Dalam hal mekanisme pasar tidak menjamin terciptanya keadilan, koperasi dapat mengupayakan pembukaan pasar baru bagi produk anggotanya.

Sisi lain, koperasi dapat memberikan akses kepada anggotanya terhadap berbagai penggunaan faktor produksi dan jasa yang tidak ditawarkan pasar. Bergabung dengan koperasi, para petani dapat lebih mudah melakukan penyesuaian produksinya melalui pengolahan pascapanen sehubungan dengan perubahan permintaan pasar. Oleh karena itu, agar tercipta pertumbuhan ekonomi di masa pandemi, perlu dilakukan kerjasama yang baik antarorang atau anggota.