Borrowed Pride

Stasiun Gambir. WIKIMEDIA COMMONS

Sembari menunggu keberangkatan kereta tambahan ke Yogya, saya sarapan di salah satu warung di Stasiun Gambir. Tepat di samping meja saya ada beberapa Pegawai Negeri Sipil (PNS) sedang menikmati sarapan. Tiba-tiba datang salah satu rekan mereka dan menyuruh untuk pindah bangku dengan nada yang menurut saya kurang sopan. Alasannya bangku tersebut untuk atasan mereka.

Mereka pun sepertinya kurang menerima. Sambil bersungut-sungut, mereka pindah ke belakang. Untung saya tidak disuruh pindah juga, walaupun si orang yang menyuruh pindah itu sempat menatap saya, seakan mengharap pemakluman. Tak lama, atasan PNS itu datang dan menikmati hidangan dengan lahap tanpa menoleh ke belakang. Rumah makan ini, setiap satu meja dilengkapi enam kursi, ternyata hanya di isi mereka berdua saja

Saya hanya berfikir, ini mungkin bukan masalah arogansi, tetapi lebih menonjolkan kebanggaan, wewenang, atau kekuasaan. Istilah untuk menggambarkan kejadian tersebut adalah borrowed pride. Dahulu sewaktu SMA, teman saya setiap tahun ganti motor. Dalam tiga tahun kami berteman, ia sudah tiga kali ganti motor karena bapaknya kaya. Pokoknya, setiap naik kelas minta hadiah motor baru.

Dengan bangga ia pamerkan motor plat putihnya. Tak heran membuat dirinya didekati oleh para kembang kelas. Selain itu, ia menjadi bahan omongan. Melalui hal itu, ia mendapatkan kebahagian dan kepuasaan atas atensi orang-orang tentang dirinya.

Padahal ia hanya mendapatkan limpahan kebanggaan, kesenangan, dan kebahagiaan dari bapaknya. Kebetulan, bapaknya orang yang mampu wujudkan keinginan anaknya dalam bentuk materi, yakni motor.

Pada awal memasuki dunia kerja, topik pembicaraan tak jauh-jauh dari karir. Teman-teman sejawat yang lulusan dari perguruan tinggi terkenal, selalu membanggakan bahwa bos-bos dipucuk pimpinan memiliki almamater yang sama dengan mereka.

Kadang saya merasa bahwa mereka mempunyai voorijder yang mengawal jalan menuju ke puncak. Mereka memiliki anggapan bahwa hanya almamaternya saja yang punya jalur khusus untuk diperhitungkan. Padahal itu hanyalah borrowed pride; meminjam kebanggaan karena ia sendiri belum tentu akan bekerja dengan spektakuler. Saya yakin, ia belum tentu berkontribusi apapun ke almamaternya, kecuali SPP dan biaya wisuda, barangkali.

Kali ini, ceritanya menjadi lain. Kadang kita juga masih bersikap borrowed pride. Bedanya, ditambahi dengan ‘masa lalu’. Kita kadang masih membanggakan masa lalu terkait siapa saya, kedudukan saya, jabatan kami, dan kekuasaan kita.

Ironinya past borrowed pride itu mungkin hanya dilihat di Curriculum Vitae (CV) oleh para pewawancara ketika melamar pekerjaan. Selebihnya hanyalah sebuah tulisan biasa tanpa garis tebal di kover ‘profile’ dan di ‘wall’ kenangan.

Sebenarnya, kita semua itu hanya meminjam kebanggaan, kejayaan, dan kebahagiaan dari Yang Maha Memiliki. So, be humble and never think you are better than anyone else.

 

Gambir, 22 Oktober 2021