Bukan Buah Biasa

Relief Pohon Suku di Candi Borobudur. BALAI KONSERVASI BOROBUDUR

Sewaktu masih aktif sebagai pekerja yang melanglang buana, ada salah satu buah atau bahan makanan yang sangat menarik perhatian. Apakah itu? Jawabannya adalah buah sukun atau breadfruit dalam bahasa Inggris. Lalu, mengapa buah tersebut menarik perhatian?

Sukun itu salah satu buah yang hampir merata bisa dijumpai di negara-negara tropis seluruh dunia. Bahkan, buah sukun ini dianggap buah dewa karena kedudukan sukun sebagai bahan makanan ditempatkan di tempat yg tinggi oleh budaya setempat, seperti suku Maya, Inca, Aztec, serta suku-suku yang mendiami Pasifik selatan.

Suatu saat, ketika mengunjungi Guatemala, sebuah negara di Amerika Tengah yang letaknya di bawah negara Meksiko, saya menyempatkan berkunjung ke reruntuhan kota kuno yang bernama Tikal. Letaknya berada di hutan hujan tropis Guatemala, yang merupakan sebuah ibu kota kuno dari suku Maya.

Hal yang menarik menurut penuturan pemandu wisatanya, dalam budaya kota kuno itu disebutkan bahwa buah sukun adalah salah buah yang wajib diserahkan oleh calon pengantin pria kepada keluarga pengantin wanita, sebagai barang hantaran (srah-srahan) ketika melamar. Namun, kondisi tersebut tergantung dari strata laki-lakinya, apabila ia adalah golongan berada maka mas kawinnya adalah ladang dengan penuh pohon sukun di dalamnya. Katanya, tradisi itu sampai sekarang masih dilestarikan.

Kejadian yang lain saya alami ketika mengunjungi negara-negara Pasifik; Fiji, Tonga, Vanuatu, French Polinesian, Guam, Kiribati, dan lain-lain. Cerita tentang ‘keramatnya’ pohon sukun ini sudah melegenda melalui cerita turun-temurun.

Legenda itu menceritakan tentang pengorbanan seorang bapak yang tidak tahan melihat anak-anaknya kelaparan. Ia bilang kepada istrinya bahwa ia telah mendapatkan wangsit dari dewa untuk mengubur dirinya pada tengah malam di depan rumah.

Ternyata, keesokan harinya, di atas kuburan sang bapak ditemukan pohon tinggi menjulang yang banyak sekali buahnya. Sejak saat itu mereka tidak pernah kelaparan lagi. Pohon itu adalah pohon sukun (uru tree).

Berdasarkan berbagai pengalaman dan cerita yang saya dapatkan tentang pohon sukun, kadang saya prihatin dengan perlakuan dan ‘penghormatan’ buah sukun di negara kita. Saya tidak akan berbicara masalah kandungan gizi; karbohidrat sampai protein. Hal yang ingin saya sampaikan adalah kita ternyata sudah lama ‘terjajah’ dengan gandum.

Kita ‘addicted to wheat’. Ironisnya negara kita bukan penghasil gandum, hampir 100% gandum adalah impor. Mulai dari produk mi, pasta, hingga roti, semua berasal dari gandum. Generasi muda kita lebih akrab dengan pastry croissant dan mille-feuille daripada getuk, sukun, dan lain-lain. Mereka lebih mudah fasih dan berbangga dengan toko yang memiliki embel-embel patisserie atau boulangerie daripada Omah Roti.

Hal yang membuat saya semakin prihatin adalah nenek moyang kita sangat menghargai buah sukun ini hingga mendokumentasikan buah tersebut. Mengapa dari sekian ribu pohon penghasil bahan makanan yang tumbuh di Nusantara, pohon sukun menjadi salah satu pohon yang terpahat rapi dan indah di relief Candi Borobudur? Bukankah hal itu sebagai bukti bahwa sukun ditempatkan pada kedudukan yang tinggi? Sukun adalah karunia, tetapi kita yang mengacuhkannya.

 

Kasongan, 13 Maret 2021

Add Comment