Sesarengan Mbangun Sleman, Sleman Gumregah

Logo Hari Jadi Kabupaten Sleman ke-106. KABUPATEN SLEMAN

Logo adalah simbol yang mewakili suatu hal. Tujuan dibuatnya logo adalah untuk menjadi ciri khas yang meninggalkan kesan sehingga mudah diingat. Dengan kata lain logo adalah representasi suatu hal dalam wujud gambar atau sketsa.

Dalam hari jadi Kabupaten Sleman ke-106, Pemkab Sleman memilih logo dengan bentuk tulisan angka 106. Rangkaian angka tersebut mewakili usia Kabupaten Sleman pada 15 Mei 2022. Angka 1 berwarna merah yang melambangkan keberanian, warna merah ini juga sudah dipakai pada lambang Pemkab Sleman dengan arti yang sama. Dipercantik dengan ilustrasi bunga parijoto yang merupakan tanaman khas Sleman.

Angka 0 berwarna gradasi biru muda dan biru tua yang diilustrasikan seperti gelombang air yang terbagi menjadi tiga bagian melambangakan tiga sungai besar yeng melintas di Kabupaten Sleman. Tiga sungai tersebut adalah Kali Krasak, mengalir di sebelah barat laut, Kali Kuning di bagian tengah dan Kali Opak di sebelah timur daerah Kabupaten Sleman. Warna biru melambangkan kemakmuran, biru muda sebagai lambang cita-cita dan biru tua sebagai lambang kesetiaan.

Angka 6 berwarna hijau melambangkan kemakmuran. Ditambah ilustrasi padi mewakili Sleman sebagai lumbung padi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Warna kuning dan keemasan pada ilustrasi padi melambangkan keluhuran, dan kejayaan.

Kerangka Pikir dalam Simbol

Jika ditinjau lebih jauh, logo hari jadi Kabupaten Sleman berangkat dari kerangka pikir yang memang sudah ada di berbagai elemen yang telah melekat pada Kabupaten Sleman. Mulai dari warna merah, biru, hijau dan kuning yang juga ada dalam logo Pemerintah Kabupaten Sleman, hingga ilustrasi bunga parijoto, sungai dan padi yang menjadi ciri khas Sleman.

Sleman secara pemerintahan berada dibawah koordinasi Gubernur DIY yang juga merupakan Sultan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Artinya, secara kultural Sleman merupakan daerah kekuasaan Kesultanan Ngayogyakarta. Meski zaman terus bergerak maju, pola hubungan antara Kabupaten Sleman dan Kasultanan Ngayogyakarta memang dipertahankan seperti zaman dahulu saat Kesultanan Ngayogyakarta belum bergabung dengan NKRI.

Sri Sultan Hamengkubuwono X, memberikan Pusaka Tombak Kyai Turunsih sebagai hadiah hari jadi Kabupaten Sleman ke-83. Pusaka Tombak Kyai Turunsih memiliki pamor beras wutah. Pamor adalah cahaya atau semangat yang terkandung dalam suatu benda pusaka. Secara filosofis dipercaya bahwa seorang yang memiliki benda pusaka dengan pamor beras wutah akan selalu dalam keadaan kecukupan sandang, papan, serta pangannya.

Pemberian dari Sri Sultan Hamengkubuwono X ini memiliki pesan tersirat bahwa Ngarso Dalem ingin Sleman terus menjadi daerah subur yang mampu memproduksi bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan warga DIY dan sekitarnya. Pesan ini kemudian menjadi rujukan Pemkab Sleman dalam mengelola wilayahnya agar tetap subur.

Selain Tombak Kyai Turunsih, Sleman juga memiliki Pusaka Dwaja Mega Ngampak pemberian dari Keraton Ngayogyakarta. Pusaka berwujud bendera berwarna biru-putih ini memiliki arti filosofis langit yang sedang mendung, dan membawa limpahan air hujan yang diharapkan membawa berkah. Jika digabungkan, Tombak Kyai Turunsih dan Dwaja Mega Ngampak mejadi sebuah pengharapan bahwa Sleman menjadi tanah yang subur dengan sumber air yang melimpah pula.

Slogan Sleman Sembada yang sudah melekat dengan Kabupaten Sleman juga menggambarkan kemandirian Kabupaten Sleman. Kata sembada sebetulnya berasal dari bahasa jawa sembodo yang artinya serba cukup, pantas, atau kuat.

Namun, dalam slogan yang menjadi perda No 4 Tahun 1992 ini, kata Sembada merupakan akronim dari, S: Sehat, E: Elok dan Edi, M: Makmur dan Merata, B: Bersih dan Berbudaya, A: Aman dan Adil, D: Damai dan Dinamis, A: Agamis. Dari nilai-nilai tersebut, diharapkan Sleman menjadi wilayah yang Sejahtera, LEstari, dan MANdiri.

Harapan yang ada dalam logo serta simbol Kabupaten Sleman tentu tidak akan tercapai tanpa partisipasi warga masyarakatnya. Oleh sebab itu jargon ‘Sesarengan Mbangun Sleman, Sleman Gumregah’ diusung dalam hari jadi Kabupaten Sleman yang ke-106 dan dicantumkan dalam logo hari jadi Kabupaten Sleman ke-106. Jargon ini tertulis dengan warna merah yang melambangkan keberanian dan semangat.

Jargon ini bertujuan mengajak masyarakat Sleman untuk bersama-sama membangun Sleman. Pemkab Sleman juga ingin menyebarkan semangat bangkit dari keterpurukan akibat pandemi yang berdampak pada berbagai sektor kepada seluruh masyarakat Sleman.