Buya Syafii yang Ramah

Buya Syafii. JAMILLUDIN

Tahun 2017 silam, saat saya menjadi tenaga pendidik di salah satu sekolah inklusi swasta di Kota Yogyakarta, atas inisiasi guru kelas, kami mengundang Prof. Dr. H. Syafii Ma’arif atau yang biasa disapa Buya Syafii. Awalnya, saya pikir itu adalah hal yang mustahil untuk terealisasi.

Sebagai tokoh nasional dan guru bangsa yang figurnya selalu dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia, tentu rutinitasnya sangat padat. Namun, prediksi saya salah. Ia mengonfirmasi akan hadir ke sekolah menemui siswa-siswa.

Persiapan yang sangat mendadak pun harus dilakukan. Karena area sekolah sangat terbatas, akhirnya hanya dapat menyediakan salah satu pendopo di sudut sekolah sebagai lokasi bincang-bincang dengan Buya Syafii.

Dalam pengantarnya, Buya Syafii memberikan penjelasan tentang keberagaman dan nilai kemanusiaan yang menjadi bingkai persatuan di Indonesia. Menurutnya, sebagai warga negara yang baik maka sudah sepatutnya tumbuh kesadaran saling menghargai antarwarga negara, meskipun daerah, suku, dan bahasanya berbeda. Bahkan agama jangan sampai meruntuhkan semangat menjalin persaudaraan.

Ada hal yang menarik saat sesi tanya jawab yang dipandu oleh guru kelas. Ternyata pertanyaan dari anak-anak sangat banyak, mulai pertanyaan yang mengandung tawa sampai pertanyaan yang cukup berat.

Namun, Buya Syafii dengan nada suara yang lemah lembut tidak lelah untuk menjawab dan menanggapi antusiasme anak-anak. Sesekali humor yang terlontar darinya berhasil mengundang gelak tawa.

Sungguh suatu kesempatan yang berharga dapat belajar langsung dengan tokoh yang penuh inspirasi dan ramah terhadap anak.